BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara Jalan Sunan Kudus, Desa Damaran, Kecamatan kota, Kudus, tampak bangunan bercat kuning. Di dalamnya terlihat perempuan berjilbab sedang menggoreng pisang. Sedang di sampingnya, perempuan dengan rambut sepunggung sibuk mencatat pesanan dari pelanggan. Perempuan tersebut adalah Novilia (28), gadis cantik penjual pisang goreng krispi bermerek Raja Banana Crispy.
Seusai menulis pesanan, Novilia berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai usaha jualan pisang goreng krispi sejak 2018. Sebelum mantap berbisnis pisang, dia terlebih dulu bekerja ikut orang sejak lulus SMA.

“Sebelumnya saya pernah kerja di konter hanya digaji Rp 400 ribu sebulan. Pernah juga jadi sales promotion girl (SPG). Pokoknya dulu itu kerja apa saja, yang penting halal,” ujar Novilia kepada Betanews.id, Jumat (12/6/2020).
Gadis lajang itu mengaku dapat ide usaha saat membeli pisang goreng krispi bersama teman-temannya. Saat mencicipi itulah, Novilia berseloroh kepada mereka, kalau dia bisa membuat pisang krispi yang lebih enak dari yang dibeli itu.
Baca juga: Awalnya Iseng, Gethuk Tengu Buatan Nia Kini Jadi Bisnis Menjanjikan
Selang beberapa hari, dia pun iseng membuatnya dan temannya jadi tester. Benar saja, mereka semua bilang pisang krispi buatan Novilia itu enak.
“Saya sendiri itu gemar masak. Karena dari nenek dan ibu saya itu punya warung. Bisa dibilang keahlian memasak itu keturunan,” ungkap warga Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus itu.
Setelah yakin untuk buka usaha, Novilia kemudian memberanikan diri untuk buka pre order pisang goreng krispi. Dalam sehari itu, langsung ada pesanan 20 porsi. Dia pun berinisiatif mengiklankan pisang goreng krispi miliknya di akun Instagram.
“Setelah saya iklan, orderan meningkat dua kali lipat. Tadinya hanya 20 porsi, meningkat jadi 45 porsi sehari,” beber anak terakhir dari tiga bersaudara tersebut.
Dia pun mulai mengembangkan bisnisnya, termasuk ketika ojek online (ojol) masuk Kudus. Waktu itu, dia segera mendaftarkan usahannya untuk menjadi mitra. Sejak saat itu, penjualannya makin stabil dan ia pun nekat sewa tempat di tepi jalan raya.
“Lokasi sebelumnya itu agak di dalam gang. Jadi penjualan hanya lewat ojol saja. Dengan sewa lokasi di tepi jalan raya. Harapan saya, selain dapat order dari ojol juga dapat pelanggan dari orang yang lewat,” paparnya.
Baca juga: 35 Tahun Jadi Primadona, Kunci Sukses Jagung Bakar Paini Ada di Sambal
Benar saja, sejak menjajakan pisang goreng krispi di pinggir jalan raya, penjualannya meningkat pesat. Sebulan omzet penjualan pisang goreng krispinya mencapai Rp 20 juta. Jumlah itu hanya penjualan lewat ojol saja. Belum termasuk pembeli yang datang langsung ke toko.
“Sedangkan omzet dari pembeli yang datang ke toko sekitar Rp 1 juta sehari,” jelasnya.
Menurutnya, itu penghasilan kotor sebelum ada pandemi Corona. Sejak ada wabah itu, orderan Raja Banana Crispy dari ojol turun 50 persen. Namun, pembeli yang datang ke toko masih stabil.
“Semoga saja keadaan bisa kembali normal. Sehingga usaha saya bisa lancar lagi dan pelanggan Raja Banan Crispy makin banyak lagi,” harapnya sambil tersenyum.
Editor: Ahmad Muhlisin

