Beranda blog Halaman 1821

Saking Larisnya, Siswanto Hanya Mampu Layani 400 Keranjang Kolak Gudang Sehari

0
Muhammad Siswanto sedang membuat kolak telo di kediamannya di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (30/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma gula langsung tercium saat berada di sebuah rumah yang berada di Dukuh Sekandang Tempel RT 1 RW 1 Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di pekarangan samping rumah, tampak seorang pria menginstruksikan beberapa pekerjanya untuk merebus singkong ke dalam gulali yang mendidih. Sedang beberapa yang lain terlihat mengupas singkong. Pria yang mengenakan kemeja itu adalah Muhammad Siswanto (40), pembuat kolak gudang.

Sembari melakukan aktivitasnya, pria yang akrab disapa Siswanto itu berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, sudah produksi kolak gudang sekitar 10 tahun yang lalu. Menurutnya, produksi kolak gudang itu dijadikan sampingan di sela memproduksi gula kawur.

Kolak Gudang yang diproduksi Muhammad Siswanto di kediamannya di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (30/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Selain sampingan, produksi kolak gudang dulu itu juga musiman. Namun, mulai tahun ini saya berencana fokus produksi kolak gudang dan produksi setiap hari tanpa musim,” ujar Siswanto kepada Betanews.id, Selasa (30/6/2020).

Hal tersebut dikarenakan minat masyarakat luas terhadap kolak gudang gula jawa miliknya makin meningkat. Jika dulu permintaan sekitar 50 keranjang. Sekarang ini, setiap harinya dia mampu menjual sekitar 400 keranjang. Itu pun masih nolak-nolak pesanan, karena keterbatasan waktu produksi.

“Kendalanya ada di waktu produksi yang butuh waktu lumayan lama,” ungkap pria yang dikaruniai dua anak itu.

Baca juga: Melihat Pembuatan Gula Tumbu di Gondangmanis Kudus

Siswanto lantas menjelaskan proses produksi kolak gudang gula jawa di tempatnya. Pertama-tama, bahan baku singkong dikupas, kemudian dikemas dua kilogram dalam keranjang. Terus dicuci dan direndam selama satu jam. Setelah bersih, baru kemudian direbus selama satu jam agar singkong itu merekah. Kemudian masuk proses pemanisan tahap pertama sekitar setengah jam.

“Setelah itu, lanjut pemanisan tahap akhir yakni singkong direbus dikuali berisi gulali mendidih. Waktu pemanisan itu juga sekitar 30 menit,” bebernya.

Untuk harga, ia mematok banderol Rp 25 ribu per keranjang untuk para bakul, dan Rp 30 ribu per keranjang untuk pembelian ecer. Menurutnya, peminat kolak gudang gula jawa miliknya sangat banyak. Yang datang tidak hanya orang Kudus saja, tapi juga ada yang dari Jepara, Pati, Demak, Semarang, Jakarta, dan Bali.

Kolak gudang sekarang ini memang disukai banyak kalangan. Kalau dulu hanya orang pedesaan yang mengkonsumsi, sekarang justru banyak orang perkotaan yang memburu makanan dengan cita rasa manis tersebut. Bahkan saat akhir pekan, tempatnya tersebut penuh mobil dan motor orang perkotaan yang berburu kolak gudang.

Baca juga: Bejo Indarto, Satu-Satunya Pembuat Tahu Kacang Hijau di Karesidenan Pati

Mungkin, tambahnya, mereka ingin melihat proses pembuatan kolak gudang. Pembuatannya itu memenuhi standar kebersihan atau tidak. Makanya, dia bersyukur selama ini tidak pernah ada masalah dengan kebersihan.

“Saya berharap ke depan usaha saya makin lancar. Orang-orang tidak bosan mengkonsumsi kolak gudang hasil karya saya. Sehingga rencana saya untuk produksi kolak gudang setiap hari dan tak kenal musim bisa terwujud,” tukas Siswanto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Toko Online Makin Populer, Aksesoris Foto Produk dari Lalunaz Gallery Banyak Peminat

0
Abdullah Rais bersama berbagai aksesoris yang dijual di Lalunaz Gallery. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Sudimoro, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bangunan yang di depannya bertuliskan Profotex Fashion. Di bagian belakang bangunan yang banyak berisi pakaian itu terpajang aneka hasil kerajinan buatan tangan. Tempat tersebut adalah Lalunaz Gallery.

Abdullah Rais (34), pemilik Lalunaz Gallery menuturkan, toko tersebut sebenarnya baru buka tiga pekan lalu. Bisa dibilang, merintis usaha kerajinan itu secara tidak sengaja. Karena sebenarnya, dulu ia belanja aneka kerajinan hasil karya tangan untuk aksesoris studio foto miliknya.

beberapa pembeli sedang memilih berbagai aksesoris yang dijual di Lalunaz Gallery. Foto: Rabu Sipan.

“Namun, setiap saya beli dan aku posting di Instagram, malah banyak yang respon serta bertanya. Mereka bertanya apa itu dijual apa tidak. Dari situ saya pun berinisiatif untuk berjualan aneka kerajinan tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Rais kepada Betanews.id, Sabtu (28/6/2020).

Pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak itu menuturkan, Lalunaz Gallery menyediakan aneka kerajinan atau aksesoris hand made. Aksesoris tersebut bisa digunakan sebagai hiasan agar tampilan produk online shop lebih terlihat menarik.

Baca juga: Novilia, Gadis Cantik Penjual Pisang Goreng Beromzet Rp 20 Juta Sebulan

“Dari aksesoris agar foto fashion lebih menarik, atau kebutuhan aksesoris untuk foto makanan juga ada. Sebab online shop itu promosinya mengandalkan foto produk. Kalau di foto produknya ditambah aksesoris yang ada di Lalunaz Gallery dijamin tampilannya akan lebih menarik,” jelas pria berkacamata tersebut.

Dia kemudian merinci kerajinan yang ada di Lalunaz Gallery. Di antaranya, karpet yang terbuat dari seagrass, keranjang dan vas bunga yang terbuat dari eceng gondok, bantal yang dilapisi daun pandan, aneka bunga kering, serta meja dan kayu yang dilapisi seagrass berkombinasi rafia.

Ada juga cermin, dekorasi dinding yang terbuat dari kombinasi seagrass dan kulit batang pisang kering, dan rantang dari anyaman bambu. Untuk hiasan langit-langit ruangan, ada berbagai macam lampion.

Tak hanya itu, di Lalunaz Gallery juga tersedia aksesoris untuk mempercantik foto makanan yakni placemat dari seagrass, piring, mangkok, sendok garpu berbahan kayu jati, dan aneka kerajinan lainnya.

“Untuk harga kami mematoknya sangat bersahabat yakni rata-rata kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu,” bebernya.

Baca juga: Wong Djowo, Kaus Oleh-Oleh Khas Kudus untuk Lestarikan Bahasa Jawa

Dia mengatakan, sejak dibuka tiga pekan lalu, pelanggan di Lalunaz Gallery sudah lumayan banyak. Tidak hanya dari Kudus saja, tapi juga datang dari kota sebelah, di antara Demak, Pati, dan Jepara.

“Saya berharap produk dari Lalunaz Gallery makin diminati dan Lalunaz Gallery jadi jujugan para online shop yang ingin cari aksesoris untuk mempercantik produk mereka,” tutup Rais.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pengajuan Dispensasi Nikah di Kudus Mayoritas Disebabkan Hamil Duluan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Saat masa pandemi Covid-19, Pengadilan Agama (PA) Kudus masih melayani permohonan dispensasi nikah. Layanan tersebut memang tidak dihentikan, karena kebanyakan yang mengajukan permohonan disebabkan hamil di luar nikah.

Kepala Pengadilan Agama Kudus Ali Mufid menuturkan, dispensasi nikah yakni memberikan umur tambahan bagi calon mempelai laki- laki ataupun perempuannya yang masih di bawah umur dan belum diperbolehkan untuk menikah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Mufid, sesuai dengan Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974, usia minimal nikah yakni 19 tahun. Dikatakan Mufid, dulunya minimal usia nikah yakni 16 tahun, dengan adanya UU baru, usia nikah dinaikkan menjadi 19 tahun.

“Masa pandemi dispensasi nikah masih kita lakukan. Soalnya kebanyakan sudah ‘kecelakaan’ (hamil sebelum nikah, red). Dan menurut saya cukup banyak,” tuturnya saat ditemui di Kantor Pengadilan Agama, Kamis (2/7/2020).

Dia menyebutkan, pada bulan Maret 2020, tercatat terdapat 15 pemohon. Selanjutnya, di bulan April 19 pemohon dan bulan Mei 6 pemohon.

“Angka tersebut naik di bulan Juni sebesar 33 perkara. Angka tersebut naik karena sudah masuk persiapan new normal,” tuturnya.

Baca juga : Angka Perceraian Turun saat Pandemi, Melonjak saat Persiapan New Normal

Menurutnya, selain karena hamil diluar nikah, dispensasi diberikan karena perubahan UU yang awalnya usia menikah minimal 16 tahun menjadi 19 tahun.

“Namun persentasenya lebih mendominasi yang kecelakaan, sekitar 75 persen,” jelasnya.

Dirinya memberitahukan, jumlah keseluruhan dispensasi nikah mulai dari bulan Januari 2020 hingga saat ini yakni sejumlah 122 perkara. Menurutnya, pada tahun 2019 terdapat 225 perkara yang tercatat.

“Saya belum tahu nanti akan lebih banyak atau tidak. Kalau moodnya mau nikah muda, ya mungkin banyak. Namun jika pada ikut Undang-Undang usia 19 tahun, otomatis akan berkurang,” tuturnya.

Mufid menuturkan, sebenarnya di Pengadilan Agama kabupaten lain juga sama seperti Kudus. Dirinya menduga, hamil diluar nikah saat ini menurutnya dianggap biasa. Berbeda ketika waktu dirinya masih muda, hamil diluar nikah adalah hal yang tabu.
“Sekarang mungkin hal yang biasa. Seakan tidak malu dan tidak tabu. Maksiat mungkin dianggap hal membanggakan,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Harga Meroket, Peminat Sepeda Bekas di Toko Hasan Tetap Tinggi

0
Ahsanul Hadi saat menjelaskan berbagai sepeda bekas yang dijual di tokonya yang berada di Pasar Baru, Rabu (1/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Salah satu toko sepeda di Pasar Baru Kudus terlihat ramai pengunjung, Rabu (1/7/2020). Sebagian dari mereka ada yang mengecek kerangka dan bagian-bagian tertentu dari sepeda Gunung atau montain bike (MTB) bekas. Meski harganya terus meroket, keberadaan sepeda tersebut tak pernah sepi peminat. Termasuk juga di Toko Sepeda Hasan.

Pemilik toko, Ahsanul Hadi (34) menuturkan, sejak ada pandemi Corona, permintaan sepeda MTB meningkat tajam, terutama sekitar sepekan terakhir. Banyaknya peminat tersebut mengakibatkan barang susah dicari dan harganya terus naik.

Ahsanul Hadi saat menjelaskan komponen sepeda yang dijual di tokonya yang berada di Pasar Baru, Rabu (1/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Bahkan harga sepeda MTB bekas itu lebih mahal dari pas harga barunya. Meski begitu, pencarinya banyak sekali,” ujar pria yang akrab disapa Hasan itu.

Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menjelaskan, maksud harga sepeda MTB bekas lebih mahal dari pada harga barunya itu, dikarenakan stok baru sepeda tersebut kosong. Sehingga terjadi kelangkaan yang mengakibatkan harga sepeda bekas terkatrol naik.

Baca juga: Penjualan Sepeda di Toko Suka Jaya Meroket, Sepeda Gunung dan Lipat Terlaris

Meski harga naik, lanjutnya, peminat sepeda gunung bekas juga makin banyak. Bahkan kemarin, ia mengaku sampai kehabisan stok.

“Harga sepeda MTB bekas naik sekitar Rp 500 ribu per unitnya. Meski naik, sepeda bekas MTB bisa dibilang paling laris dan beberapa kali kehabisan stok,” ungkap pria yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Dia mengatakan, harga sepeda MTB bekas bervariasi. Mulai yang termurah Rp 1 juta hingga yang termahal 5,5 juta per unit. Sedangkan sepeda gunung yang paling cepat laku, yang harganya kisaran Rp 2 juta per unit.

Menurutnya, yang mengalami kenaikan harga itu tidak hanya sepeda MTB bekas saja, melainkan juga sepeda lainnya. Namun, naiknya tak sebanyak jenis tersebut.

Baca juga: Berawal dari Iseng, Ilul Modifikasi Sepeda Jadul Minion Bernilai Jual Tinggi

“Kalau sepeda anak-anak dan BMX naiknya kisaran Rp 200 ribu per unit. Sama naik harganya, penjualannya juga,” ungkap Hasan.

Setiap harinya, tokonya mampu menjual minimal 10 unit sepeda bekas. Dari total tersebut, separuhnya merupakan penjualan sepeda MTB.

“Semoga penjualan sepeda bekas semakin meningkat dan bisa stabil. Dan semoga saja orang akan tetap gemar berolahraga sepeda,” tukas Hasan.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

50 Persen Hewan dari Kelompok Ternak Kesambi Siap Dijual untuk Kurban

0
Petugas Dinas Pertanian dan Pangan Kudus saat mengecek hewan di Kelompok Ternak Kesambi. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua orang tampak sedang berkoordinasi di ruangan Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus. Satu di antaranya adalah Indriatmoko (53), Kepala Bidang (Kabid) Peternakan. Dia akan berbagi informasi usai melakukan kegiatan pengobatan dan pemantauan hewan ternak di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Saat ini, pihaknya akan lebih aktif melakukan pemeriksaan hingga Hari Raya Idul Adha 2020 mendatang. Menurutnya, dari hasil pemantauan di Desa Kesambi semua masih terbilang aman. Hanya ada satu kambing yang terkena penyakit scabies.

Kepala Bidang Peternakan pada DInas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Indriatmoko saat ditemui, Rabu (1/7/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Masih terbilang aman, cuma ada satu yang sakit dan sudah kami obati. Di sana ada tiga kelompok ternak, dan tiga peternak mandiri. Dari keseluruhan hewan di sana ada sekitar 50 persen yang siap dijual,” terangnya kepada betanews.id, Rabu (1/7/2020).

Baca juga: Stok Hewan Kurban di Kudus Aman, Dinas Pertanian Intens Turun ke Lapangan

Sambil membuka kertas catatannya, Indriatmoko merinci jumlah hewan yang ada di desa itu. Diantaranya, kambing dan domba sekitar 150 ekor, dan yang siap untuk kurban ada 75 ekor.

“Untuk sapi ada 30 ekor, yang siap dijual 25 ekor. Sedangkan kerbau ada 30 ekor, dan yang siap dijual 10 ekor. Jadi sekitar 50 persen yang siap dijual,” bebernya.

Saat ini, lanjut dia, jumlah kelompok ternak yang ada di Kudus ada 120. Rinciannya, peternak kambing ada 75 kelompok, domba 10, kerbau 15, dan sapi 20.

“Itu belum termasuk peternak mandiri. Meski ternak mandiri, jika ada jadwal ke daerah sana juga kami obati,” tambahnya.

Baca juga: Pemotongan Hewan Kurban di Kudus Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

Kasi Produksi dan Kesehatan Hewan Sidi Pramono (53) menambahkan, dalam proses pengobatan dan pemantauan itu juga memberikan obat cacing untuk ternak yang masih berusia muda. Bagi ternak usia siap kurban, hanya disuntik vitamin B kompleks.

“Jadi untuk hewan yang belum siap untuk kurban masih kami beri obat cacing. Sekitar 50 persen hewan ternak di Kesambi masih muda dan betina produktif, jadi tidak dijual untuk kurban,” tukasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sambut New Normal, SD Muhammadiyah Birrul Walidain Siapkan Video Simulasi

0
Jamaluddin Kamal, Kepala SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus menunjukkan tempat cuci tangan yang disiapkan di sekolah. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria tampak keluar dari sebuah ruangan di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus. Dia tak laian adalah Jamaluddin Kamal (34), kepala sekolah tersebut. Dirinya berbagi informasi kepada betanews.id tentang kesiapan pihak sekolah menyambut new normal.

Jamal begitu dia akrab disapa mengatakan, bahwa pihaknya sudah menyiapkan semua protokol kesehatan. Yakni, mulai dari pengecekan suhu badan, tempat cuci tangan, hand sanitizer dan jarak bangku saat pembelajaran.

Baca juga : Fokus Potensi Anak, Sekolah Alam Nara Mulia Ingin Siapkan Individu Tangguh

“Agar anak-anak mudah memahami, nantinya kami akan membuat video tutorial menjalankan protokol kesehatan di sana. Biar mereka bisa menonton terlebih dahulu. Sehingga saat mulai aktif sekolah sudah bisa langsung diterapkan,” terangnya sambil menunjukkan ruang kelas, Rabu (1/7/2020).

Sambil berjalan menunjukan tempat cuci tangan, dia juga menuturkan, jika di sana ada delapan tempat cuci tangan. Selain itu, di samping pintu masuk juga ada hand sanitizer juga.

“Jadi nantinya kelas dibagi menjadi dua sift, pagi dan siang. Karena kuota kelas yang sebelumnya 28 anak, nanti maksimal 18 anak saja. Sehingga harus mengurangi jam pelajaran tatap muka,” ungkapnya.

Warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus itu juga menambahkan, sekolah akan menyediakan masker. Hal itu guna mengantisipasi jika ada yang lupa membawa masker, karena semua wajib menggunakan masker. Saat pembelajaran, guru juga wajib menggunakan face shield.

Baca juga : Ganjar Minta Kepala Sekolah Tak Main-Main dalam Verifikasi Calon Siswa

Dalam persiapan new normal, sekolah tersebut juga bekerja sama dengan Muhammadiyah Covid Command Center (MCCC). Sehingga, pihak sekolah bisa mendapat arahan dan masukan jika ada hal yang kurang dalam persiapan.

“Jadi jika ada kekurangan, nanti kami akan diberi tahu, sehingga bisa melakukan perbaikan dalam menjalankan protokol kesehatan. Dan kami juga bisa konsultasi dengan MCCC,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Usulan Anggaran untuk Alkes di Pesantren Naik jadi Rp 9 Miliar

0
Sulthon, Kasi PD Pontren pada Kemenag Kudus. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Rencana Kegiatan Belanja (RKB) untuk menghadapi new normal atau kenormalan baru di pondok pesantren di Kudus naik tiga kali lipat. Dari rencana awal yang diusulkan yakni Rp 3,3 miliar, kini naik menjadi Rp 9 miliar.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren (PD Pontren) pada Kementerian Agama (Kemenag) Kudus Sulthon menuturkan, naiknya anggaran tersebut, dikarenakan biaya tes rapid belum terhitung. Menurutnya, setelah dimasukkan kebutuhan tes rapid, biaya melonjak menjadi Rp 9 miliar.

Selain untuk pengadaan alat tes rapid, anggaran yang diusulkan ke pemerintah Kabupaten Kudus juga digunakan untuk membeli masker, face shield, hand sanitizer dan perlengkapan pendukung protokol kesehatan lainnya.

Baca juga : Pesantren di Kudus Usulkan Pengadaan Alkes Senilai Rp 3,36 Miliar

Menurutnya, RKB yang sudah diusulkan harus segera terealisasikan. Mengingat, sejumlah 21.239 santri akan segera memulai aktivitas di pesantren. Bahkan beberapa pondok sudah menerima kedatangan santri.

“Kira-kira saat ini sudah ada sekitar 25 persen santri yang datang ke pondok,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, Jumat (3/7/2020).

Dikatakan Sulthon, santri yang belajar di Kudus mayoritas warga Kudus sendiri. Untuk luar Kabupaten Kudus hanya sekitar 40 persen saja.

Sulthon menuturkan, di Kudus terdapat 114 pondok pesantren. Keseluruhan sudah mengajukan RKB dan data sudah diberikan kepada Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kudus.

“Usulannya sudah dikirim ke sana (Kesra). Setelah itu direview Inspektorat, selanjutnya akan cair. Kemungkinan beberapa Minggu ke depan sudah selesai,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono menuturkan, jika pihaknya telah menerima pengajuan anggaran RKB sebesar Rp 3,3 miliar. Pihaknya, belum mengetahui jika ada tambahan tes rapid sejumlah Rp 6 miliar.
“Saya belum tahu ini. Yang saya tahu pengajuannya masih Rp 3,3 miliar,” tuturnya.

Baca juga : Dewan Minta Pondok Pesantren Buat RKB Alat Kesehatan

Pihaknya mempersilakan pengajuan RKB alat kesehatan di pondok pesantren menjadi Rp 9 miliar. Menurutnya, setelah diusulkan, nantinya data akan divalidasi lagi serta direview oleh Inspektorat.

Menurut Eko, anggaran untuk pembelian alat kesehatan sifatnya hibah. Nantinya pondok pesantren akan menerima berupa barang bukan uang.

“Pakai anggaran TT (Dana Tidak Terduga APBD 2020). Jumlahnya Rp 150 miliar,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Daftar Polisi Gagal, Kerja Kena PHK, Jalan Berliku Mustain yang Kini jadi Pengusaha Besi

0
Mustain, Pemilik Usaha Dagang (UD) Pendowo Putro. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Suryo Kusumo, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tampak gudang yang penuh berisi besi. Di bagian kasir terlihat beberapa karyawan sedang sibuk melayani para calon pembeli. Di samping mereka, tampak seorang pria sedang sibuk dengan alat penghitung. Pria tersebut yakni Mustain, Pemilik Usaha Dagang (UD) Pendowo Putro.

Sembari melakukan aktivitasnya itu, Mustain sudi berbagi kisah tentang usaha tersebut. Dia mengatakan, merintis usaha penjualan besi pada tahun 2011. Namun, sebelum bisa sukses jadi juragan besi, Mustain muda harus berjibaku dengan berbagai macam pekerjaan.

“Dulu, saya itu pingin jadi polisi. Bahkan setelah lulus madrasah aliyah (MA) tahun 1994 saya langsung ikut daftar jadi polisi. Namun sayangnya, saya gagal,” ujar Mustain kepada betanews.id, Jumat (26/6/2020).

Beberapa pekerja di UD Pendowo Putro sedang membuat begel. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : UD Pendowo Putro, Toko Besi Terlengkap di Kudus

Warga Desa Mejobo itu mengatakan, usai tidak diterima jadi polisi, ia pun kemudian kerja di perusahaan elektronik terbesar di Kudus. Ia mengaku bekerja di bagian kondektur truk. Pekerjaan itu ia jalani selama tiga setengah tahun.

“Tiga setengah tahun bekerja, saya pun harus menerima nasib pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebab pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter,” kenang pria bertopi tersebut.

Kemudian, tuturnya, ia pun selanjutnya mengadu peruntungan jadi sopir di pabrik rokok di Kudus. Namun, karena ekonomi negara pada saat itu memang masih krisis, pekerjaan sopir itu pun hanya bertahan enam bulan saja.

Setelah itu, masih kata dia, kemudian ia bekerja jadi sales penjualan besi begel dan cakar ayam. Menurutnya, pekerjaan yang dijalaninya hanya bermodal kepercayaan. Begel dan besi cakar ayam milik para pemroduksi itu dibawanya dulu, dan dibayarnya setelah sudah laku.

“Saya menjalani pekerjaan itu sekitar lima tahun. Setelah menikah saya pun memutuskan untuk produksi besi begel dan cakar ayam sendiri,” ungkap pria yang hobi bersepeda itu.

Setelah menikah, lanjutnya, usahanya makin lancar, pelanggan juga tambah banyak, pemasaran makin luas. Dari penjualan yang meningkat itu, dia punya inisiatif selain produksi besi begel dan cakar ayan juga berjualan besi beton. Menurutnya, setiap orang yang bangun rumah, dan bangunan lain pasti membutuhkan besi.

Baca juga : Dari Jualan Kambing, Pirman Mampu Biayai Putranya Jadi TNI

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, dia rela menjual mobil operasional dan utang uang di bank Rp 150 juta untuk modal. Uang tersebut dijadikan untuk beli tanah di pinggir jalan. Menurutnya, dengan lokasi di pinggir jalan raya, tempat usahanya akan mudah dilihat orang dan cepat dikenal orang.

“Dia bersyukur, usaha yang diberi nama UD Pendowo Putro sekarang sudah besar, yang dulu lokasinya sempit sekarang luas dan ada beberapa tempat. Pelanggan juga banyak. Bahkan saya juga merambah usaha di bidang lainnya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ralat Berita: Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kudus Meninggal di Depan ATM

0
Petugas melakukan evakuasi jenazah Ngatmin Alimanda. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kudus, Ngatmin Ali Manda meninggal di depan ATM BNI dekat Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kompleks Perkantoran Mejobo, Jalan Mejobo – Kudus, Kelurahan Mlati Kidul, pada Jumat (3/7/2020).

Dia yang mengenakan kemeja warna coklat tegeletak tepat di samping pintu ATM BNI dengan tubuh terlentang menghadap ke utara. Ngatmin ditemukan tergeletak sekitar pukul 11.30 WIB.

Menurut Kapolsek Kota AKP Khoirul Naim menuturkan, dari keterangan saksi di lapangan, korban turun dari mobil hendak mengambil uang di ATM BNI. Namun sesampai di depan pintu ATM, korban tiba-tiba duduk dengan nafas tersengal-sengal.

“Tiba-tiba korban tiduran di lantai dalam kondisi lemas dan sudah tidak sadarkan diri,” tuturnya, Jumat (3/7/2020).

Petugas keamanan PDAM, lanjut Naim, mencoba menolong bersama satu temannya yang sedang bertugas di sekitar tempat kejadian. Namun, saat dicek korban sudah dalam kondisi meninggal.

Baca juga :  Akun Facebook Ketua Komisi D DPRD Kudus Dibajak, Minta Uang Rp 2,5 Juta

“Tadi bantuan ambulans dari BPBD datang lengkap dengan APD (alat pelindung diri) dan dibawa ke UGD RSUD dr Loekmono Hadi,” tuturnya.

Menurut informasi yang didapat Naim dari pihak rumah sakit, sesampai IGD RSUD dr Loekmono Hadi, korban sudah dalam keadaan meninggal. Korban juga tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan dan penganiyaan.

“Dari keterangan dokter IGD yang piket, diperkirakan meninggal karena penyakit jantung,” jelasnya.

Naim menambahkan, informasi dari keluarga, korban selama ini memang mempunyai riwayat jantung.

Ngatmin Ali Manda atau biasa dipanggil Ngatmin meninggal dalam usia 55 tahun. Dia yang tinggal di Kelurahan Mlati Kidul, RT 01 RW 01, Kecamatan Kota, Kudus adalah mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kudus periode 2004-2010.

Ngatmin termasuk politikus lama di Kota Kretek. Dirinya juga tercatat pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kudus berpasangan dengan Heru Fathoni tahun 2008. Pada saat itu, dirinya diusung Partai Demokrat, Partai Nasional Indonesia Marhaenis, Partai Pelopor dan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Namun, dirinya harus tersingkir nomor tiga dengan perolehan suara 24.346 orang. Dirinya kalah dengan pasangan Musthofa Wardoyo dan Budiono yang diusung partai PDIP dan Golkar.

Catatan Redaksi :

Judul artikel berita ini sebelumnya adalah ‘Mantan Anggota DPRD Kudus Meninggal di Depan ATM.’ Judul itu kami koreksi karena ketidakakuratan dalam menuliskan riwayat jabatan Ngatmin Ali Manda sebagai mantan anggota DPRD Kudus. Pun demikian penulisan di dalam artikel yang menyebutkan periode jabatan yang bersangkutan pada tahun 2004-2010.

Dengan demikian, kesalahan telah kami perbaiki. Kami mohon maaf atas kekeliruan tersebut. Terima kasih.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gagal Jadi TNI Hingga Tujuh Kali, Jenggot Justru Sukses di Usaha Jual Kambing

0
Pak Jenggot sedang menggiring kambing yang telah dipilih pembeli di kandangnya, Sabtu (27/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Surakhman (49) tampak sibuk siang itu. Bersama dengan sang anak, mereka sedang berjibaku membersihkan kandang kambing yang berada tidak jauh dari rumahnya. Kandang berisi ratusan kambing itu memang rutin dibersihkan. Apalagi, menjelang Hari Raya Idul Adha, pasti akan banyak pelanggan yang datang untuk membeli kambingnya.

Warga Dukuh Klotok, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengatakan, bisnis jualan kambingnya itu meneruskan usaha serupa yang telah dijalani oleh bapaknya. Namun, tadinya ia tidak berminat di bidang tersebut, lantaran mengejar karir jadi TNI.

Seorang pembeli sedang memilih kambing di kandang milik Pak Jenggot, Sabtu (27/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Saya itu sebenarnya bercita-cita jadi TNI. Bahkan setelah lulus Sekolah Teknik, saya merantau ke Jakarta dan daftar jadi tentara, tapi gagal,” ujar Jenggot, panggilan akrabnya, Sabtu (27/6/2020).

Bahkan saking inginnya masuk TNI, ia mendaftar sampai tujuh kali. Namun, setiap ikut seleksi tersebut, dia selalu menemui kegagalan. Jenggot baru berhenti ikut seleksi setelah habis batas syarat usia untuk daftar jadi tentara yakni 24 tahun.

Baca juga: Bisa Titip dan Siap Antar, Masri Punya Pelanggan Hewan Kurban dari Berbagai Daerah

Karena gagal berulang kali itu, orang tuanya kemudian memintanya untuk pulang kampung saja. Orang tuanya bilang makan tidak makan yang penting kumpul.

“Pada tahun 1996 saya pun mengikuti perintah orang tua pulang ke Kudus karena ayah saya sakit lumpuh. Dari situlah, mau tidak mau saya harus melanjutkan usaha jualan kambing,” ungkap pria yang sudah dikaruniai dua anak itu.

Pada awalnya, dia berjualan itu paling hanya satu kambing. Hasilnya selain dibuat berobat orang tuanya, juga ditabung untuk mengembangkan usaha jualan kambing. Hingga pada 2006 saat Idul Adha, Jenggot dipercaya Dinas Peternakan Kudus untuk menyediakan 200 ekor kambing.

“Berawal dari itu saya mulai dikenal banyak orang. Dulu yang stok kambing saya sedikit, kini setiap jualan bisa membawa puluhan kambing,” ungkapnya.

Baca juga: Dari Jualan Kambing, Pirman Mampu Biayai Putranya Jadi TNI

Saat menjelang Hari Raya Kurban, lanjutnya, ia juga menyediakan ratusan kambing. Kambing yang disediakannya itu ada berbagai jenis, salah satunya kambing jawa randu. Kisaran harganya mulai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per ekor. Dia juga melayani pesanan kambing yang berharga Rp 5 juta per ekor.

Dia bersyukur, usaha yang ditekuninya itu kini sudah terlihat hasilnya. Bahkan, dari usaha tersebut ia bisa bangun rumah bertingkat dan membeli mobil untuk operasional. “Semoga ke depannya usaha saya makin lancar,” harap Jenggot.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Melihat Pembuatan Gula Tumbu di Gondangmanis Kudus

0
Proses pembuatan gula tumbu di Desa Gondangmanis, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Asap tampak mengepul dari bangunan tanpa dinding yang berada di Dukuh Kadilangon, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus. Di area tersebut, aroma gula begitu menusuk hidung. Ampas tebu kering terlihat menumpuk dan beberapa pria sedang sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Satu di antara pria tersebut yakni Muhammad Badrudin Zakariya (27) pemilik usaha pembuatan gula tumbu.

Di sela aktivitasnya, pria yang akrab disapa Udin itu sudi berbagi cerita dengan usahanya tersebut. Dia mengatakan, usaha pembuatan gula tumbu itu merupakan usaha turun temurun. Menurutnya, usaha tersebut dulunya dirintis oleh eyangnya. Kemudian berlanjut ke ayahnya dengan dibantu dirinya.

Pekerja menuangkan gula tumbu ke dalam wadah. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Intip Proses Pembuatan Patung di Desa Tamansari Pati

“Yang merintis membuat gula tumbu itu eyang. Bedanya, eyang dulu produksinya masih manual, menggunakan dua ekor sapi untuk menggerakan alat penggiling tebu,” ujar Udin kepada betanews.id, Senin (29/6/2020).

Anak pertama dari tiga bersaudara itu mengatakan, sekarang penggilingan tebu sudah menggunakan mesin diesel. Menurutnya, dengan mesin diesel para pekerjanya itu mampu menggiling tebu satu mobil setiap harinya.

“Setiap produksi kami menyediakan 25 tumbu. Dan untuk mampu mengisi penuh tumbu – tumbu tersebut, butuh waktu sekitar sepekan hingga 10 hari. Tergantung besar dan kecil tebu yang digiling,” ungkap pria bertopi biru itu.

Dia menuturkan, agar bisa menghasilkan gula 25 tumbu, membutuhkan tebu seluas seperempat bahu. sedangkan proses penggilingan tebu hingga jadi air nira dan direbus jadi gula membutuhkan sekitar empat jam. Untuk pemasaran, gula tumbu yang sudah jadi akan diambil bakul dan dikirim ke luar Pulau Jawa.

Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina

“Biasanya gula tumbu ini dijadikan untuk campuran kecap, petis, dan sebagai pemanis minuman,” kata Udin.

Masih kata Udin, produksi gula tumbu miliknya itu beroperasi musiman. Yakni mulai Bulan Juli saat musim panen tebu, dan akan berlangsung sekitar lima bulan ke depan. Sebab setelah itu tidak ada orang yang membutuhkan gula tumbu.

“Saya berharap, ke depan gula tumbu makin banyak yang membutuhkan. Sehingga kami bisa beroperasi setiap bulan dan tidak musiman,” harapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dorong Keterbukaan Informasi Penanganan Covid-19, Ganjar: Tidak Perlu Ada yang Ditutupi

0
Peta indeks kewaspadaan Covid-19. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menekankan tentang keterbukaan informasi terkait penanganan Covid-19. Menurutnya, keterbukaan informasi kepada publik menjadi langkah untuk memberikan informasi ter-update dan juga edukasi.

“Kalau saya gini, ini tidak perlu ada yang ditutupi. Disampaikan saja. Maka kemarin ada yang bilang itu Jawa Tengah tinggi, ya emang. Faktanya memang naik. Maka dari itu butuh adanya perhatian khusus, seperti Semarang, Demak, kemudian ada lagi Rembang, Jepara. Lalu yang lain bagaimana, daerah sekitar Kita Semarang itu juga perlu kita perhatikan maka sudahlah kita buat Korwil saja,” katanya di Puri Gedeh, Kamis (2/7/2020) petang.

Pada kesempatan itu, Ganjar juga mengingatkan daerah-daerah yang masuk dalam perhatian dan daerah sekitarnya untuk tetap saling menjaga. Di antaranya daerah yang berkorelasi dengan Semarang dan jalur Semarang-Surabaya.

Baca juga : Percepat Penanganan Covid-19, Ganjar Bentuk Satkorwil di 6 Keresidenan

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh KawalCovid19 per 1 Juli 2020, kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masih merah meliputi Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Jepara. Daerah yang masih warna merah ke merah muda meliputi daerah yang berdekatan dengan tiga daerah tersebut. Yakni Kendal, Batang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Grobogan, Blora, dan Rembang.

“Jadi kalau kita melihat seperti ini, betul. Maka kemarin di Rembang, saya minta untuk ada perhatian. Merahnya di Timur, ini kan mulai pelan-pelan ke Barat itu mulai muda. Begitu juga yang di Jawa Barat. Bentuknya sama,” kata Ganjar sambil menunjukkan peta indeks kewaspadaan yang diperolehnya.

Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur. Keduanya masuk dalam jalur Semarang-Surabaya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro yang merupakan daerah warna merah dan merah muda.

Sementara Tuban dan Bojonegoro berkorelasi dengan Lamongan, Gresik, dan Kota Surabaya. Gresik dan Kota Surabaya merupakan daerah dengan warna merah tua atau indeks kewaspadaan tinggi yakni level 6.

Sementara daerah-daerah di Jawa Tengah bagian Selatan dan Tengah ke arah Barat warnanya relatif merah muda ke putih. Begitu juga dengan wilayah Solo Raya. Menurut Ganjar hal itu membuktikan bahwa setiap daerah itu memiliki korelasi terkait persebaran Covid-19.

“Ada korelasinya dengan itu. Jadi Rembang ada korelasinya (dengan Jawa Timur), Sragen ada korelasinya, Karanganyar ada korelasinya dan itu dilaporkan oleh bupati maka kita minta untuk saling menjaga di antara mereka. Jadi ini ada yang musti kita perhatikan,” jelasnya.

Baca juga : Ganjar Sebut New Normal di PT Nojorono Bisa Jadi Model Baru di Tempat Kerja

“Ini menarik. Ini bisa dijadikan analisis apa yang musti kita siapkan, apa yang musti kita perhatikan sehingga nantinya orang bisa mengerti,” sambung Ganjar.

Hal itu juga yang kemudian menjadi salah satu latar belakang Ganjar membuat enam satuan koordinator wilayah (Satkorwil) di enam eks Karesidenan. Di mana enam Korwil tersebut berfungsi untuk percepatan penanganan Covid-19 di Jawa Tengah. Seperti mempercepat update data di real time dengan menagih daerah yang kurang cepat melaporkan data. Korwil juga bertugas untuk memantau daerah-daerah yang masuk di masing-masing eks karesidenan.

“Setiap Korwil nanti bisa menagih dan bisa memantau daerahnya. Berapa rapid test sudah berjalan, berapa PCR tesnya, kalau dilihat dari persentase berapa, sudah memenuhi syarat apa belum, terus kemudian tracingnya bagaimana, apa ada kekurangan atau tidak. Begitu,” papar Ganjar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Seluruh Desa di Kudus Terima Bantuan Jogo Tonggo Kit

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo menyerahkan bantuan Jogo Tonggo Kit kepada perwakilan kepala desa di Kudus. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyalurkan bantuan berupa 132 paket Jogo Tonggo Kit kepada Pemerintah Kabupaten Kudus, Jumat (3/7/2020). Bantuan berupa alat kesehatan tersebut diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dan diterima langsung oleh Plt Bupati Kudus HM Hartopo di Pendopo Kabupaten Kudus. Hadir juga perwakilan anggota DPRD Provinsi Jateng dan sejumlah kepala desa di Kudus.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo menuturkan, bantuan yang diberikan bersifat stimulan. Pihaknya hanya memberikan bantuan di tingkat desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Kudus.

“Bantuan bersifat stimulan. Karena kami belum bisa menyentuh sampai ke tingkat RT dan RW,” tuturnya saat ditemui selepas kegiatan.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo. Foto: Imam Arwindra

Baca juga : Kampung Tangguh Nusantara Candi Diharapkan Jadi Solusi Penanganan Pandemi

Dia menjelaskan, Jogo Tonggo Kit yakni berisi alat kesehatan yang nantinya digunakan Satgas Jogo Tonggo untuk menjalankan tugas.

Di sebutkan, setiap desa mendapatkan 1.000 buah masker kain, sepatu boot 10 pasang, sarung tangan 10 pasang, spryer otomatic satu buah dan hand sanitizer 50 liter. Selanjutnya, disinfektan 30 liter, thermogun satu buah, tas satu buah, modul buku satu buah dan alat pelindung diri (APD) sipil 10 set.

“Jadi APD yang kami berikan bukan yang biasa digunakan untuk tenaga medis. Ini APD sipil,” jelasnya.

Menurutnya, untuk seluruh desa dan kelurahan di Jawa Tengah, pihaknya sudah menyiapkan 8.550 paket Jogo Tonggo Kit. Saat ini, pihaknya sedang melakukan pendistribusian ke semua wilayah di Jawa Tengah.

“Kami bagikan 8.550 buah paket ke masyarakat sesuai jumlah desa yang ada di Jawa Tengah,” tuturnya.

Yulianto menuturkan, pemberian berupa alat kesehatan merupakan strategi pemberdayaan masyarakat dalam mencegah penyebaran Covid-19. Masyarakat diminta untuk terlibat langsung dalam melakukan perencanaan hingga evaluasi.

“Ini sesuai intruksi gubernur, Jogo Tonggo bisa terlibat dalam mendata masyarakat. Terutama yang berisiko tinggi,” terangnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada Kabupaten Kudus. Menurutnya, bantuan Jogo Tonggo Kit sangat diperlukan terutama di desa.

“Di tengah tren kasus (Covid-19) yang meningkat, saya berharap Jogo Tonggo Kit dapat bermanfaat untuk pencegahan penularan Covid-19,” tuturnya.

Baca juga : Warung Gratis, Cara Desa Gambasan Temanggung Aplikasikan Jogo Tonggo

Selain itu, Hartopo meminta agar Pemprov Jateng dapat membantu rumah sakit lini tiga. Menurutnya, saat ini pemerintah pusat hanya memberikan bantuan kepada rumah sakit lini satu dan dua.

Dia juga menyebutkan, di Kudus terdapat tujuh rumah sakit rujukan Covid-19. Satu rumah sakit lini satu yakni RSUD dr Loekmono Hadi, satu rumah sakit lini dua yakni RS Mardi Rahayu dan lima rumah sakit lini tiga.

Diketahui rumah sakit lini tiga di Kudus yakni RSI Sunan Kudus, RS Kumala Siwi, RS Aisiyah, RS Nurus Syifa dan RS Kartika Husada. “Kalau bisa kami minta ‘angka’ untuk membantu rumah sakit lini tiga yang ada di Kudus,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemprov Jateng Siapkan Kebijakan untuk Kawasan Tak Punya SMA/SMK Negeri

0
Gubernur Ganjar Pranowo meninjau SMAN 1, SMKN 4, dan SMKN 8 untuk mengecek proses verifikasi berkas setelah proses PPDB online, Jumat (3/7/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tengah menyiapkan berbagai kebijakan untuk daerah yang tidak memiliki SMA/SMK Negeri. Langkah ini diambil sebagai jaminan kehadiran pemerintah dalam memfasilitasi anak-anak untuk memperoleh pendidikan.

Kepala Disdikbud Jumeri mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan sekolah jarak jauh yang akan dibuat di tiga kecamatan di Jateng. Yaitu di Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, dan Kecamatan Pagentan di Banjarnegara.

“Sudah dalam progres itu sekolah jarak jauh, sementara tiga (daerah) dulu dan ini sedang kita kaji lagi. Pokoknya negara harus hadir. Ada juga jurus yang kita siapkan, bisa kelas jarak jauh, bisa menambah rombongan per kelas, bisa beasiswa, bisa dititipkan ke swasta. Untuk swasta sedang negosiasi,” katanya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melihat proses verifikasi PPDB di SMKN 8 Semarang, Jumat (3/7/2020).

Baca juga: Pemprov Jateng Akan Buat Kelas SMA Jarak Jauh di Gebog Kudus

Kebijakan tersebut sesuai dengan arahan Gubernur Jateng yang mengatakan semua kebijakan harus dibuat, terutama untuk area-area yang tidak memiliki sekolah. Menurut Ganjar, dalam situasi seperti sekarang ini, di mana semua berubah, maka diperlukan banyak cara dan harus out of the box.

“Kalau selama ini, pokoknya standar indeksnya begini, lha itu kaku-kakuan. Sekarang ini, dengan situasi yang seperti lagu Lathi ‘everything has changed’, kan lagi berubah. Maka kita cari cara juga untuk solusi tadi,” kata Ganjar.

Baca juga: Pembukaan Sekolah di Jateng Masih Tunggu Keputusan Mendikbud

Ganjar membeberkan, dengan sistem yang ada saat ini, ternyata masih banyak yang belum terjangkau. Imbasnya, anak-anak di kawasan tertentu tidak bisa diterima dalam PPDB.

“Maka kita harus hadir, negara harus hadir. Mau cara dari jauh, terus kemudian mau kita kasih beasiswa, rombongan belajar ditambah lagi. Yang uji coba tiga daerah sudah kita siapkan, dengan daerah kita siapin, polanya kita siapin,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kejari Kudus Diminta Tidak Tebang Pilih Tangani Kasus Korupsi

0
Aksi sejumlah orang yang mengatasnamakan Lembaga Pemerhati Aspirasi Publik di depan Kantor Kejari Kudus. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus diminta untuk tidak tebang pilih dalam menangani kasus, khususnya kasus korupsi. Adanya operasi tangkap tangan (OTT) PDAM dinilai merupakan gebrakan yang sangat baik. Namun, Kejari diminta tidak tebang pilih.

“Kejari jangan tebang pilih. Orang yang diperiksa dan memenuhi unsur harus ditindak,” ujar Ahmad Fikri saat menggelar aksi bersama sejumlah orang yang mengatasnamakan Lembaga Pemerhati Aspirasi Publik, Kamis (2/7/2020).

Kajari Kudus Rustiningsih menerima bunga dari perwakilan Lembaga Pemerhati Aspirasi Publik. Foto: Imam Arwindra

Dalam kasus suap pengangkatan pegawai di PDAM Kudus, Fikri mengapresiasi langkah Kejari Kudus hingga sudah menetapkan seorang inisial T menjadi tersangka. Namun, pihaknya mempertanyakan, jika kasus suap, maka ada yang menerima dan memberi.

Baca juga : Sebut Kekurangan SDM, Kejari Limpahkan Kasus OTT PDAM Kudus ke Kejati Jateng

“Kami sangat apresiasi sekali (kejari) sebagai penegak hukum. Namun tidak mandek di satu tersangka saja. Kejari harus kembangkan kasus tersebut secara terencana dan masif. Kita akan kawal terus,” jelasnya.

Selain itu, Fikri juga mendukung agar kejari berani mengungkap kasus korupsi yang lebih besar. Menurutnya, OTT pegawai PDAM yang dilakukan kemarin hanya kelas recehan. Kejari hanya menangkap pejabat rendahan.

“Kami akan mendukung kejari agar bisa membongkar kasus-kasus lain yang lebih besar,” tuturnya.

Selain kasus OTT PDAM, menurut Fikri, banyak indikasi kasus korupsi di Kudus yang belum terungkap. Ia sebutkan, saat persidangan Bupati Kudus non aktif HM Tamzil, ada seorang mantan kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang bersaksi di hadapan majelis. Mantan Kepala OPD tersebut bersaksi adanya potongan fee proyek lima persen di era Bupati Kudus sebelum HM Tamzil.

“Itu kan bisa menjadi pintu masuk kejari untuk membongkar kasus itu. Dan itu kasus besar. Namun sampai sekarang seolah tidak terjadi apa-apa. Dan aparat hukum tidak melakukan apa-apa, ini ada komunikasi transaksional apa,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kejari Kudus Rustininingsih menyampaikan terima kasih atas masukan yang diberikan. Menurutnya, pihaknya akan terus meningkatkan kinerjanya dalam penegakan hukum.

Mengenai kasus OTT PDAM, menurutnya pihaknya tetap melakukan pengembangan dari kasus tersebut. Namun saat ini penanganan sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah.

Baca juga : 35 Pegawai PDAM Diperiksa Kejari Kudus Terkait OTT Terhadap T

“Penyelidikan sudah 90 persen. Kami akan tetap berkoordinasi dengan mereka (Kejati),” tuturnya.

Saat disinggung mengenai keterbukaan informasi, Rustininingsih menuturkan, agar semua elemen masyarakat bersabar. Menurutnya, ada berberapa informasi yang boleh dipublikasi dan ada pula yang tidak boleh. Hal tersebut demi kesuksesan proses penyelidikan.

Selain itu, pihaknya juga menghindari adanya praduga yang ditimbulkan dari informasi yang diberikan.


Editor : Kholistiono

- advertisement -