Beranda blog Halaman 1816

Setiap Minggu Ganjar Buka Lapak Tawarkan Produk UKM di Instagram

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akan membantu memasarkan produk UKM melalui akun Instagramnya setiap hari Minggu.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Tampilan Instagram Story milik Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Minggu (12/7/2020) terlihat berbeda. Di akunnya itu, berderet aneka produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dari berbagai daerah yang dibantu promosi.

Setidaknya ada 100 jenis produk UKM yang dipromosikan Ganjar dengan hastag #LapakGanjar di storynya itu. Mulai aneka makanan seperti ayam goreng, sambal, sate, mete, kue, kopi, madu, hingga produk kerajinan semisal batik, lukisan, dan lainnya. Bahkan, aneka jasa seperti jasa pembuatan gift pernikahan hingga jasa pembuatan perabotan rumah tangga juga ditawarkan.

Ganjar memang sengaja membuat program #LapakGanjar untuk mendorong UKM Jateng terus berkembang. Dengan langkah kecilnya itu, Ganjar berharap pelaku UKM bisa memperluas pangsa pasar produknya. Produk-produk UKM yang memang unggulan itu pasti akan dikenal banyak orang, sehingga kemungkinan pembeli akan semakin besar.

“Mereka punya ide dan produk yang bagus. Lalu saya berpikir apa yang bisa saya bantu, ternyata dengan banyaknya follower saya, saya bisa bantu memasarkan produk mereka di media sosial,” kata Ganjar, Minggu (12/7/2020).

Baca juga: Ganjar Rela jadi Bintang Iklan Gratis untuk Produk Warganya

Dibanding medsos milik akun-akun pemerintah khususnya di Jawa Tengah, medsos Ganjar memang paling banyak followernya. Tercatat saat ini, ada 2,9 juta pengikut setia Ganjar di Instagram.

“Kalau bicara pemasaran digital, tentu jumlah follower mempengaruhi. Makanya saya bantu secara individu agar mereka para pelaku UKM bisa berjualan,” terangnya.

Rencananya, Ganjar akan rutin ngelapak di Instagram Story setiap hari Minggu. Nantinya, Ganjar akan membuat tema produk yang bisa ditawarkan, sehingga pembeli akan fokus saat menentukan pilihan.

“Bisa minggu ini khusus batik, besok roti, jajanan pasar, minuman, dan lainnya. Nantinya saya juga akan membeli untuk mereview beberapa produk itu agar masyarakat semakin mengerti,” tutupnya.

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Di sisi lain, salah satu pelaku UKM yang ikut dipromosikan Ganjar, Eva Rosalina Darmalaksana (32) tak menyangka bisa mengendorse Ganjar untuk jualan produk.

“Awalnya saya dikasih tahu teman, terus saya coba pakai hastag #LapakGanjar. Eh ternyata beneran direpost sama pak Ganjar,” kata warga Semarang ini.

Setelah produknya yang berupa sambal, tahu bakso, dan lunpia mejeng di Instagram Story Ganjar, Eva mengatakan langsung banjir pesanan. Ia pun begitu bersyukur memiliki Gubernur yang begitu peduli kepada rakyatnya.

“Ini bagus sekali, sangat membantu. Pak Ganjar kan followernya banyak, jadi pasti produk UKM yang dipajang mendapat banyak perhatian publik. Kami pelaku UKM sangat terbantu dengan program ini, soalnya kalau endorse artis atau selebgram itu biayanya mahal,” terangnya.

Baca juga: Pelaku Industri Kecil Sambat Tak Punya Modal, Ganjar Janji Akan Bantu

Hal senada disampaikan Ika Martina, pelaku UKM asal Sukoharjo. Ika yang juga salah satu pengikut Ganjar, langsung tertarik ketika ada info Ganjar ngelapak di Instagramnya.

“Ketika saya tahu pak Ganjar mau mempromosikan UKM setiap hari Minggu, saya langsung ikutan. Tadi saya posting produk rempeyek saya, alhamdulillah banyak yang antusias dan beberapa sudah tanya ke saya,” tukas Ika.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Peringatkan Bupati Brebes Tak Gelar Acara yang Picu Keramaian

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegur Bupati Brebes Idza Priyanti yang menghadiri acara gowes massal di Kecamatan Tonjong, Minggu (12/7/2020). Dia menyesalkan keikutsertaan Idza dalam kegiatan yang dihadiri ribuan orang tanpa mengedepankan jaga jarak dan protokol kesehatan itu.

Teguran itu langsung dilayangkan Ganjar kepada bupati dan wakil bupati melalui pesan WhatsApp karena berbahaya dan jadi sorotan publik. Mengingat, acara yang dihelat di salah satu lapangan dengan hiburan dangdut dan orgen tunggal itu dihadiri ribuan orang.

“Barusan saya dilapori teman-teman di Brebes, ada masyarakat dan kades yang lapor saya. Langsung saya lihat berita dan videonya. Lho, Itu kan berbahaya,” kata Ganjar saat ditemui di rumah dinasnya, Minggu (12/7).

Selain itu, Ganjar juga meminta Bupati Brebes untuk tidak menggelar acara yang mengundang kerumunan. Sebab, kondisi pandemi Covid-19 masih fluktuatif.

Baca juga: Dorong Keterbukaan Informasi Penanganan Covid-19, Ganjar: Tidak Perlu Ada yang Ditutupi

“Ini kan di Jawa masih berkembang (Covid-19). Hampir semua titik, di Jateng, Jabar, Jatim, dan DIY juga masih terjadi. Maka ayo kita punya sense soal itu,” imbuhnya.

Daripada membuat acara-acara yang menimbulkan kerumunan massa, Ganjar memerintahkan Bupati Brebes untuk memperbanyak aktivitas pengecekan massal, baik tes rapid maupun tes PCR.

“Testing-testing massal ini sebenarnya aktivitas yang didorong. Saya minta coba lakukan tes massif dulu di seluruh wilayah Brebes agar mengetahui petanya seperti apa. Menurut saya itu jauh lebih baik,” tegasnya.

Baca juga: Ganjar Minta Bupati dan Wali Kota Bentuk Gugus Tugas Khusus di Kawasan Industri

Menurutnya, jika di Brebes ada tes massif seperti Kota Semarang, maka akan diketahui kondisi realnya. Dari situ kemudian juga bisa diketahui daerah tersebut masuk zona merah, kuning, atau hijau.

“Untuk mengetahui mana-mana daerah merah, kuning hijau itu hanya bisa ketahuan kalau sudah dilakukan tes massal. Jadi kalau mau ada event, ya dipilih mana yang hijau, kecamatan mana, desa mana, yang boleh ikut siapa, protokol kesehatannya seperti apa,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Banyak Pesanan Pot Sabut Kelapa dari Luar Negeri, Chalim Terkendala Ongkir

0
Abdul Chalim menunjukkan pot bunga berbahan sabut kelapa di kediamannya, Rabu (8/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat mengurai tali dari sabut kelapa di teras samping rumah berwarna hijau. Dengan teliti, ia mengukur tali  berwarna coklat itu. Di teras tersebut juga terlihat pot kotak dan kerucut yang terbuat dari sabut kelapa. Pot bunga tersebut adalah hasil karya Achmad Abdul Chalim (40) yang beberapa kali diekspor ke luar negeri.

Di sela kesibukannya, warga Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu mengatakan, kerajinan pot dari sabut kelapa hasil karyanya sempat dua kali dikirim ke luar negeri. Pertama, Bulan Februari ke Negeri Ratu Elizabet Inggris dan kedua ke negeri Jiran Malaysia, Mei lalu.

Tali dari sabut kelapa yang dibuat Abdul Chalim. Foto: Rabu Sipan.

“Sudah dua kali saya ekspor kerajinan pot dari limbah sabut kelapa. Yang pertama ke Inggris dan yang kedua ke Malaysia. Untuk jumlahnya 100 buah ke masing-masing negara tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Chamim kepada Betanews.id, Rabu (8/7/2020).

Sebenarnya, lanjutnya, pesanan dari luar negeri untuk pot bunga hasil karyanya itu banyak sekali. Namun, karena terkendala ongkos kirim yang mahal, ia hanya melayani para pelanggan yang harganya sesuai bila dikalkulasi dengan ongkos kirim.

Baca juga: Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

“Sebenarnya selain dari Inggris dan Malaysia, saya juga dapat pesanan dari Jerman dan Singapura. Namun ongkos kirim terlalu tinggi, jadi saya tidak berani,” ungkap pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut.

Selain terkendala ongkos kirim, dia juga masih terkendala di produksi sehingga pelanggan yang memesan harus pre order empat hari sebelumnya.

“Pesanan banyak banget ini. Saya sampai kewalahan. Pesanan datang tidak hanya dari Kudus saja tapi juga dari luar kota. Bahkan saya setiap hari itu selalu begadang sampai pukul 03.00 WIB untuk menyelesaikan pesanan para pelanggan,” ungkap Chamim.

Dia menuturkan, pot dari sabut kelapa karyanya itu memang diminati banyak orang. Bahkan di Indonesia, ia mengaku sudah mengirim ke seluruh pelosok negeri. Dari kota-kota di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Papua ada pelanggannya semua.

Menurutnya, pelanggannya itu didominasi para juragan pemilik usaha tanaman hias. Biasanya mereka sekali pesan langsung banyak dan akan dijual lagi. Chamim sendiri memang memprioritaskan pembelian grosir. Minimal pembelian itu 12 pot.

Baca juga: Sediakan Aneka Bibit Anggur Unggulan, Aan Punya Pelanggan dari Seantero Nusantara

Dia mengatakan, pot bunga hasil karyanya itu memang beda dari yang sudah ada. Jika selama ini pot itu terbuat dari plastik, semen, dan tanah, ia membuat pot dari sabut kelapa. Selain artistik, unik, dan klasik, potnya itu juga punya fungsi mampu menyerap air. Sehingga memang cocok untuk tanaman.

Selain pot, lanjutnya, ia juga menjual tali sabut kelapa dengan harga Rp 500 per meter. Dia juga menjual olahan sabut kelapa lainnya yakni cocopeat yang biasa digunakan untuk media cangkok atau stek tanaman dengan harga Rp 25 ribu per 10 kilogram.

“Saya juga menyediakan cocochift yang biasa digunakan media tanam anggrek dengan harga Rp 20 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Dia bersyukur, usahanya yang muncul di tengah pandemi itu kini diminati banyak orang. Bahkan beberapa kali dapat orderan dari luar negeri. “Semoga saja usaha saya ini makin lancar dan bekembang. Serta ke depannya makin sukses,” tukas Chamim.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lebih Praktis, Sepeda Lipat Kian Jadi Idola

0
Anggota Komunitas Sepeda Lipat Kudus (Seliku) saat mengadakan acara gowes, Minggu (21/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Belasan pesepeda mulai berdatangan di Taman Bendung Klambu, Desa Klambu, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Minggu (21/6/2020) pagi. Mereka berbondong-bondong datang dari arah Kabupaten Kudus. Selang beberapa saat, rombongan berbeda juga mulai memasuki taman yang berada di dekat Bendungan Klambu itu. Dua rombongan itu dalah Komunitas Sepeda Lipat Kudus (Seliku) dan Komunitas Demak Sepeda Lipat (Dek Seli).

Kedatangan mereka secara berbarengan tersebut ternyata tidak disengaja dan punya agenda berbeda. Namun, mereka disatukan dengan kecintaan pada sepeda lipat yang makin jadi idola di masyarakat.

Anggota Komunitas Sepeda Lipat Kudus (Seliku) saat mengadakan acara gowes, Minggu (21/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Ketua Komunitas Seliku Agus Heryanto (50) menjelaskan, sejauh ini anggota Seliku semakin bertambah. Karena selain praktis dan bisa dibawa ke mana pun, sepeda lipat mulai banyak penggemar sejak pandemi Covid-19. Padahal diakuinya, sejak pandemi pula, harga sepeda lipat semakin tinggi.

“Kalau sepeda lipat itu mereknya banyak sekali. Tapi kalau ukuran ada beberapa macam. Dari yang 16 inci sampai 26 inci. Itu diameter roda. Dan harganya juga bervariasi. Mulai dari yang di bawah Rp 1 juta, sampai yang puluhan juta. Namun saat ini di Seliku, para anggotanya, ya rata-rata memakai sepeda seharga sekitar Rp 5-6 jutaan,” kata pria yang akrab dipanggil Aher itu.

Baca juga: Selama Pandemi, Komunitas Seliku Kebanjiran Anggota Baru

Kepopuleran sepeda lipat juga diungkapkan oleh Rona Firlana (37). Wakil Ketua Komunitas Dek Seli itu menambahkan, dia sudah beberapa kali mencoba berbagai jenis sepeda, dan kemudian jatuh hati pada sepeda lipat karena kepraktisannya.

“Jika bepergian cukup jauh seperti keluar kota, sepeda masih bisa dibawa di dalam kendaraan. Sehingga tidak menyulitkan untuk terus melakukan hobi,” ungkapnya.

Makin diminatinya sepeda lipat juga berimbas pada permintaan anggota baru di komunitasnya. Saat ini, anggotanya sudah mencapai 56 orang dan dipastikan terus bertambah. Untuk itu, pihaknya kemudian menambahkan aturan khusus untuk bisa bergabung di Dek Seli. Selain harus punya sepeda lipat, anggota baru juga diminta ikut serta dalam agenda gowes dan kopdar.

“Cuma kalau menjadi anggota memang harus memakai dan punya sepeda lipat. Selain itu juga harus mematuhi peraturan. Seperti kopdar di Simpang 6 Demak, terus sebulan sekali kita gowes dan silaturahmi ke rumah masing-masing anggota. Satu per satu. (dan) menggunakan helm saat bersepeda,” beber Rona.

Baca juga: Menolak Punah, Sepeda Mini Bertransformasi jadi Minion yang Banyak Digemari

Di masa pandemi, pihaknya kemudian mengeluarkan aturan baru soal mengikuti protokol kesehatan Covid-19 saat berkendara.

“Paling penting pokoknya itu tadi, bagi siapapun yang mau gowes bareng, yang jelas sejak pandemi ini kami ada aturan baru. Yaitu setiap anggota dan yang ikut gowes harus mematuhi protokol kesehatan. Harus tetap jaga jarak. Jangan berjajar saat bersepeda. Jadi satu lajur saja,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Wisuda Drive Thru UMK Dibagi Empat Gelombang, Ini Jadwalnya

0
Kampus Universitas Muria Kudus. Foto: Dok. Betanews.id

BETANEWS.ID, KUDUS – Pelaksanaan wisuda secara drive through atau drive thru akan dilaksanakan Universitas Muria Kudus (UMK) pekan depan. Dari jadwal yang ditentukan, drive thru akan dilaksanakan selama empat hari.

Rektor UMK Suparnyo mengungkapkan, pihaknya sudah menjadwal pelaksanaan wisuda secara drive thru per fakultas. Menurutnya, drive thru akan mulai dilaksanakan tanggal 18 Juli 2020.

“Jadwal sudah kami buat. Kami juga sudah informasikan kepada mahasiswa (wisudawan),” tuturnya.

Baca juga : Di Tengah Pandemi, Pendaftaran Mahasiswa Baru di UMK Naik 20 Persen

Secara rinci Suparnyo menjelaskan, tanggal 18 Juli 2020, mahasiswa yang akan diwisuda yakni berasal dari Fakultas Hukum, Pertanian dan Psikologi. Lalu, tanggal 19 Juli 2020 yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Selanjutnya, tanggal 25 Juli 2020 yakni Fakultas Teknik dan terakhir 26 Juli 2020 yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Kami memang sengaja mengambil waktu Sabtu dan Minggu, agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat,” jelasnya.

Suparnyo memberitahukan, total keseluruhan mahasiswa yang akan diwisuda yakni 604 orang. Seharusnya mereka diwisuda di bulan April 2020. Namun karena pandemi Covid-19, acara wisuda tersebut harus diundur.

“Nanti mereka boleh datang menggunakan mobil, motor atau kendaraan lainnya. Namun mereka tidak boleh turun di kampus. Yang boleh turun hanya mahasiswa saja di tempat yang sudah ditentukan,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai teknis pelaksanaan wisuda drive thru, Wakil Rektor 1 UMK Murtono menuturkan, wisudawan mulai masuk di lingkungan kampus dari pintu timur Fakultas Teknik. Setelah itu mengikuti rute yang ditentukan, hingga nantinya berakhir di pintu depan utama kampus. Selanjutnya, wisudawan dapat langsung pulang menuju arah barat.

“Untuk prosesi penyematan pita (toga) dan pemberian ijazah dilakukan di depan gedung rektorat,” jelasnya.

Menurutnya, setelah dilakukan simulasi pelaksanaan wisuda secara drive thru, kapasitas kendaraan di dalam area kampus yakni 150 buah.

Baca juga : Wisuda UMK Akan Digelar Juli Mendatang dengan Cara Drive Thru

“Modelnya nanti tidak pakai nomor urut. Yang datang duluan, langsung ke dalam. Segera kita lakukan proses wisuda,” tuturnya.

Pihaknya berharap, wisuda secara drive thru dapat berjalan dengan lancar. Selain itu pihaknya juga meminta para wisudawan dan keluarga agar mengikuti protokol kesehatan yang sudah diterapkan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Besok Mulai Tahun Ajaran Baru, Sekolah di Kudus Belum Diizinkan Gelar KBM Tatap Muka

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah sekolah di Kabupaten Kudus masih belum boleh melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruangan kelas. Hal tersebut terjadi, karena Kabupaten Kudus masih masuk kategori zona oranye penyebaran Covid-19.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, pihaknya belum memperbolehkan KBM dilakukan langsung di dalam kelas karena tingginya kasus Covid-19 di Kudus. Walau mulai tanggal 13 Juli 2020, sesuai jadwal yang ditentukan, yakni hari pertama sekolah dan pengenalan lingkungan sekolah.

Baca juga : Banyak Wali Siswa yang Gaptek, SMPN 2 Undaan Buka Posko PPDB

Menurutnya, KBM dapat dilakukan secara daring dan mengoptimalkan anak untuk belajar dari rumah. “Tanggal 13 (Juli 2020) besok, masih belajar di rumah,” tuturnya.

Walaupun siswa berada di rumah, pihaknya akan tetap mempertahankan kualitas pembelajaran. Dirinya, juga meminta tenaga pendidik untuk memberikan banyak tugas sekolah agar siswa memiliki kegiatan di rumah.

“Guru juga harus memberikan banyak tugas untuk anak didiknya,” jelasnya.

Selain itu, bagi siswa yang melaksanakan ujian, bisa dibuat sistem shift atau membaginya menjadi dua ruangan. Kegiatan tersebut dilakukan, agar penerapan protokol kesehatan physical distancing tetap dilakukan. Siswa bisa menjalankan tugasnya dengan aman dan nyaman.

“Berangkatnya juga harus diantar dan didampingi orang tua. Supaya tidak mampir-mampir,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Kudus Harjuno Widodo menuturkan, pola KBM masih dilakukan di rumah. Menurutnya, hal tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri. Yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri.

“Sesuai SKB 4 Menteri, KBM tatap muka saat kabupaten sudah zona hijau,” tuturnya.

Menurutnya, untuk koordinasi awal mengenai belajar dari rumah, siswa dan orang tua wali secara terjadwal bisa datang ke sekolah antara tanggal 13-18 Juli 2020. Kegiatannya, antara lain pembagian buku pelajaran, pembagian kelas dan penjelasan metode daring. Sekaligus nantinya meningkatkan sinergitas belajar dari orang tua.

Baca juga : SMPN 4 Bae Kekurangan Siswa pada PPDB 2020

Selanjutnya, untuk kepala sekolah dan tenaga pendidik, akan mulai melaksanakan work from office (WFO) sebagaimana yang dilakukan aparatur sipil negara (ASN) pada umumnya.

Harjuno meminta, pihak sekolah agar tetap melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 di lingkungan sekolah sesuai dengan arahan dari pemerintah.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sulap Sabut Kelapa Jadi Pot Cantik, Chalim Kewalahan Terima Orderan

0
Abdul Chalim menunjukkan pot bunga berbahan sabut kelapa di kediamannya, Rabu (8/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga orang pria terlihat sibuk di sebuah rumah di tepi selatan Jalan KH Turaichan Adjhuri, Desa Langgardalem, Kecamatan Kota Kudus. Bertempat di pekarangan samping rumah bernomor 285 itu, mereka sedang mengurai tali terbuat dari sabut kelapa. Satu di antara pria tersebut adalah Achmad Abdul Chalim (40) pembuat aneka kerajinan dari sabut kelapa.

Di sela kesibukannya, pria yang akrab disapa Chalim itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Di menuturkan, mulai mengolah limbah sabut kelapa menjadi aneka barang dan kerajinan bernilai jual tinggi baru beberapa bulan yang lalu. Menurutnya, hal itu terjadi karena keadaan yang menimpanya.

Pot bunga berbahan sabut kelapa ciptaan Abdul Chalim. Foto: Rabu Sipan.

“Sebelumnya, saya itu punya usaha jual beli motor dan mobil. Namun sayangnya, usaha yang saya tekuni sejak 10 tahun terakhir itu sepi dan membuatku rugi,” ujar Chalim kepada Betanews.id, Rabu (8/7/2020).

Padahal, tuturnya, usaha jual beli motor dan mobilnya itu sempat mengalami kejayaan. Bahkan sejak tahun 1998, ia bisa menjual empat unit motor setiap harinya. Tapi memang jalan hidup tidak ada yang tahu, Bulan Desember 2019 dia mengalami kerugian yang mengakibatkan usaha jual beli motornya berhenti total.

Baca juga: Bunga Adenium di Pondok Bunga Ambar Banyak Diminati Bapak-Bapak

“Sejak saat itu saya menganggur. Makin pusing lagi pada tahun 2020 ada pandemi Corona,” ujar pria yang dikaruniai satu anak tersebut.

Sewaktu ada Corona itu, ia mengaku tabungannya sudah menipis. Di tengah pandemi itu pun dia berpikir keras membuat sesuatu yang laku dijual. Sesuatu yang beda sehingga diminati banyak orang. Dari situ dia menemukan ide untuk membuat pot dari sabut kelapa.

Pikirnya saat itu banyak orang di rumah saja. Saat aktivitas di rumah itu pasti banyak orang mengalami kejenuhan sehingga akan cari hiburan atau kegiatan. Satu di antaranya dengan cara mengganti pot tanamannya.

Dia pun kemudian mulai membuat pot dari sabut kelapa. Namun, ternyata tak semudah yang dipikirnya. Ia harus mengalami kegagalan hingga 10 kali untuk membuat pot sabut kelapa yang layak dijual. Saat pot sudah jadi, ia mengaku langsung mempostingnya di marketplace punyanya Facebook.

“Saya bersyukur, sekali posting langsung banyak yang respon dan langsung ada pesanan. Bahkan pesanan mengalir terus hingga sekarang,” ungkapnya.

Baca juga: Berawal dari Hobi, Kini Ida Bisa Jual Seribuan Kaktus dalam Sepekan

Dia menuturkan, pot yang didesainnya secara unik, nyentrik, serta klasik itu dijual Rp 20 ribu. Sedangkan yang berbentuk kerucut besar dibanderolnya Rp 23 ribu.

Dengan harga tersebut, ia mengaku mampu menjual lebih dari 50 pot sehari. Menurutnya, permintaan pot dari sabut kelapa banyak sekali. Namun dia mengakui, masih terkendala di produksi sehingga pelanggan yang memesan harus pre order empat hari sebelumnya.

“Pesanan banyak banget ini. Saya sampai kewalahan. Pesanan datang tidak hanya dari Kudus saja tapi juga dari luar kota. Bahkan saya setiap hari itu selalu begadang sampai pukul 03.00 WIB untuk menyelesaikan pesanan para pelanggan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Dishub Kudus Berencana Buat Jalur Khusus Sepeda

0
Dua pesepeda saat beraktivitas di Taman Oasis Djarum, Jumat (10/7/2020). Foto: Khaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Perhubungan (Dishub) berencana membuat jalur khusus sepeda. Langkah ini diambil lantaran semakin meningkatnya pengguna alat transportasi kayuh tersebut di Kota Kretek.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil menuturkan, pemerintah daerah ingin memberikan rasa aman kepada para pesepeda, dengan membuat sarana dan prasarana pendukung berupa jalur sepeda yang dapat meningkatkan resiko kecelakaan lalu lintas.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Abdul Halil saat ditemui di kantornya, Jumat (10/7/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Jalan yang dibuat nanti jalan Kabupaten, bukan Provinsi,” tuturnya saat ditemui di Kantor Dishub Kudus, Jumat (10/7/2020).

Saat ini, pihaknya sudah membuat kajian penetapan jalur sepeda. Setelah kajian tersebut disetujui oleh Plt Bupati Kudus, pembangunan akan langsung dikerjakan di 2020.

Baca juga: Jadi Tren Sejak Pandemi, Pelanggan Bengkel Sepeda Pak Pwa Sampai Antre

Selanjutnya, ketika sudah mendapatkan persetujuan dari Plt Bupati Kudus, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus untuk merealisasikan rencana tersebut.

“Kalau sudah dapat persetujuan dan arahan, tahun ini langsung kita buat. Sebenarnya peningkatan moda transportasi sepeda tidak hanya di Kudus saja, namun hampir di semua daerah,” beber Halil.

Dari 11 ruas jalan yang dianalisa, lanjut Halil, tujuh di antaranya memenuhi kriteria. Analisa yang diberikan yakni terkait lebar jalan serta volume dan caphacity ratio (V/C Ratio) ruas jalan.

“Memang fokusnya di jalan pusat kota saja,” kata Halil.

Halil kemudian membeberkan beberapa jalan yang akan dibuat jalur sepeda, yakni jalur seputaran Simpang Tujuh Kudus, Jalan Sunan Kudus (segmen 2), Jalan Ahmad Yani, Jalan dr Loekmono Hadi, dan Jalan dr Ramelan.

“Untuk Jalan dr Loekmono Hadi dan Jalan dr Ramelan nanti yang dibangun di jalur lambatnya,” jelasnya.

Baca juga: Amankah Pakai Masker saat Bersepeda? Ini Penjelasan Ahli Paru RS Mardi Rahayu

Pembangunan jalur khusus sepeda sendiri sudah diatur dalam perundang-undangan. Yakni UU nomor 22 tahun 2009 pasal 25, pasal 45 dan pasal 62 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Disebutkan di pasal 25, setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan jalan berupa fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat.

“Desainnya sudah kami buat semua. Jadi kami sudah siap,” terangnya.

Ketika jalur sepeda itu sudah ada, pihaknya meminta pesepeda harus mematuhi rambu lalu lintas dan perlengkapan sepeda kudu lengkap.

“Jadi jangan lupa pakai helm dan penanda. Bisa pakai lampu atau rompi yang bisa memantulkan cahaya,” tutup Halil.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Banting Stir Jual Telo Gondeng, Rinto Mampu Raup Omzet Rp 6 Juta Sehari

0
Seorang pembeli sedang membeli telo gondeng di lapak milik Ririn Arianto di depan pintu masuk Taman Krida Wisata Kudus, Selasa (7/7/2020). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID. KUDUS – Di tepi utara Jalan Gor, tepatnya di sebelah timur pintu masuk Taman Krida Wisata Kudus terlihat sebuah gerobak. Di samping gerobak seorang pria tampak sibuk melayani beberapa pembeli singkong rebus yang berwarna merah kehitaman. Dia adalah Ririn Arianto penjual telo gondeng yang akhir-akhir ini laris manis.

Dia menuturkan, baru berjualan telo gondeng sekitar dua pekan yang lalu. Diakuinya, telo gondeng saat ini memang lagi ngehits dan banyak dicari. Bahkan ia mengaku jualannya selalu laris manis.

Telo gondeng yang dijual Ririn Arianto di depan pintu masuk Taman Krida Wisata Kudus, Selasa (7/7/2020). Foto: Rabu Sipan

“Telo gondeng saat ini lagi diminati banyak orang dan lagi ngehits. Bahkan pas hari pertama jualan, setengah jam dari buka dasar semua telo gondeng saya sudah ludes terjual,” ujar Rinto kepada Betanews.id, Selasa (7/7/2020).

Warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, itu menuturkan, setiap hari menyediakan telo gondeng sebanyak 150 keranjang atau kruneng. Satu keranjang itu berisi sekitar dua kilogram telo gondeng. Jadi sehari dia bisa menjual sekitar tiga kwintal telo gondeng. Untuk harga, dia menjualnya kiloan yakni Rp 20 ribu per kilogram.

Baca juga: Saking Larisnya, Siswanto Hanya Mampu Layani 400 Keranjang Kolak Gudang Sehari

“Kalau omzetnya hitung sendiri, ya. Satu kruneng saya menjualnya Rp 40 ribu. Saya juga melayani pembelian per setengah kilogram,” beber pria yang sudah dikaruniai tiga orang anak tersebut.

Dia kemudian berkisah awal berjualan telo gondeng. Dia mengaku, dulu juga seorang pedagang. Tadinya, ia berjualan di event-event besar. Namun, sejak ada Corona, semua event ditiadakan sehingga menjadikannya jadi pengangguran.

“Sekian lama menganggur, pas saya lihat Facebook ada orang memposting telo gondeng, yang menarik itu respon masyarakat kok bagus. Dari situ saya berinisiatif untuk jualan telo gondeng,” ungkapnya.

Kebetulan, lanjutnya, saat itu ia punya tanaman singkong di ladang. Kemudian singkong tersebut dipanen secukupnya, kemudian ia titipkan perebusannya di produksi gula tumbu. Tapi itu hanya berjalan sepekan, selanjutnya dia beli sudah telo gondeng sudah jadi.

Baca juga: Kolak Gudang Buatan Siswanto Jadi Ladang Bisnis Warga saat Pandemi

“Setelah singkong saya habis, saya pun memutuskan kulak telo gondeng yang sudah jadi. Pelanggan juga tetap banyak,” katanya.

Setiap harinya, Rinto berjualan mulai pukul 11.00 WIB hingga habis. Biasanya pukul 15.00 WIB telo gondengnya sudah ludes terjual. Namun, jika lagi laris atau akhir pekan, dagangannya bisa habis lebih cepat, dan ia bisa pulang pukul 13.00 WIB.

“Meski baru berjualan telo gondeng dua pekan. Saya sekarang punya tiga cabang lapak untuk menjajakan telo gondeng. Dan alhamdulillah semuanya laris,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

SMP PGRI Jekulo Gratiskan Biaya Pendidikan Peserta Didik

0
Ruang laboratium komputer SMP PGRI Jekulo. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria sedang duduk dengan sejumlah kertas di tangannya, terlihat di sebuah ruangan yang ada di SMP PGRI Jekulo. Dia adalah Hary Susilo Kurniawan (43), kepala sekolah tersebut. Dirinya sudi berbagi informasi kepada betanews.id tentang penerimaan peserta didik baru di sana.

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan peserta didik baru. Dia sudah berusaha mempromosikan dengan mendatangi ke sekolah-sekolah dasar untuk menawarkan. Meski begitu, hingga saat ini masih belum ada hasilnya.

Gedung SMP PGRI Jekulo, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

“Kami sudah berusaha mendatangi sekolah-sekolah dasar, tapi masih belum ada hasilnya. Ada empat murid baru, tapi pindahan. Untuk yang kelas VII ini, masih belum ada murid,” jelasnya, Rabu (7/7/2020).

Pria yang akrab disapa Hary itu tetap optimis, jika nantinya akan ada murid yang mendaftar. Karena pendaftaran di sana masih berlaku hingga bulan Oktober 2020 mendatang.

Baca juga : SMPN 4 Bae Kekurangan Siswa pada PPDB 2020

“Sudah biasa kita dijadikan opsi yang ke sekian. Jadi nanti biasanya tetap ada yang daftar. Kami positif thinking saja,” ungkapnya.

Warga Desa Rendeng RT 03 RW 07, Kecamatan Kota, Kudus itu menambahkan, jika di sana sudah memberi fasilitas gratis seragam. Selain itu pihak sekolah juga tidak memungut biaya apapun.

“Kami juga bisa mengusahakan bantuan, seperti PIP dan PKH. Jadi siswa di sini sudah tidak membayar, malah mendapat bantuan uang. Kami juga sudah mengusahakan fasilitas sekolah, seperti komputer juga ada, baru kami beli ketika ada ujian berbasis online,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mr Jeje, Manisan Labu Jipang Khas Pegunungan Muria yang Tahan Lama

1
Rubiyanti menunjukkan manisan labu jipang yang diproduksi Gekraf, Selasa (30/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Rubiyanti (44) tampak menata berbagai produk di etalase tokonya yang berada di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Toko yang bertuliskan Gerakan Ekonomi Kreatif Kudus (GEKRAF) itu memang jadi tempat memajang berbagai produk-produk khas pegunungan Muria, salah satunya adalah Manisan Labu Jipang Mr Jeje.

Produk yang dirintis sejak September 2017 lalu itu, kini jadi andalannya dalam memasarkan hasil pertanian dari Pegunungan Muria. Dia berharap, manisan labu jipang, nama lain dari labu siam tersebut bisa ikut mengangkat nama Kudus.

Rubiyanti menunjukkan manisan labu jipang yang diproduksi Gekraf, Selasa (30/6/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Selama riset, saya mencoba labu siam dari berbagai daerah. Ternyata yang paling bagus itu ya dari Muria. Dengan begitu terbukti bahwa kita punya bahan baku unggulan yang bisa mengangkat Kudus. Salah satunya melalui makanan khas dari labu siam ini,” papar Yanti, Selasa (30/6/2020).

Baca juga: Segar di Mulut Aman di Perut, Es Mie Telur Jelly di Kedai Azzam Diburu Pembeli

Tak hanya itu, manisan olahan wanita yang akrab disapa Yanti itu juga mampu bertahan hingga dua tahun. Padahal, dia tidak menggunakan bahan pengawet apapun. Lagi-lagi, bahan baku labu jipang lah yang membuat manisannya awet. Beda sekali dengan bahan baku sejenis dari daerah lain yang hanya bisa bertahan satu minggu, bahkan ada yang cuma dua hari.

“Jadi saya sudah ke berbagai daerah untuk memberi pelatihan mengolah manisan dari labu siam dari daerah masing-masing. Nah, yang paling kuat itu yang dari Muria. Mungkin ini dipengaruhi dari pH air dan unsur tanahnya. Jadi labu siamnya juga lebih tahan lama saat diolah menjadi manisan,” ungkapnya.

Perempuan berjilbab merah itu melanjutkan, secara kesehatan, dari labu jipang juga banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan. Seperti menurunkan koleterol, mengatasi hipertensi, mencegah penuaan dini, mengatasi sembelit, dan lain-lain.

Baca juga: Abon Tongkol Jadi Usaha Menarik, Awalnya Pipit Bantu Suami Makan Ikan

Sedangkan di aspek ekonomi, melalui pengolahan labu siam, pihaknya bisa ikut membantu memutarkan roda perekonomian petani hingga pariwisata.

“Di aspek ekonomi juga punya kekuatan lain. Karena jika labu siam ini bisa dikenal masyarakat luas, apalagi menjadi makanan khas Kudus, maka penjualan dan aspek pariwisata bisa naik. Harapannya seperti itu,” tukas Yanti.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Pesona Keindahan Alam Bak Raja Ampat, Bukit Puser Angin Diserbu Wisatawan

0
Keindahan alam Bukit Puser Angin di Klaling Kudus disebut-sebut seperti Raja Ampat. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu Sabtu (11/7/2020) Bukit Puser Angin Kudus ramai pengunjung. Terlihat para pengunjung ada yang datang menggunakan motor, sepeda dan beberapa ada yang menggunakan mobil. Mereka tampak mengabadikan momen kehadiran mereka di Bukit Puser Angin Kudus yang keindahan alamnya diklaim seindah di Raja Ampat Papua.

Bukit Pusir Angin Kudus yang letaknya ikut Dukuh Karangsubur, Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu berjarak sekitar empat kilometer dari pemukiman warga. Saat perjalanan menuju ke Bukit Puser Angin, mata para pengunjung sudah dimanjakan pemandangan yang indah. Kanan kiri jalan ada ladang penduduk. Terkadang juga berupa jurang serta tebing khas tanah cadas yang indah.

Bukit Puser Angin Klaling Kudus ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Dibuka Kembali, Wisata Ternadi yang Suguhkan Indahnya Alam Muria Ramai Pengunjung

Sesampai di Bukit Puser Angin, langsung disambut kebesaran Tuhan yang begitu indah. Bukit yang berada di atas Bendungan Logung itu, kita bisa melihat bendungan dari atas. Melihat airnya yang biru, pemandangan rimbunnya hutan serta bukit di tengah Bendungan Logung itulah yang membuat keindahan alam Bukit Puser Angin serasa di Raja Ampat Papua.

“Pemandangannya sangat indah dan eksotis. Hutan yang hijau di perbukitan, dipadu perairan Bendungan Logung, yang menjadikan di Bukit Puser Angin Kudus serasa di Raja Ampat Papua,” ujar Anggun Febri Melisa (20) kepada betanews.id.

Dara yang berasal dari Karawang, Jawa Barat itu mengaku baru pertama datang ke Bukit Puser Angin. Kedatangannya itu untuk mengobati rasa penasaraan. Sebab sebelumnya ia melihat postingan beberapa orang di media sosial tentang keindahan alam Bukit Puser Angin Kudus.

“Setelah melihat langsung, pemandangannya memang indah. Ternyata di Kudus banyak menyimpan tempat yang indah dan mempesona,” ujar perempuan yang tercatat sebagai mahasiswi IAIN Kudus tersebut.

Baca juga : Sayang Dilewatkan, Ini Oleh-oleh Khas Lereng Gunung Muria

Hal senada juga diutarakan Muhammad Arif (33). Pria yang datang ke Bukit Puser Angin Kudus menggunakan sepeda itu juga merasa takjub dengan keindahan alam yang ada. Dia yang datang dengan komunitas gowesnya itu mengaku tidak rugi untuk bercapek ria datang ke Bukit Puser Angin.

“Pemandagannya sangat bagus. Ada bukit, hutan, air serta angin semilir menjadikan keindahannya serasa lengkap. Pokoknya lelah bersepeda terbayarkan,” ungkap pria yang tercatat sebagai warga Desa Peganjaran, Bae, Kudus.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dampingi Menkes, Ganjar Serahkan Penghargaan Pada Pahlawan Kesehatan

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menemani Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto menyerahkan penghargaan dan santunan kepada ahli waris nakes. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG
Sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada para pahlawan kesehatan yang gugur saat menangani pasien Covid-19, pemerintah memberikan penghargaan dan santunan kepada lima ahli waris tenaga kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di Gedung Poltekes Semarang, Sabtu (11/7/2020). Pihak ahli waris diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan atau kepala Puskesmas setempat untuk menerima penghargaan itu.

Lima tenaga kesehatan yang gugur tersebut adalah dr Sofyan Endi dari RSUD Soedjati Soemordiardjo Purwodadi, dr Sangaji Widi dari Puskesmas Karanganyar, Kota Semarang, Yuni Wuryaningsih dari Puskesmas Sayung, Demak, Yadi Siswanto dari Puskesmas Bangsri, Jepara dan Siti Fatimah dari RSUD RA Kartini Jepara.

Baca juga : Ganjar Minta Bupati dan Wali Kota Bentuk Gugus Tugas Khusus di Kawasan Industri

“Ini bentuk penghormatan yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada ahli waris yang ditinggalkan. Mudah-mudahan ini bisa memberikan rasa hormat pada ahli waris, pada mereka para pahlawan yang gugur itu,” kata Ganjar.

Ganjar juga mengajak semua masyarakat untuk terus membangun kesadaran akan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan. Semuanya harus saling peduli, menghargai dan menghormati satu sama lain agar pandemi ini segera berakhir.

“Perlu kerja sama antarseluruh komponen masyarakat. Kesadaran harus terus dibangun, dan sosialisasi harus terus dilakukan. Karena, kesadaran untuk pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan itu ternyata tidak mudah,” tutupnya.

Sementara itu, Menkes Terawan mengatakan, pemerintah mengucapkan rasa duka dan kehilangan yang sangat besar atas gugurnya para pahlawan kesehatan itu. Mereka harus menjadi teladan, menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.

Baca juga : Rumah Sakit Sulit Izin Kelola Limbah Covid-19, Ganjar Bantu Urus ke KLHK

“Penghargaan dan santunan ini, merupakan wujud betapa tingginya rasa hormat kami pada semua pahlawan kesehatan yang telah gugur itu. Saya mewakili Presiden dan seluruh masyarakat Indonesia, mengucapkan belasungkawa dan penghormatan serta terima kasih yang tulus,” kata dia.

Terawan juga meminta seluruh masyarakat tetap kompak dalam menghadapi covid-19. Semua diminta menyamakan langkah untuk menekan penularan covid-19 demi masa depan anak cucu.

“Protokol kesehatan harus diterapkan, dimanapun kita berada. Kuncinya hanya satu, disiplin,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Sebut 25 Nakes RSUD Moewardi Solo yang Reaktif Covid-19 Tertular dari Luar

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) sedang berbincang Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, hasil rapid test menyebut ada 25 tenaga medis di RSUD Moewardi Solo reaktif covid-19.

“Hari ini sudah dirapid test, dan ada yang reaktif. Saya minta dilakukan PCR dan hasilnya belum tahu. Laporan yang masuk, ada 25 tenaga kesehatan yang dirapid dan ada reaktif. Sekarang kami sedang melakukan tindakan,” kata Ganjar usai pemberian santunan bagi ahli waris tenaga medis yang gugur di Poltekes Semarang, Sabtu (11/7/2020).

Dari hasil pengecekan awal, Ganjar mendapat laporan bahwa diduga penularan Covid-19 di RSUD Moewardi terjadi dari luar rumah sakit. Justru, tenaga medis yang bertugas menangani Covid-19 semuanya aman, karena prosedurnya sangat ketat.

Baca juga : Kasus Positif Covid-19 Semarang Raya Melonjak, Ganjar Usul Tambah Ruang ICU

“Dugaannya tertular dari luar, kalau yang menangani ini (Covid-19) malah aman. Tapi yang mesti hati-hati ketika berada di luar. Kalau kemudian dari luar tertular, terus dibawa masuk ke rumah sakit, tidak sadar berhubungan dengan banyak orang, maka potensi itu bisa terjadi,” terangnya.

Terhadap kasus itu, Ganjar memastikan bahwa pihaknya sudah mengambil langkah-langkah perbaikan. Selain memperketat tracing kontak, rumah sakit juga mengurangi karyawan non medis sebanyak 50 persen serta mengurangi jumlah kunjungan pasien.

“Kami juga meminta kapasitas pendidikan dokter muda dan residen juga dikurangi. Kami minta protokol kesehatan dilakukan makin ketat termasuk membatasi karyawan dan jumlah pengunjung,” terangnya.

Terkait langkah yang akan diambil pada 25 tenaga kesehatan di RSUD Moewardi itu, Ganjar masih menungu hasil PCR.

“Ini kan dokter semua, sudah pasti paham, apakah nanti dirawat atau diisolasi. Kalau mereka nanti dengan gejala, pasti harus dirawat, tapi kalau tanpa gejala, bisa dilakukan treatmen dengan cara-cara yang tepat,” terangnya.

Baca juga : Ganjar Minta Bupati dan Wali Kota Bentuk Gugus Tugas Khusus di Kawasan Industri

Kejadian adanya tenaga kesehatan yang tertular covid-19 membuat Ganjar meminta masyarakat serius. Bahwa tidak hanya di pemerintahan, masyarakat maupun industri, rumah sakit juga bisa menjadi tempat penularan.

“Maka kenormalan baru itu jangan hanya sekedar diomongkan tanpa kita bisa berdisiplin diri. Sekarang, covid ini menularnya jauh lebih cepat, bahkan ada yang mengatakan itu sudah airbone meskipun harus dipastikan dulu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Disbudpar Bekali Pengelola Rintisan Desa Wisata di Kudus

0
Pelatihan tata kelola desa wisata. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang tampak duduk mendengarkan seorang narasumber yang sedang berbicara. Mereka tak lain adalah peserta Pelatihan Tata Kelola Destinasi Pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus (Disbudpar). Mutrika (53), Kepala Bidang Pariwisata pada dinas tersebut mengatakan, jika kegiatan tersebut berjalan selama tiga hari.

Pada hari pertama dan kedua diisi dengan pengayaan teori, kemudian pada hari ke tiga dilanjutkan dengan terjun ke lapangan. Mereka diajak ke dua desa wisata di Kudus.

Baca juga : Desa Wisata di Kudus Bisa Ajukan Bantuan Alkes ke Pemkab

“Ke dua desa itu Desa Kandangmas dan Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus. Agar peserta melihat secara langsung tata kelola desa wisata di sana. Sehingga bisa mengevaluasi ketika berada di desa wisata,” jelasnya, (8/7/2020).

Menurutnya, peserta bisa melihat tata kelola desa wisata di sana sudah bagus atau belum. Untuk bagian yang sudah bagus, nantinya akan diterapakan di desanya masing-masing. Hal yang bisa dicontoh mulai dari akses, sumber daya manusia, pengelola, serta inovasi-inovasi yang sudah dimunculkan.

“Peserta kegiatan ini terdiri dari 15 desa wisata, dan juga pengelola daerah tujuan wisata (DTW) yang ada di lingkup di Disbudpar. Kemudian, UPT museum dan taman budaya serta UPT pengelola objek wisata,” terangnya.

Dirinya juga menyampaikan, jika 15 desa itu sudah mendapat SK penetapan. Tetapi belum diserahkan kepada pihak desa, karena masih menunggu jadwal dari Plt Bupati Kudus.

“Mudah-mudahan nanti bisa segera diserahkan. Karena SK memang sudah jadi. Tinggal nunggu jadwal dari Pak Plt Bupati,” katanya.

Baca juga : Wisata Air Jratunseluna di Desa Temulus Kembali Dibuka

Pihaknya mendapatkan, progaram dari dana alokasi khusus (DAK) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, DAK nonfisik. Pelaksanaan dari program tersebut melibatkan sejumlah 40 peserta.

“Pelatihan seperti ini sudah ada sekitar tiga kali, dan peserta selalu berbeda. Karena aturannya peserta harus berbeda orang,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -