BETANEWS.ID, KUDUS – Tumpukan potongan bambu terlihat di beberapa sudut ruangan Bengkel Rumah Kreasi Bambu Surya Art, siang itu. Rumah mungil yang terletak di Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu merupakan bengkel usaha kerajinan tangan bambu yang dirintis oleh Rif’an (30).
Lelaki berkaus putih itu mengatakan, mulai mengembangkan usaha handcraft sejak 2015. Namun, waktu itu belum menggunakan bahan baku bambu. Barulah pada 2017, dirinya mencoba memanfaatkan bambu menjadi berbagai kerajinan untuk mengikuti Kudus Expo 2017. Waktu itu, seluruh kerajinan bambu yang dibawanya habis diborong pengunjung.

“Saya membawa kerajinan dari bambu, kok lalu keras. Sampai akhirnya saya lebih fokus pada bahan bambu karena memperhitungkan pasar,” ungkap Rif’an, Sabtu (4/7/2020).
Di kerajinan bambu, Rif’an menghitung, biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku dengan harga jual di pasaran ternyata lebih menguntungkan jika dibanding dengan handcraft lain yang pernah ia coba. Selain itu, kemudahan mendapatkan bahan baku juga menjadi salah satu faktor penting dalam pembuatan kerajinan.
Baca juga: Toko Online Makin Populer, Aksesoris Foto Produk dari Lalunaz Gallery Banyak Peminat
“Kebetulan di sini masih banyak bambu. Bahkan beberapa orang menganggap bambu itu sebagai pengganggu. Jadi untuk mendapatkan bahan, lebih mudah serta murah. Sedangkan di pasar, kerajinan bambu sangat laku. Itu yang membuat saya memilih bambu menjadi fokus di Surya Art,” kata dia.
Beberapa kerajinan yang ia buat antara lain tempat lampu, topi, sangkar burung, sketsel, peralatan dapur, gazebo, interior dan eksterior ruangan, hingga tiang penyangga lampu taman. Bahan baku bambunya sendiri beraneka ragam. Seperti bambu wulung, cendani, jawa, bambu ori, dan sebagainya.
“Sampai saat ini sudah ada 50 bentuk atau macam kerajinan dari bambu yang saya buat. Paling laku buat tempat lampu. Tapi katering juga banyak. Karena sekarang sedang populer tempat makan yang unik-unik,” kata dia.
Baca juga: Wah Keren, Kaligrafi 3D dari Bambu Karya Assiry Nan Artistik dan Unik
Hingga saat ini, ribuan produk sudah dibuatnya. Pembelinya sendiri datang dari berbagai kota. Mulai dari Kudus, Jakarta, Bali, hingga luar negeri. Kerajinannya makin laris setelah konsep back to nature jadi tren untuk berbagai keperluan.
“Kerajinanku makin laris, apalagi didukung oleh kondisi yang saat ini sedang populer. Seperti back to nature dan meminimalisir pemakaian barang dari plastik,” tutup Rif’an.
Editor: Ahmad Muhlisin

