BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan adanya penurunan kasus Covid-19, sehingga status zona merah saat ini bisa menjadi oranye. Target penurunan kasus tersebut akan dilakukan selama dua pekan.
Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, saat ini Kudus berada di zona merah. Menurutnya pihaknya akan mengoptimalkan lagi penangan Covid-19, dengan melibatkan semua elemen masyarakat dan lintas sektoral.
“Kami akan targetkan Kudus dua pekan lagi oranye. Dua pekan lagi kemudian menjadi kuning,” tuturnya saat ditemui selepas rapat koordinasi penanganan Covid-19 dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kudus di Command Center, Senin (13/7/2020).
Baca juga : Kudus Zona Merah, Malam Ini Alun-alun Simpang Tujuh Kembali Ditutup
Hartopo menuturkan, pihaknya sudah meminta, mulai dari pemerintah desa, kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus untuk bersama-sama memonitoring kegiatan masyarakat.
Menurutnya, mulai Sabtu (11/7/2020) malam, pihaknya sudah melakukan pengecekan langsung di lapangan. Pengencekan kegiatan masyarakat tersebut akan dilakukannya secara rutin.
Selanjutnya, Satpol PP juga diperintahkan untuk memonitoring aktivitas kegiatan masyarakat di pasar, mall dan kafe. Menurut Hartopo, selain mengecek pemberlakuan protokol kesehatan Covid-19, pihaknya juga ingin memastikan setiap pasar, mall dan kafe harus memiliki satgas Covid-19. Jika tidak ada maka akan ditutup.
Hartopo juga mengungkapkan, mulai tanggal 13 Juli, pihaknya juga memberlakukan penutupan jalan menggunakan water barrier di ruas jalan arah menuju Alun-alun Simpang Tujuh Kudus dan Balai Jagong. Penutupan jalan yang pernah dilakukan dulu menurutnya akan dilakukan mulai pukul 21.00 hingga 06.00.
“Cek poin juga akan hidupkan lagi. Lokasinya masih sama seperti kemarin. Tidak tambah,” tuturnya.
Untuk pedagang yang berada di sekitar Balai Jagong Kudus, Hartopo menuturkan akan menata ulang. Menurutnya, saat melakukan pengecekan langsung pada Sabtu malam, pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Balai Jagong Kudus tidak terkontrol dalam penerapan physical distancing. Pengunjung yang datang pun membeludak.
“Balai Jagong nanti dibuat sekat seperti garis-garis supaya PKL tidak bergerombol. Yang awalnya sekitar 300 orang, nanti dibuat 100 orang atau 150 orang. Mungkin nanti bisa juga dijadwal. Pagi jam sekian-sekian. Atau pagi dan sore. Atau juga bisa perdua hari sekali,” terangnya.
Selain itu, pihaknya juga akan menunda sementara pemberian izin kegiatan pernikahan dan kesenian. Namun pihaknya memperbolehkan acara pernikahan atau hajatan namun hanya di datangi keluarga inti saja. “Kalau hajatan ya sebatas keluarga saja,” tuturnya.
Menurutnya Hartopo, perkembangan kasus Covid-19 di Kudus dalam sehari mencapai sembilan sampai 10 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Namun angka kesembuhan hanya sekitar lima orang saja dalam sehari.
Baca juga : Di Tengah Pandemi, Pendaftaran Mahasiswa Baru di UMK Naik 20 Persen
“Sekarang Kudus ini sudah tidak ada klaster-klaster lagi, karena sudah merata,” tuturnya yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus.
Pihakya pun mengaku mendapatkan saran dari IDI Kudus untuk melakukan karantina wilayah dalam penangan Covid-19 supaya berubah menjadi zona oranye. Namun dikatakan Hartopo, jumlah pekerja di Kudus yang berasal dari luar Kudus sekitar 6 ribu orang. Tentu perkara tersebut tidaklah mudah baginya.
“Kemarin saya sudah komunikasi seperti Djarum dan Nojorono. Mungkin pekerja pabrik yang kelas pimpinan sudah ada asramanya. Namun yang pegawai biasa otomatis akan menambah operasional karena menambah fasilitas. Tentu mereka keberatan,” jelasnya.
Editor : Kholistiono

