Beranda blog Halaman 1829

Enggan Bergantung dengan Yayasan, Rif’an Rintis Usaha Dekorasi dan Hidroponik

0
Rif'an menunjukkan media tanam hidroponik yang diproduksi di rumahnya,

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu seorang pria mengenakan kaus oblong bertulis kurnia dan berpeci putih tampak sibuk. Dengan dibantu rekannya, dia memasang peralatan untuk media tanam hidroponik. Sesekali, ia juga memberi intruksi pekerja lainnya yang sedang mengecat triplek untuk dekorasi. Pria tersebut yakni Muhammad Rif’an (37) pemilik usaha dekorasi dan penyedia media tanam hidroponik.

Di sela kesibukannya, pria yang akrab disapa Rif’an itu sudi berbagi kisah hidupnya kepada betanews.id. Dia mengatakan, sejak 2005 sudah mengabdi di Yayasan Arwaniyah. Saat ini, ia ditugaskan jadi Wakil Sekretaris yang membidangi pendidikan, pondok pesantren, serta penyelenggaraan ibadah umroh dan haji.

Salah satu karyawan sedang menyelesaikan pembuatan media untuk bercocok tanam hidroponik di rumah Rif’an, Senin (8/6/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Karena yayasan tempat saya mengabdi itu bergerak di bidang agama. Saya tidak mau terlalu bergantung pada imbalan sehingga mengurangi khidmat pengabdian saya. Oleh sebab itu, pada tahun 2007 saya mulai rintis usaha sampingan,” ujar pria yang tercatat sebagai warga Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu.

Usaha yang dipilih, tuturnya yakni di bidang dekorasi pernikahan, yang diberi nama Kurnia Dekorasi. Menurutnya, usaha tersebut lumayan berjalan sesuai harapan, bahkan sudah cukup dikenal di Kudus, Jepara, Pati dan Demak. Di momen tertentu, orderan bisa sebulan penuh.

Baca juga: Raup Untung di Tengah Pandemi dari Pembuatan Media Tanam Hidroponik

“Apalagi kalau bulan Besar (Dzulhijjah), Syawal, serta Ruwah (Sya’ban) order selalu full. Sehari bisa dobel order dekornya. Bahkan sampai nolak-nolak orderan, ” beber pria yang dikaruniai tiga orang anak itu.

Namun, masih kata Rif’an, sejak ada Corona, order dekorasi pesta pernikahan banyak yang ditangguhkan. Karena ada imbauan dari pemerintah dilarang menyelenggarakan pesta pernikahan yang bisa menimbulkan kerumunan warga.

“Sejak ada Corona usaha dekorasi pernikahan tidak jalan sama sekali. Kegiatan di yayasan juga berkurang karena ibadah umroh dan haji tahun ini juga ditunda ” kata Rif’an.

Sebab itu, lanjutnya, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dia merintis usaha lainnya, yakni menawarkan jasa pembuatan media untuk tanam hidroponik. Dia bersyukur usaha barunya itu diminati banyak orang.

Baca juga: Cerita Sukses Deni dari Selada Hidroponik, Awalnya Nekat Utang Rp 900 Juta

Setelah lebaran, tambahnya, order untuk dekorasi juga mulai ada. Meski diakui belum seramai sebelum ada corona. Namun harus tetap disyukuri. Walaupun order itu hanya untuk dekorasi di acara akad nikah saja.

“Semoga saja keadaan bisa normal seperti sedia kala. Serta semoga semua usaha yang saya rintis bisa berjalan sesuai harapan. Banyak order untuk dekor dan banyak pesanan untuk pembuatan media tanam hidroponik,” tutup Rif’an.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Setelah Ditutup, Penataan Pasar Karangayu Kini Ikuti Protokol Kesehatan

0
Gubernur Ganjar Pranowo gowes pagi ke Pasar Karangayu Kota Semarang, Kamis (11/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pasar Karangayu yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Semarang sudah ditata mengikuti protokol kesehatan, setelah ditutup selama tiga hari akibat ada penemuan tiga kasus positif Covid-19 di pasar tersebut.

Ini terlihat saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi pasar tersebut, Kamis (11/6/2020). Sambil gowes pagi, Ganjar melakukan sidak saat pembukaan pasar setelah ditutup. Saat tiba, pasar sudah terlihat ramai. Para pedagang dan pembeli pun kini tertib memakai masker.

Gubernur Ganjar Pranowo gowes pagi ke Pasar Karangayu Kota Semarang, Kamis (11/6/2020). Foto: Ist.

Selain itu, jarak antara lapak pedagang juga sudah tertata. Mereka dipisahkan oleh garis-garis putih yang berjarak lebih dari satu meter.

“Nah ini bagus, pasarnya lebih bersih dan tertata. Tolong ada petugas yang keliling memastikan semua yang datang menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Ganjar.

Dalam kesempatan itu, Ganjar berbincang-bincang dengan pedagang sambil terus mengedukasi mereka untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ia juga terlihat meminta pedagang menggeser barang dagangannya karena keluar kotak. Dengan sadar, para pedagang itu menuruti perintah Ganjar.

Baca juga: Hartopo Ancam Tutup Lagi Pasar Kliwon Jika Protokol Kesehatan Diabaikan

“Begini kan enak, kalau semua disiplin, insyaalhah semua aman. Daripada ngeyel, nanti pasar ditutup, malah podho ra iso nyambut gawe (jadi tidak bisa bekerja), semua repot, nggih mboten?” tanya Ganjar.

“Nggeh pak,” jawab para pedagang.

Ganjar mengatakan, secara keseluruhan Pasar Karangayu sudah mulai bagus dan tertata. Hanya saja, perilaku masyarakat yang mesti dikontrol ketat agar menaati protokol kesehatan.

“Sudah bagus, tapi kelihatannya perilaku masyarakat mesti kita kontrol. Maka tadi saya minta pengelola pasar untuk menempatkan petugas jaga di pintu masuk agar mereka yang masuk semua pakai masker dan cuci tangan. Selain itu, saya minta ada petugas yang patroli keliling, sehingga kalau ada yang berdesakan langsung diminta geser,” katanya.

Kalau itu dilakukan, lanjut dia, maka pelan namun pasti akan mengubah perilaku masyarakat di pasar. Masyarakat akan sadar dan taat demi melindungi diri masing-masing.

Baca juga: Sidak Pasar Karangayu, Ganjar Dapati Kondisi Pasar Kumuh dan Tidak Teratur

“Secara keseluruhan tadi saya lihat sebagian besar sudah sadar, tapi ada beberapa yang belum. Maka ini kesempatan untuk menata secara keseluruhan. Mudah-mudahan ini bisa jadi contoh, tinggal merapikan lagi,” tutur ganjar.

Ganjar juga meminta seluruh pengelola pasar tradisional di Jawa Tengah untuk melakukan penataan. Jangan sampai kejadian di beberapa pasar tradisional menimpa pasar daerah lain.

“Jangan menunggu ada yang positif dulu baru ditata, sekarang semua harus bergerak. Sebenarnya sudah lama saya ingatkan, tapi memang ini tidak mudah,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kafe Susu Moeria, Tempat Nongkrong Sehat Ala Anak Muda Kudus

0
Para pengunjung menikmati sajian berbahan susu di Kafe Susu Moeria, Senin (8/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Musik pop terdengar mengalun lembut di sebuah kafe yang berada di Jalan Pemuda Nomor 64, Desa Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, Senin (8/6/2020) sore itu. Beberapa meja yang tersedia terlihat sudah terisi berbagai pelanggan dari yang muda hingga orang tua. Mereka tampak asyik dengan obrolan masing-masing. 

Sementara itu, para karyawan tampak sibuk dan ramah melayani pesanan. Dari kasir hingga bagian dapur, mereka seperti tak pernah berhenti melayani antrean pesanan. Keramaian itu bisa didapati di Kafe Susu Moeria yang sudah berjualan susu sejak 1938.

Para pengunjung menikmati sajian berbahan susu di Kafe Susu Moeria, Senin (8/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Saat memasuki bangunan bernuansa putih susu itu terdapat galeri oleh-oleh dan produk dari Susu Moeria. Mulai dari makanan basah, kue kering, hingga baju dan tas. Sedangkan ruangan di belakangnya adalah tempat untuk duduk, dapur, serta food court.

Owner Kafe Susu Moeria Felicia Natali Yuwono (29) mengatakan, kafe susu yang sudah turun temurun hingga empat generasi itu, memang menjadi salah satu pilihan untuk nongkrong dan bersua dengan teman atau keluarga. Beberapa ruang yang disediakan pun cukup luas, sehingga membuat aktivitas bersantai dengan menikmati berbagai makanan dan minuman berbahan dasar susu menjadi lebih tenang.

Baca juga: Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe

Tak hanya itu, kafe yang mulai beroperasi sejak 1996 itu juga menyediakan varian menu dengan bahan utama susu perah dari peternakan pemilik kafe yang telah menjadi ciri khas selama turun temurun.

“Kalau di sini memang akhirnya kita memakai konsep milenial, ya. Jadi bisa meminum susu atau makan produk kami sambil bersantai dan ngobrol. Sebenarnya itu konsep awal. Cuma sedikit kami ubah sesuai zaman. Pembeli bisa menikmati variasi olahan berbahan dasar susu. Ada roti, mantau, milk pao, dan kue-kue kering, seperti kastengel, pastel tutup, makaroni dan lain-lain,” rincinya.

Hingga saat ini, dikatakan Felicia, kafe yang buka dari pukul 06.00 sampai 21.00 WIB itu punya pelanggan dari berbagai kota. Seperti Pati, Jepara, Demak, hingga Semarang. Mereka biasanya datang saat hari libur.

“Selain bisa dinikmati sambil nongkrong di tempat, produk kami juga bisa dipesan melalui ojek online (Ojol),” ungkap Felicia.

Baca juga: Kedai Id Luncurkan Menu Baru dengan Promo Menarik

Tak berhenti di situ, pihak keluarga juga terus mengembangkan bisnis untuk terus bertahan menyesuaikan zaman. Yang terbaru, Susu Moeria membuka reseller di beberapa kota, yakni di Jepara, Demak, Pati, dan Semarang. Syaratnya, reseller wajib mengambil produk minimal sepekan sekali.

“Ya akhirnya, kami membuka reseller. Awalnya di Jepara, COD (Cash on delivery). Lalu lama-lama kami buka resmi di beberapa kota. Selain susu, ada produk frozen food juga. Untuk susu sendiri bisa bertahan sekitar satu minggu jika disimpan di freezer, jika di chiller sekitar dua hari. Kalau frozen food lebih dari satu minggu. Makanya, dari reseller paling nggak, satu minggu sekali itu ambil. Karena memang produk kami murni dan tanpa bahan pengawet,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tes Massal Banyak Digelar, Positif Covid-19 di Jateng Tambah 139 Kasus

0
Gubernur Ganjar Pranowo mengunjungi Desa Krincing, yang menjadi Desa terbanyak kasus Covid-19 di Kabupaten Magelang, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pasien positif Covid-19 di Jawa Tengah bertambah cukup tinggi setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggenjot tes massal di seluruh kabupaten/kota. Data Rabu (10/6/2020), penambahan kasus positif di Jateng mencapai 139 orang.

Meskipun ada penambahan kasus positif cukup banyak, tetapi yang terjadi di Jawa Tengah tidak sebanyak di Jawa Timur maupun Jakarta. Di Jatim, di hari yang sama ada tambahan kasus baru mencapai 273 kasus, disusul Jakarta dengan 157 kasus, 189 kasus di Sulsel dan Kalsel sebanyak 127 kasus.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memang memerintahkan pelaksanaan tes massal dengan mengirim rapid kit ke seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah setelah Lebaran kemarin. Itu dilakukan lantaran belum semua klaster penularan dilakukan penulusuran secara tuntas. Termasuk juga banyaknya pemudik yang tiba di kampung halaman masing-masing.

“Bahwa ada peningkatan iya, peningkatanmya di kabupaten tertentu iya. Seperti di Kota Semarang, yang terjadi di Pasar Kobong, Pasar Karanganyu. Bahkan bukan hanya rapid, tapi PCR tes. Jadi langsung saja hasilnya,” kata Ganjar, Rabu (10/6/2020).

