Penulis: Haniel Yudiar

*Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata Semarang

Makanan merupakan suatu yang tidak terpisahkan dari dunia wisata. Selain sebaga kebutuhan pokok bagi para wisatawan, sebagian akan memburu makanan khas dari daerah yang dikunjunginya. Bahkan sebagian wisatawan menjadikan makanan sebagai men pokok dalam aktivitas wisatanya.

Wisata kuliner, demikian sebutan populernya, dalam Bahasa Inggris, dikenal istilah food tourism, culinary tourism dan gastronomy tourism
(Rachão et al., 2019). De Jong et al. (2018). Disebutkan bahwa gastronomy tourism memiliki makna penting dalam manajemen pariwisata kontemporer dengan menjadi dasar dari berbagai kebijakan dan strategi.

Wisatawan bisa memiliki kesempatan untuk memilih makanan yang akan dikonsumsinya secara bebas, karena tempat yang dikunjungi telah tertata. Mereka tak jarang akan memburu makanan khas, atau setidaknya mencari makanan yang tidak dijumpai di daerah lain.

Namun, acap kali wisatawan justru bisa berada pada kondisi minim pilihan makanan. Misalnya saat berwisata di daerah terpencil seperti pulau-pulau kecil atau kawasan pedalaman yang belum banyak terjamah manusia.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih makanan selama kita berwisata. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk memilih makanan saat berwisata:

Pertama, kita perlu mengenali diri kita. Setiap orang bisa memiliki ketahanan yang berbeda dalam mengkonsumi makanan-makanan dengan karakteristik tertentu, misalnya tingkat rasa masam atau rasa pedas. Sebagian orang memiliki intoleransi atau alergi terhadap bahan makanan tertentu, misalnya udang, ikan, atau susu.

Jika memang tubuh kita tidak dapat menerima makanan-makanan tertentu, lebih baik kita menghindari mengkonsumsi makanan tersebut, daripada terjadi efek-efek yang tidak diinginkan. Kondisinya bisa semakin sulit ketika sedang berwisata di daerah di mana tidak tersedia akses ke fasilitas kesehatan yang diperlukan seandainya terjadi gejala.

Kedua, kita perlu mewaspadai penyakit bawaan pangan (foodborne disease), yaitu penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi, salah satunya oleh mikroba patogen. Penyebab utama penyakit bawaan pangan adalah praktik-praktik yang tidak higienis dalam penanganan makanan. Oleh karenanya, dalam memilih makanan selama berwisata, sebisa mungkin kita perlu mempertimbangkan higienitas dari praktik penanganannya.

Ketiga, jika kita memang suka memburu makanan khas dari suatu daerah, lebih baik kita terlebih dahulu mencari informasi detail terhadap makanan khas dari daerah tersebut sebelum kita berangkat berwisata. Apa saja makanannya, terbuat dari apa, bagaimana rasanya, dapat dibeli di mana, berapa harganya dan sebagainya.

Dengan demikian, proses seleksi dan pemilihan awal dapat dilakukan sejak sebelum kita berangkat. Dan jika kita kemudian memutuskan untuk mencari makanan tersebut, kita dapat dengan mudah mengalokasikan waktu dan menyesuaikan jadwal perjalanan.

Keempat, atau yang terakhir, terkait makanan yang dipilih sebagai bekal perjalanan atau yang direncanakan untuk dimakan dalam perjalanan, kita dapat memilih makanan yang mudah disimpan dan awet, disesuaikan dengan kondisi dan durasi perjalanan kita. Dalam berwisata, terutama di daerah yang relatif jauh dari dunia modern atau yang sulit mengakses toko dan rumah makan, bisa jadi kita perlu makan dalam kondisi “darurat” atau berbeda dari waktu makan yang biasa. Dalam kondisi semacam ini, menyiapkan bekal makanan dalam perjalanan wisata kita menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.

Tinggalkan Balasan