BETANEWS.ID,JEPARA– Paska bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Jepara, banyak warga dilaporkan terserang leptospirosis. Yaitu virus atau bakteri yang ditularkan melalui kencing tikus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko menjelaskan, penularan bakteri itu biasanya terjadi di genangan air atau banjir yang dilewati tikus dan terkena kencing tikus.
Penderita terinveksi bakteri saat melewati area banjir dengan luka terbuka dan tanpa pelindung. Biasanya, bakteri masuk melalui luka atau selaput lendir dan kemudian menginveksi tubuh manusia.
Baca juga : Terdampak Cuaca Buruk, Perbaikan Infrastruktur di Karimunjawa Tersendat
“Leptospirosis kali ini memang menjadi perhatian kami, karena kasusnya cukup tinggi setelah banjir,” kata Hadi pada Sabtu, (7/2/2026).
Berdasarkan data per hari Jumat, (6/2/2026), terdapat 13 pasien di rumah sakit yang ada di Jepara terserang virus tersebut.
“Bahkan ada tiga pasien yang meninggal dunia,” ungkapnya.
Menurut Hadi, penderita tersebar di berbagai kecamatan. Mulai dari Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, Jepara, Kembang, Donorojo, dan Tahunan. Mereka diketahui terinveksi bakteri leptospira setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
”Yang kami terima itu laporan dari RSUD RA Kartini, RSUD Rehatta, dan RS Graha Husada. Kami belum menerima adanya pasien dari rumah sakit lain,” sebutnya.
Baca juga :Jalankan Arahan Presiden, Pemkab Jepara Galakkan Gerakan Jepara Bersih-Bersih
Adapun gejala penyakit ini, yaitu demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot betis, mata merah, lemas, menggigil, serta dapat menyebabkan gagal ginjal atau organ jika tidak diobati dengan antibiotik yang tepat.
Dengan banyaknya kasus ini, Hadi mengimbau kepada masyarakat agar selalu berperilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga lingkungan tempat tinggal dan saluran air.
”Saat banjir, hindari kontak dengan tanpa alat pelindung, gunakan selalu sepatu boots dan sarung tangan. Jangan lupa tutup luka,” pesannya.
Editor: Kholistiono