Baca juga: Bertambah 10, Total Pasien Positif Covid-19 di Kudus Jadi 94 Kasus

Sampai saat ini, pihaknya telah membagikan 38.111 rapid test yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, jumlah rapid test yang terdistribusi sebanyak 27.011. Rinciannya, untuk dinas kesehatan kabupaten/kota sebanyak 24.641, sementara untuk rumah sakit sejumlah 2.370. Dari jumlah tersebut, yang sudah dilakukan pemeriksaaan sebanyak 22.337, yang reaktif terdapat 809 orang, non reaktif ada 21.528.

Sementara untuk tahap kedua, yang distribusikan sebanyak 11.100. Sampai saat ini, sudah dilakukan pemeriksaan sebanyak 3.411. 94 di antaranya reaktif dan 3.317 non reaktif. Saat ini rapid test yang tersisa sebanyak 12.363.

“Rapid itu dipakai untuk pengecekan dan memang diketahui (penularannya) bukan hanya dari wilayahnya saja tapi berasal dari berbagai tempat,” kata Ganjar.

Baca juga: Ingin Pastikan Warga Siap, Ganjar Tak Gegabah Terapkan Kenormalan Baru

Seperti yang terjadi di Desa Krincing Kabupaten Magelang. Ganjar menyebutkan kasus penambahan di desa tersebut sangat tinggi. Bahkan dalam satu RT saja jumlah penularannya ada yang mencapai 27 orang.

“Di Desa Krincing Magelang itu dari klaster Gowa. Itu tinggi sekali. Maka kita cari dan berkali-kali saya meminta kawan-kawan yang dari Gowa melaporlah agar kita bisa melakukan penelusuran dengan baik,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Felleta Pet Shop, Layani Treatment Kucing Hingga Gratis Grooming

0
Salah satu pelanggan sedang membeli perlengkapan hewan peliharaan di Felleta Pet Shop. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah toko perlengkapan hewan peliharaan siang itu nampak ramai didatangi pelanggan. Mulai mereka yang mengambil kucing usai digrooming atau dimandikan, hingga yang menanyakan harga kucing yang ada di tempat tersebut. Adalah Felleta Pet Shop, toko yang menyediakan ragam pakan hingga perlengkapan hewan peliharaan.

Toko yang terletak di Jalan Hos Cokroaminoto Nomor 40, Mlati Lor, Kabupaten Kudus tersebut memang menyediakan berbagai perlengkapan hewan. Mulai dari makanan, snack, vitamin, obat, parfume, disinfektan, aksesoris hingga kandang.

Baca juga : Berawal dari Hobi Pelihara Kucing, Putri Kembangkan jadi Peluang Bisnis

“Kalau perlengkapan untuk hewan peliharaan di sini tersedia banyak. Tidak cuma untuk kucing saja, ada anjing, kelinci dan hamster. Tapi memang karena mayoritas di Kudus warganya lebih banyak memelihara kucing daripada ke tiga hewan lain tadi, jadi lebih condong ke kucing,” papar Emma Tarna Setiyowati, Pemilik Felleta Pet Shop, Senin (8/6/2020).

Untuk produk kucing, kata Putri begitu ia akrab disapa, merek Royal Canin menjadi produk dengan harga yang paling mahal di sana dan kategori premium. Sehingga tidak heran, memelihara kucing bisa dianggap mahal. Padahal, beberapa merek lain pun banyak dan bisa menyesuaikan kantong pembeli.

“Kalau produk ya, misal makanan memang beda-beda harga, sesuai mereknya. Misal Royal Canin ini yang premium, itu saja beda-beda lagi nanti. Untuk kucing sehat, atau kucing pemulihan dari sakit dan lain-lain. Harganya juga cukup mahal ya. Tapi, di sini kami menyediakan berbagai merek,” kata dia.

Baca juga : Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele

Tidak hanya perlengkapan, Putri mengatakan, jika di Felleta Pet Shop juga melayani berberapa treatment untuk kucing. Seperti grooming, pacak, adopsi, hingga jasa penitipan. Dikatakannya, untuk mendapatkan jasa tersebut, lagi-lagi pelanggan memiliki pilihan harga sesuai dengan jenis kucing yang ditreatment. Sedangkan untuk penitipan, tergantung berapa lama pelanggan menitipkan.

“Kalau untuk grooming beda-beda. Grooming biasa, atau grooming kutu, atau grooming jamur. Secara harga juga beda lagi. Kucingnya umur berapa, terus jenis apa. Pacak juga begitu, mau dikawinkan dengan kucing jenis apa. Itu beda lagi harganya. Kalau penitipan tergantung berapa hari dititipkan. Kami mematok per hari Rp 25 ribu, bawa makanan sendiri kalau dititipin lebih dari seminggu, nanti gratis grooming. Oh iya, untuk sharing ilmu atau konsultasi kami gratiskan,” ungkap dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pesantren di Kudus Belum Berani Terima Santri dari Luar Daerah

0
Beberapa santri terlihat sedang belajar kitab. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – New normal atau kenormalan baru di lingkungan pesantren sudah mulai dipersiapkan beberapa pondok pesantren di Kudus. Namun hingga saat ini, pengasuh pondok pesantren masih belum berani menerima santrinya yang berasal dari luar daerah.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Kiai Ahmad Badawi memenuturkan, pihaknya memiliki santri mencapai 1.300 orang. Mayoritas santri yang mondok di tempatnya berasal dari luar daerah Kabupaten Kudus.

“95 persen santri yang mondok di sini dari luar kota, sisanya dari Kudus sendiri,” tuturnya di sela-sela kegiatan penyerahan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020).

Baca juga : DPRD Desak Pemkab Kudus Siapkan Skema New Normal di Pesantren

Dia menjelaskan, santri yang berada di pondok tidak diperkenankan untuk pulang ke rumah. Sedangkan, santri yang sudah terlanjur pulang terpaksa harus mengaji dengan cara daring. Untuk santri yang berada pondok, saat ada sekitar 200 santri.

Menurut Badawi, pihaknya sudah mempersiapkan new normal jauh hari sebelum Ramadan. Antara lain, penanggulangan Covid-19 di lingkungan pesantren, rekaveri ekonomi pesantren dan lingkungan serta pendidikan.

“Jadi, jauh hari kami sudah tidak memperbolehkan penggunaan sabun, handuk dan perlengkapan pribadi bersama-sama,” tuturnya.

Selain itu, dalam aktivitas makan, pihaknya juga sudah tidak memperbolehkan makan secara bersama. Menurutnya, sistem makan dibuat dengan sistem piring yang dapat dipesan di koperasi pondok.

“Kebersamaan itu tidak harus ditunjukkan dengan menggunakan barang bersama. Jadi di sini sudah tidak ada,” tambahnya.

Hal serupa juga disampaikan Ustazdah Pondok Pesantren‎ Sirajul Hannan Ukhwatul Khasanah (31) menuturkan, pihaknya belum berani menerima santrinya dari luar daerah Kudus.

Menurutnya, pihaknya memiliki santri 100 orang, terdiri dari 70 santri putri dan 30 putra. Dari jumlah tersebut, tidak lebih 50 persennya yakni berasal dari luar daerah. “Kebanyakan dari dalam Kudus sendiri. Ada juga yang sambil kuliah di IAIN Kudus,” tuturnya.

Baca juga : Pemprov Jateng Kebut Susun Norma Baru sebagai Pedoman New Normal

Ukhwatul menjelaskan, saat ini terdapat 30 santri yang tinggal di pondok untuk menghafal Alquran. Menurutnya, satu kamar yang biasanya dihuni 10 orang, diubah ditempati dua orang saja. Selain itu, dalam proses mengaji, pihaknya juga memberikan jarak satu meter guna mencegah penyebaran Covid-19.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, santri yang berada di pesantren wajib mengenakan masker dan membawa hand sanitizer.

Selain itu, Hartopo juga meminta pondok pesantren agar bersinergi dengan puskesmas sekitar. Menurutnya, nantinya jika ada yang memiliki gejala atau sakit dapat segera dibawa ke puskesmas.

“Pondok pesantren harus memiliki satgas Covid-19. Hal tersebut untuk mengecek suhu tubuh santri baru yang datang,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Apresiasi Aplikasi PSBB, Minta Terus Disosialisasikan ke Masyarakat

0
Ganjar Pranowo saat mengunjungi pencipta aplikasi PSBB yang membantu pedagang jualan daring di Bandungan, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BANDUNGAN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah Riza Rifai dan kawan-kawan yang menciptakan aplikasi PSBB (Pusat Sayur dan Buah Bandungan). Adanya aplikasi ini bisa membantu para pedagang di Bandungan yang terdampak Covid-19.

Menurut Ganjar, selama ini Bandungan dikenal sebagai pusat penghasil dan penjualan sayur serta buah-buahan di wilayah Kabupaten Semarang dan sekitarnya. Namun, semenjak Corona menyerang, penjualan sayur dan buah-buahan, terutama di pasar menurun drastis.

Komoditas Bandungan yang dijual di aplikasi PSBB. FOto: Ist.

“Anak-anak kreatif ini membantu pedagang dengan membuat aplikasi PSB Bandungan (PSBB).  Karena sebenarnya di Bandungan ini sudah sangat terkenal sayurannya segar, buahnya bagus. Tapi begitu Corona, mereka tidak bisa jualan karena PSBB. Nah, solusinya PSB Bandungan,” kata Ganjar saat mengunjungi pencipta aplikasi PSBB di Bandungan, Kamis (10/6/2020).

Bagi Ganjar, langkah ini sangat bagus, karena masyarakat bisa tetap bekerja dan jualan tapi beda tempat dan beda cara. Anak-anak muda itu juga mengamalkan fungsi sosial selain fungsi ekonomi karena di aplikasi ini bebas ongkos kirim (ongkir).

Baca juga: Pemuda Bandungan Bikin Aplikasi PSBB untuk Bantu Pedagang di Tengah Pandemi

“Mudah-mudahan ini awal yang bagus untuk terus mengenalkan. Saran saya, aplikasinya mesti dikenalkan sehingga orang tahu, kelak di kemudian hari ini akan menggelinding. Ada yang jualan konvensional, ada juga yang virtual,” tandasnya.

Sementara itu, pencetus aplikasi PSBB Riza Rifai mengatakan, aplikasi PSBB dia cetuskan sekitar dua bulan silam bersama empat rekannya. Awalnya, dia resah dengan adanya larangan berjualan di pasar di masa Pandemi Covid-19.

“Sekarang kami punya mitra 100. Ada yang pedagang, petani sampai UMKM. Sekarang transaksinya satu hari sekitar Rp 1,5 juta,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Bertambah 10, Total Pasien Positif Covid-19 di Kudus Jadi 94 Kasus

0
Juru bicara Gugus Tugas Covi-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pasien positif Covid-19 di Kabupaten Kudus terus melonjak setelah ada tambahan 10 kasus baru, Rabu (10/6/2020). Dengan tambahan ini, jumlah warga yang dikonfirmasi terkena Covid-19 mencapai 94 kasus.

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menjelaskan, sebelumnya, kasus Covid-19 di Kudus terkonfirmasi ada 84 kasus. Dengan bertambah 10 kasus, maka total kasus Covid-19 yang berada di Kudus yakni 94 kasus.

“94 kasus tersebut, 26 pasien dirawat, 17 pasien melakukan isolasi mandiri, 44 pasien sembuh, dan 7 pasien meninggal,” tuturnya.

Andini mengungkapkan, 10 pasien baru ini berasal dari dalam Kabupaten Kudus sendiri. Menurutnya, banyaknya kasus baru yang terjadi karena pihaknya melakukan tes swab massal di tiga tempat.

“Ini hasil tes swab massal yang dilakukan tanggal 5-6 Juni 2020 di Kaliwungu, Tanjungrejo dan Undaan. Untuk dari Polsek Gebog belum keluar,” terangya.

Rinciannya, lanjut Andini, 2 pasien dari Kecamatan Undaan, 1 dari Kecamatan Kota, 2 dari Kecamatan Jekulo, dan 5 dari Kecamatan Kaliwungu.

“Keseluruhannya memiliki kontak dengan penderita Covid-19,” jelasnya.

Baca juga: Hartopo Ancam Tutup Lagi Pasar Kliwon Jika Protokol Kesehatan Diabaikan

Andini menambahkan, hari ini pihaknya sudah melakukan tes swab kepada 159 orang di enam lokasi yang berbeda. Menurutnya, enam lokasi tersebut yakni sasaran kumpul supaya terkoordinir dengan baik.

“Enam lokasi sasaran kumpul tersebut yakni Puskesmas Kaliwungu, Puskesmas Tanjungrejo, (Kecamatan) Mejobo, (Desa) Jepang, (Desa) Ngembal Kulon dan Polsek Gebog,” tuturnya.

Di sisi lain, Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengungkapkan adanya lonjakan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Kudus setelah Hari Raya Idul Fitri. Hal tersebut dikatakannya saat peluncuran alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Senin (8/6/2020).

Baca juga: Alat Tes Swab di RSUD Kudus Sudah Bisa Dioperasikan

Menurutnya, naiknya kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus, lantaran penyebarannya sudah sulit diprediksi lagi. Hal tersebut mengakibatkan munculnya klaster-klaster penyebaran baru, seperti dicontohkan, klaster dari puskesmas.

“Banyak klaster di sana-sini,” jelasnya.

Hartopo lantas berpesan agar protokol kesehatan Covid-19 benar-benar dilakukan dengan baik. Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang.

“Yang paling penting jangan dikucilkan,” tegas Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

PLN Kudus Pastikan Tidak Ada Kenaikan Tagihan Listrik Selama Pandemi

0
Salah seorang warga sedang mengecek meteran listrik di rumahnya. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWSI.ID, KUDUS – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero memastikan tidak ada kenaikan tarif daftar listrik (TDL) saat pandemi Covid-19. Pernyataan ini untuk meluruskan banyaknya informasi dari masyarakat yang mengaku pembayaran tagihan listriknya naik.

Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kudus Kota, Mustopa Rizal mengungkapkan, pihaknya memastikan TDL tidak naik sejak 2007. Menurutnya, adanya keluhan masyarakat mengenai biaya listrik yang naik dikarenakan meningkatnya aktivitas masyarakat di rumah selama pandemi.

Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kudus Kota, Mustopa Rizal, saat ditemui di kantornya, Selasa (9/6/2020). Foto: Imam Arwindra.

“TDL masih sama tidak ada kenaikan. Jika ada pembengkakan, mungkin karena meningkatnya aktivitas di rumah. Yang jelas itu bukan disebabkan naiknya TDL,” tuturnya saat ditemui di Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kudus, Selasa (9/6/2020).

Rizal melanjutkan, selama pandemi, pemerintah menganjurkan untuk tinggal dan bekerja di rumah. Sekolah pun diliburkan. Hal tersebut tanpa disadari membuat penggunaan listrik meningkat.

Baca juga: Pelanggan Listrik 450 VA Nikmati Token Gratis

“Contohnya anak-anak. Hari-hari normal, maksudnya sebelum ada pandemi, satu hari paling beberapa jam saja nonton TV. Namun, saat pandemi bisa sampai seharian nonton TV-nya,” jelasnya yang ngantor di di Jalan AKBP Agil Kusumadya, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Selain itu, faktor naiknya tagihan listrik juga disebabkan adanya penambahan tagihan biaya listrik dari bulan sebelumnya.

Rizal menjelaskan, April 2020 lalu, pihaknya menghentikan aktivitas pencatatan meteran untuk pelanggan paska bayar. Langkah tersebut diambilnya untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dari masyarakat kepada petugas yang bekerja.

Dengan adanya kebijakan tersebut, penghitungan biaya listrik di bulan April, dihitung berdasarkan asumsi rata-rata penggunaan listrik tiga bulan sebelumnya.

“Misalnya biasanya pelanggan membayar rata-rata Rp 100 ribu per bulan. Jadi bulan Januari, Februari dan Maret misal rata-rata bayarnya Rp 100 ribu. Karena tidak ada pencatatan, bulan April bayar Rp 100 ribu,” terangnya.

Selanjutnya di bulan Mei, kegiatan pencatatan dari rumah ke rumah dilakukan kembali. Dari sinilah kenaikan penggunaan listrik masyarakat terbaca.

“Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas di lapangan, ternyata tagihan listrik di bulan April Rp 120 ribu. Kekurangan pembayaran tagihan Rp 20 ribu di bulan April ini dimasukkan ke dalam tagihan bulan Mei,” tambahnya.

Baca juga: Pemohon Kartu Kuning di Kudus Melonjak

Tagihan bulan Mei, lanjut Rizal, dicontohkan Rp 150 ribu. Dengan ditambahkannya Rp 20 ribu. Maka pelanggan harus membayar tagihan di bulan Mei Rp 170 ribu.

Mengenai adanya kenaikan pembayaran listrik, pihaknya mengaku sering mendapatkan komplain dari warga yang datang. Namun, setelah dijelaskan secara detail kalkulasi penggunaan listrik, akhirnya masyarakat mengerti.

“Jika nanti ditemukan masih ada perbedaan tagihan listrik, kami persilahkan masyarakat untuk datang langsung ke kantor PLN kota,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hartopo Ancam Tutup Lagi Pasar Kliwon Jika Protokol Kesehatan Diabaikan

0
Kondisi Pasar Kliwon Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengancam akan menutup kembali Pasar Kliwon jika protokol kesehatan Covid-19 masih tidak dihiraukan. Tak tanggung-tanggung, penutupan akan dilakukan selama satu pekan.

Hartopo menuturkan, ancaman tersebut tidak hanya berlaku bagi Pasar Kliwon saja, tapi juga berlaku bagi pasar tradisional lainnya dan pasar modern.

“Untuk mall-mall jika tidak ikut, saya akan tutup juga,” tuturnya saat ditemui di sela-sela kegiatan pemberian bantuan kepada pondok pesantren di Desa Kauman, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Rabu (10/6/2020).

Baca juga : Langgar Protokol Covid-19, Pasar Kliwon Ditutup Dua Hari

Hartopo menceritakan, pihaknya pernah melakukan penutupan Pasar Kliwon selama dua hari, yakni pada 5-6 Juni 2020. Hal tersebut dilakukan, karena masih ditemukan pedagang dan pembeli yang tidak mengenakan masker dan mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

Dia berharap, agar penutupan tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi para penjual dan pembeli. “Kali ini, kalau masih bandel tidak lagi dua hari, melainkan satu minggu,” jelasnya.

Setelah adanya penutupan Pasar Kliwon, lanjut Hartopo, pihaknya melakukan evaluasi protokol kesehatan di semua pasar di Kudus.

“Ini sudah dievaluasi Satgas. Pasar sudah ditata. Masuk pasar harus pakai masker. Pedagang dan pengunjung juga sama, pedagang di luar pasar juga begitu. Terus pintu-pintu pasar yang tidak ada petugasnya harus ditutup,” tuturnya.

Hartopo memberitahukan, di Pasar Kliwon terdapat 31 pintu. Namun dari jumlah tersebut, hanya 11 pintu yang dibuka. Menurutnya, ditutupnya 20 pintu karena tidak ada petugas yang berjaga.

“Fungsi petugas, yakni selalu mengontrol agar pedagang dan pengunjung mengenakan masker. Jika ada yang tidak mengenakan, diminta untuk balik. Lah, 20 pintu yang masih ditutup jika ingin dibuka harus ada relawan. Soalnya tenaga kerja dari dinas perdagangan terbatas,” jelasnya.

Baca juga : Penutupan Pasar Kliwon Diminta jadi Pembelajaran Pedagang

Dijelaskan Hartopo, penutupan pintu yang tidak ada petugas, juga dilakukan di Pasar Bitingan dan Pasar Brayung Mejobo. Menurutnya, jika pintu tidak ditutup pedagang dan pembeli akan seenaknya kembali. Protokol covid-19 pun tidak terkontrol.

“Ini SOP (standard operational procedure) wajib pakai masker. Dan saya minta pedagang harus menjadi contoh,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sudah Rindu Piknik? Akhir Pekan Ini Candi Borobudur Siap Dibuka

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau pelaksanaan simulasi pembukaan tempat wisata Candi Borobudur. Foto : Ist

BETANEWS.ID, MAGELANG – Apakah kamu sudah merencanakan aktivitas apa yang ingin dilakukan untuk mengisi masa new normal atau kenormalan baru? Kalau belum, kamu bisa memasukkan pilihan pergi piknik ke dalam kumpulan idemu. Nah, pada akhir pekan ini, Candi Borobudur sudah mulai dibuka untuk wisatawan.

Meski begitu, pembukaan akan dilakukan bertahap dan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Untuk kesiapan pembukaan itu, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah bersama PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Prambanan dan Ratu Boko melakukan simulasi. Dalam simulasi tersebut dipraktikkan penerapan protokol kesehatan sejak pintu gerbang sampai di depan anak tangga pertama Candi Borobudur.

“Dari awal (peraturannya) sangat rigid. Saya harap masyarakat tahu meski nanti akan ada guide. Ini akan jadi obat rindu. Kehati-hatian tetap kita lakukan,” kata Ganjar.

Baca juga : Mulai Dibuka, Ganjar Minta Bus Wisata Terapkan Prosedur New Normal

Sejak tiba di pintu gerbang, peraturan protokol kesehatan mulai dilakukan dengan penyemprotan disinfektan pada seluruh mobil yang masuk. Setelah masuk, pengunjung turun dari mobil di drop off. Kemudian secara antre pada garis-garis kotak mereka harus cuci tangan di wastafel yang telah disiapkan pengelola. Sebelum berjalan menuju loket, pengunjung harus memasuki bilik disinfektan yang menyemprotkan air sabun.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menghadiri kegiatan simulasi pembukaan wisata Candi Borobudur. Foto : Ist

Jaga jarak, jadi peraturan yang banyak diterapkan. Termasuk di loket dan pintu masuk ke Candi. Jika pengunjung enggan mengantre panjang, pengelola juga menyiapkan loket elektronik. Yang terakhir pemeriksaan suhu badan, dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan barang-barang bawaan. Ketika ada pengunjung yang suhu badannya mencapai 37,8 dia dipersilakan balik kanan.

“Kita akan coba dari awal agar bisa menyiapkan SOP wisata yang aman, sehingga tidak ada penularan. Semoga ini memberi informasi kepada masyarakat,” kata Ganjar.

Jika SOP tersebut bisa ditepati oleh pengelola Candi Borobudur, bukan tidak mungkin akan jadi percontohan untuk diterapkan di destinasi wisata di Jawa Tengah. Untuk uji coba, Ganjar mempersilakan akhir pekan ini dilakukan.

“Minggu depan boleh buka untuk 100 orang. Mungkin teman-teman wartawan yang mengawali. Terus 200 orang, bisa untuk teman-teman yang ingin memberi penilaian,” katanya.

Namun, sebelum akhirnya benar-benar dibuka, Ganjar menegaskan, setidaknya di kawasan sekitar Candi Borobudur mesti menepati selama 14 hari tidak ada penambahan kasus positif Covid-19. Hal itu juga jadi landasan pihak pengelola yang hanya akan membuka pintu Candi Borobudur untuk maksimal 5.000 orang setiap hari atau hanya 20 persen dari total kunjungan di hari normal.

Baca juga : Ganjar Beri Izin Pembukaan Candi Borobudur untuk Simulasi

“Kita lihat selama 14 hari ke depan. Kalau konsisten ada penurunan akan kita buka. Ini akan jadi obat rindu. Banyak keluhan dari pelaku usaha pariwisata maupun masyarakat, karena video saja tidak cukup,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama TWCB, Edy Setijono mengungkapkan, terkait rencana pembukaan bagi wisatawan, ia memastikan akan menerapkan protokol kesehatan dan jumlah wisatawan dibuka secara bertahap.

“Kalau dibuka, kami mungkin akan bertahap mulai 20 persen dari kuota pengunjung. Normalnya per hari mencapai 7.000 pengunjung, kami nanti akan bertahap,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Perhatikan Jaga Jarak saat Ambil BST, Ganjar Tegur Plt Camat di Magelang

0
Gubernur Ganjar Pranowo melihat proses pencairan Bantuan Sosial Tunai akibat Covid-19 di Kantor Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, MAGELANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegur Plt Camat Secang, Kabupaten Magelang setelah mendapati banyaknya warga yang tidak memperhatikan jaga jarak saat mengambil bantuan sosial tunai (BST) di kantor kecamatan setempat, Rabu (10/6/2020).

Saat itu, Ganjar yang tengah dalam perjalanan menuju Candi Borobudur langsung menghentikan mobil, dan kemudian berjalan memasuki gedung. Tak hanya abai dengan jaga jarak, dia juga menemui banyak di antara mereka yang tidak mengenakan masker.

Gubernur Ganjar Pranowo melihat proses pencairan Bantuan Sosial Tunai akibat Covid-19 di Kantor Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

Ganjar lantas menuju ruangan camat setempat, untuk menanyakan proses pencairan tersebut. Setelah sampai di depan ruangan, Ganjar ditemui Sekretaris Kecamatan yang merangkap jadi plt Camat.

“Tolong ini diatur. Ini ada Pak Polisi dan TNI. Kalau kurang personel saya kirim sekarang juga. Prinsipnya semua harus jaga jarak dan pakai masker,” kata Ganjar.

Baca juga: Berjubel saat Pengambilan BST, Ganjar Tegur Manajemen Kantor Pos

Ganjar kemudian mendapat penjelasan, penyaluran BST dari Kementerian Sosial (Kemensos) dilakukan secara serentak untuk beberapa desa. Untuk tempatnya berada di Kantor Kecamatan Secang dan hari ini telah memasuki tahap kedua.

Mendengar penjelasan tersebut, Ganjar kemudian memerintahkan pembagian secara berkala atau jika memungkinkan, tempat pelaksanannya diperbanyak untuk menghindari kerumunan warga.

“Kalau bisa lebih baik per desa saja. Atau bisa juga dilakukan di kantor desa masing-masing biar tidak berjubel seperti ini. Bahaya banget ini. Coba koordinasi dengan Kantor Pos,” pinta Ganjar.

Baca juga: Sidak Pasar Karangayu, Ganjar Dapati Kondisi Pasar Kumuh dan Tidak Teratur

Ganjar pun langsung menginstruksikan penataan jadwal, tempat duduk dan antrean. Beberapa titik antrean pun dia minta untuk dipercepat agar tidak terjadi penumpukan. Dari pintu gerbang, tenda ruang tunggu, antrean di pintu masuk, tempat duduk dalam gedung sampai verifikasi data penerima bantuan.

“Untuk desa yang belum jadwalnya, warganya suruh pulang saja. Menunggu di rumah. Bapak ibu, jangan ngeyel, ya. Ayo selamet bareng-bareng,” pesan Ganjar kepada warga yang mengantre.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Berawal dari Hobi Pelihara Kucing, Putri Kembangkan jadi Peluang Bisnis

0
Emma Tarna Setiyowati atau akrab disapa Putri sedang memberi vitamin untuk kucingnya. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Seekor kucing warna abu-abu jenis Persia tampak bermanja dengan tuannya. Sesekali, sang pemilik membelai bulu halus kucing berumur dua bulan tersebut. Di sela itu, perempuan berusia 40 tahun tersebut melayani konsumen yang ingin membeli pakan hewan peliharaan.

Adalah, Emma Tarna Setiyowati atau lebih dikenal dengan panggilan Putri yang menjadikan tempat tinggalnya yang berada di Jalan Hos Cokroaminoto Nomor 40, Mlati Lor, Kudus juga sebagai toko hewan peliharaan atau pet shop yang diberi nama Felleta Per Shop. Di tempat ini menyediakan beragam treatment untuk hewan, seperti kucing, anjing, hamster dan kelinci.

Putri mengatakan, tokonya tersebut sudah ada sejak tujuh tahun lalu. Semua, katanya berawal dari hobi pribadinya. Yakni kesukaannya terhadap kucing semasa kerja di Kota Semarang. Katanya, kucing merupakan hewan peliharaan yang ia pelihara sejak dulu.

Baca juga : Sangkar Motif Kejawen Paling Diburu Penghobi Perkutut

“Nama saya Emma, tapi lebih dikenal sebagai Putri di dunia pet shop. Saya memang suka kucing sejak dulu. Jadi waktu kerja di Semarang, saya justru jarang keluar main, lebih suka di kost. Akhirnya saya pelihara kucing, biar tidak sepi. Dari satu sampai beranak pinak. Lalu, dari sana teman-teman menyarankan untuk buka usaha sekalian. Ya seputar kucing. Akhirnya buka petshop ini. Meskipun, di sini juga ada beberapa makanan dan peralatan hewan lain. Seperti anjing, kelinci, hamster. Tapi memang lebih condong ke kucing,” papar Putri, Senin (8/6/2020).

Dari hal itu, selanjutnya Putri menjalankan usaha phet shop dan membuka konsultasi untuk sharing perihal pengalaman memelihara kucing. Diakuinya, kucing merupakan hewan yang bisa disikapi seperti seorang anak. Sehingga, perilaku tersebut juga menjadikannya sangat berhati-hati dalam merawat kucing-kucingnya. Bahkan kucing orang lain yang dititipkan di tempatnya.

“Kalau perawatan kucing sih susah-susah gampang. Diibaratkan seperti merawat anak sendiri. Mau dia kucing ras atau kucing kampung, sebenarnya sama saja. Tinggal bagaimana merawatnya. Artinya kalau kucing ras yang dirawat sembarangan bisa jadi lebih galak daripada kucing kampung biasa. Begitupun sebaliknya,” papar dia.

Baca juga : Lebih Menjanjikan dan Tak Ada Matinya, Usman Sukses Budi Daya Lele

Menurutnya, memelihara kucing juga harus telaten. Apalagi, untuk menjaga kesehatan dan serangan penyakit. Dikatakan Putri, paling susah adalah merawat saat kucing terkena virus. Hal ini dikarenakan virus merupakan sumber penyakit yang tidak terlihat namun sangat mematikan hanya dalam hitungan jam. Untuk mendeteksi apakah virus tersebut masih menginveksi di dalam tubuh kucing juga dikatakan Putri cukup susah.

Perempuan tersebut juga mempraktikkan cara memberikan obat kepada salah satu kucingnya. Dikatakan Putri, pemberian obat dan vitamin juga tidak bisa sembarangan. Karena rasa obat dan bentuk yang mudah ditelan bisa mengurangi trauma yang didapatkan oleh kucing. Sedangkan untuk sterilisasi ruangan, biasanya ia memakai TH4 atau G Microcid.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

DPRD Desak Pemkab Kudus Siapkan Skema New Normal di Pesantren

0
Pondok Pesantren Muhammadiyah Putri 2017_6_10
Salah satu aktivitas di pondok pesantren beberapa waktu lalu. Foto : Seputar Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – DPRD Kabupaten Kudus mendesak agar Pemerintah Kabupaten Kudus segera mempersiapkan skema new normal atau kenormalan baru di lingkungan pondok pesantren. Terutama sebelum pondok pesantren membuka kegiatan belajarnya.

Sebab, menurut Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Kudus Mukhasiron, Pemkab Kudus sedang gencar-gencarnya mempersiapkan new normal, namun nampaknya di lingkungan pondok pesantren belum dipersiapkan dengan matang.

“Jumlah pondok pesantren di Kudus dan santrinya ada berapa?,” tanya Mukhasiron kepada Kepala Dinas Kesehatan saat rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus(DKK) di Ruang Rapat Komisi D DPRD Kudus, Senin (8/6/2020).

Baca juga : Simulasi New Normal, Makam Sunan Muria Dibuka Hanya untuk Peziarah Lokal

Pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban dari kepala dinas dan jajarannya. Mukhasiron menduga, persoalan tersebut belum dikoordinasikan dengan pihak pondok pesantren dan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

Menurutnya, pekan ini pihaknya akan meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, bersama Kementerian Agama Kabupaten Kudus dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kudus untuk rapat koordinasi kembali.

“Minggu ini fokus pesantren. Nanti Dinas Kesehatan, Kemenag dan Kesra harus ikut rapat,” tuturnya.

Wakil rakyat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut menuturkan, dirinya tidak ingin pondok pesantren menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Menurutnya, pondok pesantren memiliki kondisi spesial dibanding yang lainnya.

“Jadi di pesantren, satu kamar misal untuk lima orang. Itu bisa dihuni 50 orang. Sistemnya gotaan. Pakaiannya bergantian, makannya tidak di piring masing-masing, melainkan pakai nampan. Nanti silakan dicek untuk sampling,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Mukhasiron, di pondok pesantren penggunaan sabun dan handuk pun sering digunakan bersama. Menurutnya, persoalan tersebut harus ditanggapi serius oleh Pemkab Kudus. “Kami berharap nanti ada simulasi juga new normal di pesantren,” tuturnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, pihaknya telah melakukan skema dalam persiapan new normal di pondok pesantren. Menurutnya, santri yang datang dari luar kota sebelumnya akan dilakukan skrining terlebih dahulu oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus.

Baca juga : Sambut New Normal, Perusahaan di Kudus Perketat Protokol Kesehatan

“Nanti pihak Kabag Kesra akan koordinasi dulu dengan pondok pesantren kapan santrinya akan datang. Entah menggunakan angkutan khusus atau bisa umum. Nanti tetap ada proses skrining, ” tuturnya.

Menurutnya, jika ditemukan santri yang memiliki gejala Covid-19 akan dipersilakan untuk karantina mandiri dulu di rumah.

Selanjutnya, pihak pesantren juga harus memberikan syarat menyertakan bebas Covid-19 kepada santrinya. Menurutnya, kamar yang digunakan di pesantren tidak sendiri-sendiri, melainkan digunakan bersama.

“Semua masih simulasi. Kita belum patok new normal akan berlaku kapan,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemuda Bandungan Bikin Aplikasi PSBB untuk Bantu Pedagang di Tengah Pandemi

0
Ganjar Pranowo saat mengunjungi pencipta aplikasi PSBB yang membantu pedagang jualan daring di Bandungan, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BANDUNGAN – Mbah Selamet (68) tampak semringah melihat daganganya kini mulai ramai lagi selama pandemi. Kegembiraan ini didapatkan setelah mengikuti saran sekelompok pemuda Kelurahan Bandungan, Kabupaten Semarang, yang menawarkan untuk membantu pemasaran secara daring.

Selama 30 tahun, dia hanya mangkal di Pasar Bandungan menjajakan nasi jagung, sayur lompong, bothok sampai ikan asin. Setiap porsinya dihargai Rp 10 ribu. Kini, jualannya itu sudah bisa dibeli lewat aplikasi, meski nenek yang memiliki tiga buyut itu tidak paham pemasaran di internet. Apalagi tentang aplikasi penjualan daring.

“Diajak mas Rifai itu. Ya ngikut saja saja. Aplikasinya apa ya tidak tahu,” kata Mbah Selamet, Rabu (10/6/2020).

Ganjuar Pranowo menikmati nasi jagung Mbah Selamet di Bandungan, Rabu (10/6/2020). Foto: Ist.

Rifai yang disebut Mbah Selamet adalah pencetus PSBB, aplikasi Pusat Sayur dan Buah Bandungan. Aplikasi tersebut menawarkan berbagai sayur, buah-buahan, kuliner sampai kerajinan khas Bandungan.

Baca juga: Kiprah Petani Milenial Bertanam Sayur Organik, Omzetnya Capai Rp 300 Juta Sebulan

Pria bernama lengkap Riza Rifai itu menjelaskan, aplikasi PSBB dia cetuskan sekitar dua bulan silam bersama empat rekannya. Awalnya, dia resah dengan adanya larangan berjualan di pasar di masa Pandemi Covid-19.

“Tapi kalau hanya resah, kan tidak menyelesaikan masalah. Apalagi peraturannya memang begitu demi keselamatan semuanya. Akhirnya kami berlima rembugan dan lahirlah aplikasi PSBB ini,” beber Rifai.

Rifai mengaku, saat awal-awal mengajak para pedagang, pihaknya sering mendapatkan penolakan dari penjual. Baru lah setelah karyanya itu dipresentasikan kepada camat setempat, dan dibantu para pemuda, para pedagang mulai tertarik. Apalagi, jualan lewat aplikasi kemudian dipandang jadi alternatif setelah kondisi pasar yang sepi.

Baca juga: Diklaim Lebih Sehat, Permintaan Selada Hidroponik di Muria Farm Tinggi

“Sekarang kami punya mitra 100. Ada yang pedagang, petani sampai UMKM. Sekarang transaksinya satu hari sekitar Rp 1,5 juta,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, setiap transaksi, pembeli bisa langsung order by name di aplikasi. Artinya, karena pengusaha tahu tidak cuma satu, misalnya, pembeli bisa menunjuk salah satu di antaranya. Jadi ini pasti akan sangat memudahkan penjual dan pembeli.

“Aplikasi PSB Bandungan ini sudah bisa diunduh di Playstore,” tutup Rifai.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -