Ribuan Warga Kudus Suspek TBC, Gaya Hidup Jadi Biangnya

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih menjadi perhatian serius pemerintah. Indonesia bahkan menempati posisi kedua dengan jumlah kasus terbanyak di dunia setelah India.

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan angka penyebaran penyakit ini. Salah satunya melalui program skrining masif hingga ke tingkat daerah.

Di Kabupaten Kudus, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sebanyak 5.991 warga terdeteksi sebagai suspek TBC. Data tersebut merupakan hasil skrining cek kesehatan gratis (CKG) hingga Maret 2026.

-Advertisement-

Angka itu menunjukkan tingginya potensi penyebaran penyakit menular di masyarakat. Temuan tersebut juga melampaui target awal deteksi yang ditetapkan sebanyak 4.281 suspek.

Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Abdul Hakam, mengatakan capaian ini menjadi indikator efektivitas skrining dini. Menurutnya, semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan.

Baca juga : Cegah Keracunan, DKK Kudus Imbau Agar MBG Dikonsumsi Tak Lewat 4 Jam Sejak Disajikan

“TBC tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu. Penyakit ini juga mulai banyak ditemukan pada kalangan usia muda,” ujar Hakam saat ditemui di halaman Pendopo Kudus, belum lama ini.

Hakam menuturkan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius, karena selama ini kelompok muda dianggap lebih tahan terhadap penyakit menular. Padahal, gaya hidup menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan terhadap TBC.

“Kerentanan masyarakat Kudus terhadap TBC dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola hidup tidak sehat, kebiasaan merokok, hingga pola makan dan aktivitas harian yang kurang mendukung kesehatan,” bebernya.

Ia mengungkapkan, Dinas Kesehatan juga menyoroti gaya hidup anak muda yang dinilai berisiko. Kebiasaan berkumpul di ruang tertutup dengan ventilasi buruk hingga rendahnya kesadaran menjaga kesehatan turut memicu penyebaran.

Selain itu, lanjutnya, kasus TBC di lingkungan pondok pesantren di sejumlah daerah menjadi perhatian. Salah satunya terjadi di Purbalingga, yang kini menjadi bahan evaluasi bagi Kudus.

“Hal itu menjadi perhatian kami untuk ke depan melakukan skrining ke pesantren. Langkah ini penting untuk mencegah penularan lebih luas,” tuturnya.

Hakam menyampaikan, Dinkes Kudus berencana melakukan skrining langsung ke lebih dari 200 pondok pesantren mulai bulan depan. Upaya ini ditujukan untuk mendeteksi gejala TBC sejak dini di kalangan santri.

“Langkah tersebut sekaligus mendukung target eliminasi TBC nasional pada 2030. Pemerintah daerah akan mengoptimalkan pemeriksaan intensif dan pencegahan berkelanjutan,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER