Beranda blog Halaman 1820

Ganjar Sebut Modus Pungli di Sekolah, Mulai Beli Seragam hingga Infaq

2
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau proses verifikasi PPDB di SMAN 4 Semarang. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Seluruh Kepala SMA/SMK/SLB Negeri diwanti-wanti agar tidak melakukan pungutan liar paska penerimaan peserta didik baru (PPDB). Apabila ditemukan, pihaknya tidak akan segan mengambil tindakan tegas.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kepada sejumlah kepala sekolah yang dikunjunginya, Selasa (7/7/2020). Sambil gowes pagi, Ganjar mengecek proses verifikasi data di SMAN 4 dan 9 Banyumanik Kota Semarang.

Dari dua sekolah yang dikunjungi itu, mayoritas siswa baru sudah selesai dilakukan verifikasi dan validasi data. Hanya di SMAN 9 Banyumanik yang kurang delapan siswa yang hari ini terakhir diverifikasi.

“Rata-rata sudah selesai verifikasinya. Saya minta betul-betul diverifikasi dan kalau ada kecurangan langsung dicoret. Dan saya ingatkan kepada seluruh kepala sekolah, agar tidak melakukan pungutan-pungutan liar kepada siswa baru itu,” kata Ganjar.

Baca juga : Temukan Manipulasi Data saat Verifikasi PPDB, Ganjar: ‘Tidak Ada Toleransi’

Ganjar menerangkan, sudah ada beberapa laporan tentang adanya pungutan oleh orang tua siswa. Setelah diterima, anak-anak itu lanjut Ganjar diminta membayar ini dan itu.

“Saya minta tidak ada pungutan, karena kalau orang tua tidak mampu, kan tidak bisa. Nanti mereka keberatan. Sudah ada yang lapor dan langsung kami tindaklanjuti, mereka rata-rata mengelak melakukan pungutan,” jelasnya.

Ganjar meminta seluruh pengelola sekolah menggelar rapat dengan komite dan orang tua siswa. Dalam rapat itu, dibahas aturan main sekolah dan apa saja yang sudah dijamin oleh pemerintah.

“Apabila memang harus ada iuran, maka semua harus dirapatkan dengan komite sekolah dan orang tua siswa. Kalau sudah ada kesepakatan, monggo. Tapi, tidak boleh ada paksaan, iuran harus bersifat sukarela,” tegasnya.

Biasanya, lanjut Ganjar, modus pungutan yang dilakukan pengelola sekolah pada peserta didik baru adalah seragam sekolah. Mereka memaksa siswa baru membeli seragam dari tempat yang ditunjuk.

“Belinya di sini, mau apa tidak, begitu. Ada laporan itu dan saya tidaklanjuti. Ngakunya, mereka hanya menawarkan dan berkilah memaksa. Yang begini-begini ini jangan,” pintanya.

Ada pula modus pungutan untuk pembangunan infrastruktur. Bahkan ada yang memanipulasi judul pungutan, yakni dengan infaq atau sedekah.

“Masa infaq memaksa, kan ndak boleh. Untuk pemenuhan itu (infrastruktur) biar jadi urusan pemerintah. Makanya, kami mencoba memberi porsi lebih banyak lagi anggaran untuk pendidikan salah satunya untuk ini,” katanya.

Ganjar meminta pihak sekolah merencanakan apabila akan ada pembangunan. Design pembangunan sekolah dibuat sebaik mungkin dan nantinya pemerintah yang mengeksekusi.

“Termasuk kami juga sedang memprioritaskan daerah-daerah yang belum memiliki SMA/SMK negeri. Ini sedang kami kebut, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dicicil pembangunannya, agar akses sekolahnya jadi lebih banyak lagi,” pungkasnya.

Baca juga : Ganjar Ancam Seret ke Jalur Hukum Bagi yang Berani Gunakan SKD Palsu untuk PPDB

Sementara itu, Kepala SMAN 4 Banyumanik, Wiji Eny Ngudi Rahayu mengatakan, proses verifikasi sudah rampung dilakukan. Selama proses itu, tidak ada temuan pelanggaran yang dilakukan oleh calon siswa.

“Alhamdulillah tidak ada yang palsu, semuanya sesuai,” katanya.

Disinggung soal larangan pungutan oleh Ganjar, Wiji memastikan bahwa di sekolahnya itu tidak ada pungutan-pungutan. Semua pemenuhan fasilitas dan sarana prasarana, dilakukan dengan menggunakan dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP).

“Ada juga sumbangan dari para alumni dan guru. Jadi, kami memang tidak melakukan pungutan apapun pada siswa,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Desa Wisata di Kudus Bisa Ajukan Bantuan Alkes ke Pemkab

0
Beberapa wisatawan menikmati saat berkunjung ke lokasi wisata di Desa Ternadi. Foto: M Khaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus mempersilakan pengelola desa wisata mengajukan kebutuhan alat kesehatan untuk penanganan persiapan new normal. Kebutuhan tersebut di antaranya thermal gun, wastafel portabel, face shield, masker, hand sanitizer dan kebutuhan alat lainnya.

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono menuturkan, pengelola dari desa wisata dapat mengajukan kebutuhan alat kesehatan (alkes). Teknisnya, pengelola wisata membuat Rencana Kegiatan Belanja (RKB) dan selanjutnya diajukan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus.

“Jadi membuat proposal atau RKB yang berisi tentang kebutuhan alkes,” tuturnya, Senin (6/7/2020) saat ditemui di ruangannya.

Baca juga : Desa Wisata di Kudus Sudah Dibolehkan Terima Wisatawan dengan Syarat

Eko menjelaskan, proposal yang diajukan nantinya bersifat hibah. Pihaknya sadar, kebutuhan alkes terutama di tempat wisata akan membutuhkan banyak. Namun dirinya tidak menyarankan bagi wisata yang dikelola swasta.

“Kalau punya swasta kan pasti sudah dianggarkan sendiri. Jadi tidak perlu (mengajukan proposal bantuan),” jelasnya.

Eko menuturkan, setelah proposal diajukan ke Disbudpar, nantinya Disbudpar akan mengajukan ke Bupati Kudus untuk diberikan surat keputusan (SK). Namun sebelum itu, proposal akan direview dulu oleh inspektorat.

“Kalau sudah beres semua, nanti kita (BPPKAD) akan langsung dicairkan,” jelasnya.

Menurut Eko, anggaran yang digunakan untuk pengajuan alkes tersebut bersumber dari anggaran belanja tidak terduga (TT) tahun 2020 sejumlah Rp 150 miliar. Anggaran TT tersebut per 30 Juni 2020 baru terserap 5,41 persen (Rp 7,6 miliar) dan masih sisa Rp 142 miliar.

“Jadi dana TT bisa digunakan untuk penanganan Covid-19. Persentasenya 30 persen untuk kesehatan, 50 persen Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan 20 persen ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah menuturkan, pihaknya telah menerima usulan kebutuhan alkes dari 19 desa wisata maupun rintisan desa wisata di Kabupaten Kudus. Selain itu, pihaknya juga membuat usulan kebutuhan alkes dari daerah tempat wisata (DTW) yang dikelola pemkab sendiri.

Baca juga : Dibuka Kembali, Wisata Ternadi yang Suguhkan Indahnya Alam Muria Ramai Pengunjung

“Untuk yang swasta sudah mampu sendiri membeli (alkes). Seperti Hills Vaganza, Taman Ternadi dan Waterboom. Yang kita bantu (alkes), itu desa wisata yang tidak mampu. Karena satu DTW ada dua sampai tiga lokasi wisata,” tuturnya.

Sementara ini, lanjut Mutrikah, nilai nominal yang akan diajukannya yakni Rp 371 juta. Menurutnya, selain digunakan untuk membeli alat kesehatan protokol kesehatan, juga akan digunakan untuk kegiatan sosialisasi, simulasi dan evaluasi penerapan new normal.

“Iya seperti simulasi kita anggarkan. Karena setiap simulasi bisa ada yang satu kali sampai tiga kali,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

KFC dan Yoshinoya Ajukan Penundaan Pembayaran Pajak

0
KFC yang berada di Kudus. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua resto waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) dan Yoshinoya mengajukan penundaan pembayaran pajak ke pemerintah daerah. Permohonan pengajuan tersebut akibat omzet yang menurun di saat pandemi Covid-19.

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono menuturkan, pengajuan penundaan pembayaran pajak di mulai dari bulan Mei 2020. Menurutnya, permohonan penundaan pembayaran pajak akan dilakukan hingga bulan Desember 2020.

“Jadi ada yang sudah mengajukan dua. Dari bulan Mei dan ada yang mulai bulan Juni,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, Senin (6/7/2020).

Baca juga : Sejak April Hingga September 2020, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM

Eko menuturkan, pengajuan penundaan pembayaran pajak adalah hal yang maklum di tengah pandemi. Menurutnya, pihaknya memberikan izin dan mengabulkan permohonan tersebut. Selain itu, pihaknya juga tidak memberikan sanksi denda sebesar dua persen atas telatnya pembayaran pajak.

“Intinya permohonan bayar pajaknya telat dan tidak kena denda,” jelasnya.

Dalam teknis pembayaran pajak nantinya, lanjut Eko, bisa menggunakan sistem rapel. Dicontohkan, pajak Bulan Mei, Juni dan Juli nanti akan dibayar di bulan September.

“Tetap mereka akan bayar sesuai dengan aturan, yakni 10 persen dari omzet. Dan mereka sanggup,” tuturnya.

Dibolehkannya penundaan selama pandemi, menurut Eko juga dilandasi dengan Peraturan Bupati (Perbup) Kudus mengenai Relaksasi Covid-19. Pihaknya tidak akan berani mengabulkan permohonan tanpa ada aturan yang mengaturnya.

“Itu sudah diatur di perbup. Saya gak berani jalan kalau tanpa landasan,” tuturnya.

Eko memberitahukan, pengajuan penundaan pembayaran pajak tersebut, langsung dari kantor pusat waralaba. Bukan dari KFC Kudus.

Baca juga : Pegadaian Beri Bunga Nol Persen Bagi Pelaku UMKM, Ini Syaratnya

Menurutnya, managemen KFC secara global menginisiasi pengajuan penundaan pajak di setiap daerah. Hal tersebut diduganya karena ada beberapa daerah yang penjualannya masih normal, namun ada juga di daerah yang benar-benar tidak jalan karena Covid-19.

“Kalau KFC di Kudus saya kira masih normal. Setiap hari ramai. Namun mungkin berbeda KFC yang berada di daerah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti di Jakarta,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Juluki Dirinya Dewa Madu, Tiap 10 Hari Mampu Hasilkan Tiga Kwintal Madu Murni

0
Noor Khasan atau Dewa Madu dari Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu beberapa orang terlihat sedang sibuk di pekarangan yang berada di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Mereka terlihat membuka gelodok atau setut. Setelah terbuka dari dalam setut beterbangan ribuan lebah penghasil madu. Dengan tenang para pria tersebut mengambil sisiran tempat madu dari dalam setut. Satu di antara pria tersebut yakni Noor Khasan (47) yang menjuluki dirinya Dewa Madu.

Di sela aktivitasnya tersebut, di antara ancaman sengatan lebah, dia sudi berbagi penjelasan dengan julukan tersebut. Dia mengaku julukan itu sengaja dipakainya, karena dia memang seorang peternak lebah madu sudah puluhan tahun. Selain itu, agar mudah dikenal dan tentunya diingat dengan nama nyentrik tersebut.

Proses panen madu. Terlihat pemanen menggunakan asap untuk menjinakkan tawon. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Melihat Proses Panen Madu di Desa Dukuhwaringin

“Sengaja saja pakai nama Dewa Madu. Ya selain karena saya memang peternak lebah madu, biar mudah diingat dan dikenal. Namanya juga nyentrik, jadi gampang terkenal, serta untuk menaikkan brand hasil madu saya,” ujar Dewa Madu kepada betamews.id, Sabtu (4/7/2020).

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, mulai usaha budi daya ternak lebah madu pada tahun 1997. Namun, sebelumnya ia mengaku ikut membantu ayahnya yang beternak lebah madu sejak 1980.

“Bisa dibilang ini usaha warisan. Karena memang saya meneruskan usaha ayah saya. Ayah saya sendiri merupakan orang Kudus pertama yang beternak lebah madu,” ungkapnya.

Sebenarnya, lanjutnya, ayahnya dulu itu pembuat gula tumbu. Namun karena gula tumbu pada waktu itu harganya hancur, serta kebetulan pada saat itu ada orang dari Gringsing menggembala lebah madu di desanya. Melihat itu, ayahnya pun tertarik untuk beternak lebah madu.

“Saat itu ayahku langsung menjual peralatan pembuat gula tumbu. Dan hasil penjualan itu digunakan untuk modal ternak lebah madu,” paparnya.

Dia menuturkan, puluhan tahun ternak lebah madu, kini ia punya seratus gelodok atau setut tempat lebah menghasilkan madu. Dari jumlah tersebut, ia mengaku bisa menghasilkan sekitar tiga kwintal madu murni setiap panennya. Jika cuaca bagus, tuturnya, setiap 10 hari bisa panen madu.

Baca juga : Saking Larisnya, Siswanto Hanya Mampu Layani 400 Keranjang Kolak Gudang Sehari

“Madu yang dihasilkan tergantung dimana menggembala lebah tersebut, serta nektar bunga apa yang dihisap untuk diproses jadi madu. Namun, khusus untuk di Desa Dukuhwaringin dan yang sedang saya panen ini madu randu,” jelasnya yang menjual madu Rp 80 ribu per botol berisi 500 mililiter.

Untuk peminat madu miliknya, katanya tidak hanya orang Kudus saja melainkan juga lain daerah. Madu dari Dewa Madu sudah terkenal keaslian kemurniannya. Peminatnya sampai Surabaya, Jakarta, hingg Batam.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Aeromonas, Penyakit Mematikan pada Ikan Koi yang Belum Bisa Teratasi

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan ikan koi terlihat sedang berebut makan di sebuah kolam di Muria Koi, di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kudus. Seorang pria yang memberi makan ikan tersebut yakni Sandi Tumonjo (28). Sambil memberi makan ikan, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang penyakit yang masih belum bisa teratasi pada ikan koi.

Menurutnya, ada beberapa jenis penyakit ikan koi. Di antaranya, white spot, aeromonas, sisik lepas dan jamur mulut. Dari sejumlah penyakit ikan koi, aeromonas menjadi penyakit yang paling mematikan.

Central Ikan Hias Muria Koi di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kudus. Foto: Ahmar Rosyidi

“Dari sejumlah penyakit aeromonas lah yang paing mematikan. Jika terkena, kemungkinan kematian 98 persen ikan akan mati. Dan kami belum bisa memgatasi,” jelas pengelola Muria Koi itu, Jumat (3/7/2020).

Meski ikan koi di sana memiliki banyak jenis, tetapi untuk perawatannya sama saja. Nantinya akan terlihat jika ada ikan yang sakit. Ikannya akan lemas tidak aktif gerak seperti biasanya.

Baca juga : Dari Rp 5 Ribu Sampai Jutaan Rupiah, Penjualan Ikan Koi Tembus Hingga Bali

“Kemudian nanti kita ambil, dicek penyakitnya. Jika ada ikan sakit perlu dikarantina dulu agar tidak menular. Setelah tahu penyakitnya, kemudian kita obati sesuai kebutuhan, karena beda penyakit beda penanganan,” terang warga Desa Margorejo, RT 04 RW 01, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Pria yang akrab disapa Sandi itu juga menambahkan, jika tidak ada perawatan khusus pada ikan koi. Yang terpenting bisa memelihara air yang sehat. Karena ikan akan otomatis sehat jika di lingkungan yang sehat.

“Seperti manusia, jika hidup di lingkungan yang sehat ya sehat. Air sehat itu yang mature, bebas amonia, bebas nitrat, oksigen cukup dan PH normal,” katanya.

kedalaman kolam yang ideal untuk pembesaran ikan koi, yaitu kedalaman 1,5 meter dan lebar 4,5 meter. Dengan maksimal ikan 100 ekor. Kemudian diberikan pakan yang mengandung protein tinggi.

“Jika filterasi bagus, air tidak perlu sering dikuras. Pengurasan bisa 6 bulan hingga 1 tahun, itu pun dikuras bagian filterasinya saja. Jadi kolam utama tidak perlu dikuras,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

BPBD Jateng Waspadai Kebakaran Gunung dan Hutan saat Musim Kemarau

0
Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Musim kemarau mulai melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Tengah memasuki bulan Juli 2020 ini. Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah berupaya meningkatkan kewaspadaan. Khususnya kebakaran sejumlah gunung besar dan lahan hutan. Mengingat sulitnya proses pemadaman jika itu terjadi.

“Yang cukup berat adalah kebakaran hutan atau gunung. Karena kalau untuk water bombing yang dari pesawat itu kan susah. Airnya enggak ada. Yang diambil air dari mana. Beda dengan di Riau. Kalau Riau kan sungai ke muara, sungai besar-besar. Dan bisa diambil pakai pesawat. Kalau ini, ambil dari mana,” kata Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana, di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Senin (6/7/2020).

Dia berharap pengalaman adanya kebakaran gunung yang pernah terjadi, tidak akan melanda lagi. Dari catatannya, kebakaran gunung yang pernah terjadi yakni di Gunung Lawu, Gunung Sindoro Sumbing, Merbabu, Merapi, dan Slamet. Oleh karena itu, pihaknya telah meminta pengelola bukit dan hutan mewaspadai adanya pendaki. Mengingat saat kemarau tiba, biasanya banyak pendaki.

Para pendaki itu kadang-kadang lupa saat mendaki, mereka membuat api unggun. Begitu mereka naik melanjutkan aktivitas mendakinya, pemadaman api unggun tak maksimal dilakukan. Sementara di musim kemarau, mereka bawa air bersihnya saja sedikit.

Baca juga : Pengerjaan Seksi II Tol Semarang-Demak Ditarget Selesai 2021

“Bagaimana mau meyakinkan bahwa itu sudah mati. Yang juga sering terjadi, adalah supaya efisien dengan pembuka lahan yakni membakar alang-alang. Ini agar tidak dilakukan masyarakat. Kalau bakar, ditungguin tidak apa-apa. Kalau bakar, ditinggal, yang terjadi (potensi kebakaran),” ujarnya.

BPBD Jateng sudah mengeluarkan surat atau rekomendasi dari BMKG. Kemudian hal itu dilanjutkan ke kabupaten dan kota. Tujuannya agar mereka waspada, termasuk untuk membuka posko dan penyediaan air bersih. Pihaknya memperkirakan musim kemarau akan mulai masuk pada Juli, namun total melanda Jawa Tengah saat Agustus.”Juli sudah masuk kemarau. Tapi khusus untuk daerah Cilacap, Banyumas, daerah situ masih ada spot hujan. Tetapi Agustus seluruh Jawa Tengah masuk,” imbuhnya.

Kaitannya kebutuhan air bersih untuk mengantisipasi masuknya musim kemarau, pihaknya telah menyediakan 1.100 tangki air bersih. Jumlah itu sama seperti tahun lalu. BPBD memprediksi kemarau tahun ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Hanya, di antara yang beda adalah Kabupaten Wonogiri kemungkinan tidak dilanda kekeringan parah.

“Mungkin yang berkurang adalah Wonogiri. Wonogiri sudah membangun beberapa upaya pipa dan pengolahan air tawar. Wonogiri yang selama ini menjadi ikon kekeringan, sekarang enggak. Untuk tahun ini enggak terlalu. Mudah-mudahan tahun ini enggak terlalu parah seperti tahun kemarin,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ingin Hidup Layak Usai Menikah, Riyanto Rintis Usaha Loster dan Ornamen Masjid

0
Riyanto, Perajin Loster dan Ornamen Masjid

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria terlihat sibuk di samping rumah yang berada di tepi Jalan Madya Utama RT 7 RW 2 Dukuh Krajan, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Mereka terlihat memasukkan pasir yang dicampur semen dan air ke dalam cetakan. Satu di antara pria tersebut yakni Riyanto (35) pemilik usaha pembuatan loster dan ornamen dinding masjid.

Di sela aktivitasnya tersebut, Riyanto sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, mulai merintis usaha pembuatan loster sejak tahun 2005. Merintis usaha itu dilakukannya, agar setelah menikah pada tahun 2004 ia sudah mandiri dan punya usaha sendiri.

Proses pembuatan loster di tempat usaha milik Riyanto. Foto: Rabu Sipan

“Sebelumnya saya kerja ikut orang selama lima tahun. Karena ingin mandiri dan punya penghasilan lebih setelah menikah, saya pun memberanikan diri untuk merintis usaha pembuatan loster sendiri,” ujar Riyanto kepada betanews.id, Jumat (3/7/2020).

Baca juga : Tak Patah Arang Kalah Bersaing, Parman Banting Setir dari Usaha Gypsun ke Ornamen Rumah

Awal merintis usaha, lanjutnya, pembuatan loster itu ia kerjakan sendiri. Setelah loster yang dibikin jadi, kemudian ia pun menawarkannya ke beberapa toko material. Riyanto mengaku bersyukur, beberapa toko bangunan yang didatanginya berniat membelinya.

“Setelah loster buatanku dicek dan diteliti, para pemilik toko bangunan tertarik untuk membelinya. Menurut mereka, loster buatanku lebih rapi dan bagus,” ujarnya sambil merapikan loster yang dibuatnya.

Mereka tambahnya, membeli loster secara cash. Sehingga uangnya bisa diputar untuk beli bahan bakunya. Berjalannya waktu dengan mempertahankan kualitas kerapian, kehalusan dan kekuatan loster, kini ia sudah punya 20 pelanggan tetap toko material yang siap menampung losternya.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan itu, ia harus mempekerjakan sekitar tujuh orang. Dalam sepekan, kata dia, mereka mampu produksi sekitar seribu loster yang langsung jadi rebutan para pelanggan.

“Jumlah tersebut pun biasanya saya bagi rata ke semua toko langgananku,” ungkap Riyanto yang kini juga memproduksi ornamen dinding masjid.

Baca juga : Pengusaha Dekor di Kudus Sulap Gentong jadi Taman Indah Bernilai Jual Tinggi

Pria yang sudah dikaruniai dua orang anak itu menuturkan, menjual losternya mulai harga Rp 6 ribu per biji hingga Rp 8.500 per biji. Sedangkan ornamen dinding masjid dibanderol antara Rp 13 ribu hingga Rp 100 ribu per biji.

Dia mengatakan, saat ini pelanggan loster dan ornamennya tidak hanya toko bangunan di Kudus saja, tapi juga ada yang di Semarang, Demak, Jepara, Pati dan daerah lainnya. Selain toko bangunan dia juga kerja sama dengan para pemborong proyek. “Semoga usaha saya makin lancar, dan pelanggan makin banyak,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Akad Nikah Sudah Boleh di Luar KUA, Ini Ketentuannya

0
Kepala Kemenag Kudus, Akhmad Mundakir. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Kantor Urusan Agama (KUA) Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus membuka kembali layanan pendaftaran nikah setelah pernah dihentikan sementara sejak tanggal 1 hingga 21 April 2020.

Penghentian sementara tertuang dalam Surat Edaran Nomor P-004/DJ.III/Hk.00.7/04/2020 tentang Pengendalian Pelaksanaan Pelayanan Nikah di Masa Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Covid-19.

Kepala Kemenag Kudus Akhmad Mundakir menuturkan, pihaknya telah membuka kembali pendaftaran nikah yang sebelumnya ditutup. Menurutnya, pendaftaran sudah normal seperti biasanya, namun dalam pelaksanaan akad nikah terdapat pembatasan yang harus diikuti.

Baca juga : Pengajuan Dispensasi Nikah di Kudus Mayoritas Disebabkan Hamil Duluan

“Sesuai dengan petunjuk surat edaran dari Kementerian Agama Nomor P-006/DJ.III/HK.00.7/06/2020 layanan pencatatan nikah sudah seperti hari biasanya. Namun ada pembatasan,” tuturnya, Senin (6/7/2020).

Mundakir menjelaskan, pembatasan yang diberikan yakni pada saat prosesi pelaksanaan akad nikah di dalam KUA maupun di luar KUA. Keluarga yang hadir dibatasi maksimal 10 orang.

Selanjutnya, untuk lokasi akad yang bertempat di masjid atau gedung, maksimal 20 persen dari kapasitas gedung. Atau sebanyak-banyaknya 30 orang saja.

“Jika protokol pembatasan tidak dipenuhi, penghulu wajib menolak pelayanan nikah dengan disertai alasan tertulis. Dan juga harus diketahui dengan aparat keamanan,” jelasnya.

Selain mengenai kapasitas maksimal orang yang hadir, dalam surat edaran juga disebutkan, agar pihak KUA Kecamatan untuk mengatur protokol kesehatan Covid-19 di lokasi akad. Di antaranya dengan mengenakan masker, mempersiapkan tempat cuci tangan dan mengatur jarak tamu undangan yang datang.

“Kepala KUA Kecamatan juga harus berkoordinasi dengan Tim Gugus Tugas supaya pelaksanaan protokol kesehatan berjalan sesuai dengan yang diinginkan,” jelasnya.

Secara teknis, lanjut Mundakir, pihaknya sudah mempersiapkan langkah aplikatif di lapangan dari Surat Edaran Kemenag tersebut. Menurutnya, di bulan Dzulhijjah, layanan pernikahan akan banyak.

Baca juga : Usulan Anggaran untuk Alkes di Pesantren Naik jadi Rp 9 Miliar

“Ini kan sudah bulan Apit, terus Besar (penggalan Jawa). Bulan Besar atau bulan Haji, orang menikah pasti banyak,” tuturnya.

Mundakir berharap, masyarakat dapat mengikuti protokol kesehatan yang sudah diatur oleh pemerintah.

“Kami berharap masyarakat ikuti protokol kesehatan, terutama di masa persiapan new normal,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Abaikan Protokol Kesehatan, Alfamart Perempatan Panjang Kudus Ditutup Sementara

1
Seorang anak terlihat sedang mengintip ke dalam Alfamart yang berada di Perempatan Panjang, yang saat ini ditutup sementara. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menutup sementara toko modern Alfamart yang berada di Perempat Panjang, Jalan Lingkar Utara, Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Penutupan tersebut dilakukan tanggal 6-7 Juli 2020 karena melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Dari pantauan di lapangan, Alfamart yang menghadap ke arah selatan itu, pintunya terlihat masih terbuka sedikit pada tanggal 6 Juli 2020 sekitar pukul 14.30 WIB. Dari halaman toko, nampak lampu di dalam toko masih menyala. Di dalam toko pun juga terdengar percakapan beberapa petugas toko. Namun mereka tidak melayani pembeli yang datang, sehingga banyak yang putar balik.

Kusmiati (40) pedagang jus buah yang berjualan di sekitar Alfamart menuturkan, penutupan dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kudus. Penutupan dilakukan hari Minggu (5/7/2020) malam sekitar bukul 21.00 WIB.

Baca juga : Hartopo Ancam Tutup Lagi Pasar Kliwon Jika Protokol Kesehatan Diabaikan

“Jadi yang nutup itu Satpol PP minggu malam. Di sini (Alfamart) saat itu memang ramai,” tuturnya saat ditemui di lapaknya, Senin (6/7/2020).

Dia menceritakan, sebelum ditutup Satpol PP, Plt Bupati Kudus HM Hartopo diketahui sempat belanja di Toko Alfamart tersebut.

Alfamart yang berada di Perempatan Panjang ditutup sementara karena abaikan protokol kesehatan. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, saat itu dirinya mendengar Hartopo sempat marah-marah memperingatkan tentang protokol kesehatan Covid-19. Akhirnya, setelah Hartopo pulang, tiba-tiba petugas Satpol PP datang dan langsung menutup toko tersebut.

“Pak Bupati saat itu pakai pakaian biasa, karena memang belanja. Pak Bupati juga sempat cari kepala tokonya, namun tidak ketemu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Djati Solechah membenarkan pihaknya telah menutup Alfamart yang berada di Perempatan Panjang. Menurutnya, penutupan itu dilakukan karena tidak melaksanakan protokol kesehatan Covid-19. “Iya benar tokonya kami tutup dua hari. Hari ini dan besok saja (6-7/7/2020),” tuturnya.

Djati menjelaskan, berdasarkan hasil temuan langsung oleh Plt Bupati Kudus HM Hartopo yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19, masih ditemukan pegawai yang tidak mengenakan masker.

Baca juga : Hartopo Akan Tutup Pasar dan Swalayan yang Tidak Taat Protokol Kesehatan

Selain itu, pengunjung yang datang tidak mengenakan masker juga banyak yang dilayani. Tidak menyediakan fasilitas mencuci tangan atau hand sanitizer. Selanjutnya, kursi dan meja pada fasilitas umum yang tepat di depan toko juga disediakan. Sehingga mendatangkan kerumunan dan menghiraukan physical distancing. “Itu sudah diperingatkan langsung secara lisan dua kali oleh Pak Plt Bupati,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini toko modern yang ditutup operasional sementara hanya Alfamart yang berada di Perempatan Panjang saja. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, misalkan terdapat toko lain yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

“Iya nanti kita koordinasi dengan Dinas Perdagangan. Untuk secara teknis lapangan yang bertindak nanti kami (Satpol PP) ,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Melihat Proses Panen Madu di Desa Dukuhwaringin

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu di lereng Pegunungan Muria yang asri, tepatnya di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus tampak beberapa orang sedang sibuk. Dengan dikelilingi ribuan lebah, mereka terlihat berbagi tugas. Ada sebagian orang yang membuka stup (tempat sarang lebah) dan mengeluarkan sarangnya. Sebagian ada yang mengangkut sarang tersebut ke alat pemeras madu. Ya, mereka sedang melakukan proses panen madu.

Pemilik usaha ternak lebah madu yakni Noor Khasan (47) menuturkan, madu yang dipanen kali ini merupakan madu randu Muria. Menurutnya, madu randu Muria itu punya keunggulan dari madu randu daerah lain.

Proses panen madu di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Foto: Rabu Sipan

“Keunggulan dari madu randu Muria itu baunya lebih harum. Warnanya lebih cerah kuning keemasan,” ujar pria yang dikenal sebagai Dewa Madu ini kepada betanews.id, Sabtu (4/7/2020).

Baca juga : Melihat Pembuatan Gula Tumbu di Gondangmanis Kudus

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, dikarenakan cuaca yang tidak menentu dan masih beberapa kali hujan, menjadikan panen madu tahun ini molor. Menurutnya, biasanya pada Bulan Mei itu sudah bisa panen. Karena masih ada hujan turun yang melarutkan nektar bunga, menyebabkan panen molor hingga dua bulan.

“Biasanya Bulan Mei itu sudah panen. Namun tahun ini Bulan Juli baru panen. Selain molor, hasil madunya juga berkurang,” keluh pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.

Dia mengatakan, bila cuaca bagus mulai Bulan Mei hingga November itu merupakan masa panen. Di rentang bulan tersebut, dia bisa memanen madu tiap 10 hari sekali. Sedangkan mulai Desember sampai April itu masa budi daya lebah, atau masa pemberian makan lebah.

Bahkan, lanjutnya, untuk mencarikan makan lebah peliharaannya itu, tak jarang ia harus menggembalakan lebahnya ke lain daerah. Bahkan bisa sampai ke luar Jawa Tengah.

“Penggembalaan lebah itu juga nanti berpengaruh terhadap madu yang dihasilkan. Tergantung di lokasi penggembalaan lebah itu ada bunga apa,” ujarnya.

Dia menuturkan, lebah yang diternak adalah jenis melivera. Biasanya, nektar bunga yang diproses jadi madu itu antara lain, bunga randu, sengon, kalianda, karet, rambutan, klengkeng, durian dan lainnya. Kalau di lereng Muria sendiri itu yang paling banyak bunga randu.

Baca juga : Intip Proses Pembuatan Patung di Desa Tamansari Pati

“Kalau bunga randu di sini sudah tidak ada, saya bisa menggembala ke berbagai daerah. Di antaranya, Semarang, Parakan, Temanggung, Kediri, Probolinggo dan daerah lainnya,” bebernya.

Dia mengatakan, saat ini punya 100 stup yang bisa menghasilkan tiga kwintal madu sekali panen. Pada waktu dulu, pemasaran madu diambil tengkulak dan dikirim ke beberapa pabrik. Namun saat ini, ia mengaku punya retail dan memasarkan hasil panen madunya sendiri.

“Untuk harga madu randu kami jual Rp 80 ribu, madu karet Rp 70 ribu, dan madu kalianda Rp 90 ribu. Harga tersebut untuk ukuran botol 500 mililiter,” jelas Dewa Madu yang mengaku di masa pandemi permintaan madu meningkat.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Pastikan Pembangunan Sejumlah Venue di Stadion Jatidiri Sesuai Target

0
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meninjau veneu sepatu roda di GOR Jatidiri Semarang. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sambil gowes pagi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambangi Gelanggang Olah Raga (GOR) Jatidiri Semarang untuk melihat progres pembangunan kolam renang, lapangan tenis dan lapangan sepatu roda. Satu persatu venue dicek dengan detil, termasuk kualitas bangunan oleh Ganjar.

“Saya ingin melihat perkembangan pembangunan renovasi beberapa tempat di GOR Jatidiri Semarang ini. Tidak hanya stadionnya, tapi juga beberapa tempat yang dibangun. Ini kolam renangnya sudah jadi, terlihat bagus lengkap dengan tribun penontonnya,” kata Ganjar, Senin (6/7/2020).

Sementara untuk venue Tenis, Ganjar melihat renovasi lapangan lama sudah selesai termasuk tribun untuk penonton. Sementara pembangunan lapangan baru juga tinggal penyelesaian.

“Sekarang ada enam lapangan tenis yang sangat bagus, lapangan lama sudah direnovasi dan ada dua lapangan baru. Hasilnya sudah oke lengkap dengan tribun penontonnya,” terangnya.

Baca juga : Ganjar Pastikan Kompleks Stadion Jatidiri Selesai Tahun Depan

Untuk venue sepatu roda, menurut Ganjar lapangannya sudah sangat memadai untuk latihan dan menggelar event perlombaan besar. Venue itu terlihat bagus, dengan lapangan yang halus lengkap dengan tribun penonton.

“Semuanya sudah sesuai harapan, mudah-mudahan tahun depan bisa selesai semuanya dan bisa dimanfaatkan,” tegasnya.

Ganjar menambahkan, pembangunan dan renovasi sejumlah fasilitas olahraga di GOR Jatidiri Semarang diharapkan dapat memacu semangat para atlet di Jawa Tengah. Ia meminta semua atlet semakin termotivasi untuk berprestasi dan membawa nama harum Jawa Tengah.

“Dengan selesainya pembangunan stadion, kolam renang, lapangan tenis dan lapangan sepatu roda ini, diharapkan atlet kita semakin berprestasi. Saya beberapa waktu lalu ke Padang dan melihat atlet sepatu roda kita juara umum di sana. Semoga atlet kita jadi tambah hebat-hebat, dengan selesainya pembangunan fasilitas di sini,” tegasnya.

Ganjar pun meminta pengelola GOR Jatidiri untuk memperbanyak taman dan ruang publik setelah pembangunan selesai. Dengan harapan, kawasan olahraga di GOR Jatidiri itu hijau dan penuh dengan tanaman yang indah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Dicurhati Calon Siswa yang Khawatir Tidak Masuk SMA Negeri Karena Faktor Usia

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau pelaksanaan PPDB di salah satu sekolah di Semarang. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo blusukan ke sejumlah sekolah untuk mendengarkan masukan dari siswa maupun orang tua siswa terkait sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD) 2020 ini.

Beberapa SMA dan SMK Negeri telah dikunjungi Ganjar selama proses PPDB berlangsung. Di antaranya SMAN 1,2 dan 3 Semarang serta SMKN 1,2,4,5 dan 8 Kota Semarang. Di tempat-tempat itu, Ganjar selalu kulakan masalah dengan mengajak ngobrol siswa maupun orang tua siswa tentang mekanisme PPDB 2020. Dari mereka, Ganjar mencatat semua masukan yang dikeluarkan sebagai bahan evaluasi.

Kepada Ganjar, sejumlah siswa mengatakan bahwa sistem PPDB tahun ini cukup rumit. Selain itu, ada pula yang menyoroti terkait zonasi yang dianggap kurang adil, karena hanya mengutamakan dekat-dekatan dan usia.

Baca juga : Temukan Manipulasi Data saat Verifikasi PPDB, Ganjar: ‘Tidak Ada Toleransi’

“Saya kira zonasi ini memperhitungkan jarak dan nilai, ternyata hanya jarak dan umur. Saya sempat khawatir, karena kegeser dengan yang lebih tua. Padahal jarak saya juga dekat, tapi usia masih sangat muda, di atas saya masih banyak yang lebih tua,” kata Haqiqi,15, salah satu calon siswa SMAN 2 Semarang.

Seharusnya lanjut dia, sistem zonasi harus dibarengi dengan prestasi. Artinya, meskipun jarak menjadi penentu, namun nilai atau prestasi juga menjadi pertimbangan.

“Kalau seperti ini, yang muda dan nilainya bagus kalah dengan yang tua dengan nilai pas-pasan. Padahal jaraknya sama,” ucapnya.

Namun tak sedikit pula yang setuju dengan adanya sistem zonasi ini. Menurut mereka, sistem zonasi merupakan sistem pemerataan sekolah dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk belajar di sekolah terdekat.

“Ya bagus ya, dengan sistem zonasi ini, anak saya bisa sekolah di sekolah yang dekat dengan rumah. Jadi tidak khawatir selama perjalananya,” kata Nur Safitri,42, salah satu orang tua siswa.

Berbagai keluhan dan masukan itu diserap baik-baik oleh Ganjar. Dirinya membenarkan, bahwa sistem PPDB ini memang masih ada kekurangan yang harus diperbaiki.

“Memang banyak problem yang kami temukan di lapangan. Misalnya ada daerah yang tidak memiliki sekolah negeri sehingga tidak ada yang bisa masuk zonasi. Kami sudah berikan solusi dengan membuatkan sekolah jarak jauh dan mudah-mudahan segera kami bangun sekolah permanen tahun depan,” katanya.

Problem selanjutnya dalam PPDB tahun ini adalah zonasi. Menurut Ganjar, sistem itu dibuat setelah sekolah sudah dibangun terlebih dahulu. Sehingga, posisi zonasinya tidak merata mengingat banyak sekolah yang dibangun berdempetan dan belum merata.

“Ini yang jadi persoalan, karena sekolahnya ada dulu baru dibuat zona, maka pating pletot (tidak rapi). Kalau memang mau tetep zonasi, maka sepertinya kita harus membuat persebaran sekolah yang lebih mereprsentasikan kewilayahan, sehingga aksesnya semua menjadi dekat,” imbuhnya.

Kalau itu tidak bisa dilakukan, Ganjar mengusulkan adanya perubahan persentase jalur penerimaan PPDB untuk tahun selanjutnya. Menurutnya, bisa saja, jalur zonasi menjadi kriteria nomor dua, yang pertama adalah jalur prestasi.

Baca juga : Sidak Verifikasi PPDB, Ganjar Tegaskan Akan Coret Siswa yang Curang

“Karena banyak masukan ke saya, kalau sistemnya begini anak-anak ndak perlu belajar susah-susah, kalau deket sekolah pasti keterima. Jangan sampai sistem ini menurunkan semangat belajar siswa,” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait proses PPDB tahun ini. Selain untuk perbaikan ke dalam, evaluasi juga akan disampaikan sebagai masukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Nanti kami sampaikan masukan ini kepada Pak Menteri, karena kami sudah punya pengalaman di lapangan seperti apa,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dari Rp 5 Ribu Sampai Jutaan Rupiah, Penjualan Ikan Koi Tembus Hingga Bali

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara gemercik air terdengar di sejumlah kolam yang ada di Muria Koi Kudus, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kudus. Kolam-kolam yang berisi ikan koi itu terlihat sedang diberi makan. Satu di antara pengelola di sana adalah Sandi Tumonjo (28). Kepada betanews.id dia berbagi cerita tentang Muria Koi.

Budidaya ikan koi yang sudah berjalan sekitar lima tahun itu, saat ini sudah mengoleksi beragam jenis ikan koi. Sedangkan untuk harga ikan di sana, kisaran mulai harga Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, untuk kualitas biasa ukuran 10 hingga 20 sentimeter.

Sandi Tumonjo sedang memberi makan ikan koi. Foto: Ahmad Rosyidi

Baca juga : Ikan Mas Koki Ankok Farm Mampu Tembus Pasar Mancanegara

“Sedangkan untuk kualitas yang bagus bisa hingga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Itu untuk ukuran 10 hingga 20 sentimeter. Jadi harga menyesuaikan kualitas ikannya, bukan jenis ikan,” ungkapnya kepada betanews.id.

Dia juga menjelaskan, hal yang membedakan harga koi yaitu dari segi kualitas warna, tatanan pola warna, dan kualitas bodi. Jenis ikan koi yang ada di sana yaitu, beni koi, kohaku, showa, shiro, utsuri, kin showa, kujaku, dan bekko.

Produk dari Muria Koi saat ini sudah dipasarkan di seluruh wilayah Jawa Tengah. Selain itu, mereka juga menjual ikan koi hingga Bali. Untuk daerah yang lebih jauh saat ini masih terkendala dalam hal pengiriman.

“Jika daerah lebih jauh kami terkendala pengiriman. Sebelum dikirim, koi harus dipuasakan terlebih dahulu hingga sepekan. Agar saat pengiriman tidak membuang kotoran,” jelasnya.

Baca juga : Omah Cupang Syaiful, Tempat Wisata Edukasi Ikan Hias di Kudus

Jika membuang kotoran, ikan bisa mati saat perjalanan. Karena kotoran ikan akan mengandung ammonia yang bisa membuat ikan mati. Sehingga ikan perlu puasa sebelum dikirim.

“Maksimal ikan bisa tahan di perjalanan hingga dua hari. Jadi jika jarak terlalu jauh dan perjalanan terlalu lama kami belum bisa melayani,” sambungnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kolak Gudang Buatan Siswanto Jadi Ladang Bisnis Warga saat Pandemi

0
Dwi Mulyaningsih, salah satu pelanggan Siswanto yang menjual kembali Kolak Gudang secara daring. Foto: rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria berkaus oblong terlihat sibuk membungkus kolak gudang dengan kantong plastik. Setelah itu, bungkusan tersebut dia letakkan di sebuah wadah warna merah yang dipasang di bagian belakang motornya. Pria tersebut yakni Yuda Ariyanto, satu di antara pelanggan kolak gudang buatan Siswanto.

Yuda merupakan salah satu pelanggan Siswanto yang menjual kembali kolak gudang berbahan ketela untuk menghidupi keluarganya selama pandemi Covid-19. Pria yang sudah jadi pelanggan tetap selama sebulan terakhir itu mampu menjual sekitar 50 ketanjang melalui media daring dalam setiap harinya.

Yuda Ariyanto, salah satu pelanggan Siswanto yang menjual kembali Kolak Gudang secara daring. Foto: rabu Sipan.

“Sebulan terakhir ini saya berjualan kolak gudang Siswanto secara daring. Alhamdulillah banyak peminatnya dan laris manis, semanis rasa kolak gudang itu sendiri,” ujar Yuda, Rabu (1/7/2020).

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu pun berkisah awal mula jualan kolak gudang. Sebenarnya, selama ini pekerjaan Yuda adalah sopir alat berat wales. Namun, sejak ada pandemi Corona, orderan sepi. Hingga ia pun beralih berjualan kolak gudang secara daring.

“Awalnya saya tidak sengaja lewat mau ke Waduk Logung Kudus. Pas lewat, kok ada tulisan kolak gudang, kemudian saya berhenti dan beli. Kemudian saya iseng-iseng tawarkan di media sosial, ternyata responnya bagus dan banyak yang pesan,” ungkap pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut.

Baca juga: Bosan Bertahun Tahun Kerja Ikut Orang, Aufa Pilih Jualan Kue Gandos

Dia mengatakan, setiap hari dapat jatah 50 keranjang kolak gudang dari Siswanto. Lewat media daring, jumlah tersebut akan terjual habis dalam waktu sehari. Pembelinya itu orang Kudus dan sekitarnya.

“Saya bersyukur jualan kolak gudang Siswanto ini setidaknya jadi solusi saya mencukupi kebutuhan keluarga. Sambil menunggu proyek infrastruktur jalan lagi,” katanya.

Hal sama juga dirasakan Dwi Mulyaningsih. Ia mengaku jualan kolak gudang Siswanto mulai dua pekan lalu. Hal itu dilakukan sebagai pekerjaan sampingan, selain jadi guru honorer di sekolah dasar (SD) di desanya.

“Kalau saya baru dua minggu jualan kolak gudang Siswanto. Meski sampingan, setiap hari saya mampu menjual 40 keranjang kolak gudang,” ujar warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus tersebut.

Baca juga: Pertahankan Resep Warisan, Cara Jitu Martabak Menara Selalu Laris Manis

Di sisi lain, pemilik usaha pembuatan kolak gudang, Siswanto menuturkan, produknya itu memang banyak peminatnya. Kelebihan kolak gudangnya itu, singkongnya lunak dan rasanya manis tanpa kerak.

“Kami memang perhatikan bahannya dan kebersihan, ya. Bahannya terbuat dari singkong ketan dan dipilih yang bagus. Gulali yang dibuat merebus saat pemanisan juga harus bersih dari kerak, sehingga rasa kolaknya benar-benar manis. Singkongnya juga lunak,” tukas Siswanto.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sambil Naik Sepeda Butut, Bu Djumi’ah Keliling Tawarkan Jasa Membersihkan Rumah

0
Dengan naik sepeda tua, Djumi'ah berkeliling kampung tawarkan jasa bersih-bersih rumah. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, sepeda ontel tua dengan mini banner yang terpasang di boncengan bertuliskan ‘Terima Jasa Bersih – bersih Rumah’, tampak terparkir di depan sebuah rumah yang berada di RT 2 RW 6 Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kudus. Di dalam rumah terlihat seorang perempuan paruh baya sedang memberi makan belasan kucing. Perempuan tersebut yakni Djumi’ah (60) penyedia jasa bersih – bersih rumah.

Seusai memberi makan kucing dan ayam peliharaannya, Djumi’ah yang hidup sendiri dan ditemani belasan kucing itu kemudian membersihkan diri. Setelahnya, ia pun berganti pakaian dan bergegas mengayuh sepeda butut dan menawarkan jasa bersih – bersih rumah secara keliling.

Bu Djumi’ah menaruh mini banner di sepedanya untuk menawarkan jasa bersih-bersih rumah. Foto: Rabu Sipan

Dia terlihat berkeliling dari kampung ke kampung, sambil berteriak menawarkan jasanya. Namun, sekian jam berkeliling belum ada satu orang pun memberhentikan untuk menggunakan jasanya. Dia kemudian berhenti sejenak utuk istirahat. Di sela istirahat itu dia sudi berbagi kisah tentang tawaran jasanya tersebut.

Baca juga : Kisah Relawan Pemulasaran Jenazah Covid-19, Isolasi di Tandon Air Demi Keluarga

“Saya menawarkan jasa pekerjaan pembantu rumah tangga secara keliling, dengan memasang mini banner di boncengan itu sejak tiga tahun yang lalu. Sebelumnya, saya nawarinnya itu dari pintu ke pintu, tapi setiap mengetuk pintu sering dikira minta sumbangan atau pengemis,” ujar Djumi’ah kepada betanews.id, Kamis (2/6/2020).

Dia mengatakan, menawarkan jasa bersih – bersih rumah, di antaranya, menyapu, mengepel, menyeterika pakaian, mengelap kaca dan lain sebagainya. Pokoknya yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga.

“Pokoknya order apa pun yang berkaitan pekerjaan rumah tangga saya siap mas. Untuk ongkosnya Rp 50 ribu sehari,” ungkapnya.

Selain harian, lanjutnya, ia juga menerima order pekerjaan rumah tangga itu per jam. Untuk harga per jamnya dipatoknya Rp 10 ribu. Setiap hari berkeliling, ia mengaku terkadang ada orderan terkadang juga nihil. Kalau rezeki, malah terkadang sepekan full ada kerjaan terus.

“Kalau orderan itu tergantung juragan. Ada yang minta sehari, ada juga yang seminggu dan ada juga yang sebulan full. Tergantung juragan puas atau tidak dengan pekerjaan saya. Kalau gak ada orderan ya keliling kayak seperti ini,” ungkapnya.

Baca juga : Kisah Mbah Jaimah, Hidup Sebatang Kara Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Dia berkisah, sebelum bekerja jadi penyedia jasa pekerjaan pembantu rumah tangga, dulunya ia berdagang. Namun setelah bercerai, untuk menghidupi kedua anaknya ia pun menawarkan jasa pekerjaan bersih – bersih rumah sampai sekarang.

“Tapi setelah kedua anakku besar dan menikah, mereka tinggal dijauh. Satu di Jogja dan Jakarta. Mereka juga tidak pernah datang menjenguk saya di sini,” ungkap Djumi’ah sedih.

Editor : Kholistiono

- advertisement -