Beranda blog Halaman 1815

Kejati Tetapkan Dua Tersangka Baru Kasus OTT PDAM Kudus

0
Berkas yang diduga barang bukti diletakkan do mobil oleh petugas kejaksaan. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah melakukan pemeriksaan di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus, Selasa (14/7/2020) pagi. Terlihat sejumlah petugas tampak mondar-mandir dari ruang Direktur PDAM Kudus ke gedung bagian pelayanan.

Kabar yang beredar, terdapat tersangka baru dari pengembangan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang melibatkan pegawai PDAM Kudus pada Kamis (11/6/2020) lalu. Saat itu Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus sudah menetapkan tersangka berisinisal T yang diduga telah menerima uang terkait penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus. T diketahui menjadi Kepala Pelayanan Kepegawaian di perusahaan daerah plat merah tersebut.

Namun dalam perkembangannya, kasus tersebut dilimpahkan dari Kejari Kudus ke Kejati Jawa Tengah.

Baca juga : Sebut Kekurangan SDM, Kejari Limpahkan Kasus OTT PDAM Kudus ke Kejati Jateng

Betanews.id mencoba mencari tahu mengenai informasi adanya tersangka baru dari kasus OTT tersebut, dengan mengkonfirmasi ke Kepala Kejaksaan Negeri Kudus Rustiningsih.

Saat berada di Kejari Kudus, Selasa (14/7/2020) sekitar pukul 13.30 WIB, terlihat dua mobil warna hitam datang beriringan masuk ke dalam Kejari Kudus. Yakni Toyota Avanza plat merah K 9509 DK dan Toyota Kijang Inova plat hitam H 8812 HQ.

Saat petugas berseragam kejaksaan membuka bagasi belakang pada mobil Toyota Kijang Inova, terlihat dokumen yang diikat menggunakan tali warna putih. Namun dokumen tersebut tidak diturunkan ke Kejari Kudus.

Selang beberapa menit, mobil bernomor polisi H 8812 HQ terlihat keluar meninggalkan kantor Kejari Kudus.

Saat ditemui di Kantor Kejari Kudus, Kajari Kudus Rustiningsih membenarkan ada penambahan tersangka baru pada pengembangan kasus OTT PDAM Kudus. Menurutnya, terdapat dua orang yang ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejati, yakni berinisial A dan O. “Yang pasti sudah ada penerapan tersangka dua orang dari Kejati. A dan O,” tuturnya.

Namun pihaknya tidak bisa memberikan keterangan rinci mengenai jabatan dan peran tersangka A dan O dalam kasus OTT di PDAM tersebut.

“Yang menangani dan melakukan penyidikan yakni kejaksaan tinggi. Kita hanya bantu memback up,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini kedua tersangka baru A dan O sudah dipanggil Kejati sebagai tersangka. Saat ditanya apakah A dan O sudah ditahan, pihaknya kurang mengetahui hal tersebut. “Secara rinci kami tidak tahu. Kita hanya dimintai bantuan memanggil,” tuturnya.

Baca juga : Diperiksa Tiga Jam, Direktur PDAM Kudus Dicecar 25 Pertanyaan

Rustiningsih menuturkan, dalam kasus OTT PDAM Kudus dengan barang bukti uang Rp 65 juta, sudah menetapkan tiga tersangka. Yakni inisial T, A dan O. Namun untuk A dan O penetapan tersangka dilakukan oleh Kejati Jawa Tengah.

Pihaknya pun mengaku kurang mengetahui apakah nantinya terdapat tersangka baru lagi dalam kasus OTT tersebut atau tidak. Menurutnya, untuk tersangka T posisi masih di rumah tahanan di Kudus. “Kasus ini sudah ditangani Kejati. Itu kewenangan Kejati,” jelasnya.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Solo Disebut Zona Hitam Covid-19, Ganjar: Jarene Sopo?

0
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mempertanyakan kejelasan informasi yang menyebut bahwa Kota Solo telah menjadi zona hitam penyebaran Covid-19. Dirinya secara tegas membantah, adanya status itu.

“Solo zona hitam itu jarene sopo (kata siapa)? Yang ngomong zona hitam siapa?,” tanya Ganjar saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2020).

Ganjar tidak mengerti kenapa Solo mendapat predikat sebagai zona hitam penyebaran Covid-19. Dirinya juga heran, kenapa tiba-tiba status itu diberikan ke Solo.

Baca juga : Ganjar Minta Bupati dan Wali Kota Bentuk Gugus Tugas Khusus di Kawasan Industri

“Saya juga heran, mungkin itu penilaian pengamat yang bilang begitu, atau ada yang lagi benci. Soalnya yang terjadi dan kita kontrol saat ini di Solo ya di RSUD Moewardi dan UNS itu saja,” tegasnya.

Dari dua klaster baru penyebaran Covid-19 di Solo tersebut, keduanya sudah dilakukan tindakan-tindakan. Tracing, tes massal hingga isolasi sudah diterapkan untuk memutus mata rantai penyebaran.

“Maka kok banyak yang bilang zona hitam. Saya juga heran, mungkin yang hitam itu bajumu,” canda Ganjar sambil menunjuk baju salah satu awak media.

Sekadar diketahui, banyak beredar informasi, bahwa Kota Solo telah berstatus zona hitam penyebaran Covid-19. Maknanya, penularan dan persebaran virus Covid-19 di daerah itu terjadi cukup besar.

Baca juga : Kasus Positif Covid-19 Semarang Raya Melonjak, Ganjar Usul Tambah Ruang ICU

Sejumlah media massa juga sudah menuliskan informasi itu. Padahal jika dilansir dari website resmi corona.jatengprov.go.id, per hari ini, Selasa (14/7/2020) pukul 14.27 WIB, di Kota Solo hanya ada 15 pasien positif Covid-19, ODP 6 dan PDP 20. Jumlah itu masih sangat kecil jika dibanding dengan Kota Semarang dengan kasus positif sebanyak 848 atau Jepara sebanyak 517.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tren Bersepeda Kerek Inflasi di Kudus

0
Sepeda pengaruhi inflasi di Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang menjelaskan sesuatu kepada perempuan di sebuah ruangan di Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus. Setelah itu, pria tersebut sudi berbagi informasi kepada betanews.id tentang inflasi di Kudus. Pria itu adalah M. Saiful (49), Kasi Statistik Distribusi pada BPS Kudus.

Pada bulan Juni 2020 inflasi di Kudus sebesar 0,09 persen. Ada penurunan jika dibandingkan bulan Mei 2020, yang angka inflasinya sebesar 0,10 persen. Inflasi pada bulan Juni dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya kenaikan harga daging ayam dan telur ayam. Selain itu juga kenaikan harga sepeda anak. Hal itu dilihat dari ketersediaan barang yang ada di Kudus.

“Sekarang sedang marak-maraknya bersepeda, jadi harga sepeda juga ikut naik. Inflasi 4,21 persen, andil 0,02 persen. Selain itu juga pengaruh harga daging ayam inflasi 8,64 andil 0,09 persen, telur inflasi 8,43 andil 0,07,” katanya, Jumat (10/7/2020).

Baca juga : Hasil Sensus Penduduk Online di Kudus Lebihi Target Nasional dan Jateng

Dia juga melanjutkan, faktor-faktor yang memengaruhi inflasi di Kudus dalam persentase. Celana panjang jeans pria, inflasi 19,71 andil 0,04. Rokok kretek filter inflasi 0,58 andil 0,02.

Sedangkan faktor yang menahan inflasi di Kudus, atau bahan pokok yang mengalami deflasi yaitu cabai merah, deflasi hingga 28,51 persen dan andil 0,10 persen. Bawang putih deflasi 11,14 andil 0,03, minyak goreng deflasi 2,67 andil 0,03.

“Gula pasir juga mengalami deflasi 3,75 persen, andil 0,03 persen. Yang saya sebutkan itu faktor-faktor yang dominan memengaruhi. Masih ada faktor-faktor lain,” tambahnya.

Kudus terendah dibanding kabupaten/kota di Jawa Tengah yang mengalami inflasi. Seperti Tegal 0,42 persen, Surakarta 0,29 persen, Cilacap 0,28 persen, Kota Semarang 0,16 persen, Purwokerto 0,4 persen, dan Kudus 0,09 persen.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Permintaan Meningkat, Ulil Bisa Jual Ratusan Lusin Masker Scuba Tiap Hari

0
Ulil sedang membungkus masker scuba yang diproduksinya, Kamis (9/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Ditepi jalan gang 11 Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tampak sebuah rumah dengan banner bertuliskan Pola Galaxi. Di dalam rumah tampak ribuan masker dalam plastik. Di antara masker tersebut, terlihat seorang pria mengenakan kemeja sedang memasukan satu persatu masker karakter kartun ke dalam plastik. Pria tersebut yakni Ulil Absor (28) produsen masker scuba.

Sambil melanjutkan aktivitasnya, Ulil begitu ia akrab disapa sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia menuturkan, sebelum menekuni usaha produksi masker ia terlebih dulu punya usaha pembuatan tas. Namun, diakuinya sejak ada Corona permintaan tasnya menurun. Di waktu bersamaan, keberadaan masker langka saat awal Corona mewabah.

Ulil sedang membungkus masker scuba yang diproduksinya, Kamis (9/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Pada awal ada Corona, masker di Indonesia itu langka. Dari situ saya menangkap peluang. Di sela tetap produksi tas saya juga memproduksi masker. Pada waktu itu saya produksi masker sponge bond,” ujar Ulil kepada Betanews.id, Kamis (9/7/2020).

Pria yang dikaruniai satu anak itu menuturkan, awal produksi sekitar 500 lusin dan dipasarkan secara daring. Saat diposting itu, masker sponge bond buatannya langsung habis diborong dua bakul. Kemudian mereka langsung pesan lagi.

Baca juga: Produksi Masker, Abyadl Konveksi Tidak Ada Niatan Cari Untung dari Pandemi Corona

Karena banyak permintaan, ia pun berinisiatif untuk menambah jumlah produksi maskernya. Bahkan setiap hari ia mampu menjual sekitar 20 ribu lusin. Sedangkan pelanggan meliputi kota-kota di Jawa, Bali, Sumatera, hingga Kalimantan.

“Namun larisnya masker sponge bond itu tidak begitu lama, sekitar sebulan. Sebab setelah itu muncul masker scuba dan booming. Lagi-lagi saya pun tidak mau ketinggalan momen dan langsung produksi masker scuba,” bebernya.

Setelah jadi, ia pun memberi tahu para pelangganya. Menurutnya, para bakulnya itu sangat antusias untuk menjual masker scuba hasil produksinya. Bahkan produksi 300 lusin dalam sekejap langsung habis.

“Bahkan sampai kewalahan. karena memang kapasitas produksi mesinnya hanya mampu produksi 300 lusin sehari,” ungkapnya.

Dia menuturkan, menyediakan berbagai macam masker scuba. Untuk dewasa dan anak-anak dalam berbagai warna dan karakter. Ia juga menyediakan masker scuba untuk siswa sekolah, serta masker scuba untuk hijab.

Baca juga: Hijab Masker Produksi Rumah Jilbab Laku Keras di Pasaran

“Untuk harga bervariasi, mulai Rp 30 ribu untuk masker scuba polos. Masker siswa sekolah Rp 35 ribu selusin. Sedangkan masker karakter untuk dewasa dibanderol Rp 50 ribu selusin,” rincinya.

Dia menuturkan, saat ini permintaan masker scuba sudah mulai turun. Yang dulunya ia kewalahan dan bisa menjual 300 lusin, kini ia hanya mampu menjual 200 lusin masker scuba. Meski begitu ia tetap bersyukur. Sebab saat produksi tasnya menurun, ia mendapat tambahan rejeki dari produksi masker scuba.

“Semoga saja secepatnya sekolah mulai masuk. Sehingga permintaan tas akan ramai kembali,” tutup Ulil.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Bea Cukai Kudus Gagalkan Pengiriman Rokok Ilegal Ke Sumatera Senilai Rp 3,8 Miliar

0
Truk pengangkut rokok ilegal yang diamankan Bea CUkai Kudus di rest area tol 360 Semarang-Batang. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Kudus menggagalkan pengiriman rokok ilegal yang akan dikirim ke Sumatera. Tak tanggung-tanggung, nilai barang bukti yang disita yakni senilai Rp 3,8 miliar.

Kepala KPPBC Kudus Gatot Sugeng Wibowo menuturkan, penindakan bermula dari adanya informasi dari masyarakat soal adanya dua truk yang diduga membawa rokok ilegal melaju di jalan alternatif Kudus-Semarang.

Setelah dilakukan penyisiran dan pengejaran, dua truk tersebut akhirnya berhasil dihentikan di rest area tol 360 Semarang-Batang. Seketika tim bea cukai melakukan pencegahan dan pemeriksaan awal dengan disaksikan petugas tol setempat.

“Jadi pengejaran berakhir ketika dua truk berada di rest area. Kemudian tim melakukan pemeriksaan,” tuturnya dalam konferensi pers, Senin (13/7/2020).

Baca juga: Bea Cukai Kudus Musnahkan Rokok Ilegal dan Barang Sitaan Senilai Rp 7,3 Miliar

Dua truk yang mengangkut rokok ilegal tersebut yakni truk Mitsubishi dengan nomor polisi K9632RK dan truk box Mitsubishi Colt K1368MK.

Selain mengamankan empat orang supir dan kenek berinisial NS (52), B (60), W (47) dan AS (34), petugas bea cukai juga mengamankan rokok ilegal jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) sejumlah 3,7 juta batang.

“Total barang yang diamankan diperkirakan senilai Rp 3,8 miliar. Dan potensi kerugian negara sebesar Rp 2,2 miliar,” jelasnya.

Gatot menuturkan, rokok ilegal yang diamankannya sebenarnya diproduksi di Jawa Timur. Namun dalam proses pengepakannya dilakukan di Kabupaten Jepara.

“Rokok ini mereknya Coffee Stik, Jaya Bold. Rokok ini memang laku di daerah Sumatera,” terangnya.

Baca juga: Bea Cukai Siapkan Hadiah Uang Bagi Pemberi Informasi Rokok Ilegal

Sementara itu, dalam penindakan rokok ilegal yang dilakukan periode 1 Januari hingga 11 Juli 2020, KPPBC sudah melakukan penindakan sejumlah 48 surat bukti penindakan (SBP).

Dari 48 SBT tersebut, rokok ilegal yang diamankan yakni 10,5 juta batang SKM dan 146 ribu batang Sigaret Kretek Tangan (SKT).

“Perkiraan nilai barangnya yakni Rp 11 miliar dan potensi kerugian negara mencapai Rp 6,4 miliar,” tukas Gatot.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kerjaan Terkenal Rapi, Furnitur dari Multiplek Buatan Asro Banyak Dilirik

0
Asro sedang menyelesaikan pesanan furnitur dari multiplek di tempat kerjanya, Senin (6/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan kaus oblong hitam kombinasi merah terlihat sibuk di tepi Jalan Sudimoro, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Dia tampak menyatukan bagan multiplek satu dengan yang lainnya. Pria tersebut yakni Asro (53) pembuat aneka furnitur dari multiplek.

Di sela aktivitasnya tersebut, Asro tidak keberatan berbagi kisah tentang usahanya kepada betanews.id. Dia mengatakan, membuat perabot rumah tangga dari multiplek sudah puluhan tahun. Sebelum di Kudus, ia sudah lama menjalani pekerjaan itu di Jakarta.

Asro sedang menyelesaikan pesanan furnitur dari multiplek di tempat kerjanya, Senin (6/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Pada tahun 1986, selepas lulus SD (sekolah dasar) saya merantau ke Jakarta. Di Ibu Kota saya kerja di mebel yang memproduksi aneka furnitur dari multiplek,” ujar Asro, Senin (6/7/2020).

Warga Desa Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu menuturkan, di tempat kerjanya itu ia belajar membuat aneka produk mebel dari multiplek dengan sistem gaji harian. Setelah bisa, ia pun menerima order borongan sendiri. Hal itu dilakukannya cukup lama di Jakarta, hingga ada krisis moneter 1998.

Baca juga: Bosan Merantau, Piti Rintis Bisnis Furnitur di Kudus Demi Dekat Keluarga

“Waktu ada krisis moneter itu banyak kerusuhan dan huru-hara. Pada tahun 1999, saya memutuskan pulang kampung ke Kudus,” tuturnya sambil membuka kaca matanya.

Di Kudus, lanjutnya, ia kemudian kerja di mebel Jepara. Namun karena di sana menggunakan bahan kayu, ia mengaku kesulitan. Hingga ia memutuskan keluar dan kemudian bertani.

“Sewaktu bertani itu ada teman saya menawari pekerjaan membuat perabot rumah tangga dari multiplek. Saya pun menyetujuinya,” ungkap pria yang sudah dikaruniai tiga anak tersebut.

Kata dia, ternyata pemilik rumah itu puas dengan hasil kerja Asro. Dari pekerjaan itu, ia mulai menerima banyak orderan pembuatan furnitur dari multiplek hingga sekarang.

“Bahkan saat booming usaha warnet di Kudus, hampir semuanya menggunakan jasa saya untuk membuat sekat ruang dan bakcdrop komputernya,” ungkap Arso.

Dia menjelaskan, menerima pembuatan aneka furnitur dari bahan multiplek dengan tebal 18 milimeter, serta triplek yang tebal sembilan milimeter. Bisa dilapisi high pressure laminate (HPL) dan dekosite.

Baca juga: Kualitas dan Harga Murah, Kunci Noto Mebel Bisa Bertahan Lebih 20 Tahun

Dia pun merinci aneka furnitur yang bisa diorder darinya. Antar lain, lemari, meja, ranjang, kitchen set, backdrop TV, sekat ruangan, meja kasir, meja counter ponsel, dan lain sebagainya. Untuk harga ia mematoknya per meter yakni mulai Rp 1,2 juta sampai Rp 1,6 juta.

“Harga tersebut tergantung bahan dan aksesoris yang diminta sang pemesan,” bebernya sembari menuangkan lem ke atas dekosit.

Dia mengatakan, puluhan tahun menekuni pekerjaannya belum pernah sekalipun dapat komplain dari pelanggan. Yang ada mereka puas dan selalu memberi referensi ke teman atau saudaranya.

“Saya selama ini memang menjaga kualitas, ya. Furnitur multiplek hasil karya saya itu terkenal lebih rapi. Pokoknya sesuai pesanan,” pungkas Arso.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

J-Kin, Tongkrongan Ngopi yang Asyik Buat Anak Muda di Kudus

0
J-Kin Coffee, tempat yang asyik buat ngopi kawula muda. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara musik pop lamat-lamat terdengar di dalam kafe yang baru saja buka beberapa bulan lalu. Ialah J-Kin Coffee yang terletak di Pertigaan Jl. Bhakti, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Berada di titik yang strategis, lalu lalang kendaraan di jalan menjadi pemandangan tersendiri bagi para penikmat kopi yang berada di area outdoor.

Fauzan Nur (36), Owner J-Kin Coffee menceritakan awal mula idenya untuk merambah di dunia food and beverage. Ketika itu, dirinya melihat trending topik di perbankan soal bisnis yang kini lagi bagus, yakni food and beverage. Kemudian, dirinya merasa tertantang untuk menggeluti bisnis di bidang tersebut.

Fauzan Nur, Owner J-Kin Coffee

Baca juga : Omah Londo, Kafe dan Resto Bergaya Vintage yang Ramah Kantong

“Sebenarnya, lokasi yang saya bangun untuk kafe ini rencananya akan saya gunakan untuk bangun ruko buat bisnis seluler. Ya pengembangan lah, karena kan semula saya menekuni bisnis seluler. Namun, setelah melihat trend, saya tertantang untuk keluar dari zona nyaman dengan mendirikan coffee shop,” ujarnya, Sabtu (4/7/2020).

J-Kin, yang awalnya memiliki kepanjangan jajanan kekinian ini, semula juga konsepnya bukan sebuah coffee shop, tetapi lebih ke food court. Namun, setelah meminta masukan dari beberapa temannya yang lebih dulu terjun di bisnis coffee shop, Fauzan akhirnya mantap J-Kin menggunakan konsep coffee shop.

“Setelah berubah konsep, kepanjangannya juga berubah. Sekarang J-Kin itu artinya Jejak Kopi Indonesia,” ungkap dia.

Sebagai pendatang di dunia food and beverage, J-Kin lebih fokus untuk pasar anak muda, sehingga desain interior juga dibikin menyesuaikan selera anak muda dengan tampilan ala industrial. Pemanfaatan lahan yang cukup strategis di pinggir jalan, diakui Fauzan menjadi salah satu unggulan yang ditawarkan oleh J-Kin. Selain itu, kualitas menu menjadi hal penting baginya untuk disajikan kepada pelanggan.

“Kalau unggulan bukan hanya tempat. Karena di sini kami sediakan berbagai tempat. Seperti no smoking area yang lebih privat, smoking area dan di luar untuk yang anak muda banget karena bisa langsung melihat suasana jalan. Sekaligus kualitas makanan. Karena kadang, orang menjual tempat saja tapi melupakan kualitas menu. Ada juga yang mengandalkan kualitas menu tapi tempatnya biasa saja. Kami menonjolkan dua-duanya,” papar dia.

Baca juga : Kafe Susu Moeria, Tempat Nongkrong Sehat Ala Anak Muda Kudus

Berbicara saat launching, Fauzan mengaku mengambil momen saat pandemi. Hal ini dianggap Fauzan sebagai salah satu strategi bisnisnya untuk melawan arus. Sehingga meskipun baru, J-Kin bisa cepat dikenal dan menarik para pelanggan untuk datang ke sana menjadi pembeli.

“Openingnya bulan April. Justru di tengah pandemi, karena banyak coffee shop yang tutup. Saya punya peluang untuk mengenalkan J-Kin di waktu itu. Tentu dengan protokol kesehatan. Karena menurut saya, ibarat layang-layang, ia bisa terbang tinggi saat melawan arah angin,” kata dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jogo Tonggo Desa Rendeng Akan Luncurkan Program Budidaya Lele Dalam Ember

0
Program budidaya lele dalam ember yang digagas pengurus Jogo Tonggo Desa Rendeng. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah ember berwarna merah dengan tutup berlubang tampak di sebuah halaman TPQ Al Husaini, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus. Seorang pria berkacamata membuka ember berisi ikan lele itu. Sambil menyerok ikan lele di dalam ember, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang rencana program lele dalam ember.

Pria bernama Bondan Dwi Cahyono (30) itu menyampaikan, program yang digagas oleh relawan Jogo Tonggo RW 01 Desa Rendeng itu saat ini masih simulasi di beberapa rumah warga. Nantinya hasil simulasi itu akan dijadikan bahan evaluasi sebelum menerapkan program tersebut. Hal itu, agar terlaksana dengan baik dan menekan risiko kematian ikan.

“Jadi nanti ini kita evaluasi dulu, kapasitas embernya akan disesuaikan dengan jumlah bibit lele. Rencana kita akan menggandeng ibu-ibu. Selain karena antusias yang baik, ibu-ibu juga lebih banyak di rumah,” terang Koordinator Hiburan dan Humas Jogo Tonggo RW 01 itu.

Dia juga melanjutkan, saat ini pihaknya masih fokus mengembangkan program-program ketahanan pangan, yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh warga. Tidak hanya warga yang kurang mampu saja, tapi semua akan dibagikan bibit lele.

Baca juga : Program Cantolan dari Warga untuk Warga, Upaya Ketahanan Pangan di Desa Rendeng

“Bibit lele ini nanti dari iuran warga secara suka rela. Kemudian akan dibagikan kepada seluruh warga. Karena dapur umum juga berjalan setiap hari Sabtu, jadi sementara kita sediakan lele di sini sekaligus untuk uji coba,” katanya, Kamis (9/7/2020).

Selain itu, upaya ketahanan pangan yang sudah terlaksana adalah menggandeng pemilik angkringan. Saat pandemi Covid-19, warga yang punya angkringan di luar desa diajak buka di desa. Agar, pemuda di sana tidak perlu keluar jauh jika ingin ke angkringan.

“Saat pandemi, angkringan kan sepi, jadi kami ajak buka di desa saja. Pemuda juga tidak perlu keluar desa. Jadi kami lebih mudah mengontrolnya,” jelasnya.

Bagi ibu-ibu yang bisa masak jajanan juga bisa dititipkan di angkringan tersebut. Sehingga bisa untuk membantu perekonomian warga.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hari Pertama Sekolah, Siswa Baru SMPN 3 Kudus Lalui Sejumlah Protokol Kesehatan

0
Siswa baru SMPN 3 Kudus terlebih dahulu dites suhu badan sebelum masuk ke dalam sekolah. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan siswa kelas VII SMPN 3 Kudus terlihat masuk bergantian menuju dalam sekolah. Saat siswa melewati gerbang depan, tampak petugas mengecek satu per satu suhu tubuh siswa menggunakan thermo gun. Setelah itu, siswa diminta untuk berjemur matahari di lapangan sekolah sambil memanggilnya satu per satu untuk menuju kelas.


Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 3 Kudus Kasruni menuturkan, pihaknya menjemur siswa di lapangan karena sambil menunggu antrean untuk dipanggil ke dalam kelas. Menurutnya, sebelumnya siswa dipandu untuk senam ringan, supaya tubuh para siswa baru tersebut dipastikan sehat.

Siswa baru mengikuti senam ringan dan sambil berjemur di lapangan. Foto: Imam Arwindra

“Jadi tadi kita senam ringan dulu. Setelah itu dipanggil satu per satu menuju kelas. Sekalian pembagian kelas dan pengenalan lingkungan sekolah,” tuturnya saat ditemui di sekolah, Senin (13/7/2020).

Baca juga : Besok Mulai Tahun Ajaran Baru, Sekolah di Kudus Belum Diizinkan Gelar KBM Tatap Muka

Selanjutnya, setelah siswa sudah di dalam kelas, pihaknya memimpin doa agar proses pembelajaran kedepan berjalan lancar.

“Kita tidak tahu nanti KBM akan seperti apa, bisa tatap muka, juga bisa online. Kami masih menunggu intruksi. Namun dengan doa anak-anak semoga pandemi cepat selesai, dan proses pembelajaran dapat kembali normal kembali,” tuturnya.

Kasruni menuturkan, di hari pertama masuk sekolah, pihaknya masih meminta siswanya untuk datang ke sekolah. Siswa diberikan arahan mengenai proses pembelajaran dan pengenalan lingkungan sekolah.

“Jadi belum ada KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), hanya pengenalan lingkungan sekolah saja,” tuturnya.

Dari jumlah siswa baru sebanyak 257 orang, menurut Kasruni, kedatangan siswa dibagi menjadi beberapa tahap. Yakni kelas VII pada hari Senin dan Selasa (13-14/7/2020).
“Jadi 257 siswa tersebut tidak langsung semuanya. Ada dua hari, Senin sama Selasa. Itu pun dalam sehari nanti masih dibagi lagi. Karena untuk memperhatikan protokol kesehatan,” tuturnya.

Dari jumlah 257 siswa, lanjut Kasruni, pembagian kelas dibagi menjadi delapan kelas. Satu kelas di antaranya yakni kelas favorit yang berjumlah 33 siswa.

“Jadi satu kelas tersebut yakni kelas altlet. Pendaftarannya pun secara offline,” jelasnya.

Menurutnya, dari sisa kelas berjumlah tujuh buah, rata-rata dihuni 32 siswa. Selain itu, pihaknya juga meminta siswa kelas VIII dan IX juga untuk datang ke sekolah.

“Jadi Senin dan Selasa untuk kelas VII. Hari Rabu dan Kamis untuk kelas VIII dan Jumat-Sabtu untuk kelas IX. Sama seperti kelas VII, koordinasi proses pembelajaran,” tuturnya.

Sementara itu, siswa baru SMPN 3 Kudus Cameliya Soraya (11) menuturkan, dirinya berharap proses KBM berjalan normal. Pihaknya mengaku kesulitan jika proses belajar dilakukan secara daring.

Baca juga : SMP PGRI Jekulo Gratiskan Biaya Pendidikan Peserta Didik

“Saya suka datang ke sekolah. Karena tidak punya handphone. Saya berdoa supaya virusnya (Corona) hilang” tutur siswa yang tinggal di Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus.

Saat hari pertama sekolah, dirinya mengaku datang sendiri menggunakan sepeda. Dirinya tidak datang bersama orang tuanya karena sedang berdagang di pasar.

“Tadi saya dikasih tahu kelasnya di mana. Selanjutnya, kalau ke sekolah harus pakai masker dan cuci tangan dulu,” tutur alumnus SDN 3 Wergu Wetan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemprov Jateng Bagikan Paket Jogo Tonggo Kit ke Seluruh Desa dan Kelurahan

0
Paket Jogo Tonggo Kit yang dibagikan ke seluruh desa dan kelurahan di Jawa Tengah. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendistribusikan ribuan paket Jogo Tonggo Kit ke seluruh desa dan kelurahan. Ini sebagai upaya melakukan penanganan Covid-19 secara serius hingga ke desa-desa.

Paket tersebut berupa APD sipil sebanyak 10 set, sepatu boot 10 pasang, sarung tangan 10 pasang, satu unit sprayer otomatis, masker kain 1000 helai, hand sanitizer 50 liter, disinfektan 30 liter, thermogun, modul (buku petunjuk), dan sebuah tas.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan, total ada 8.562 paket Jogo Tonggo Kit yang didistribusikan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk diteruskan ke desa dan kelurahan.

“Untuk setiap paket Jogo Tonggo nilainya sekitar Rp 8 juta, dari Biaya Tak Terduga (BTT) provinsi. Dan itu sudah sejumlah desa dan kelurahan di 35 kabupaten dan kota di Jateng. Tujuannya sebagai stimulan bagi desa dan kelurahan untuk mengurangi penularan Covid-19 di tingkat perdesaan,” ujarnya.

Baca juga: Seluruh Desa di Kudus Terima Bantuan Jogo Tonggo Kit

Karena bersifsat stimulan, Pemprov Jateng berharap ada partisipasi pemerintah desa ataupun kelurahan, dalam pengadaannya. Jika ada dunia usaha atau donatur yang ingin membantu pengadaan Jogo Tonggo Kit juga dipersilakan.

Menurutnya, Jogo Tonggo Kit hanya salah satu aspek pendukung Satgas Jogo Tonggo. Selain itu masih ada aspek lain seperti aspek sosial budaya, hiburan, dan lainnya yang perlu dikoordinasikan oleh pemerintah desa atau kelurahan.

“Nah adapula tugas yang diberikan kepada Satgas Jogo Tonggo, yakni memberikan penyuluhan edukasi kepada warga. Isinya  tentang cara hidup sehat dan upaya pemutusan penularan Covid-19, dengan makan-makanan bergizi. Mereka juga bertugas mengelompokkan warga berisiko tinggi tertular, misal mereka yang tua, punya penyakit bawaan,” terang Yulianto.

Baca juga: Ganjar Minta Perhatikan Lansia dan Balita dalam Program Jogo Tonggo

Sementara itu, Kepala Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, Kahono Wibowo menyampaikan, paket Jogo Tonggo Kit sangat bermanfaat untuk penanganan Covid-19 di desanya.

“Kami terima kasih kepada Pak Ganjar atas bantuannya. Ini akan kita maksimalkan untuk penanganan di desa kami,” tukasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kudus Zona Merah, Malam Ini Alun-alun Simpang Tujuh Kembali Ditutup

0
Jalur Alun-alun Simpang Tujuh Kudus sempat ditutup beberapa waktu lalu mulai pukul 21.00 WIB hingga jam 6 pagi. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus mulai memasang water barrier lagi mulai malam ini, Senin (13/7/2020). Dipasangnya water barrier untuk menghalangi pengendara yang lewat dilakukan, mengingat Kabupaten Kudus sudah menjadi zona merah penyebaran Covid-19.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, water barrier akan dipasang dari pukul 21.00 hingga 06.00 WIB. Lokasi yang akan dipasangi yakni masih sama seperti yang dilakukan sejak tanggal 18 April 2020. Yakni ruas jalan yang menuju Alun-alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong.

HM Hartopo, Plt Bupati Kudus. Foto: Imam Arwindra

Baca juga : Hartopo Berang dan Ancam Cabut Izin Kafe yang Abaikan Protokol Kesehatan

Namun saat ini, belum ada petugas yang menjaga water barrier hingga pukul 06.00 WIB. Menurutnya, water barrier akan dipasang oleh petugas dan setelah itu ditinggal.

Selain itu, rencananya pihaknya juga akan membangun lagi titik pos pantau yang pernah dilakukan sebelumnya. Pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan tim gugus tugas mengenai rencana tersebut.

“Rencana akan kita buat lagi (pos pantau). Jumlah dan lokasinya sama seperti yang kemarin,” tuturnya.

Selain itu, Satpol PP juga akan melakukan pengawasan ketat di pasar, pertokoan dan swalayan mengenai protokol kesehatan. Menurutnya, saat ini penyebaran Covid-19 di Kudus sudah sulit diidentifikasi lagi.

“Penyebarannya sudah merata. Sulit diketahui dari mana-dari mana,” tuturnya.

Baca juga : Satu Pegawai UMK Sembuh dari Covid-19, Tapi Masih Dikarantina

Menurut Hartopo, saat ini peningkatan kasus Covid-19 di Kudus dalam sehari mencapai sembilan sampai 10 orang. Namun untuk pasien yang sembuh hanya sekitar lima orang saja. “Kudus ini luar biasa,” jelasnya.

Dijelaskan Hartopo, dalam klasifikasi warna pada zona penyebaran Covid-19, menurutnya terdiri dari warna hijau, kuning, orange dan merah. Dalam penentuan tersebut terdapat 15 kriteria yang digunakan. “Termasuk peningkatan kasus Covid-19 dan kematian (Covid-19) ,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hartopo Berang dan Ancam Cabut Izin Kafe yang Abaikan Protokol Kesehatan

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo mengingatkan pengelola kafe untuk patuhi protokol kesehatan. Foto Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan pengecekan kegiatan masyarakat saat malam hari, pada Sabtu (11/7/2020) malam. Dengan menggunakan kendaraan roda dua, puluhan motor beriringan sambil membunyikan suara sirine.

Tak jarang, sejumlah orang yang berada di jalan maupun di resto dan kafe teralihkan pandangannya melihat iring-iringan tersebut. Namun ada pula pengunjung di kafe yang tiba-tiba keluar karena tidak mengenakan masker.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo ingatkan pengunjung kafe untuk tetap patuhi protokol kesehatan. Foto: Imam Arwindra

Satu di antaranya yakni kafe yang berada di Jalan KH Agus Salim. Hartopo terlihat marah-marah di lokasi yang berdekatan dengan stasiun lama tersebut. Beberapa kali sempat menegur pengunjung yang tidak mengenakan masker. Dia juga mencari pengelola di kafe tersebut.

Baca juga : Hartopo Akan Tutup Pasar dan Swalayan yang Tidak Taat Protokol Kesehatan

“Saya sudah kesini tiga kali. Tapi mengapa pengunjung yang tidak mengenakan masker masih diperbolehkan datang. Pokoknya kalau sekali lagi saya lihat seperti ini, izinnya saya cabut. Aturan wajib dilakukan, kalau tidak, kita tutup betul,” ungkapnya dengan nada keras kepala pengelola kafe.

Selain banyak pengunjung yang tidak mengenakan masker, tempat mencuci tangan di kafe tersebut juga tidak ada. Selanjutnya, physical distancing juga diabaikan.”Intinya sekali lagi saya menjumpainya. Izinnya saya cabut,” terangnya.

Menurut Hartopo, pihaknya harus tegas dalam mengimplementasikan protokol kesehatan Covid-19. Karena saat ini Kudus sudah berada di zona merah.

“Ini juga berlaku bagi bagi kafe-kafe dan pertokoan yang lain,” tuturnya.

Hartopo menuturkan, saat melakukan pengecekan langsung di sejumlah kafe, resto, pertokoan, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus dan kawasan Gor Wergu Kudus, diakui masih banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya, pihaknya akan terus melakukan pengecekan langsung di lapangan untuk pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19.

“Jadi malam ini yang terjun bukan kami saja (Forkopimda). Namun semua camat dan kepala desa terjun semua,” jelasnya.

Pihaknya juga akan memerintahkan Satpol PP untuk selalu mengecek aktivitas malam masyarakat di Kudus. Terutama di wilayah perkotaan.

Baca juga : Langgar Protokol Covid-19, Pasar Kliwon Ditutup Dua Hari

“Nanti Satpol PP akan mengecek langsung setiap malam aktivitas masyarakat. Jika masuk kafe, Balai Jagong atau alun-alun tidak pakai masker. Suruh pulang saja,” jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Hartopo, pemberlakuan pembatasan jam malam yang diatur dalam Nomor 130/01/2020 masih berlaku. Menurutnya, pembatasan kegiatan masyarakat maksimal pukul 21.00 WIB.

“Kita tidak akan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Namun saya minta tolong ikuti protokol kesehatan,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wisata Bukit Puser Angin Diharapkan Bisa Dikelola Petani

0
Bukit Puser Angin di Desa Klaling, Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di antara para pengunjung Bukit Puser Angin di yang berada di area lahan Perhutani di Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, terlihat seorang pria mengenakan kaus lusuh dan bertopi. Dengan dibantu anaknya, ia tampak sedang mengumpulkan batang tanaman singkong yang sudah dipanen. Pria tersebut yakni Sumadi, yang mengaku pasrah lahan yang dikelolanya dijadikan jujugan para pengunjung menikmati keindahan alam Bukit Puser Angin.

Seusai menyelesaikan pekerjaannya, Sumadi sudi berbagi penjelasan. Dia mengatakan, lahan yang dijadikan para pengunjung menikmati keindahan alam Bukit Puser Angin merupakan lahan Perhutani, yang digarapnya melalui program perhutanan sosial. Dia mengaku, tidak mempersoal hal itu, toh tanaman singkongnya sudah ia panen.

Petani yang menggarap lahan Perhutani di kawasan Bukit Puser Angin. Foto: Rabu Sipan

“Saya pribadi tak mempermasalahkan ya. Singkongnya juga sudah saya panen. Lagian ini mulai musim kemarau, jadi belum bisa langsung ditanami lagi,” ujar Sumadi.

Namun, lanjut pria warga Dukuh Sintru, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus itu berharap, jika Bukit Puser Angin dijadikan wanawisata, para petani sekitar bukitlah yang dijadikan pengelolanya. Sebab selama ini, merekalah yang mengelola pertanian Bukit Puser Angin. Termasuk bikin akses jalan.

Baca juga : Pesona Keindahan Alam Bak Raja Ampat, Bukit Puser Angin Diserbu Wisatawan

“Saat ini wisata alam Bukit Puser Angin belum ada yang mengurus. Masuk dan parkir masih gratis semua. Kami berharap, para petani yang mengelola jika kelak Bukit Puser Angin dijadikan wisata alam,” harap pria yang sudah jadi petani selama 20 tahun tersebut.

Hal senada diutarakan petani lainnya, yakni Muhammad Badri. Dia mengatakan, para petani yang ada di Bukit Puser Angin tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Patiayam Rejo, beranggotakan 30 petani. Menurutnya, selama ini merekalah yang bikin akses jalan di Bukit Puser Angin dengan bergotong royong dan tidak ada bantuan dana dari pihak lain.

“Jadi kami kira wajar, jika kami berharap jadi pengelola wanawisata Bukit Puser Angin Kudus,” ungkap pria yang akrab disapa Badri tersebut.

Bukit Puser Angin Kudus beberapa pekan terakhir lagi viral di media sosial. Pemandangannya yang indah, bahkan diklaim beberapa orang sebagai Raja Ampatnya Kudus itu kini ramai oleh pengunjung.

Sedangkan untuk nama Puser Angin sendiri, dikarenakan di bukit tersebut sering terjadi pusaran angin mirip puting beliung, tapi tidak besar. Oleh sebab itu, bukit tersebut dinamakan Bukit Puser Angin. Bahkan kabar yang beredar, yang memberi nama Puser Angin adalah seorang pengunjung.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Program Cantolan dari Warga untuk Warga, Upaya Ketahanan Pangan di Desa Rendeng

0
Tampak seorang warga sedang mencantolkan sembako. Ini merupakan bagian dari program Jogo Tonggo yang ada di salah satu desa di Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Aneka bungkusan plastik berisikan sembako, mi instan, tempe, sayuran mentah, dan lainnya, tampak dicantolkan di tembok yang terdapat tulisan “Ambil Secukupnya, Tonggomu Keluargamu, Guyub Rukun Migunani”. Pemandangan seperti itu terlihat di sekitar Perempatan di Desa Rendeng RT 01 RW 01, Kecamatan Kota, Kudus. Sementara itu, tampak dua pria di pos kamling yang tak jauh dari tempat tersebut terlihat sedang mengecek CCTV di sana. Satu di antaranya adalah Bondan Dwi Cahyono (30), Koordinator Hiburan dan Humas Jogo Tonggo RW 01.

Dirinya berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang program Cantolan dari Warga untuk Warga. Program itu sudah berjalan sejak bulan Mei 2020. Menurutnya, banyak warga yang antusias berbagi di tempat yang mereka sediakan.

Bondan Dwi Cahyono, Humas Jogo Tonggo

Baca juga : Warung Gratis, Cara Desa Gambasan Temanggung Aplikasikan Jogo Tonggo

“Sebenarnya ini sudah dimulai bulan Mei lalu. Antusias warga juga baik, banyak yang berbagi. Yang ikut ambil juga banyak, jadi kami saling membantu untuk ketahanan pangan,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Bondan itu juga mengatakan, antusias warga di RW 01 sangat baik. Berawal dari siskamling, komunikasi warga di sana cukup baik. Sehingga cepat dalam merespon persoalan warga yang ada.

“Sejak sebelum ada pandemi Covid-19 sudah ada siskamling. Karena siskamling ini dijadikan tempat diskusi, jadi respon warga lebih cepat. Beruntungnya kami menganut sistem yang lama, masih ada jimpitan. Itu termasuk jadi akses bergerak kami lebih cepat karena ada kas warga juga,” terangnya, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, semboyan guyub rukun saat ini belum cukup. Selama pandemi Covid-19 semboyan itu ditambah migunani untuk warga sekitar. Agar warga bisa saling memberi manfaat.

Cantelan dari Warga untuk Warga itu juga diberi banner imbauan Ambil Secukupnya, Tanggamu Keluargamu. Agar warga yang hendak mengambil tidak banyak, tapi secukupnya.

Baca juga : Seluruh Desa di Kudus Terima Bantuan Jogo Tonggo Kit

Ketua RT 02 RW 01 Desa Rendeng, Benny Haryanto (43) menambahkan, jika warga boleh untuk mengambil dan berbagi, jadi bisa menukarkan bahan makanan juga.

“Jadi ya warga boleh ambil dan memberi. Seperdti menukarkan barang. Tidak masalah,” tambahnya sambil menunjukan CCTV melihat orang yang hendak mengambil barang

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pesona Kerajinan Bambu Surya Art yang Tak Pernah Sepi Peminat

0
Rif'an sedang mengerjakan topi di tempat produksi Kerajinan Bambu Surya Art, Sabtu (4/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan potongan bambu terlihat di beberapa sudut ruangan Bengkel Rumah Kreasi Bambu Surya Art, siang itu. Rumah mungil yang terletak di Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu merupakan bengkel usaha kerajinan tangan bambu yang dirintis oleh Rif’an (30).

Lelaki berkaus putih itu mengatakan, mulai mengembangkan usaha handcraft sejak 2015. Namun, waktu itu belum menggunakan bahan baku bambu. Barulah pada 2017, dirinya mencoba memanfaatkan bambu menjadi berbagai kerajinan untuk mengikuti Kudus Expo 2017. Waktu itu, seluruh kerajinan bambu yang dibawanya habis diborong pengunjung.

Rif’an menunjukkan tempat lampu di tempat produksi Kerajinan Bambu Surya Art, Sabtu (4/7/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Saya membawa kerajinan dari bambu, kok lalu keras. Sampai akhirnya saya lebih fokus pada bahan bambu karena memperhitungkan pasar,” ungkap Rif’an, Sabtu (4/7/2020).

Di kerajinan bambu, Rif’an menghitung, biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku dengan harga jual di pasaran ternyata lebih menguntungkan jika dibanding dengan handcraft lain yang pernah ia coba. Selain itu, kemudahan mendapatkan bahan baku juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembuatan kerajinan.

Baca juga: Toko Online Makin Populer, Aksesoris Foto Produk dari Lalunaz Gallery Banyak Peminat

“Kebetulan di sini masih banyak bambu. Bahkan beberapa orang menganggap bambu itu sebagai pengganggu. Jadi untuk mendapatkan bahan, lebih mudah serta murah. Sedangkan di pasar, kerajinan bambu sangat laku. Itu yang membuat saya memilih bambu menjadi fokus di Surya Art,” kata dia.

Beberapa kerajinan yang ia buat antara lain tempat lampu, topi, sangkar burung, sketsel, peralatan dapur, gazebo, interior dan eksterior ruangan, hingga tiang penyangga lampu taman. Bahan baku bambunya sendiri beraneka ragam. Seperti bambu wulung, cendani, jawa, bambu ori, dan sebagainya.

“Sampai saat ini sudah ada 50 bentuk atau macam kerajinan dari bambu yang saya buat. Paling laku buat tempat lampu. Tapi katering juga banyak. Karena sekarang sedang populer tempat makan yang unik-unik,” kata dia.

Baca juga: Wah Keren, Kaligrafi 3D dari Bambu Karya Assiry Nan Artistik dan Unik

Hingga saat ini, ribuan produk sudah dibuatnya. Pembelinya sendiri datang dari berbagai kota. Mulai dari Kudus, Jakarta, Bali, hingga luar negeri. Kerajinannya makin laris setelah konsep back to nature jadi tren untuk berbagai keperluan.

“Kerajinanku makin laris, apalagi didukung oleh kondisi yang saat ini sedang populer. Seperti back to nature dan meminimalisir pemakaian barang dari plastik,” tutup Rif’an.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -