Beranda blog Halaman 1832

Gravitasi Teras Muria, Angkat Potensi Muria sebagai Menu Khas

0
Gravitasi Teras Muria yang berlokasi di Pasuruan Lor menyajikan menu khas Muria. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana industrial modern cukup kental di Gravitasi Teras Muria. Salah satu kafe yang populer di Kota Kudus itu merupakan milik dari Sam’ani Intakoris, yang saat ini menjabat Sekda Kabupaten Kudus.

Seperti halnya namanya, Gravitasi Teras Muria mengangkat potensi lokal Kudus khususnya daerah Muria. Mulai dari kopi hingga aneka menu yang kental dengan bahan baku dari daerah tersebut. Hal itu dikatakan oleh pengelolanya, Doni Dole (50) yang sudah berkecimpung di dunia kopi sejak berumur 24 tahun.

Dikatakan lelaki bertato, yang juga memiliki coffee shop sendiri yakni Kopithong itu mengatakan, sudah lama ia ikut serta mengangkat brand kopi Muria hingga mengedukasi para petani setempat. Seperti pembinaan untuk roasting kopi, memperbaiki terus kualitas kopi Muria sampai edukasi menyeduh kopi bersama para petani. Hingga akhirnya, saat ini Doni bersama manajemen Gravitasi Teras Muria sekaligus mengangkat potensi tersebut ke dalam ciri khas kafe yang terletak di Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Barista di Gravitasi Teras Muria sedang menyeduh kopi untuk konsumen. Foto : Titis Widjayanti

Baca juga : Kopi Muria Wilhelmina Aman Dinikmati Bagi Penderita Lambung

“Kalau saya pribadi memang dari awal merasa ikut serta bertanggung jawab untuk ikut serta membina para petani kopi Muria. Mulai dari upgrade kualitas kopi, roasting, sampai cara menyeduh kopi. Sehingga nanti mereka bisa mengolah dan menjual kopi mulai dari cherry sampai sudah siap seduh. Bahkan sekarang sudah mulai banyak mereka menjual kopi yang siap seduh itu. Nah di sini, kami sepakat untuk mengangkat potensi tersebut di Gravitasi Teras Muria. Bahkan tidak hanya kopi, tetapi juga menu lain. Seperti pisang krispi Muria, yang bahan dasarnya dari Pisang Tanduk Muria,” papar Doni, Rabu (3/6/2020).

Lelaki dengan rambut kuncir itu, selanjutnya mengatakan, jika salah satu menu andalan kopi di sana seperti cappucino coffee, kopi yang digunakan adalah kopi Muria. Bahkan, untuk menu western seperti spageti khas kafe menggunakan daging ayam dan kerbau, bukan daging sapi. Hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan warga setempat yang tidak diperbolehkan menyembelih sapi.

Selain itu, mengenai penerapan new normal yang sedang digaungkan oleh pemerintah, Doni mengatakan, bahwa Gravitasi Teras Muria sudah siap.

“Sebenarnya saya pribadi kan punya coffee shop sendiri, Kopithong itu. Tapi masih tutup sekarang. Karena memang secara kondisi, ruangannya juga masih kurang memungkinkan. Jadi takutnya kalau tidak bisa physical distancing. Kalau di sini masih bisa. Selain kami juga tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti penyediaan hand sanitizer, terus pengukuran suhu tubuh setiap pelanggan yang datang bahkan penggunaan sarung tangan plastik untuk para pegawai. Juga mengatur dan mengurangi jumlah kursi yang disediakan, supaya tetap ada jarak dan tidak berkerumun. Karena memang secara ruang di sini lebih luas,” kata dia.

Baca juga : Roastbean Coffee, Varian Baru dari Kopi Itheng

Seperti yang dikatakan olehnya, sore itu terlihat sekat stiker berwarna hijau di setiap meja. Bahkan jarak antarmeja pun cukup jauh. Dengan begitu, Doni berharap, para pengunjung tetap terjaga kesehatannya sembari masih bisa menikmati kopi dan makanan yang disediakan. Sejauh ini, dikatakannya pula, meskipun sempat sepi di awal pandemi, saat ini Gravitasi Teras Muria sudah mulai normal. Para pengunjung berdatangan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Untuk di kondisi pandemi hingga memasuki kebijakan new normal saat ini, kami tutup 1 jam lebih awal dari sebelumnya. Dulu buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam, sekarang tutupnya jam 9 malam. Jadi memang masih terus berusaha untuk bertahan. Yang penting tidak melanggar aturan dari pemerintah. Kami menyesuaikan, karena di luar sana sudah banyak yang mulai kolaps di masa pandemi semacam ini. Di sini kami berusaha tetap menjaga kualitas sekaligus mematuhi protokol kesehatan,” ungkap dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Cerita Petugas SPBU yang Diprotes dan Diancam Karena Tolak Layani Konsumen Tidak Kenakan Masker

0
SPBU Papringan di Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah banner dengan tulisan ‘Konsumen SPBU Wajib Mengenakan Masker untuk Mencegah Covid-19’ terbentang di SPBU 4459107, Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Sejumlah operator terlihat sedang melayani pelanggan yang datang di SPBU tersebut. Satu di antara sejumlah operator adalah Muhammad Rudiyarso (30). Dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang respon konsumen di sana.

Petugas SPBU sedang melayani pembeli yang kenakan masker. Foto : Ahmad Rosyidi

Pria yang akrab disapa Rudi itu membeberkan, bahwa banyak konsumen yang marah ketika tidak dilayani karena tidak memakai masker. Tidak hanya marah dan protes, bahkan ada juga yang mengancam. Dia menyayangkan akan kurangnya kesadaran konsumen masih mengabaikan peraturan yang ada.

“Padahal, sebelumnya kami sudah melakukan sosialisasi dulu. Ini juga demi kebaikan bersama karena wabah ini belum selesai. Apa lagi respon yang berlebihan sampai mengancam seperti itu,” keluhnya setelah mengisi BBM konsumen yang menggunakan masker.

Baca juga : SPBU Papringan Kaliwungu Tak Layani Konsumen yang Tidak Pakai Masker

Warga Undaan Tengah, RT 04 RW 01, Kecamatan Undaan, Kudus itu melanjutkan, ancaman yang dilontarkan konsumen yakni akan menghadang ketika pulang kerja nantinya. Rudi dan rekan-rekannya tidak merasa takut, karena merasa tidak bersalah. Dia berharap hal itu tidak terjadi, dan konsumen menyadari akan kondisi saat ini.

“Tidak semua sih, cuma oknum saja. Kami juga tidak takut, karena kami tidak salah kok. Semoga masyarakat bisa memahami akan situasi saat ini. Jadi pandemi Covid-19 ini bisa segera teratasi,” ungkapnya, Sabtu (6/6/2020).

Sementara itu, Rayu Gunawan (44), Pengawas SPBU menambahakan, bahwa peraturan tersebut dilakukan di seluruh SPBU Kecamatan Kaliwungu. Menurutnya, yang banyak tidak memakai masker adalah petani setempat, karena jarak dari sawahnya dekat.

“Kalau petani kadang bawa tapi tidak dipakai. Ada yang tidak bawa juga karena sawahnya dekat dari sini. Ya memang masih belum bisa 100 persen, tetapi kami berusaha mengingatkan dan menolak jika bisa,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berinovasi saat Pandemi, Permintaan Sangkar Burung Buatan Kinung Meningkat

0
Muhammad Nur Afif sedang menyelesaikan sangkar burung perkutut di rumahnya, Jumat (5/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah ruang bagian belakang rumah di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus terlihat seorang pria sibuk dengan mesin bor. Dengan teliti, ia melubangi bilah bambu berbentuk bulat. Setelah dilubangi, bambu tersebut kemudian dipasangi jeruji. Pria tersebut yakni Muhammad Nur Afif (27), perajin sangkar perkutut yang di masa pandemi Corona permintaan justru meningkat.

Sembari melanjutkan pekerjaannya, pria yang akrab disapa Kinung itu sudi berbagi penjelasan tentang hasil karyanya. Dia mengatakan, sejak virus Covid-19 mewabah, pesanan sangkar burung perkututnya mengalami peningkatan. Bahkan, peningkatan pesanannya lebih dari 20 persen.

Muhammad Nur Afif sedang menyelesaikan sangkar burung perkutut di rumahnya, Jumat (5/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Sejak ada Corona, pesanan sangkar burung perkutut meningkat. Saya sampai pusing karena banyak pesanan, sedangkan tenaga sangat terbatas,” ujar Kinung kepada Betanews.id, Jumat (5/6/2020).

Dia mengira, kenaikan pesanan sangkar burung perkutut itu dikarenakan banyak orang yang tinggal di rumah saja. Untuk membuang kejenuhan, mungkin beberapa dari mereka memelihara burung perkutut. Otomatis mereka juga mencari sangkarnya.

Baca juga: Harus Inden untuk Bisa Miliki Sangkar Burung Anggungan Buatan Kinung

Selain itu, lanjutnya, sejak ada Corona, banyak karyawan yang dirumahkan bahkan di-PHK. Kemungkinan dari mereka banyak mencoba usaha menjual sangkar burung perkutut, karena memang peluang usahanya masih sangat terbuka lebar.

“Kemungkinan satu di antara sangkar yang dipilih itu karya saya,” kata pria yang memberi label sangkarnya dengan nama Cikal Bakal Farm itu.

Dia menuturkan, adanya wabah Corona di Indonesia sempat membuat waswas kalau virus tersebut berimbas ke usahanya. Oleh sebab itu, agar bisa tetap diminati, ia pun melakukan beberapa inovasi pada sangkar burung perkutut yang dibuatnya.

“Kalau dulu saya hanya membuat sangkar burung perkutut dengan kesan klasik. Saya kemudian berinovasi membuat sangkar perkutut dengan model modern,” jelas pria yang siang itu mengenakan kaus oblong merah tersebut.

Baca juga: Banjir Pesanan Sangkar Burung, Kinung Mampu Pekerjakan Kawan yang di-PHK

Sebelumnya, dia memproduksi sangkar klasik yang didominasi bentuk dengan kubah rajut rotan, kini ia berinovasi dengan membuat sangkar kubah tundo. Model bentuknya pun lebih modern.

“Selain itu, saya juga membuat sangkar burung perkutut dengan motif ukir. Untuk harga masih sama kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 800 ribu per sangkar,” ujarnya.

Dia bersyukur inovasi yang dilakukannya itu berhasil. Sangkar burung perkututnya malah mengalami peningkatan pesanan meski ada wabah Corona.

“Sekarang saya harus mempekerjakan dua orang untuk memenuhi pesanan dari para pelanggan,” tutup Kinung.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Produksi Beduk dan Rebana Tutup, Sugiharto Bangkit dengan Gambus

0
Sugiharto menunjukkan produksi gambus di tempatnya. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pekerja sedang menatah kayu di ruang produksi di Desa Kedung Sari, RT 01 RW 04, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Pekerja tersebut membuat pola gambus atau alat musik petik seperti mandolin yang nantinya akan dikirim ke Kalimantan.

Pemilik usaha, Sugiharto (40) mengatakan, mulai memproduksi gambus sejak Virus Corona masuk ke Indonesia. Sebelumnya, dia merupakan pengrajin beduk dan alat-alat rebana. Menurutnya, usahanya harus berhenti produksi karena tidak ada pembeli.

Pengrajin gambus sedang menyelesaikan alat musik petik mirip mandolin itu. Foto: Imam Arwindra.

“Produksi gitar gambus ini baru awal-awal Maret 2020. Karena pesanan beduk dan terbang sepi. Akhirnya harus cari cara lain. Itu (beduk dan alat rebana) masih banyak. Karena stok melimpah, namun tidak ada pembeli akhirnya produksi saya stop dulu,” tuturnya saat ditemui di rumah produksinya, beberapa waktu lalu.

Dalam kekalutan itu, lanjut Sugiharto, dirinya mencari ide-ide usaha baru supaya produksi berbahan kayu masih jalan. Akhirnya, berkat relasinya di Kalimantan, dirinya mendapatkan pesanan gambus.

Baca juga: Bisnis Rebana Sunarwi Punya Pelanggan Hingga Luar Jawa

“Saya cari-cari di internet dan tanya teman-teman, yang lagi ramai ini gitar Didi Kempot. Jadi orang bilangnya gitar atau biola Didi Kempot yang biasa untuk gambusan,” jelasnya.

Dalam sehari, dirinya bisa memproduksi 20 buah gambus. Rencananya, dalam setahun ini, ia akan mengirim ke Kalimantan sekitar 100 buah.

Harga yang diberikan yakni bervariasi. Untuk yang model biasa Sugiharto memberikan harga Rp 250  ribu per buah. Sedangkan yang model bagus, harga dipatok Rp 500 ribu per buah.

“Itu juga tergantung bahan yang dipakai. Yang saya gunakan yakni kayu mahoni, kayu sengon dan kayu nangka,” tuturnya.

Baca juga: Beduk dan Rebana Buatan Sugiharto Unggulkan Kualitas Suara dan Tahan Lama

Dalam proses pembuatannya, kata Sugiharto, kayu balok pertama kali dibentuk polanya berbentuk gambus. Setelah itu dipahat dan diukir. Hal tersebut untuk membuat detail polanya. Terakhir yakni proses finishing, yaitu pemberian warna agar hasil yang dibuat terlihat menarik.

“Di masa pandemi ini saya harus bertahan. Kalau ada ide lain yang berbahan kayu, pasti langsung saya ambil,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Diklaim Lebih Sehat, Permintaan Selada Hidroponik di Muria Farm Tinggi

0
Deni sedang merawat tanaman selada di kebun hidroponik Muria Farm, Rabu (3/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, aktifitas di green house Muria Farm yang beralamat di Dukuh Kauman, Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus tampak ramai. Beberapa orang silih berganti datang untuk membeli sayuran selada segar yang ditanam secara hidroponik. Satu di antaranya adalah Jayadi, pelanggan yang selalu rutin beli selada di sana.

Setelah membayar, sambil menenteng dua kantong plastik besar berisi selada yang dibelinya, warga Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara itu memberi penjelasan kepada Betanews.id soal alasannya membeli selada di Muria Farm.

Salah satu pekerja sedang menimbang selada di kebun hidroponik Muria Farm, Rabu (3/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

Dia mengatakan, sudah sekitar tiga tahun berlangganan membeli selada di Muria Farm yang dimiliki Deni Saputra (29) itu. Menurutnya, selada yang ditanam secara hidroponik itu lebih bersih, lebih sehat, dan tidak banyak tangkai sayur yang terbuang.

“Saya berlangganan itu sejak Muria Farm berdiri. Bagi saya selada yang ditanam disini kualitasnya bagus. Karena ditanam secara hidroponik, timbangannya itu sesuai karena tidak tercampur tanah,” ujar Jayadi yang membeli selada 15 kilogram, Rabu (3/5/2020).

Baca juga: Cerita Sukses Deni dari Selada Hidroponik, Awalnya Nekat Utang Rp 900 Juta

Hal senada juga diungkapkan Erwin Kurniawan (39). Pengurus komunitas hidroponik Kudus (KHK) itu menambahkan, banyak keuntungan berkebun dengan sistem hidroponik. Sayuran yang ditanam secara hidroponik akan menghasilkan tanaman yang sehat untuk dikonsumsi, karena tidak menggunakan pestisida.

“Bercocok tanam secara hidroponik itu bisa jadi pilihan para petani di masa modern. Tidak butuh lahan luas. Serta tanaman yang dihasilkan juga lebih sehat daripada sayuran yang ditanam secara konvensional,” ujar pria yang akrab disapa Erwin tersebut.

Dia menuturkan, meski tidak meenggunakan pestisida, tanaman hidroponik bukan sepenuhnya tanaman organik. Tanaman hidroponik tetap menggunakan bahan kimia, tapi kimia murni yang terukur dan dibutuhkan oleh tanaman. Selain itu, tanaman akan secara otomatis menolak seandainya kimia yang diserap kebanyakan.

“Biasanya tanaman itu akan merespon dengan ujung daunnya terbakar. Itulah kenapa tanaman hidroponik lebih sehat dikonsumsi,” ujar warga Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu.

Baca juga: Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

Selain itu, lanjutnya, tanaman hidroponik perawatannya lebih mudah. Hama bisa lebih dikendalikan karena jauh dari tanah. Jika ditanam di green house, tanaman akan aman dari hujan, sehingga terhindar dari kerusakan dan jamur.

Untuk peluang bisnis, kata dia, masih sangat terbuka lebar. Masyarakat sekarang sudah kritis terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Banyak dari mereka yang sekarang lebih memilih sayuran hidroponik daripada sayuran yang ditanam dengan media tanah.

“Bahkan di Muria Farm itu bisa menjual 60 kilogram sehari. Itu pun masih banyak peminat yang tidak kebagian. Artinya permintaan masyarakat akan selada hidroponik itu tinggi sekali di Kudus ini,” tutup dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

SPBU Papringan Kaliwungu Tak Layani Konsumen yang Tidak Pakai Masker

0
Petugas SPBU Papringan Kaliwungu sedang melayani pembeli yang kenakan masker. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kendaraan tampak mengisi BBM di SPBU 4459107, Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Seorang mengenakan seragam berwarna hitam terlihat sedang mengawasi aktivitas di sana. Pria itu tak lain adalah Rayu Gunawan (44), pengawas SPBU tersebut.

Gunawan begitu dia akrab disapa, menyampaikan kepada betanews.id tentang peraturan baru di sana. Setiap pelanggan yang ingin membeli BBM diwajibkan memakai masker sejak hari ini, Sabtu (6/6/2020). Jika tidak menggunakan masker maka tidak dilayani.

SPBU Papringan Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

Baca juga : Konsumsi BBM Jenis Solar di Kudus Merosot Tajam

“Sebenarnya sudah kami lakukan sosialisasi kemarin. Kami mendapat surat edaran dari kecamatan pada hari Kamis (4/6/2020), kemudian hari Jumat kami sampaikan imbauan kepada pelanggan. Dan hari Sabtu ini kami berlakukan,” jelas Warga Jati Kulon, RT 01 RW 01, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Menurutnya, hal tersebut diberlakukan karena Kecamatan Kaliwungu masuk Zona merah. Jadi ada imbauan SPBU di Kecamatan Kaliwungu wajib menggunakan masker dan protokol kesehatan.

Dalam pelaksanaanya, pihaknya sudah memasang banner imbauan. Selain itu, petugas juga diminta untuk selalu mengingatkan dan menjelaskan. Tetapi masih ada warga yang tidak memakai masker minta dilayani.

“Sebenarnya mereka bawa, tapi tidak dipakai. Jadi kami minta pakai dulu baru kami layani. Jika tidak pakai ya sebisa mungkin kami beri penjelasan dan tidak kami layani,” terangnya.

Baca juga : Pertamina Promo Pertamax Cashback 30 Persen, Banyak Warga Kudus Belum Tahu

Satu di antara konsumen di sana, Nur Syai (27) mengaku tidak keberatan dan mendukung program tersebut. Karena Kecamatan Kaliwungu sudah ada yang terpapar jadi harus waspada. Selain itu, dia juga berharap kesadaran masyarakat untuk memggunakan masker tanpa harus diwajibkan.

“Saya mendukung saja, karena saya sudah biasa memakai masker. Ini juga demi kebaikan bersama. Agar pandemi ini tidak berlarut-larut dan semakin banyak korbannya,” ungkap Nur, sapaan akrabnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Rahasia Bengkel AGS Modifikasi yang Tetap Ramai Meski saat Pandemi

0
Tri Agus Santoso sedang mengerjakan modifikasi motor pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Percikan api tampak dari kerangka sepeda motor di depan seorang pria yang mengenakan kaus berwarna biru dengan kaca mata hitam. Setelah mengelas kerangka motor, kemudian lelaki tersebut tampak memasang tangki motor. Dia adalah Tri Agus Santoso (30), pemilik Bengkel AGS Modifikasi.

Sambil beraktivitas, Agus begitu dia akrab disapa, mengungkapkan, jika bengkelnya masih tetap ramai meski masa pandemi Covid-19. Bahkan saat ini masih ada tujuh motor yang ia kerjakan, sehingga harus menunggu sekitar satu bulan baru akan dikerjakan.

Proses modifikasi motor di Bengkel AGS Modifikasi Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

“Saat ini antrean cukup banyak, ada tujuh motor. Saya menjaga kualitas dan mengerjakan dengan dengan teliti agar pelanggan puas. Selain itu juga tetap menjaga komunikasi dengan pelanggan,” bebernya kepada Betanews.id, Jumat (5/6/2020).

Baca juga : Berawal dari Hobi, Kini Kustom Motor jadi Ladang Rezeki Bagi Juned

Warga Desa Jepang Wetan RT 05 RW 01, Kecamatan Mejobo, Kudus itu juga menjelaskan, bengkelnya melayani pembuatan rangka dan tangki spesialis motor CB. Bahkan pihaknya bisa melayani segala jenis modifikasi rangka motor. Untuk tangki dia memberi garansi satu bulan.

“Pelanggan saya masih warga sekitar Karesidenan Pati. Di sini lebih dikenal spesialis bodi motor CB, karena kebanyakan pelanggan saya modif motor CB. Tetapi segala jenis model motor sebenarnya bisa. Yang berkaitan dengan besi saya bisa,” jelasnya.

Untuk biaya modif rangka di sana mulai Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta. Menyesuaikan tingkat kesulitan dan bahan yang digunakan.

Baca juga : Menengok Bengkel Mobil Offroad BSR Fabrication yang Selalu Puaskan Pelanggan

Sementara itu, Sigit Fatkhur Rozaq (23), satu di antara sejumlah pelanggan di sana mengatakan, dia sudah dua kali modifikasi motor di AGS Modifikasi. Menurutnya, hasilnya memuaskan, meski harus sabar menunggu.

“Di sini hasilnya bagus dan saya puas. Jadi sebelum modif saya konsultasikan dulu dengan Mas Agus. Meski cukup lama, yang penting hasilnya maksimal,” ungkap Warga Desa Getas Pejaten, RT 01 RW 01, Kecamatan Jati, Kudus, yang akrab disapa Gardu itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Rela Gowes 53 Kilometer Gara-Gara Petani Milenial

0
Gubernjur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi basecamp petani milenial di Desa Kopeng, Semarang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Begitu mendengar kisah tentang sekumpulan petani muda yang ada di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung penasaran. Bahkan, saking penasarannya, Ganjar rela gowes sekitar 53 kilometer untuk melihat secara langsung.

Berangkat dari kediamannya Puri Gedeh Kota Semarang, Sabtu (6/6/2020) pukul 06.00 WIB, Ganjar bersama istrinya, Siti Atikoh dan beberapa anggota komunitas gowes tiba di Kopeng sekitar pukul 11.00 WIB.

Adalah Kelompok Tani Milenial Citra Muda Getasan yang membuat Sang Gubernur ini sangat penasaran. Sesuai dengan namanya, mayoritas anggota kelompok tani ini adalah anak-anak muda usia 19-38 tahun.

Baca juga : Kiprah Petani Milenial Bertanam Sayur, Kini Omzetnya Capai Rp 300 Juta Sebulan

Meski muda, namun tangan-tangan mereka tetap terampil mengolah lahan untuk ditanami aneka macam sayuran. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 70 jenis sayuran yang ditanam oleh kelompok tani ini di lahan seluas 10 hektare.

“Saya kemarin ketemu Mas Sofian dan tertarik dengan ceritanya. Makanya saya langsung ke sini untuk melihat aktivitas anak-anak muda ini. Ternyata luar biasa keren, mereka petani muda yang kreatif dan inovatif sehingga bisa bertahan di tengah pandemi,” kata Ganjar.

Ganjar menerangkan, saat banyak orang kebingungan dengan wabah Covid-19, para petani muda Ini justru sukses meningkatkan omzetnya. Tak tanggung-tanggung, omzet pertanian organik di tempat itu bisa naik 300 persen.

“Mereka petani muda yang idiologis, punya komitmen tinggi dan terus berjuang. Untuk menjadi seperti sekarang, ternyata prosesnya cukup lama, mereka membutuhkan waktu 12 tahun,” ucapnya.

Menurut Ganjar, kelompok petani milenial ini membuktikan bahwa anak muda juga bisa sukses di dunia pertanian. Didasari kemauan, konsistensi dan ketekunan, maka hasilnya akan berkualitas.

Baca juga : Cerita Sukses Deni dari Selada Hidroponik, Awalnya Nekat Utang Rp 900 Juta

“Mari semua anak muda yang ingin menekuni dunia ini bisa mengacu ke sini. Anak-anak muda seperti Mas Sofian ini akan kami jadikan champion yang kita harapkan bisa menginspirasi banyak anak muda lain di Jawa Tengah,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono (24) mengatakan, kelompoknya beranggotakan 30 anak-anak muda usia 19-38 tahun. Selain itu, ada 18 kelompok tani dengan 400 petani lain yang menjadi mitranya.

“Produknya adalah sayur organik. Ada 70 lebih jenis sayuran organik yang kami pasarkan secara online,” kata Sofian.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masa Tunggu Haji di Kudus Capai 25 Tahun

0
Jemaah calon haji asal Kudus saat berangkat beberapa tahun lalu. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Masa tunggu keberangkatan haji di Kabupaten Kudus mencapai 25 tahun. Sehingga, jika jemaah baru mendaftar haji tahun ini, maka akan berangkat pada 2045 nanti.

Lamanya waktu tunggu menurut Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada Kantor Kementerian Agama Kudus Su’udi, karena antrean haji yang panjang.

Dia menuturkan, banyaknya daftar tunggu dan ditambah pemberangkatan haji tahun 2020 yang gagal, menjadi satu di antara faktor yang membuat antrean panjang.

Baca juga : Meski Gagal Berangkat Tahun Ini, Dana Haji Disarankan Tidak Diambil

“Yang rencana berangkat tahun ini namun gagal, daftarnya itu bulan November dan Desember tahun 2011. Ada pula yang Januari 2012,” jelasnya, Sabtu (6/6/2020).

Menurutnya, perhitungan masa tunggu 25 tahun hanya perkiraan saja. Pihaknya memprediksi, ada kemungkinan calon jemaah haji yang meninggal sebelum berangkat. Selain itu, juga ada jemaah yang mengundurkan diri.

“Maju mundur sekitar satu tahun. Selain itu, mungkin ada penambahan kuota. Jadi berangkatnya bisa lebih maju,” jelasnya.

Saat ini, lanjut, Su’udi, calon jemaah haji tahun 2020 yang akan berangkat yakni 1033 orang. Karena tidak ada kejelasan dari Pemerintah Arab Saudi mengenai penyelenggaraan haji saat pandemi Covid-19, akhirnya gagal.

“Jadi jumlahnya sebenarnya 1.037 orang. Ada empat yang keluar, jadi tinggal 1.033 orang,” jelasnya.

Su’udi memberitahukan, untuk kuota haji reguler di Provinsi Jawa Tengah yakni 30.377 orang. Dengan rincian sebanyak 30.123 orang untuk jemaah haji dan 254 orang untuk petugas haji daerah.

Baca juga : Kakek 89 Tahun Asal Kudus Hanya Bisa Pasrah Tidak Bisa Berangkat Haji Tahun Ini

“Kalau kabupaten tidak ada kuota, adanya nasional. Kalau Jawa Tengah sekitar 30 ribu orang,” tuturnya.

Sementara itu, untuk biaya haji, masyarakat harus membayar biaya pendaftaran Rp 25 juta. Selama masa tunggu, uang dari calon jemaah akan dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Nantinya calon jemaah aka mendapatkan nilai manfaat dari uang pendaftaran tersebut.

“Pada waktunya tiba (jadwal berangkat haji), masyarakat tinggal membayar biaya pelunasan haji saja,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kiprah Petani Milenial Bertanam Sayur Organik, Omzetnya Capai Rp 300 Juta Sebulan

0
Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono mendampingi Ganjar Pranowo di perkebunan sayur. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, ada sekumpulan anak muda yang menekuni dunia pertanian. Adalah Kelompok Tani Milenial Citra Muda Getasan. Sesuai dengan namanya, mayoritas anggota kelompok tani ini adalah anak-anak muda usia 19-38 tahun.

Meski muda, namun tangan-tangan mereka tetap terampil mengolah lahan untuk ditanami aneka macam sayuran. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 70 jenis sayuran yang ditanam oleh kelompok tani ini di lahan seluas 10 hektare.

Baca juga : Cerita Sukses Deni dari Selada Hidroponik, Awalnya Nekat Utang Rp 900 Juta

Hebatnya lagi, semua sayuran yang ditanam anak-anak muda ini adalah sayuran organik. Alhasil, produk pertanian mereka kini laku keras di pasaran. Bahkan, saat pandemi Covid-19, penjualan hasil pertanian anak-anak muda ini bisa naik 300 persen. Penjualannya pun menggunakan metode milenial, yakni melalui sejumlah platform media sosial.

Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono (24) mengatakan, kelompoknya beranggotakan 30 anak-anak muda usia 19-38 tahun. Selain itu, ada 18 kelompok tani dengan 400 petani lain yang menjadi mitranya.

Ketua Kelompok Tani Citra Muda, Sofian Adi Cahyono menunjukkan beragam jenis sayuran yang ditanam para pemuda yang tergabung dalam kelompok tersebut. Foto : Ist

“Produknya adalah sayur organik. Ada 70 lebih jenis sayuran organik yang kami pasarkan secara online,” kata Sofian.

Dirinya membenarkan, bahwa wabah Covid-19 membuat penjualannya justru semakin meningkat. Jika biasanya perbulan hanya mampu menjual 4-5 ton sayur organik, saat ini penjualan meningkat 300 persen menjadi 14-15 ton sayur per bulan.

“Karena sekarang banyak yang memilih pola hidup sehat dengan mengkonsumsi sayuran organik. Sehingga, penjualan kami meningkat drastis,” ungkapnya.

Baca juga : Di Lahan 3000 Meter Persegi, Aan Wujudkan Mimpi Buat Tempat Wisata Edukasi Buah Anggur

Disinggung alasan mau menjadi petani di usia muda, Sofian mengatakan, bahwa usaha tani juga sangat menguntungkan. Dari pertanian itu, penghasilan yang diperoleh cukup besar dan tidak kalah dengan profesi lainnya.

“Saat ini omzet kami per bulan mencapai Rp 300 juta. Jadi, penghasilan petani itu tidak kalah dengan profesi lainnya. Apalagi, pertanian menghasilkan bahan makanan, dan selama hidup manusia membutuhkan makanan. Jadi ini prospek pekerjaan jangka panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kue Balok Parikesit, Jajanan Hits dengan Sensasi Lumer di Mulut

0
Pegawai outlet Kue Balok Parikesit sedang membuat jajanan di tempat jualan di ruko Jalan Taman Krida, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, Kamis (4/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Deretan toko di Jalan Taman Krida, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus terlihat cukup ramai, Kamis (4/6/2020). Beberapa orang tampak antri di salah satu ruko penjual kue yang baru buka awal Mei lalu. Outlet itu adalah Kue Balok Parikesit yang sedang populer di Kota Kudus.

Kue balok sendiri merupakan jajanan khas Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Hal itu diungkapkan oleh Imam Safi’i (19), pegawai outlet yang siang itu sibuk melayani pembeli.

para pembeli antri di outlet Kue Balok Parikesit di tempat jualan di ruko Jalan Taman Krida, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus, Kamis (4/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Lelaki muda asli Kota Pati itu mengatakan, outlet itu baru saja buka sekitar pertengahan bulan Ramadan dan merupakan cabang dari usaha serupa di Solo. Sebelumnya, kue yang sedang hits itu sudah buka di Kota Pati.

“Kalau ini kan modelnya franchise. Ini outlet ke dua setelah Pati. Memang bos saya orang Pati. Kalau bisnis pusatnya Kue Balok Parikesit ini di Solo dan sudah banyak outlet franchisenya di kota-kota lain,” papar Imam.

Baca juga: Awalnya Iseng, Gethuk Tengu Buatan Nia Kini Jadi Bisnis Menjanjikan

Menurut Imam, kue legendaris itu sendiri cukup mudah dibuat. Yang membuat lama adalah penggunaan arang untuk memanggang kue bertekstur lembut itu. Hal itu dikarenakan ciri khas dari Kue Balok Parikesit sendiri dimasak dengan cara dipanggang. Hal itu terlihat pula, saat Imam melayani para pembeli.

“Jadi bedanya dengan kue balok lain, kalo Parikesit ini dipanggang. Pakai loyang dengan api kecil, terus atasnya pakai bara api. Waktunya sekitar 1 sampai 3 menit. Setiap 1 menit, bara api dibalik supaya matangnya merata. Paling ribetnya di situ,” papar dia.

Untuk varian kue, di tempatnya menyediakan dua bahan yaitu cokelat dan matcha green tea. Sedangkan untuk topping pelengkap, ada tujuh pilihan rasa yang bisa dipilih. Yaitu rasa orisinal, tiramisu, keju, mangga, vanila, taro, dan green tea.

Sadangkan mengenai rasa, dikatakan Imam, kue balok ini mirip-mirip dengan brownies. Hanya saja, kue balok terdapat coklat lumer di tengah-tengahnya.

Baca juga: Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

“Harganya sendiri cukup terjangkau mulai Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu. Harga tersebut berdasarkan jumlah isi per porsi, dengan pilihan 4 buah hingga 10 buah. Topping campuran pun bisa diberikan, sesuai dengan keinginan pembeli,” ungkap Imam.

Salah satu pembeli, Mutiara mengaku sudah beberapa kali membeli Kue Balok Parikesit yang sedang hits di Kudus itu. Hari itu, ia membeli satu porsi rasa orisinal.

“Beli dan merasakan pertama kali dari sini. Ini udah beberapa kali beli. Mirip-mirip brownies tapi ada coklat lumernya. Ini kebetulan beli yang orisinal isi delapan. Dan memang rasanya enak,” kata warga asli Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Imam Tak Menyangka Dibangunkan Rumah oleh Rekannya Alumni SMPN 1 Gebog

0
Beberapa alumni SMPN 1 Gebog bergotong royong membangun rumah untuk rekannya. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang terlihat sibuk membangun rumah di Dukuh Sambeng, Desa Karang Malang, RT 02 RW 04, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Beberapa orang yang merupakan alumni SMPN 1 Gebog tersebut berjibaku membangunkan rumah untuk Imam Sujono (51).

Dengan mata berkaca-kaca dan raut muka yang semringah, Imam Sujono mengaku dibuatkan rumah dari rekannya semasa sekolah dibangku SMP. Menurutnya, dirinya terkejut atas bantuan yang diberikan dari teman-temannya.

Imam Sujono, Alumni SMPN 1 Gebog. Dirinya berterima kasih telah dibantu rekan-rekannya untuk dibangunkan rumah. Foto : Imam Arwindra

“Saya tidak tahu apa-apa jika teman-teman akan bangunkan rumah untuk saya. Karena sudah lama saya tidak ikut kumpul,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela proses pembangunan rumah, Kamis (4/6/2020).

Baca juga : Komunitas Peduli Lau Renovasi Rumah Mbah Jaimah

Dikatakan, dirinya memang belum memiliki rumah sendiri. Selama ini menurutnya, dia tinggal di belakang rumah kakaknya dengan kondisi seadanya.

“Dulu ini ruang dapur milik kakak. Status bangunan dan tanah ini juga milik kakak. Jadi saya menumpang,” ungkapnya.

Tempat yang ditempati, Lanjut Imam Sujono, berukuran 3×4 meter persegi. Menurutnya, ruang dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang tidur dijadikan satu.

“Jadi saya kalau ada uang sedikit-sedikit renovasi. Biar kedua anak saya nyaman. Kemarin pas genteng bocor juga saya kasih plastik di bawahnya,” ungkapnya yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Dengan dibangunkannya rumah oleh teman-temannya, dia sangat berterima kasih. Bersama istri dan kedua anaknya bisa tinggal lebih nyaman.
“Kalau rumah yang sedang dibangun teman-teman itu tanah milik istri. Jadi kami akan memiliki rumah sendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Bakti Sosial Muhammad Hidayat (49) menuturkan, dirinya bersama alumni SMPN 1 Gebog 1986 membuatkan rumah untuk Imam Sujono dengan tipe 6×8 meter persegi. Menurutnya dana yang digunakan yakni berasal dari patungan teman-temannya.

“Pembangunan ini hasil dari patungan seikhlasnya teman-teman alumni. Memang tidak ada proposal, hanya lewat WhatsApp untuk mengurus donasi dan proses pembangunan,” ungkapnya.

Baca juga : Kisah Mbah Jaimah, Hidup Sebatang Kara Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Menurut Hidayat, rumah yang dibangun yakni rumah permanen dengan gaya minimalis tipe 36. Pihaknya akan membangun hingga layak huni. Tidak menutup kemungkinan hingga tahap finishing.

“Donasi masih tetap berlanjut. Jadi donasi yang diberikan berupa uang atau bahan-bahan material, seperti cat,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pegadaian Beri Bunga Nol Persen Bagi Pelaku UMKM, Ini Syaratnya

0
Kantor Pegadain Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Pegadaian (Persero) meluncukan progam Gadai Peduli untuk membantu para Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terkena dampak Covid-19.

Marketing Executive PT Pegadaian (persero) Area Pati Mohammad Jalu Rajasa menuturkan, program Gadai Peduli sudah dimulai sejak awal Mei 2020. Program tersebut akan berjalan hingga tiga bulan kedepan.

“Awal Mei kemarin sudah mulai. Jadi hanya tiga bulan saja. Mei, Juni, (dan) Juli,” ungkapnya, Selasa (2/6/2020).

Baca juga: Sejak April Hingga September 2020, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM

Dia menjelaskan, dalam program Gadai Peduli ini, pihaknya memberikan pinjaman berupa uang maksimal sebesar Rp 1 juta. Nantinya, nasabah akan mendapatkan fasilitas bunga nol persen selama 90 hari. Untuk mengikuti, mereka harus memberikan agunan berupa barang elektronik, emas, ataupun kendaraan.

“Ini sebenarnya program Corporate Social Responsibility (CSR) kami. Jadi program ini silahkan dimanfaatkan para UMKM yang terdampak Covid-19,” tuturnya.

Sejauh ini, lanjut Jalu, di eks-Karesidenan Pati sudah ada 500 transaksi yang masuk. Sedangkan kuota yang disediakan di seluruh Indonesia yakni lima juta nasabah.

“Program ini kami batasi. Satu kepala keluarga hanya boleh satu transaksi saja supaya merata,” jelasnya.

Baca juga: Di Hadapan Erick Thohir, Ganjar Minta Bank BUMN Buka Akses KUR

Jalu menuturkan, pelaku UMKM yang membutuhkan pinjaman dapat mengaksesnya dengan cara datang langsung ke kantor Pegadaian terdekat dengan membawa KTP, Kartu Keluarga, dan barang yang diagunkan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Kudus Bambang Tri Waluyo mengatakan, dirinya akan membantu mensosialisasikan program tersebut kepada pelaku UMKM yang ada di Kudus. Menurutnya, dengan adanya tambahan dana, pelaku UMKM khususnya yang terdampak Covid-19 akan terbantu.

“Tentu ini program baik, bisa membantu pelaku UMKM. Saya berharap program ini bisa dimanfaatkan dengan baik,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Alat Pelumpuh Covid-19 Temuan Mahasiswa Unika Adalah Pengembangan Terapi Biophilia

0
Florentinus Budi Setiawan, Kepala Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, SEMARANG – Kondisi cukup sepi di lingkungan Universitas Katolik Unika Soegijapranata yang terletak di Jalan Pawiyatan Luhur Selatan IV No 1, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Hanya ada beberapa aktivitas staf, karyawan dan dosen yang tak begitu sibuk. Sementara itu, satpam siap siaga melakukan pengecekan suhu pada setiap orang yang masuk ke area kampus. Hal itu dilakukan semenjak diputuskannya kuliah online dengan metode online courses oleh Prof Ridwan Sanjaya, Rektor Unika.

Beberapa aktivitas mahasiswa yang tidak bisa dilakukan secara online pun dibatasi. Seperti penelitian tugas akhir yang hanya bisa dilakukan di laboratorium universitas. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Asmara Samtesamka (28) di Laboratorium Elektro. Mahasiswa Teknik Elektro tingkat akhir itu, sedang melakukan uji coba terapi frekuensi suara untuk melemahkan virus Covid-19. Hal tersebut dikatakan oleh dosen pembimbingnya, yakni Florentinus Budi Setiawan.

“Ini sebenarnya baru dibuka beberapa waktu lalu, sebelumnya lab ditutup dan vakum kegiatan. Meski sekarang sudah dibuka, namun tetap saat ini menggunakan protokol kesehatan dengan pembatasan mahasiswa yang boleh datang. Yakni dijadwal, setiap hari tiga mahasiswa yang melakukan penelitian. Salah satunya adalah penelitian Asmara mengenai frekuensi suara untuk melemahkan virus Covid-19,” papar dosen yang akrab disapa Pak Budi tersebut, Selasa (2/6/2020).

Sambil memperlihatkan ruang laboratorium, mantan Kepala Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata itu melanjutkan, penelitian salah satu mahasiswanya itu merupakan salah satu bentuk pengembangan uji coba dari alat terapi bioresonance. Lelaki berambut putih itu selanjutnya memperlihatkan alat terapi yang dimaksud di dalam ruangannya. Ia membuka seperangkat alat di dalam koper alumunium. Setelah merangkai beberapa kabel, Pak Budi menghubungkan alat tersebut dengan laptop.

Baca juga : Unika Soegijapranata Semarang Temukan Alat Pelumpuh Covid-19

“Nah kalau ini memang alatnya sudah lama digunakan untuk terapi. Kalau yang saya contohkan ini melalui cahaya. Jadi organ dan jaringan manusia bisa dideteksi mana yang lemah, bermasalah dan masih bagus. Indikasinya melalui level. Dari level 1 yang paling bagus energinya sampai level 6. Kalau di laptop ini terlihat juga warna. Kalau yang warna kuning, berarti masih bagus. Kalau yang hitam itu berarti sedang bermasalah. Kalau sudah didapatkan datanya, lalu dia akan mengirimkan energi melalui cahaya yang masuk langsung ke otak untuk memperbaiki bagian tubuh yang bermasalah,” papar Pak Budi.

Sambil mempraktikkan, Pak Budi mengatakan, jika konsep kerja dari alat terapi tersebut adalah menscan energi pada tubuh manusia. Di mana medianya menggunakan cahaya melalui headset yang diubah untuk media penyalurannya. Sehingga langsung bisa mengirimkan energi yang dibutuhkan melalui gelombang bio foton. Sampai energi yang dibutuhkan hingga bisa naik ke level 1 terpenuhi. Di pasaran, Pak Budi mengatakan, alat itu sering disebut dengan alat terapi biophilia.

“Ini sebenarnya penelitian saya juga. Memang penelitian satu-satunya dari Indonesia saya yang melakukan. Sebelumnya, di beberapa negara sudah meneliti hal yang sama. Seperti Rusia, Jerman dan Italia. Penelitian ini sendiri mengenai terapi untuk memperbaiki jaringan yang sakit hingga menjadi optimal. Lalu memecah penyumbatan energi pada sistem saraf yang dihasilkan karena stres. Juga untuk menciptakan saluran terbuka sebagai aliran energi alami. Sehingga transmisi melalui tongkat frekuensi, elektroda dan headset mampu menghilangkan racun dan mendorong tubuh untuk penyembuhan jaringan secara alami. Namanya biophilia meta terapi,” papar dia.

Untuk alatnya sendiri, dikatakan Pak Budi, di pasaran bisa mencapai Rp 60 juta. Penggunaannya pun cukup rumit. Oleh karena itu, ia sembari membimbing Asmara untuk memperdalam penelitian melalui frekuensi suara. Meskipun, di dalam penelitannya, bentuk tersebut sudah tertulis. Maka dari itu, penelitian yang dikerjakan oleh mahasiswanya itu bisa diuji segera. Harapannya tak lain ialah terapi dengan frekuensi suara ini akan lebih praktis dan murah.

“Untuk penelitian Asmara yang melakukan uji coba frekuensi suara itu, konsepnya hampir sama dengan alat ini. Hanya bentuknya memang suara, bukan cahaya. Lalu penggunaannya harus menghubungkan ke laptop atau monitor untuk melihat jaringan atau organ mana yang kurang bagus. Sedangkan kalau untuk frekuensi suara yang sedang dikembangkan ini, cukup dengan file Mp3 atau dimixing dengan lagu. Sehingga pendengar bisa lebih praktis dan murah untuk melakukan terapi,” papar dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Juru Kuci Cagar Budaya Menawan Dapat Bantuan dari Lumbung Pangan

0
Seorang warga menerima bantuan sembako dari lumbung pangan Progam Jogo Tonggo Desa Menawan, Rabu (4/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah kendaraan roda dua tampak melintasi jalan setapak menuju Cagar Budaya Sendang Widodari di Desa Menawan RT 05 RW 01, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Siang itu, seorang nenek yang ada di sana terlihat didatangi sejumlah orang. Mereka tak lain rombongan dari PKK, BPD dan Karang Taruna Desa Menawan yang hendak menyalurkan bantuan.

Dia adalah Kartini (75), juru kunci Sendang Widodari, satu diantara sejumlah penerima bantuan. Dia mengaku senang mendapat bantuan. Sebelumnya, dia sudah pernah mendapat bantuan bantuan sosial tunai (BST) senilai Rp 600 ribu.

Seorang warga menerima bantuan sembako dari lumbung pangan Progam Jogo Tonggo Desa Menawan, Rabu (4/6/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Sebelumnya sudah pernah dapat uang yang Rp 600 ribu. Bantuan-bantuan seperti ini sangat membantu, saya ucapkan terima kasih,” ungkapnya, Rabu (4/6/2020).

Nenek itu juga berpesan jangan sampai lupa dengan leluhurnya dan terus merawat budaya, hingga anak cucu tahu akan sejarah desanya.

Baca juga: Lumbung Pangan jadi Prioritas Program Jogo Tonggo di Desa Menawan

Sementara itu, Ketua PKK Desa Menawan Setiasih (42) menyampaikan, bantuan tersebut diberikan kepada empat juru kunci cagar budaya di sana. Diantaranya, Sendang Widodari, Buyutan Mbah Mangku Bumi, Sendang Kuthu dan Sendang Honggo Truno.

“Selain itu juga kepada warga lansia yang lumpuh dan sangat membutuhkan. Ini kami akan membagikan kepada delapan orang. Tetapi ini membawa 10 karung, yang dua sebagai cadangan jika ada usulan dari warga waktu di lokasi,” jelasnya.

Baca juga: Pemdes Menawan Salurkan Bantuan untuk Belasan Warganya

Warga Desa Menawan RT 04 RW 03 itu menambahkan, penyaluran bantuan beras dari lumbung pangan sudah dilakukan beberapa kali. Saat ini masih ada stok beras di lumbung pangan sekitar 100 kilogram.

“Bantuan yang diberikan yaitu beras sejumlah 5 kilogram. Dan program lumbung pangan ini akan terus berjalan. Kami akan terus menggalang bantuan untuk warga yang membutuhkan,” tutup Setiasih.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -