BETANEWS.ID,KUDUS-Pemerintah Kabupaten Kudus terus memperkuat upaya pengentasan stunting dengan menargetkan penurunan kasus secara signifikan pada tahun ini. Meski angka stunting menunjukkan tren penurunan drastis, Pemkab Kudus menegaskan bahwa pencegahan kasus baru menjadi fokus utama agar target menuju zero stunting dapat tercapai.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani, mengatakan bahwa berdasarkan data penimbangan balita bulanan, saat ini terdapat 1.954 kasus stunting atau sebesar 3,76 persen. Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibandingkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) sebelumnya.
“Ini sudah luar biasa, karena datanya by name by address, sehingga intervensi bisa tepat sasaran. Tapi tetap masih menjadi pekerjaan rumah agar tidak muncul kasus stunting baru,” katanya.
Baca juga: Angka Stunting di Kudus Capai 1.954 Anak, Didominasi di Wilayah Undaan dan Dawe
Ia menjelaskan, berdasarkan target nasional dari data SSGI, angka stunting Kabupaten Kudus pada tahun ini ditargetkan berada di kisaran 9 persen. Pada tahun 2024 lalu, target pemerintah sebesar 14 persen, sementara Kudus berhasil berada di angka 13,2 persen, atau sudah di bawah target nasional.
“Kalau kita bekerja menggunakan data penimbangan rutin setiap bulan, hasilnya jauh lebih rendah. Ini menunjukkan upaya intervensi kita berjalan,” katanya.
Namun demikian, Endhah menegaskan bahwa pengentasan stunting tidak cukup hanya menurunkan angka, tetapi juga memastikan tidak ada kasus baru. Berdasarkan pemetaan, kasus stunting di Kudus masih didominasi wilayah Dawe, Undaan.
Faktor utama penyebab stunting, lanjut Endhah, adalah pola asuh dan pola makan anak. Banyak ibu yang bekerja sehingga anak dititipkan kepada kakek-nenek.
“Yang penting anak kenyang, tapi gizinya belum tentu lengkap. Padahal anak perlu karbohidrat, protein, serat, dan buah untuk tumbuh kembangnya,” jelasnya.
Selain faktor pola makan, terdapat pula anak-anak dengan penyakit penyerta yang menyebabkan kesulitan makan, sehingga asupan gizi tidak terpenuhi secara optimal.
Endhah menegaskan, upaya pengentasan stunting dilakukan secara kolaboratif lintas sektor, melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas PMD, hingga pihak swasta melalui program CSR, seperti Djarum Foundation dan lain sebagainya.
“Kami juga mendorong keberadaan tempat penitipan anak (TPA), terutama bagi ibu bekerja. Anak yang masih menyusu tetap bisa mendapatkan ASI eksklusif, sementara asupan gizinya juga terpantau,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Kudus juga mengoptimalkan peran posyandu dan kedai balita yang telah tersebar di sembilan kecamatan. Meski demikian, Endhah mengakui masih terdapat kedai balita yang belum berjalan optimal akibat keterbatasan pengelolaan.
“Pengelola kedai balita sudah dibekali pelatihan, mulai dari komposisi gizi sesuai usia hingga tekstur makanan. Mereka juga sudah berinovasi dengan menu-menu sehat, serta mendapat modal dari PKK Kudus,” katanya.
Ia berharap, berbagai upaya tersebut dapat terus berjalan konsisten, disertai penimbangan rutin setiap bulan untuk mendeteksi dini potensi gangguan gizi.
“Dengan penimbangan rutin, masalah bisa segera dicegah sebelum berkembang menjadi stunting. Harapannya, angka stunting di Kudus terus turun dan tidak muncul kasus baru,” imbuhnya.
Editor: Kholistiono

