Beranda blog Halaman 1814

Kronologi OTT Pegawai Hingga Penetapan Tersangka Direktur PDAM Kudus

0
Ayatullah Humaini, Direktur PDAM Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Direktur PDAM Kudus Ayatullah Humaini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah terkait kasus dugaan suap pengangkatan dan penerimaan pegawai di lingkup PDAM Kudus.

Penetapan tersangka tersebut, merupakan pengembangan dari kasus operasi tangkap tangan (OTT) terhadap salah satu pegawai PDAM Kudus, yakni T oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus. Dalam OTT tersebut, petugas menemukan uang sebesar Rp 65 juta yang dibawa T.

Dalam perjalanannya, kasus dugaan suap yang ditangani Kejari Kudus tersebut, akhirnya dialihkan ke Kejati Jateng. Alasannya, Kejari Kudus kekurangan Sumber Daya Manusia.

Berikut ini, betanews.id sajikan kronologi kasus dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan PDAM Kudus :

11 Juni 2020

  • Kejari Kudus melakukan OTT terhadap T, pegawai PDAM Kudus di sekitar Samsat, pada pukul 14.30 WIB.
  • Dari jok motor yang dibawa T, ditemukan uang Rp 65 Juta.
  • Kantor PDAM Kudus disegel.
  • Beberapa dokumen, CPU server disita Kejari

12 Juni 2020

  • T Ditetapkan sebagai tersangka
  • Direktur PDAM Kudus Ayatullah Humaini dikabarkan menghilang

13 Juni 2020

  • Direktur PDAM Kudus melakukan konferensi pers
  • Dirinya membantah menghilang. Pada 11-12 Juni dia berobat ke Semarang dan mengambil rapor anaknya
  • Humaini siap dipanggil Kejari dan akan bersikap kooperatif

15-22 Juni 2020

  • 35 saksi dipanggil untuk dimintai keterangan
  • Humaini ikut dipanggil Kejari untuk dimintai keterangan pada tanggal 15 Juli 2020

26 Juni 2020

  • Kejari geledah Koperasi Simpan Pinjam Mitra Jati Mandiri milik ‘O’

29 Juni 2020

  • Penanganan kasus dialihkan dari Kejari Kudus ke Kejati Jateng
  • Kejari Kudus beralasan kekurangan SDM

13 Juli 2020

  • Direktur PDAM Kudus dirawat di RS Mardi Rahayu Kudus

14 Juli 2020

  • Kejati Jateng dan Kejari Kudus melakukan pemeriksaan di PDAM Kudus
    Sejumlah dokumen dibawa petugas
  • A dan O tersangka

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Polres Kudus Dalami Temuan Sidik Jari Perampok, Diduga Kabur ke Semarang

0
Tim Inafis Polres Kudus saat melakukan proses pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP). Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Polisi Resor (Polres) Kudus masih mengejar pelaku perampokan rumah pengusaha yang berada di Jalan Jendral Ahmad Yani nomor 82A, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota Kudus. Pelaku yang diduga berjumlah empat orang tersebut diprediksi melarikan diri menuju arah Semarang.

Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma menuturkan, pihaknya sudah mengamankan CCTV yang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Pihaknya juga sudah mengamankan semua CCTV di jalan hingga menuju arah tol Semarang.

“Bukti CCTV yang ada di Kudus, dari jalan-jalan tol sudah kami ambil. Ini baru proses penyelidikan jejak pelaku. Dari pantauan CCTV pelaku sempat melalui jalan tol,” tuturnya, Rabu (15/7/2020).

Selain mencari petunjuk dan bukti lewat rekaman CCTV, pihaknya juga sudah memeriksa sejumlah saksi. Saksi tersebut baik dari korban beserta istri, pembantu, dan tetangga korban. “Lebih dari tiga yang kita periksa,” jelasnya.

Baca juga: Berjam-Jam Perampok Satroni Rumah di Jalan Ahmad Yani Kudus, Gondol Rp 2 M

Tak hanya itu, sejumlah sidik jari yang dikumpulkan oleh penyidik juga sudah dikantonginya. Menurutnya, selain jejak sidik jari di TKP, pihaknya juga mendapatkan sidik jari pada mobil korban Toyota Innova Reborn yang ditemukan di sekitar SMPN 1 Jati.

“Soal kaus hitam yang berada di dalam mobil kita masih telusuri,” terangnya.

Menurut Aditya, ditemukannya mobil korban dengan nomor polisi K 9369 DT di sekitar SMPN 1 Jati, memang sengaja dilakukan oleh pelaku. Hal tersebut dilakukan guna menghilangkan jejak.

“Pelaku memindahkan barangnya (hasil rampokan) ke Grand max (Daihatsu Grand Max) milik pelaku,” beber Aditya.

Dia berharap, kasus perampokan yang mengakibatkan kerugian sejumlah Rp 2 miliar dapat segera terungkap dan pelaku segera tertangkap.

Baca juga: Mobil yang Diduga Digondol Perampok Ada di Tepi Jalan Sejak Pagi

“Mohon doanya semoga cepat terungkap. Saat ini masih tahap proses penyelidikan,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, terdapat perampokan yang terjadi di rumah pengusaha Lim Cahyo Wibowo. Perampokan tersebut terjadi, Kamis (9/7/2020) malam pukul 21.00 WIB hingga dini hari.

Dari aksi tersebut, sejumlah uang tunai, perhiasan, surat berharga, dan satu unit mobil Toyota Innova Reborn dibawa oleh pelaku. Keseluruhan kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 2 miliar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kudus Zona Merah, Terminal Jati Perketat Protokol Kesehatan

0
Para penumpang bus tampak antre cuci tangan di area Terminal Jati Kudus, Rabu (15/7/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah bus terlihat berhenti di Terminal Tipe A Jati Kudus, Rabu (15/7/2020). Imbauan dari pengeras suara terdengar kepada para penumpang untuk segera cuci tangan dan mengenakan masker. Berbarengan dengan imbauan itu, sejumlah petugas mulai menghampiri bus. Mereka kemudian memberi arahan kepada para penumpang untuk cuci tangan dan mengenakan masker bagi yang belum memakai.

Setelah cuci tangan, para penumpang diarahkan untuk dicek suhu badan kemudian dilakukan pendataan. Seorang pria sedang memberi arahan petugas di sana, yakni Agus Warih Sungkowo (54), Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe-A Jati Kudus.

Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe-A Jati Kudus sedang mengawasi para penumpang bus, Rabu (15/7/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

Menurut Agus, dalam pantaunya, para penumpang sudah mulai memiliki kesadaran terkait penyebaran Covid-19. Hanya ada beberapa yang tidak mengenakan masker dan sudah diarahkan untuk memakai atau membeli jika tidak punya.

Baca juga: Lewati Terminal Kudus, Penumpang Bus Disterilkan

“Paling ada satu atau dua warga yang masih tidak memakai masker dengan alasan lupa. Tapi kami arahkan untuk membeli masker di sini. Karena Kudus kembali zona merah, kami tingkatkan imbauan dan memperketat protokol kesehatan,” terangnya.

Dirinya juga berpesan kepada warga Kudus untuk selalu semangat dengan situasi seperti ini. Selain itu juga meminta warga agar selalu waspada dan selalu menaati protokol kesehatan.

“Kesehatan itu utama, jadi mari kita bersama menjaga kesehatan. Untuk sarana dan prasarana di sini sudah lengkap. Dan warga juga sudah mulai terbiasa menjalankan protokol kesehatan,” katanya.

Baca juga: Harga Tiket Bus di Terminal Jati Kudus Masih Alami Kenaikan

Sementara itu, satu diantara penumpang, Savila Dyan Syana (20) mengaku senang dengan ditingkatkannya penerapan protokol kesehatan di terminal itu. Menurutnya, di terminal lain tidak seketat Terminal Tipe A Jati Kudus.

“Setahu saya terminal ini yang paling tertib. Di terminal lain belum sebaik ini penerapan protokol kesehatannya. Saya senang dan ikut mengapresiasi,” kata warga Semarang yang hendak ke tempat neneknya di Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Humaini Dikabarkan Sakit, Direktur RS Mardi Rahayu: Kondisinya Baik

0
Ayatullah Humaini, Direktur PDAM Kudus (kanan). Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus Ayatullah Humaini dikabarkan sakit dan sedang dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Dirinya dirawat sejak tanggal 13 Juli 2020, satu hari sebelum ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah.

Humaini ditetapkan menjadi tersangka baru dari pengembangan kasus operasi tangkap tangan (OTT) pegawai PDAM Kudus. Dirinya ditetapkan menjadi tersangka bersama dengan seorang berinisial O.

Baca juga : Kasus Jual Beli Jabatan, Direktur PDAM Kudus jadi Tersangka

Menurut Direktur RS Mardi Rahayu dr Pujianto, Humaini masuk ke rumah sakit sejak tanggal 13 Juli 2020. Dirinya dirawat inap di salah satu kamar biasa dan tidak ditempatkan di ruangan khusus.

Pihaknya pun membantah, Humaini dalam kondisi kritis. “Kondisinya (Ayatullah Humaini) baik,” tuturnya saat dihubungi melalui WhatsApp, Rabu (15/7/2020).

Terkait sakit yang diderita pasien, pihaknya tidak bisa membeberkan. Karena hal tersebut menjadi rahasia pasien dan dilindungi Undang-Undang.

“Maaf, terkait diagnosis adalah kerahasiaan pasien yang dilindungi Undang-Undang, kami tidak dapat memberitahukannya,” tuturnya.

Selain itu, selama pandemi Covid-19, pihaknya juga tidak memperbolehkan pasien dijenguk.

“Mohon maaf selama pandemi ini, RS Mardi Rahayu meniadakan jam berkunjung,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kudus Rustiningsih mengungkapkan, terdapat penambahan dua tersangka baru dari kasus dugaan suap terkait penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus. Dua tersangka tersebut yakni berinisial A dan O.

Baca juga : Kejati Tetapkan Dua Tersangka Baru Kasus OTT PDAM Kudus

Namun saat ini, kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Kejati Jawa Tengah. “Kasus ini sudah ditangani Kejati. Itu kewenangan Kejati,” jelasnya, Selasa (14/7/2020).

Dari kasus tersebut, sementara sudah ada tiga orang yang ditetapkan menjadi tersangka. Yakni inisial T, A dan O. Pihaknya tidak bisa memprediksi, apakah nantinya akan ada tersangka baru lagi. Karena kasus tersebut sudah ditangani Kejati Jawa Tengah.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kasus Jual Beli Jabatan, Direktur PDAM Kudus jadi Tersangka

0
Ayatullah Humaini, Direktur PDAM Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah telah menetapkan dua tersangka baru berinisial A dan O dalam kasus dugaan suap penerimaan dan pengangkatan pegawai PDAM Kudus. Penetapan status keduanya merupakan hasil dari pengembangan kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang terjadi di lingkungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus.

Dewan Pengawas PDAM Kudus Dio Hermansyah Bakri menyebutkan jika yang dimaksud inisial A adalah Direktur PDAM Kudus Ayatullah Humaini. Namun, dirinya dirinya masih menunggu salinan resmi terlebih dahulu dari Kejati terkait penetapan tersangka tersebut.

Baca juga : Kejati Tetapkan Dua Tersangka Baru Kasus OTT PDAM Kudus

“Iya benar (Direktur PDAM Kudus). Dengar kabar A sudah ditetapkan menjadi tersangka, namun faktanya saya harus menunggu salinan resmi dari Kejati,” tuturnya, Rabu (15/7/2020).

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo juga membenarkan jika A adalah seorang direktur di PDAM Kudus.

Menurut informasi yang diterimanya, penetapan tersangka baru dalam kasus dugaan suap penerimaan dan pengangkatan pegawai di lingkungan PDAM Kudus, ternyata sudah dilakukan Kejati sejak Jumat (10/7/2020). Dalam penetapan tersebut, terdapat dua tersangka baru yakni A dan O.

“Ada perubahan status saksi menjadi tersangka pada Hari Jumat kemarin. A ya (Direktur PDAM Kudus, Ayatullah Humaini) benar, memang benar,” ucapnya.

Dikatakan Hartopo, dirinya menyayangkan adanya penetapan tersangka baru dalam kasus tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah berulang kali mengingatkan ke seluruh jajarannya agar bekerja dengan baik, profesional dan transparan.

“PDAM ini untuk pelayanan masyarakat. Harapan kita bisa melayani yang terbaik,” tuturnya.

Baca juga : Sebut Kekurangan SDM, Kejari Limpahkan Kasus OTT PDAM Kudus ke Kejati Jateng

Diberitakan sebelumnya, dalam kasus OTT di lingkungan PDAM Kudus terdapat tersangka baru berinisial A dan O. Informasi tersebut disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kudus, Rustiningsih di kantornya Selasa (14/7/2020).

Menurut Rustiningsih, sebelum A dan O, sudah ada tersangka yang ditetapkan yakni berinisial T. Namun dalam perkembangannya, kasus tersebut tidak lagi ditangani oleh Kejari Kudus, melainkan dilimpahkan ke Kejati Jawa Tengah. “Kasus ini sudah ditangani Kejati. Itu kewenangan Kejati,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bakso Lobster, Kuliner Hits Seharga 40 Ribu di Bakso King

0
Bakso Lobster, kuliner hits yang dijual di Bakso King. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan berambut pendek warna pirang tampak sibuk di kedai bakso yang berada di Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Dengan cekatan ia memasukan kol, seledri, dan mi bihun ke dalam mangkuk. Selanjutnya ia memasukan empat bakso sapi kecil serta lobster yang separuh badannya terbungkus bakso. Bakso tersebut adalah bakso lobster, menu baru di Bakso King.

Resa Desiana (34) owner dari Bakso King mengatakan, sejak dua pekan yang lalu, kedai baksonya punya menu baru yakni bakso lobster. Menurutnya, ide membuat bakso tersebut karena ada satu di antara resellernya yang di Jakarta minta dikirim bakso lobster. Sebab di daerah Bekasi, Jawa Barat, bakso tersebut lagi hits.

Seorang pembeli sedang mencicipi bakso lobster di Bakso King. Foto: Rabu Sipan

“Awalnya ada pesanan dari reseller kami. Selain itu saya juga menjual bakso lobster di kedai kami Bakso King,” ujar perempuan yang akrab disapa Resa kepada Betanews.id, Senin (13/7/2020).

Baca juga: Es Dawet Durian di Dapoer Gentong Laku Hingga 150 Porsi Sehari saat Weekend

Warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota Kudus itu menuturkan, menjual bakso lobster dengan harga Rp 40 ribu seporsi. Meski harganya lumayan mahal, dia mengaku tidak pernah khawatir bakso yang dijualnya itu laku apa tidak.

“Dalam berinovasi saya tidak pernah ragu. Karena saya yakin bakso lobster saya tetap diminati. Apalagi bakso lobster di Kudus itu tidak ada yang jual selain di kedai Bakso King,” jelas perempuan berkaca mata tersebut.

Selain itu, tuturnya, masyarakat Kudus itu sangat royal. Apalagi dengan sesuatu yang baru. Menurutnya, selama ini ia bisa menjual bakso lobster 50 porsi sehari. Jumlah tersebut belum berikut permintaan para reseller. Bahkan pelanggan yang datang ke kedainya itu juga banyak yang dari luar daerah seperti, Jepara, Pati, Demak, hingga Solo.

“Untuk rasa, enak dan lezat sudah tentu. Sensasinya itu bisa makan bakso sapi dengan mengoprek dan menikmati lezatnya daging lobster. Dijamin rasanya memanjakan lidah,” beber Resa.

Baca juga: Pelanggan Sampai Antre Demi Mencicipi Rujak Es Krim Pak Yitno

Satu pelanggan yang datang ke Bakso King bernama Rini menuturkan, sudah lama menjadi pelanggan kedai Bakso King. Di kedatangannya itu, ia memang sengaja ingin mencicipi enaknya bakso lobster.

“Penasaran saya, sebab baru kali ini ada bakso lobster. Setelah mencicipi, bakso lobster di Bakso King memang mantab. Rasa baksonya enak dan bercampur lezatnya daging lobster,” ujar warga Dawe, Kudus tersebut.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Es Tape Ketan Bu Djah, Segarnya Minuman Tradisional yang Bikin Nagih

0
Mahardika menunjukkan produk Es Tape Ketan Bu Djah yang dijualnya di kompleks ruko Taman Krida. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Outlet Es Tape Ketan Bu Djah terlihat ramai siang itu. Cuaca Kudus yang begitu terik seperti menuntun banyak orang mampir di warung yang berada di kompleks ruko Taman Krida, Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota Kudus. Di bagian dalam, pria berkaus kuning tampak sigap melayani pembeli. Pria tersebut yakni Mahardika (24), warga Jepara yang lebih pilih buka usaha di Kota Kretek.

Usai melayani pembeli, pria yang akrab disapa Dika itu berbagi penjelasan tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, membuka outlet es tape ketan sejak November 2019. Dia mengaku lebih memilih buka usaha di Kudus daripada di kota kelahirannya karena beberapa alasan.

Outlet Es Tape Ketan Bu Djah yang berada di kompleks ruko Taman Krida. Foto: Rabu Sipan.

“Ada beberapa alasan, kenapa saya pilih buka usaha di Kudus. Menurut saya, Kudus merupakan kota dengan perekonomian tertinggi se Karesidenan Pati. Sehingga daya beli masyarakatnya juga pasti tinggi,” ujar Dika kepada Betanews.id, Jumat (10/7/2020).

Baca juga: Es Dawet Durian di Dapoer Gentong Laku Hingga 150 Porsi Sehari saat Weekend

Pria lajang itu menuturkan, usaha es tape ketan itu merupakan waralaba dari temannya warga Pati. Alasan ia ikut jualan karena es tape ketan banyak diminati. Bahkan di Pati sekarang ada tiga outlet yang semuanya laris. Selain itu, dia juga ikut serta berperan melestarikan minuman tradisional agar tidak punah.

“Tape ketan termasuk minuman tradisional. Oleh sebab itu kami kemas dengan dengan konsep rasa modern, agar makin diminati dan tidak punah begitu saja,” ujarnya.

Di tempatnya, Dika menyediakan es tape ketan dengan berbagai varian rasa. Di antaranya, rasa orisinal yakni tape ketan campur susu, es tape ketan susu rasa cocopandan, es tape ketan susu rasa coconut, serta es tape ketan susu rasa jahe. Selain jual es tape, dia juga menjual kopi, coklat, dan squash.

“Untuk harga sangat murah yakni Rp 7 ribu per porsi untuk rasa orisinal dan Rp 8 ribu segelas untuk varian rasa lainnya,” ungkap Dika.

Baca juga: Pelanggan Sampai Antre Demi Mencicipi Rujak Es Krim Pak Yitno

Dia menuturkan, warungnya buka setiap hari mulai pukul 13.00 sampai pukul 22.00 WIB. Dalam setiap buka itu, Dika mampu menjual sekitar 50 porsi.

“Saya juga melayani pembelian tape ketannya saja. Satu bok berisi satu kilogram dengan harga Rp 55 ribu,” tandas Dika.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Keseluruhan Pasien Positif Covid-19 di Kudus yang Meninggal Disertai Penyakit Penyerta

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Perkembangan kasus baru Covid-19 di Kabupaten Kudus semakin meningkat. Hingga saat ini Kudus sudah ditetapkan menjadi zona merah penyebaran Covid-19.

Dari jumlah kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19, sampai Selasa (14/7/2020) sejumlah 402 kasus. Dari jumlah tersebut 43 kasus di antaranya meninggal dunia. Namun meninggalnya pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 bukan murni virus Corona.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, dari keseluruhan kasus pasien meninggal yang terkonfirmasi positif Covid-19, menurutnya meninggal karena memiliki penyakit penyerta. Pihaknya belum pernah menemukan kasus yang murni meninggal karena Covid-19.

Baca juga : Kudus Zona Merah, Malam Ini Alun-alun Simpang Tujuh Kembali Ditutup

Dia menjelaskan, penyakit penyerta tersebut di antaranya yakni penyakit asma, jantung, diabetes melitus dan hipertensi. “Sebelumnya, pasti dirawat di rumah sakit dulu,” tuturnya.

Pihaknya meminta agar masyarakat terus menerapkan protokol kesehatan Covid-19, dengan mengenakan masker dan menjaga kebersihan. Selain itu, ketika memiliki gejala yang mengarah kepada Covid-19, pihaknya meminta segera menghubungi puskesmas terdekat.

“Untuk kamar di rumah sakit selalu siap. Kalau nanti kurang kita akan buka lagi, buka lagi,” jelasnya.

Saat ini lanjut Hartopo, Kudus sudah menjadi zona merah dengan kasus positif Covid-19 sejumlah 402 orang. Dari jumlah tersebut, 283 dari dalam Kudus sendiri dan 119 orang dari luar Kudus.

Menurutnya, dalam sehari, penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kudus yakni sekitar sembilan sampai 10 orang. Namun, kasus pasien sembuh Covid-19 di Kudus hanya sekitar lima orang saja. “Kudus itu luar biasa,” tuturnya.

Pihaknya akan menargetkan, penurunan status dari zona merah menjadi oranye selama dua pekan. Hartopo meminta agar semua elemen masyarakat dan lintas sektoral bekerja sama sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing.

Baca juga : Hartopo Targetkan Dua Pekan Kudus jadi Zona Oranye

Menurut data corona.kuduskab.go.id, dari jumlah kasus 402 orang, 59 orang di antaranya dirawat, 146 orang melakukan isolasi mandiri, satu dirujuk, 153 orang sembuh dan 43 orang meninggal dunia.

Dari sembilan kecamatan di Kudus, hanya Kecamatan Undaan saja yang belum memiliki kasus pasien meninggal terkonfirmasi positif.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Fraksi PKB Tagih Janji Kampanye TOP soal Tunjangan Guru Swasta

0
Juru Bicara Fraksi PKB Ahmad Khoiril Badawi (kiri). Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Kabupaten Kudus menagih janji kampanye pasangan Tamzil-Hartopo (TOP) mengenai tunjangan untuk guru swasta. Tunjangan yang berupa uang Rp 1 juta tersebut, dijanjikan diberikan setiap bulannya.

Pasangan TOP sendiri, terpilih menjadi bupati dan wakil bupati pada pilkada 2018 lalu. Namun, dalam perjalanannya, M Tamzil yang menjabat sebagai bupati tersandung kasus korupsi. Hingga akhirnya Hartopo yang menjabat wakil bupati, saat ini menjabat sebagai Plt Bupati Kudus.

Penagihan janji tersebut diungkapkan Juru Bicara Fraksi PKB Ahmad Khoiril Badawi saat Rapat Paripurna di DPRD Kudus, Senin (13/7/2020). Rapat tersebut beragendakan pandangan umum fraksi terkait Ranperda Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten Kudus tahun 2019.

Badawi menuturkan, pihaknya sebagai partai pengusung pasangan Tamzil – Hartopo perlu mengingatkan janji kampanye yang pernah disampaikan. Menurutnya, dalam kampanye dulu mulai dari guru madrasah diniyah, guru TPQ, guru swasta yang mengajar di SD maupun SMP swasta, serta tenaga honorer akan mendapatkan uang tunjangan kesejahteraan sebesar Rp 1 juta per tahun.

“Sebenarnya itu sudah jalan sejak Januari 2019 dengan nominal Rp 1 juta. Namun akhir-akhir ini, nominalnya tidak utuh Rp 1 juta,” tuturnya saat ditemui selepas kegiatan.

Baca juga : Pencairan Insentif untuk 866 Nakes di Kudus Tunggu Verifikasi Kemenkes

Badawi menjelaskan, nominal uang yang diberikan tidak penuh diketahui mulai dari awal tahun 2020. Menurutnya, uang yang diberikan kisaran Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Pihaknya meminta, agar tunjangan kesejahteraan tersebut diberikan utuh lagi sebesar Rp 1 juta.

“Fraksi PKB meminta Pemkab Kudus untuk mengembalikan nominal tunjangan guru swasta seperti yang dijanjikan ketika kampanye,” jelasnya.

Saat ini, uang tunjangan tersebut sangat dinantikan para guru swasta. Menurutnya, gaji yang didapatkan guru madrasah diniyah, guru TPQ, dan guru swasta tidaklah besar. Tentu tunjangan tersebut sangat membantu untuk memenuhi kesejahteraan guru.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, pihaknya akan mengkaji lagi mengenai tunjangan bagi guru swasta. Menurutnya pihaknya tetap akan mengusahakan semaksimal mungkin agar tunjangan kesejahteraan bagi guru swasta tetap tersalurkan dengan baik. “Ini masih proses,” tuturnya dengan singkat.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Inilah Kiat-Kiat Memilih Makanan Saat Berwisata

0
Ilustrasi, penjual makanan di tempat wisata. Foto: Titis Widjayanti

Penulis: Haniel Yudiar

*Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata Semarang

Makanan merupakan suatu yang tidak terpisahkan dari dunia wisata. Selain sebaga kebutuhan pokok bagi para wisatawan, sebagian akan memburu makanan khas dari daerah yang dikunjunginya. Bahkan sebagian wisatawan menjadikan makanan sebagai men pokok dalam aktivitas wisatanya.

Wisata kuliner, demikian sebutan populernya, dalam Bahasa Inggris, dikenal istilah food tourism, culinary tourism dan gastronomy tourism
(Rachão et al., 2019). De Jong et al. (2018). Disebutkan bahwa gastronomy tourism memiliki makna penting dalam manajemen pariwisata kontemporer dengan menjadi dasar dari berbagai kebijakan dan strategi.

Wisatawan bisa memiliki kesempatan untuk memilih makanan yang akan dikonsumsinya secara bebas, karena tempat yang dikunjungi telah tertata. Mereka tak jarang akan memburu makanan khas, atau setidaknya mencari makanan yang tidak dijumpai di daerah lain.

Namun, acap kali wisatawan justru bisa berada pada kondisi minim pilihan makanan. Misalnya saat berwisata di daerah terpencil seperti pulau-pulau kecil atau kawasan pedalaman yang belum banyak terjamah manusia.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih makanan selama kita berwisata. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk memilih makanan saat berwisata:

Pertama, kita perlu mengenali diri kita. Setiap orang bisa memiliki ketahanan yang berbeda dalam mengkonsumi makanan-makanan dengan karakteristik tertentu, misalnya tingkat rasa masam atau rasa pedas. Sebagian orang memiliki intoleransi atau alergi terhadap bahan makanan tertentu, misalnya udang, ikan, atau susu.

Jika memang tubuh kita tidak dapat menerima makanan-makanan tertentu, lebih baik kita menghindari mengkonsumsi makanan tersebut, daripada terjadi efek-efek yang tidak diinginkan. Kondisinya bisa semakin sulit ketika sedang berwisata di daerah di mana tidak tersedia akses ke fasilitas kesehatan yang diperlukan seandainya terjadi gejala.

Kedua, kita perlu mewaspadai penyakit bawaan pangan (foodborne disease), yaitu penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi, salah satunya oleh mikroba patogen. Penyebab utama penyakit bawaan pangan adalah praktik-praktik yang tidak higienis dalam penanganan makanan. Oleh karenanya, dalam memilih makanan selama berwisata, sebisa mungkin kita perlu mempertimbangkan higienitas dari praktik penanganannya.

Ketiga, jika kita memang suka memburu makanan khas dari suatu daerah, lebih baik kita terlebih dahulu mencari informasi detail terhadap makanan khas dari daerah tersebut sebelum kita berangkat berwisata. Apa saja makanannya, terbuat dari apa, bagaimana rasanya, dapat dibeli di mana, berapa harganya dan sebagainya.

Dengan demikian, proses seleksi dan pemilihan awal dapat dilakukan sejak sebelum kita berangkat. Dan jika kita kemudian memutuskan untuk mencari makanan tersebut, kita dapat dengan mudah mengalokasikan waktu dan menyesuaikan jadwal perjalanan.

Keempat, atau yang terakhir, terkait makanan yang dipilih sebagai bekal perjalanan atau yang direncanakan untuk dimakan dalam perjalanan, kita dapat memilih makanan yang mudah disimpan dan awet, disesuaikan dengan kondisi dan durasi perjalanan kita. Dalam berwisata, terutama di daerah yang relatif jauh dari dunia modern atau yang sulit mengakses toko dan rumah makan, bisa jadi kita perlu makan dalam kondisi “darurat” atau berbeda dari waktu makan yang biasa. Dalam kondisi semacam ini, menyiapkan bekal makanan dalam perjalanan wisata kita menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.

- advertisement -

Ubi Cilembu, Si Manis Madu dari Sumedang yang Cocok untuk Camilan

0
Iman Permana sedang menimbang ubi cilembu yang dibeli pembeli, Rabu (8/7/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi utara Jalan Raya Kudus-Jepara Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tampak sebuah toko yang cukup ramai. Para pengunjung terlihat sedang memilih ubi yang ditata di boks-boks kayu. Di sisi lain, seorang pria tampak berada di samping oven yang penuh dengan ubi. Toko tersebut adalah toko ubi cilembu yang baru buka tiga bulan lalu.

Karyawan toko Iman Permana (19) menuturkan, toko itu memang khusus menjual ubi Cilembu dari Sumedang, Jawa Barat. Ubi tersebut terkenal dengan rasanya yang manis, semanis madu murni. Jadi sangat cocok dijadikan camilan saat bersantai bersama keluarga.

Ubi cilembu yang dijual di Kaliwungu Kudus.

“Ubi Cilembu Sumedang itu rasanya manis. Sebab itulah sebagian orang mengenalnya sebagai ubi madu. Manisnya murni dari alam tanpa tambahan gula atau pemanis lainnya. Saya sarankan ubi Cilembu itu dipanggang biar cairan madunya keluar,” ujar pria yang akrab disapa Iman itu kepada Betanews.id, Rabu (8/7/2020).

Pria asli Sumedang itu melanjutkan, sejak buka tiga bulan lalu, peminat ubi cilembu di Kudus sudah lumayan banyak. Bahkan, tokonya sudah buka cabang di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, kabupaten Kudus.

Baca juga: Banting Stir Jual Telo Gondeng, Rinto Mampu Raup Omzet Rp 6 Juta Sehari

“Jualan ubi Cilembu di Kudus lumayan laris. Sehari biasanya mampu menjual sekitar 50 kilogram ubi cilembu. Kedua toko itu pembeli sama ramainya,” ungkap pria lajang tersebut.

Untuk harga, tambahnya, ubi cilembu dijual dengan harga Rp 15 ribu per kilogram keadaan mentah. Serta Rp 20 ribu per kilogram dalam kondisi matang. Selain itu, tokonya juga menerima pembelian grosir maupun ecer, termasuk pembelian setengah kilogram.

Salah satu pembeli Diah Muktining Rahayu (42) mengaku sudah sering beli ubi Cilembu. Bisa dibilang dirinya sudah jadi langganan. Sebab setiap pekan, ia bisa membeli ubi Cilembu hingga dua kali.

“Semua anggota keluarga suka dengan ubi Cilembu. Rasanya yang manis, semanis madu membuat anakku, suamiku, dan saya pribadi sangat suka dengan ubi madu ini. Cocok buat camilan keluarga,” tutup Diah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Dijadikan Penopang Kebangkitan Ekonomi, Ganjar Percepat Operasional KEK Kendal

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat memimpin rapat bersama anggota Dewan Kawasan Industri Khusus (KEK) Kendal di Gedung B lantai 5 Kantor Gubernur Jateng, Selasa (14/7/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta Kawasan Industri Khusus (KEK) Kendal segera beroperasi untuk menopang kebangkitan ekonomi. Guna keperluan itu, Ganjar mengumpulkan anggota Dewan Kawasan untuk membahas berbagai masalah yang jadi kendala operasional

Dalam rapat tersebut, Ganjar menemukan sejumlah persoalan, dengan masalah utama adalah kelengkapan sarana prasarana penunjang.

“Tadi ada soal air yang belum ada. Airnya masih nunggu tender. Maka kita coba fasilitasi dengan sumur dalam dan itu pun terbatas agar bisa segera jalan,” kata Ganjar dalam rapat yang digelar di Gedung B lantai 5 Kantor Gubernur Jateng, Selasa (14/7/2020).

Masalah selanjutnya yang jadi perhatian Ganjar yaitu administrator. Menurutnya, Kawasan Industri Kendal membutuhkan administrator dan hari ini belum selesai.

Baca juga: Sebut Pertumbuhan Ekonomi Mengerikan, Ganjar Siapkan APBD Pertolongan

“Maka tadi saya cepat selesaikan. Saya minta teken hari ini. Mudah-mudahan ini bentuk komitmen yang diharapkan agar kawasan ini bisa segera jalan,” tegasnya.

Menurut Ganjar, Kawasan Industri Kendal yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dinilai memiliki potensi besar dalam peningkatan ekonomi di Jawa Tengah. Makanya, kawasan tersebut masuk dalam program percepatan-percepatan dalam penataan ekonomi.

“Ada perhatian besar dari pemerintah pusat kepada Jawa Tengah, khususnya dalam pengembangan industri. Maka, saya minta peluang ini ditangkap dengan melakukan percepatan-percepatan,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Nasional KEK Wahyu Utomo mengatakan, ekonomi nasional akan mengalami kontraksi cukup besar di 2020 ini. Untuk mencegahnya, maka diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi resesi.

Baca juga: Rumah Kemasan Jateng Bikin Tampilan Produk UKM Berkelas Internasional

“Salah satunya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus. Sebab, kawasan ini akan memunculkan kegiatan ekonomi yang cukup besar, investasi tinggi, meningkatkan daya saing, serta menyerap banyak tenaga kerja,” ucapnya.

Makanya Wahyu berharap agar KEK di Kawasan Industri Kendal segera beroperasi. Beberapa problem yang belum selesai harus didorong dan dilakukan percepatan.

“Tadi saya mampir ke sana (Kawasan Industri Kendal), dan memang soal air ini belum selesai. Juga, administrator belum berfungsi. Padahal, dua komponen ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan kawasan itu,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ada 4.825 Kursi Kosong di SMA/SMK Negeri, Ganjar Siapkan Kebijakan Khusus

0
Gubernur Ganjar Pranowo saat memimpin rapat di Gedung B lantai 5 Kantor Gubernur Jateng, Selasa (14/7/2020). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyiapkan beberapa kebijakan khusus untuk mengisi kekosongan kelas di SMA dan SMK Negeri. Kekosongan tersebut dikarenakan adanya peserta didik yang lebih memilih sekolah swasta meskipun diterima di sekolah negeri melalui PPDB Online.

Kepala Disdikbud Jateng Jumeri mengatakan, dari daya tampung yang disediakan sebesar 207.816, pihaknya telah mengumumkan ada 206.238 calon siswa yang diterima. Sementara total kursi kosong sebanyak 4.825 kursi.

Rinciannya, 1.578 kursi tidak terisi di proses PPDB, 2.981 kursi karena ada yang mengundurkan diri, dan 266 kursi setelah ada pembatalan dari proses verifikasi.

“Hasil pendataan setelah selesainya daftar ulang, jumlah kursi kosong sebanyak 4.825 dengan sebaran di beberapa sekolah (tidak semua sekolah),” ujarnya, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Pemprov Jateng Siapkan Kebijakan untuk Kawasan Tak Punya SMA/SMK Negeri

Menyikapi ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan beberapa kebijakan khusus. Salah satunya adalah pemerintah mencoba mengisi kekosongan kelas itu dengan memberikan afirmasi. Saat ini, pihaknya bersama dinas terkait sedang menyiapkan regulasi yang adil.

Bentuknya antara lain sekolah jarak jauh dan afirmasi untuk siswa yang paling dekat dengan sekolah karena di sekolah itu kursinya masih kosong.

Selain itu, Pemprov Jateng juga sudah melaporkan hal tersebut ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Itu terkait bisa menambahkan rombongan belajar atau tidak.

“Selalu ada ikhtiar untuk menyelesaikan. Bahkan pada skenario terburuk kita mencoba koordinasi dengan sekolah swasta. Sehingga teman-teman justru punya semangat pribadi dari seluruh ASN di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Ganjar.

Baca juga: Pembukaan Sekolah di Jateng Masih Tunggu Keputusan Mendikbud

Pemprov Jateng juga mulai menyiapkan anggaran untuk tahun depan agar dengan sistem zonasi tersebut, persebaran bisa merata. Termasuk merancang ulang pembuatan sekolah baru yang akan dikoordinasikan dengan kabupaten/kota. Menurutnya, saat ini ada SD-SD yang sudah kosong.

“Sekarang kan piramida demografinya sudah berbeda. Jadi anak-anak yang SD ini sudah mulai ke SMP maka kebutuhan SD-nya berkurang. Gedung-gedung ini sebenarnya bisa dikonversi menjadi gedung SMA atau SMK. Kalau kita bisa kerja samakan itu insyaallah persebarannya gampang,” tukas Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Atasi Kejenuhan Belajar di Rumah, Bocah SD Ini Bikin Kue dan Justru Laris di Pasaran

0
Nesya sedang memberi toping pada kue donat. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Seorang bocah perempuan mengenakan celemek warna pink tampak begitu cekatan mengaduk tepung dengan mixer. Tak lama setelah itu, dirinya membentuk bulatan-bulatan kecil dari adonan tepung tersebut untuk dijadikan kue nastar. Aktivitas seperti ini, sudah hampir rutin dilakukan bocah kelas IV sekolah dasar, sejak beberapa pekan terakhir, ketika aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah dilakukan secara daring.

Bahkan, bocah yang tinggal di Dukuh Kerep Pare, RT 03 RW 02 Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, sudah menerima pesanan. Tak hanya nastar saja, tetapi dirinya juga sudah menerima pesanan kue donat dan brownis.

Nesya mau memasukkan kue nastar ke dalam oven. Foto: Titis Widjayanti

Baca juga :Abon Tongkol Jadi Usaha Menarik, Awalnya Pipit Bantu Suami Makan Ikan

Adalah Neysa Putri Astagina (9), gadis kecil ini mengaku mulai menyukai bikin kue setelah melihat aneka tutorial memasak di Youtube. Apalagi, sejak pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah, dia lebih punya banyak waktu mempraktikkan aneka masakan yang disukainya. Neysa, begitu panggilannya juga belajar membikin kue dari neneknya.

“Pertama kali yang mencoba masakan aku itu ya keluarga. Ada nenek, Budhe dan juga mama. Dari beberapa kue itu, paling seneng sih buat donat dari kentang dan nastar,” papar Nesya, Sabtu (11/7/2020).

Sementara itu, Wahyu Prihati (35) ibu dari Nesya mengatakan, ketika pertama kali anaknya membuat kue, porsinya terlalu banyak. Sehingga, kelebihannya ia bawa ke kantor tempat kerjanya. Kemudian, beberapa temannya di kantor mencicipi kue buatan Nesya itu.

“Pas waktu nyicipin itu, temen-temen kantor pada nanya dari mana belinya. Kemudian saya bilang jika kue itu yang bikin anaknya. Mereka pada kaget, karena anak kecil sudah bisa bikin kue yang enak kayak gitu. Kemudian, beberapa temen pesan untuk dibuatin,” ungkapnya.

Ia katakan, jika anaknya mulai tertarik dengan memasak sejak usai Ramadan. Ketika itu, Nesya berhasil puasa penuh di Bulan Ramadan, dan kemudian meminta hadiah kepada orang tuanya. Hadiah yang diminta yaitu oven dan mixer. Alat itu, kemudian digunakan anaknya untuk membuat kue kesukaannya.

Hingga saat ini, katanya, Nesya sudah melayani puluhan paket kue pesanan dari konsumen. Baik itu donat, nastar, brownies maupun cookies hingga bolu selai. Meski, sang anak tidak memikirkan profit dari hasil pemesanan kue tersebut, namun dirinya mulai mengajarkan manajemen penjualan. Paling tidak, katanya modal bisa balik, sehingga nantinya bisa digunakan untuk beli bahan kue lagi.

“Ya itu, patokannya sekarang mengajari bukan perihal keuntungan, tapi minimal bisa beli bahan-bahannya lagi. Karena dia memasak itu bahannya juga yang premium mintanya. Kalau belanja, anak ini milih sendiri. Beli tepung ya tepungnya yang paling bagus, keju dan segala macamnya. Soalnya diukurnya dengan kualitas yang dia rasakan di lidahnya. Gak mau yang sedikit meleset. Katanya nanti hasilnya nggak enak,” kata dia.

Baca juga : Es Dawet Durian di Dapoer Gentong Laku Hingga 150 Porsi Sehari saat Weekend

Meskipun begitu, kue-kue yang dijual dengan label Cooking With Neysa dibanderol dengan harga yang ramah di kantong. Bahkan bisa dibilang di bawah pasaran. Misalkan, satu wadah nastar dengan berat kurang lebih 400 gram, hanya dibanderol seharga Rp 35 ribu. Begitu pun dengan harga kue-kue lain.

“Kalau bolu selai ada dua macam, yang original dan pakai toping. Kalau yang original Rp 25 ribu per wadah. Kalau toping keju atau toping permen harganya Rp 30 ribu per wadah. Kalau donat per bijinya Rp 5 ribu, biasanya satu wadah isi 6, jadi Rp 30 ribu. Terus, cookies 250 gram itu Rp 25 ribu dan brownies kukus per wadahnya Rp 35 ribu,” kata Ayu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Hartopo Targetkan Dua Pekan Kudus jadi Zona Oranye

0
Plt Bupati Kudus, HM Hartopo. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan adanya penurunan kasus Covid-19, sehingga status zona merah saat ini bisa menjadi oranye. Target penurunan kasus tersebut akan dilakukan selama dua pekan.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, saat ini Kudus berada di zona merah. Menurutnya pihaknya akan mengoptimalkan lagi penangan Covid-19, dengan melibatkan semua elemen masyarakat dan lintas sektoral.

“Kami akan targetkan Kudus dua pekan lagi oranye. Dua pekan lagi kemudian menjadi kuning,” tuturnya saat ditemui selepas rapat koordinasi penanganan Covid-19 dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kudus di Command Center, Senin (13/7/2020).

Baca juga : Kudus Zona Merah, Malam Ini Alun-alun Simpang Tujuh Kembali Ditutup

Hartopo menuturkan, pihaknya sudah meminta, mulai dari pemerintah desa, kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus untuk bersama-sama memonitoring kegiatan masyarakat.

Menurutnya, mulai Sabtu (11/7/2020) malam, pihaknya sudah melakukan pengecekan langsung di lapangan. Pengencekan kegiatan masyarakat tersebut akan dilakukannya secara rutin.

Selanjutnya, Satpol PP juga diperintahkan untuk memonitoring aktivitas kegiatan masyarakat di pasar, mall dan kafe. Menurut Hartopo, selain mengecek pemberlakuan protokol kesehatan Covid-19, pihaknya juga ingin memastikan setiap pasar, mall dan kafe harus memiliki satgas Covid-19. Jika tidak ada maka akan ditutup.

Hartopo juga mengungkapkan, mulai tanggal 13 Juli, pihaknya juga memberlakukan penutupan jalan menggunakan water barrier di ruas jalan arah menuju Alun-alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong. Penutupan jalan yang pernah dilakukan dulu menurutnya akan dilakukan mulai pukul 21.00 hingga 06.00.

“Cek poin juga akan hidupkan lagi. Lokasinya masih sama seperti kemarin. Tidak tambah,” tuturnya.

Untuk pedagang yang berada di sekitar Balai Jagong Kudus, Hartopo menuturkan akan menata ulang. Menurutnya, saat melakukan pengecekan langsung pada Sabtu malam, pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Balai Jagong Kudus tidak terkontrol dalam penerapan physical distancing. Pengunjung yang datang pun membeludak.

“Balai Jagong nanti dibuat sekat seperti garis-garis supaya PKL tidak bergerombol. Yang awalnya sekitar 300 orang, nanti dibuat 100 orang atau 150 orang. Mungkin nanti bisa juga dijadwal. Pagi jam sekian-sekian. Atau pagi dan sore. Atau juga bisa perdua hari sekali,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga akan menunda sementara pemberian izin kegiatan pernikahan dan kesenian. Namun pihaknya memperbolehkan acara pernikahan atau hajatan namun hanya di datangi keluarga inti saja. “Kalau hajatan ya sebatas keluarga saja,” tuturnya.

Menurutnya Hartopo, perkembangan kasus Covid-19 di Kudus dalam sehari mencapai sembilan sampai 10 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Namun angka kesembuhan hanya sekitar lima orang saja dalam sehari.

Baca juga : Di Tengah Pandemi, Pendaftaran Mahasiswa Baru di UMK Naik 20 Persen

“Sekarang Kudus ini sudah tidak ada klaster-klaster lagi, karena sudah merata,” tuturnya yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus.

Pihakya pun mengaku mendapatkan saran dari IDI Kudus untuk melakukan karantina wilayah dalam penangan Covid-19 supaya berubah menjadi zona oranye. Namun dikatakan Hartopo, jumlah pekerja di Kudus yang berasal dari luar Kudus sekitar 6 ribu orang. Tentu perkara tersebut tidaklah mudah baginya.

“Kemarin saya sudah komunikasi seperti Djarum dan Nojorono. Mungkin pekerja pabrik yang kelas pimpinan sudah ada asramanya. Namun yang pegawai biasa otomatis akan menambah operasional karena menambah fasilitas. Tentu mereka keberatan,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -