Kurniawati Rohmah saat menggoreng produk Gethuk Tengu. Foto: Ahmad Rosyidi.
BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan dengan rambut panjang terikat tampak terampil membentuk ubi yang sudah ditumbuk menjadi bulat. Sebelum dibentuk, ubi berwarna ungu itu diberi coklat terlebih dahulu di bagian tengahnya. Setelah itu, adonan itu dibalut dengan tepung panir kemudian ada yang digoreng ditaruh kardus dan ada juga yang dipres tanpa digoreng.
Perempuan itu bernama Kurniawati Rohmah (24), pemilik usaha Gethuk Tengu yang mulai merintis usaha sejak Desember 2019 lalu. Dia menceritakan, ide membuat getuk bermula dari memanfaatkan ubi ungu pemberian orang. Karena jumlahnya banyak, dia bosan jika hanya direbus. Akhirnya ada inisiatif untuk membuat getuk.
Kurniawati Rohmah saat membungkus produk Gethuk Tengu. Foto: Ahmad Rosyidi.
“Awalnya iseng-iseng, dengan ubi pemberian orang itu hasilnya bagus. Terus saya posting di media sosial, malah banyak yang tanya. Pertama nggak niat jual, malah pada tanya-tanya dan ada yang pesan juga,” ungkap perempuan murah senyum itu.
Meski banyak yang tertarik, Nia sapaan akrabnya, mengaku pernah beberapa kali gagal membuat getuk tengu. Hal itu dikarenakan belum bisa memilih jenis ubi yang bagus.
“Pernah beberapa kali gagal, hasilnya tidak maksimal. Ada yang warnanya coklat dan ada yang lembek kurang kenyal. Itu karena saya belum bisa memilih ubi yang bagus. Tapi saya bisa belajar dari kegagalan itu,” terang warga Desa Menawan RT 05 RW 01, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.
Saat ini, dia sudah bisa memilih ubi ungu yang bagus untuk dibuat getuk tengu. Jika ingin mencoba ubi baru, dia tidak mau membeli dengan jumlah banyak lagi, agar tidak rugi banyak, misal tidak layak untuk dijual.
Berjalan kurang lebih sekitar enam bulan, saat ini Nia sudah memiliki dua karyawan dan dua reseller tetap. Selain itu juga ada belasan reseller yang tidak tetap ikut memasarkan produk getuknya.
“Saat ini yang membantu ada dua karyawan. Selain itu juga dibantu adik, ibu dan tante. Akhir-akhir ini saya kesulitan mencari ubi, terutama langganan yang dari luar kota pada kosong. Jadi ini sementara menggunakan stok yang ada,” pungkasnya.
Haji Haryanto berfoto di depan deretan bus miliknya. Foto : Rabu Sipan
BETANEWS.ID, KUDUS – Suara Adzan terdengar berkumandang di masjid garasi PO Haryanto, Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Terlihat beberapa kru armada berbondong – bondong datang ke masjid. Tak ketinggalan Haryanto (61) Owner PO Haryanto ikut datang ke masjid untuk Salat Dzuhur berjemaah.
Seusai salat berjemaah, pria yang akrab disapa Pak Haji itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengaku selama merintis usaha otobus angkutan kota antarprovinsi itu punya jimat. Dengan jimat itulah, segala kerumitan usaha bisa dilaluinya.
“Jimat saya ya itu Mas, doa orang tua saya. Terkhusus doa ibu saya. Tanpa doa beliau tidak mungkin apa yang saya lakukan bisa sukses,” ujar Haryanto kepada betanews.id, Rabu (20/5/2020).
“Bahkan sampai saat ini, saya masih sering minta doa ibu. Saya juga sering menciumi telapak kaki beliau. Tak jarang pula saya menggendong ibuku. Pokoknya ibu saya bicara apa saya patuh dan tidak berani bantah. Takut kualat,” tambahnya.
Selain doa ibu, tambahnya, dalam menjalankan roda usahanya tersebut, selalu minta ridlo kepada Allah. Dengan cara selalu disiplin menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Antara lain dengan cara selalu menjalankan salat lima waktu, salat dhuha dan salat malam. Usai salat, dia mengaku bermunajat kepada Sang Kuasa agar usahanya selalu lancar dan berkah.
“Untuk salat lima waktu itu, saya juga menekankan pada semua kru PO Haryanto. Semua kru wajib jalankan salat lima waktu. Bus malam juga harus berhenti di masjid saat masuk Salat Subuh. Agar penumpang dan kru bisa salat berjemaah,” jelas suami dari Nurhana ini.
Pria yang menggemari wayang kulit itu mengatakan, dirinya juga suka bersilaturahmi ke ulama dan kiai. Sering juga mendatangi persemayaman para wali. Hal itu dilakukan agar dapat berkah dan barokah para Wali Allah.
Dia menuturkan, selain itu semua, yang tak kalah penting adalah sedekah. Dengan bersedekah, rezeki akan dilancarkan oleh Allah. Jangan pernah khawatir saat sedekah harta akan berkurang. Yang ada, harta yang dibuat sedekah itu akan diganti berkali lipat oleh Allah.
“Kalkulator Allah itu beda Mas sama kalkulator manusia. Kalkulator manusia harta dikurangi ya berkurang. Tapi kalkulator Allah itu, saat manusia sudi mengurangi hartanya untuk sodakoh, maka Allah akan menggantinya lebih,” jelasnya.
Oleh sebab itu, kata dia, setahun sekali secara rutin mengadakan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum duafa. Bahkan, dia mengaku punya anak asuh yatim piatu sekitar 3 ribu orang. Selain sedakah dia juga beramal jariyah dengan membangun beberapa masjid di beberapa wilayah.
“Lha itu Mas, semua rahasia sukses saya dalam menjalankan bisnis otobus kami. Tentu dengan manajemen bagus dan layanan yang memuaskan para pelanggan kami. Semoga saja bus Haryanto makin berkembang dan sukses,” harapnya.
Usai keluar dari lapas, kini Wawan tekuni kerajinan dari stik es krim. Foto : Ahmad Rosyidi
BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah miniatur perahu terlihat di depan seorang pria dengan kaki diamputasi. Tangannya tampak terampil menyusun stik es krim. Dia tak lain adalah Wantoro (26), mantan narapidana yang saat ini menjadi perajin miniatur perahu.
Dia sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang pengalaman kelamnya. Dirinya pernah menjadi begal dan divonis selama 2,5 tahun. Semenjak Januari 2018 dirinya dibui, kemudian keluar pada Desember 2019 karena mendapat remisi.
Wawan begitu akrab disapa, membagikan modus-modus begal. Biasanya begal akan mengikuti dari belakang, jika merasa ada yang mengikuti lebih baik anda berhenti. Selain itu juga ada modus lowongan kerja. Jadi membuka lowongan kerja melalui media sosial.
“Modus lowongan kerja ini paling sering menargetkan perempuan. Setelah diajak ketemu, kemudian diajak ke lokasi yang sepi dan dibegal. Saat ini yang lagi trend modus menjadi pacar, kenalan lewat medsos kemudian didekati hingga jadi pacar. Biasanya akan diperkosa dan dibegal,” beber bapak dua anak itu.
Saat ini, dia mengajak rekan-rekannya untuk menyudahi pekerjaan tersebut. Lebih baik bekerja yang lain, meski penghasilan sedikit yang penting berkah. Menjadi begal, selain hidupnya tidak tenang, imbas di belakang juga menyakitkan.
“Sekarang prinsip saya berubah. Tidak perlu tenar, tidak perlu sangar, yang penting keluarga kecukupan sandang pangan,” ungkap warga Dukuh Pacikaran, RT 02 RW 06, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus itu, belum lama ini.
Wawan melanjutkan cerita, jika dirinya sudah bercerai dengan istrinya. Saat ini, anak keduanya diasuh oleh kakaknya, dan anak kepertama diasuh neneknya. Dia ingin memperbaiki hidup dengan merintis usaha kerajinan miniatur tersebut.
“Saya menikah di usia 19 tahun, dan sekarang sudah punya dua anak. Anak saya masih kecil-kecil, yang pertama usia 4,5 tahun dan yang kedua usia 3 tahun,” pungkasnya.
Para pemudik dari luar daerah tiba di Kudus. Foto: Imam Arwindra
BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat terjadi kebocoran pemudik cukup besar. Lebih dari 600 ribu waga Jawa Tengah yang ada di Jabodetabek nekat mudik. Mereka yang terlanjur mudik diminta untuk tetap di kampung halaman, karena Pemprov telah menyiapkan pelatihan dan modal usaha.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, masyarakat yang sudah terlanjur mudik untuk tetap stay di Jawa Tengah. Dalam beberapa kesempatan, Ganjar menegaskan bahwa pihaknya sudah merencanakan program pemberdayaan bagi masyarakat terdampak.
Menurutnya, mereka yang tidak bisa bekerja akan diberikan pelatihan, modal usaha hingga pemasaran sesuai potensi masing-masing. Dirinya bahkan sudah bekerjasama dengan sejumlah e-commerce raksasa nasional untuk menyukseskan program itu.
“Lebih baik sekarang yang sudah terlanjur mudik, tetap di daerah saja. Toh kemarin meski dilarang, anda juga mbolos dan nekat. Saya ingatkan hati-hati, jangan nekat (kembali ke Jakarta),” tutupnya.
Sekadar diketahui, meski pemerintah melarang mudik, banyak warga Jawa Tengah yang bekerja di Jakarta maupun kota besar lain seperti Bodetabek nekat untuk mudik. Mereka menggunakan berbagai cara agar bisa berlebaran di kampung halaman masing-masing.
Ganjar Pranowo meminta masyarakat yang sudah terlanjur mudik untuk tidak nekat berangkat ke Jakarta. Kecuali, mereka yang telah memiliki izin dari tempat kerjanya masing-masing.
“Jangan ke Jakarta, wong sudah dikasih tahu kok. Kecuali mereka yang bekerjanya di kantoran, pasti pulannya kemarin kan pakai izin,” kata Ganjar saat ditemui di rumah dinasnya beberapa waktu lalu.
Ganjar menyarankan, karena ada aturan pengetatan itu, maka masyarakat tidak perlu balik ke Jakarta. Apalagi lanjut dia, Jakarta merupakan salah satu episentrum penyebaran covid-19.
“Ketika disuatu tempat terjadi wabah, janganlah kamu mendekati daerah wabah itu. Itu saja rumusnya. Yang nekat, ya anda akan mendapatkan kondisi yang tidak nyaman,” tegasnya.
BETANEWS.ID, KUDUS – Di pojok garasi Perusahaan Otobus (PO) Haryanto yang berada di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tampak sebuah ruangan berpintu kaca. Di dalamnya, terlihat seorang pria mengenakan baret TNI sedang duduk dan mengobrol dengan seseorang. Pria tersebut yakni Haryanto pemilik PO Haryanto.
Haji Haryanto, Pemilik PO Bus Haryanto. Foto : Rabu Sipan
Seusuai mengobrol, dengan ramah Owner Bus Haryanto tersebut menyambut hangat tim betanews.id. Dia pun berkenan untuk berbagi kisah hidupnya serta pahit manis merintis usaha angkutan darat itu. Dia mengatakan, lahir pada tahun 1959 dari keluarga dengan ekonomi serba kekurangan.
Ibunya bernama Sutami, seorang pedagang di pasar. Sedangkan bapaknya adalah Muhammad Sipan, seorang buruh serabutan. Haryanto sendiri merupakan anak ke enam dari sembilan bersaudara. Karena himpitan ekonomi, Haryanto kecil tahu pasti bagaimana perjuangan kedua orang tuanya membesarkan anak – anaknya.
“Karena keadaan yang susah itu. Setiap saya akan berangkat dan sepulang sekolah dasar (SD), aku nyari rumput dulu. Rumput yang saya dapat itu bukan untuk makan ternak kami, tapi saya tukar dengan nasi. Itu saya lakukan untuk bantu orang tua, agar semua saudaraku kebagian nasi untuk dimakan,” kenang Haryanto, Kamis (20/5/2020).
Dia menuturkan, meski anak ke enam, ia adalah anak laki – laki pertama di keluarga. Sebab itu, kata dia, dari kecil sudah ikut kerja keras untuk bantu ekonomi keluarga. Setelah lulus SD, pada tahun 1974 Haryanto masuk sekolah teknik negeri (STN). Sekolah setara SMP pada masa sekarang.
“Saat sekolah di sekolah teknik itu, setiap pulang sekolah saya juga tetap kerja. Kadang nyari rumput. Terkadang kerja belah batu kris. Saya juga pernah jualan es lilin keliling. Bawa termos dan alat teloletnya,” bebernya.
Hasil kerja dan jualan es, tuturnya, semua diberikan kepada orang tuanya untuk kebutuhan keluarga. Usai lulus sekolah teknik negeri (STN) di tahun 1977, dia mengaku harus mengurungkan niatnya untuk meraih mimpinya jadi TNI. Lagi – lagi penyebabnya adalah himpitan ekonomi keluarga.
“Saya pun kemudian kerja serabutan. Pernah kerja jadi kernet buruh bangunan. Pernah kerja jadi cleaning servis hotel di Kudus. Kerja jadi buruh di perusahaan rokok juga pernah. Pokoknya dulu itu, kerja apa saja saya lakukan yang penting halal dan bisa bantu orang tua,” ungkapnya.
Hingga pada tahun 1979, lanjutnya, ia mendaftar menjadi Tentara Nasional Indonesi (TNI) dan lolos. Setelah diterima, Haryanto ditugaskan di Batalyon Arteri Pertahanan Udara Ringan 01 Kostrad di Tangerang. Saat itu, dia mengaku bangga dan bahagia bisa jadi seorang prajurit seperti yang dicita – citakan.
“Setahun kemudian saya dapat beasiswa sekolah di Bandung, untuk dilatih jadi pengemudi kendaraan yang khusus mengangkut kendaraan senjata berat. Di antaranya tank,” tuturnya.
Pada tahun 1982, lanjutnya, ia mendapat kenaikan pangkat yang mulanya prajurit dua jadi perajurit satu. Di situ dia nekat mempersunting dara pujaan hatinya bernama Suheni. Setelah menikah kata dia, dengan gaji hanya Rp 18 ribu sebulan dan jatah beras 16 Kilogram saat itu, ia memboyong istrinya hidup mengontrak.
“Karena penghasilan pas – pasan Mas, saya mengontrak bekas kandang ayam untuk kami tinggali. Di saat itu, harta saya selain keluarga ya jam dinding saja mas,” kenangnya.
Setelah menikah setahun kemudian, dia punya anak. Dengan gaji pas – pasan ia pun memutar otak agar punya penghasilan tambahan. Hingga Haryanto memutuskan setiap pulang dinas, ia kerja jadi sopir angkutan kota.
“Sepulang dinas, saya jadi sopir angkot sampai malam mas. Setidaknya saya bisa bawa pulang uang Rp 10 ribu sehari. Sejak punya kerja sampingan itu, saya bisa mengontrak ke tempat yang lebih layak,” ujarnya
Pada tahun 1984 anak ke duanya lahir. Dia mengaku, setiap pulang dinas dan kerja sampingan jadi sopir angkot, selalu menangis saat lihat kedua anaknya tidur. Dia kepikiran nasib masa depan anaknya kelak jika kehidupannya seperti itu terus.
“Pada tahun yang sama, saya nekat beli mobil angkot bekas. Dengan uang Rp 750 ribu yang saya jadikan uang muka,” bebernya.
Dalam setahun, mobil angkotnya itu sudah lunas. Dan di tahun berikutnya, Haryanto beli angkot lagi secara kredit. Di tahun 1987, dia mengaku ada rezeki dan mengajak istri dan ibundanya untuk haji. Kata dia, sepulang dari haji, bisnis angkotnya berkembang pesat. Bahkan dia juga punya showroom mobil angkot juga.
Pada tahun 1998, Indonesia krisis moneter. Pada saat itu, banyak angkot yang dijual murah. Saat itu dia membeli banyak mobil angkutan kota. Setelah moneter lewat dan ekonomi membaik pada tahun 2000, dia memutuskan pensiun dini dengan pangkat kopral kepala. Di tahun yang sama, sebagian besar angkotnya dijual untuk dibelikan lima bus trayek Cikarang – Tangerang.
Namun sayang, usaha bus trayek tersebut tidak jalan. Kemudian busnya dialihkan trayek Jakarta – Kudus dan sekitarnya. Menurutnya, saat itu respon masyarakat bagus. Banyak masyarakat yang naik Bus Haryanto.
Dia pun bersyukur, usaha PO Bus Haryanto selalu berkembang hingga sekarang. Kata dia, PO Haryanto sekarang punya sekitar 240 armada yang melayani berbagai trayek tujuan Jabotabek, Bandung, sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Serta juga ada armada pariwisata.
“Alhamdulillah usaha otobus saya diberi kelancaran oleh Allah. Semoga makin maju dan berkembang. Pokoknya saya bersyukur, terlahir dari keluarga tidak mampu hingga bisa jadi seperti sekarang ini,” kata Haryanto sambil menatap foto ibunya.
Kurniawati Rohmah saat membungkus produk Gethuk Tengu. Foto: Ahmad Rosyidi.
BETANEWS.ID, KUDUS – Asap tampak keluar dari sebuah tungku yang berada di samping rumah di Desa Menawan RT 05 RW 01, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Ubi berwarna unggu terlihat memenuhi panci diatas tungku tersebut. Seorang perempuan terlihat meniup dan memasukkan kayu untuk membesarkan api. Dia tak lain adalah Kurniawati Rohmah (24), pemilik usaha Gethuk Tengu.
Sambil mengusap matanya yang berair karena terkena asap, Nia sapaan akrabnya, mengungkapkan, jika getuk buatannya bisa tahan hingga satu bulan. Karena tahan lama itulah, saat ini dia mendapat banyak pesanan dari pelanggan. Menurutnya, pesanan tersebut akan dijadikan menu suguhan saat Lebaran.
Kurniawati Rohmah saat merebus telo ungu yang jadi bahan utama produk Gethuk Tengu. Foto: Ahmad Rosyidi.
“Getuk ini bisa tahan hingga 30 hari. Tapi harus membeli getuk yang belum digoreng. Selain itu, cara penyimpanan juga menentukan ketahanannya. Yang penting kemasan jangan dibuka dan harus ditaruh di freezer. Jika sudah dibuka paling bisa tahan sekitar 7 hari,” ungkapnya, beberapa hari yang lalu.
Anak pertama dari empat bersaudara itu menambahkan, saat ini Produk Gethuk Tengu memiliki lima varian rasa, yaitu original, coklat, keju, gula aren dan gula pasir.
“Semua harganya sama. Satu bungkus isi 10 harganya Rp 12 ribu. Jadi terserah konsumen ingin beli yang rasa apa. Kebanyakan saya hanya melayani pesanan, apa lagi menjelang lebaran,” terangnya sambil menumbuk ubi setelah direbus.
Dia melanjutkan, saat ini dia sudah memiliki dua reseller tetap. Sedangkan yang tidak tetap ada sekitar 15 orang. Tak hanya itu, dalam enam bulan ini, getuk buatan Nia sudah dipasarkan di daerah Kudus, Demak dan Jepara. Meski daerah Pati sudah banyak yang tanya, dia masih terkendala pengiriman ke sana.
Pada awal 2020, produksi Nia dalam sehari sekitar 600 buah atau sekitar 30 hingga 40 kilogram per hari. Sedangkan mulai pertengahan Maret 2020, penjualan mulai menurun. Sehingga dia mengurangi jumlah produksi menjadi 200 hingga 300 buah per hari.
“Saya akan menutup orderan mulai tanggal 20 Mei dan akan membukanya kembali mulai tanggal 28 Mei 2020,” tutup Nia.
BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menyatakan new normal atau kenormalan baru belum bisa diterapkan dalam waktu dekat. Syarat yang harus terpenuhi sebelum penerapan new normal yakni grafik penularan Covid-19 harus menurun hingga menyentuh batas bawah.
“Kita belum akan menerapkan kenormalan baru dalam waktu pendek. Kalau melihat grafiknya masih tinggi, ini tentu belum bisa diterapkan. Grafiknya (penularan Covid-19) harus turun dulu hingga hampir menyentuh batas bawah,” ujar Ganjar beberapa waktu lalu.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Foto: Ist
Meski begitu, Ganjar meminta seluruh lapisan masyarakat dan instansi pemerintahan menyiapkan diri untuk skenario new normal. Dia menegaskan seluruh perkantoran dinas pada jajarannya mulai melakukan penataan pekan ini. Selain instansi pemerintah, dia juga menginstruksikan agar swasta juga menyiapkannya, termasuk pabrik, pasar dan swalayan.
“Instansi pemerintah harus memberi contoh lebih dulu. Maka mulai Selasa (26/5) diwajibkan untuk melakukan penataan, sebelum kenormalan baru benar-benar diterapkan untuk semua lapisan masyarakat. Karena ini belum bisa diterakpan, kita latihan dulu,” ujar Ganjar.
Dia menjelaskan, seluruh layanan umum harus tetap mengikuti protokol kesehatan. Instansi yang berhubungan dengan masyarakat secara langsung harus ada tabir pembatasnya. Untuk layanan back office agar mengtur jarak agar tidak terlalu dekat.
Untuk instansi swasta, Ganjar menginstruksikan agar menyesuaikan diri. Meski begitu, dia menganggap penerapan protokol kesehatan ini telah banyak diterapkan instansi swasta. Protokol kesehatan ini telah banyak diterapkan di pabrik, pasar, dan swalayan.
Di Kudus kemarin sudah ada yang menerapkan, maka beberapa pabrik juga kita minta untuk melakukan itu agar bisa ditiru. Pasar-pasar di Salatiga juga telah lebih dulu,” katanya.
Kalau penerapan di pabrik, pasar maupun mal sudah menjadi pengetahuan umum, mulai visualnya, bentuk serta polanya, menurut Ganjar dengan sendirinya semua akan menemukan satu formula yang bagus.
Bahkan khusus untuk supermarket dan mal, Ganjar telah menginstruksikan agar Bupati dan Walikota lebih ketat menerapkan aturan protokol kesehatan. Ganjar menyebut saat ini telah memasuki masa-masa kritis, terutama saat Ramadan dan lebaran kemarin dengan banyaknya masyarakat yang belanja.
“Kita sudah minta kalau tidak bisa taat tutup. Mudah-mudahan pasca lebaran ini sudah agak reda sehingga bisa diatur lagi. Kita minta pengusaha tolong semuanya diatur dengan baik,” tandasnya.
Agar aturan protokol kesehatan itu berjalan optimal, Ganjar mengatakan agar seluruh daerah menerjunkan seluruh potensi penegak peraturan, dari Satpol-PP, Satpam sampai peran pengawasan masyarakat. Terlebih beberapa daerah telah menerbitkan regulasi, dari Peraturan Walikota maupun Peraturan Daerah.
BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria berambut gondrong digelung tampak duduk menghadapi lukisan. Tangan kanan pria tersebut memegangi kuas lukis dan tangan kirinya pegang telepon pintar. Terlihat setelah melihat smartphone, dia kemudian melanjutkan melukis. Pria tersebut yakni Muhammad Turmudzi (46), seorang seniman lukis.
Setelah menyapukan kuas yang ada tintanya ke lukisan yang berbentuk seorang pria tua itu, Muhammad Turmudzi diam sejenak mengamati lukisannya. Tak lama berselag ia pun melanjutkan aktivitas melukisnya. Menurutnya, hasik karya seni itu bisa dibilang amal jariyah, termasuk lukisan.
“Saya ingin lukisanku itu bisa dinikmati orang lain. Saat orang lain bahagia dengan memandangi lukisanku. Saya yakin itu akan jadi ladang pahala kelak, dan hal itu juga berlaku sebaliknya. Oleh sebab itu saya tidak berani sembrono,” ujar pria yang biasa disapa Turmudzi kepada betanews.id, Selasa (19/5/2020).
Amal jariyah sendiri, kata dia, merupakan amal yang tidak akan putus, meskipun oleh kematian. Saat seorang pelukis sudah tiada, tapi hasil lukisannya masih ada dan bisa dinikmati orang lain, bahkan bisa membuatnya bahagia, maka sang pelukis di alam sana akan dapat pahala, karena menyenangkan orang lain.
Namun jika lukisan atau karya seninya memberi efek buruk pada orang lain, Sang pembuat karya pun akan dapat dosa juga. “Itu pendapat pribadi saya lho Mas. Kalau orang lain tidak tahu saya,” ungkap pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut.
Pria yang merupakan warga Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu mengatakan, mulai gemar melukis sejak kecil. Menurutnya, dengan melukis ia mampu menemukan kesenangan maupun kebahagiaan. Dengan melukis juga dia bisa mencurahkan isi hatinya tanpa harus berkata pada orang lain.
“Mungkin karena itu, saya lebih menyukai melukis lukisan gaya ekspresionisme,” tutur pria yang sempat belajar melukis di Kota Gudeg Jogjakarta.
Gaya lukisan itu banyak, lanjutnya, di antaranya realisme, naturalisme, ekspresionisme, impresionisme, abstrak, dekoratife dan lain sebagainya. Dari sekian banyak gaya lukisan, dia mengaku lebih senang melukis lukisan gaya ekspresionisme.
“Lukisan gaya ekpresionisme menurut saya itu lebih mampu menyampaikan perasaan dengan cepat, dan tidak tertunda,” bebernya sambil menunjukan hasil lukisannya yang bergaya ekspresionisme.
Dia mengatakan, meski lebih menyukai melukis bergaya ekspresionisme, namun ia tak menolak jika mendapatkan order untuk melukis gaya lain. Dia pun mengaku tak mematok harga mahal untuk hasil karya seninya tersebut.
“Harga jasa lukis saya tidak mahal Mas. Ada yang Rp 150 ribu. Ada juga yang sampai Rp 1,5 juta. Harga itu tergantung ukuran,” rincinya.
Untuk pelanggan kata dia, selama ini orang sekitar Kudus, Jepara, Pati, Demak. Bahkan beberapa kali ada pesanan dari luar pulau. Antara lain, Batam, Riau, serta Kalimantan.
Dia berharap, karya seni lukisnya itu mampu bermanfaat bagi orang lain serta bisa membahagiakan orang ketika melihat lukisannya. Sehingga, hal itu bisa jadi amal jariyah untuknya.
“Semoga saja lukisan saya itu bermanfaat. Serta mampu membuat orang bahagia dan senang saat lihat lukisan saya. Biar bisa jadi amal jariyah untuk saya,” harapnya.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan bantuan kepada pelaku UMKM. Foto: Ist
BETANEWS.ID, KAB. SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggelontorkan anggararan sebesar Rp 38 miliar di tengah pandemi Covid-19. Dana tersebut digunakan untuk membelikan bahan baku untuk pelaku UMKM yang bergerak di bidang makanan.
“Bantuan ini diberikan kepada pelaku UMKM di Jateng yang bergerak di bidang tata boga (makanan). Bantuan ini diberikan agar UMKM di Jateng tetap eksis di tengah pandemi (Covid-19),” ujar Ganjar beberapa waktu lalu.
Ganjar mengatakan, pada tahap pertama anggaran digelontorkan Rp 9 miliar. Anggaran tersebut telah dibelanjakan untuk pembelian bahan baku dan diberikan kepada sebanyak 3.691 pelaku UMKM. Secara simbolis, bantuan telah diserahkan kepada tiga pelaku UMKM di Tengaran Kabupaten Semarang, Jumat (22/5/2020).
Ganjar berikan bantuan bahan baku untuk pelaku UMKM. Foto: Ist
Pelaku UMKM, kata Ganjar, diberikan dalam bantuan yang berbeda-beda. Bantuan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan jumlah produksi para pelaku UMKM. Bentuk bantuan tersebut yakni tepi, gula, telur, dan kebutuhan lainnya.
“Mereka (para pelaku UKM) yang agak lesu, penjualan dan omzet menurun akibat covid-19 ini kami suntik dengan peralatan dan bantuan bahan baku agar menjadi modal mereka bisa berdagang lagi,” kata Ganjar.
Meskipun omzetnya tidak seperti sebelumnya, Ganjar ingin para pelaku UMKM tetap berjalan dan ada omzetnya. Mereka diminta harus bisa bertahan hidup.
Setelah pemberian stimulus terhadap para pelaku UKM itu, Ganjar menerangkan sudah menyiapkan langkah selanjutnya. Pelatihan, penyediaan modal serta kerjasama dengan e-commerce raksasa nasional diharapkan mampu membangkitkan UKM Jateng.
“Pelatihan akan terus kami genjot. Kamu juga sudah komunikasi dengan gojek, bukalapak, blibli dan tokopedia bahkan facebook untuk membantu. Mereka sudah menyatakan siap kerjasama dan membantu UKM Jateng agar bisa masuk cara bisnis baru yang serba digital,” terangnya.
Terkait bantuan permodalan, dirinya menegaskan sudah menyusun skime pembiayaan. Bank Jateng, BPR BKK sudah disiapkan agar bisa ikut membantu pembiayaan UKM.
“Termasuk dari Baznas dan lainnya bisa jadi modal. Hari ini Baznas membantu Rp300 juta untuk 100 penerma manfaat. Ini bisa jadi modal, jadi tidak hanya mengandalkan APBD, tapi dari sumber lainnya,” tutupnya.
Sementara itu, bantuan bahan baku dari Pemprov Jateng disambut atusias oleh para pelaku UKM. Mereka yang sedang mengalami kesulitan akibat covid-19, bisa terbantu dengan adanya bantuan ini.
“Pesanan sekarang menurun banyak, biasanya pesanan nastar setiap lebaran ini bisa tiga kwintal, sekarang menurun drastis,” kata Sri Ambarwati,50, pelaku UKM kue basah di Tengaran.
Kondisi itu membuatnya kesulitan untuk berproduksi. Dengan suntikan bantuan bahan baku itu, diharapkan produksinya akan tetap berjalan. “Alhamdulillah, bisa mengurangi pengeluaran untuk pembelian bahan baku,” tutupnya.
Hal senada disampaikan Sumani,46, pelaku UKM di bidang kue kering. Di tengah omset yang berkurang karena corona, bantuan bahan baku bisa sangat membantu memperkecil pengeluaran.
“Puji Tuhan, bantuan ini akan saya kembangkan untuk membuat kue dan dijual kepada pembeli. Mudah-mudahan jadi berkat,” ucap perempuan yang menekuni bisnis kue sejak 15 tahun lalu itu.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) berbincang dengan pengunjung mal, Selasa (26/5/2020). Foto: Ist
BETANEWS.ID, SEMARANG – Pada Lebaran ketiga hari ini (26/5/2020) Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke mal dan pusat perbelanjaan di Semarang. Dalam kegiatannya itu, Ganjar menegur beberapa pengunjung yang tidak memakai masker secara benar.
“Pakai masker yang benar. Jangan anggap sepele virus ini. Masker ini fungsinya untuk melindungi dari droplet teman anda. Itu yang dekat-dekat, ayo jaga jarak,” tegur Ganjar kepada pengunjung CCiputra Mall Semarang yang menggantung masker di leher.
Dalam sidaknya itu, Ganjar melihat mal masih sepi pengunjung. Banyak gerai di mal tersebut juga masih tutup. Meski begitu, pihak mal telah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pengungjung yang datang dicek suhu tubuhnya, diwajibkan mencuci tangan di tempat yang telah disediakan, dan ada pemberlakuan jaga jarak.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melakukan sidak pasca-Lebaran. Foto: Ist
Ganjar juga melihat para petugas satpam, penjaga pelayanan depan, kasir hingga penjaga gerai juga sudah melengkapi diri dengan masker dan penutup wajah. Ada pula beberapa gerai yang memasang tirai berupa mika atau kaca penghalang di depan pelayanan dan toko masing-masing sebagai pelindung.
“Saya senang karena hampir semuanya mulai menerapkan normal baru. Beberapa tempat sdah menyiapkan tempat antrian agar jaga jarak, sudah menggunakan face shield, kaos tangan dan lainnya. Bahkan di sejumlah toko sudah membuat tabir agar tidak berhubungan langsung dengan masyarakat,” kata Ganjar.
Pada hari yang sama, Ganjar juga mendatangi tempat-tempat pelayanan publik. Dengan mengenakan masker serta berkacamata, Ganjar berkeliling ke beberapa kantor pelayanan seperti Samsat III online Hanoman dan kantor DPMPTSP Jateng. Ia juga mengunjugi kantor bank dan blusukan ke pusat perbelanjaan seperti Paragon Mall, Mall Ciputra Simpanglima Semarang hingga Mall Matahari Semarang.
Di tempat-tempat yang dikunjunginya itu, Ganjar melihat praktik normal baru sudah mulai berjalan. Di Samsat III online Hanoman, semua pengunjung yang datang wajib pakai masker, dicek suhu tubuhnya menggunakan thermal gun oleh petugas keamanan. Saat antre di dalam ruangan, masyarakat juga tertib duduk di kursi yang sudah diatur sedemikian rupa dan tidak melanggar dengan menduduki kursi bergambar tanda silang.
Di bagian pelayanan Samsat, Ganjar juga melihat petugas sudah memasang tirai mika di depan pelayanan masing-masing. Tirai itu diperuntukkan untuk menjaga agar petugas dan masyarakat terlindungi.
Mau tidak mau lanjut dia, cara normal baru itu harus dilakukan di tengah pandemi saat ini. Sehingga, semua pelayanan bisa tetap berjalan dan ekonomi tetap menggelinding.
Meski tidak mudah, namun Ganjar meminta agar cara hidup normal baru itu harus dimulai saat ini. Semua harus berlatih untuk menjalani kehidupan baru itu.
Paryanti sedang membungkus Tape Kuwawur untuk dijual. Foto: Titis Widjayanti.
BETANEWS.ID, PATI – Asap tampak mengepul di dapur rumah milik Regi di Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Selasa (19/5/2020), siang itu. Beberapa kali ia terlihat membuka tutup dandang untuk memastikan singkong yang ia masak sudah matang dan empuk.
Di sisi lain, seorang pria tampak menata singkong di sebuah wadah dari anyaman bambu yang digunakan untuk meniriskan. Dia adalah Miyono, adik Regi yang setiap hari ikut membantu membuat Tape Kuwawur yang legendaris itu.
Paryanti sedang membuat Tape Kuwawur di rumahnya. Foto: Titis Widjayanti.
Regi mengaku sudah dari kecil membantu orang tuanya membuat tape. Namun, ia sempat vakum untuk fokus bertani dan mulai aktif kembali membuat oleh-oleh khas desanya itu sejak 2001.
Setiap harinya, ia menjual tape singkong di Pasar Bitingan Kudus. Sedangkan sang adik akan menjualnya dengan berkeliling di sekitar Kota Kudus.
“Kalau sehari biasanya sekitar 50 kilogram habis. Karena selain di pasar, juga dibantu jual keliling sama adik. Kelilingnya sekitar Kota Kudus juga. Dan nggak jual ngecer. Kami langsung per kilogram. Biasanya per kilogram kami jual Rp 10 ribu,” ungkap dia.
Regi dan Miyono lantas menjelaskan dan mempraktikkan cara mengolah singkong hingga menjadi Tape Kuwawur di tempatnya. Dikatakan Regi, singkong yang telah dikupas dan dipotong langsung dicuci. Pencucian itu meliputi perendaman di ember, lalu dibilas beberapa kali dengan air bersih. Selanjutnya, singkong dimasukkan ke dandang besar untuk direbus.
“Kalau untuk lama perebusan, nggak tentu. Soalnya tergantung singkongnya. Kalau singkongnya tua, ya berarti agak lama. Kalau singkongnya yang bagus, ya cepat. Pokoknya kalau sudah agak lunak, berarti sudah matang,” katanya.
Setelah matang, lanjut Regi, singkong tersebut diangkat dan ditaruh di wadah berlubang dari anyaman bambu untuk ditiriskan. Penirisan tersebut selain untuk menghilangkan air rebusan juga untuk menunggu singkong menjadi dingin.
Sambil menunggu singkong dingin, Regi selanjutnya menumbuk ragi dan pemanis untuk dicampurkan ke singkong hingga merata. Baru setelah itu, singkong dipindah ke keranjang bambu yang sudah diberi alas karung dan daun pisang untuk diungkep atau masuk proses fermentasi.
“Untuk raginya sendiri biasanya per 50 butir buat 50 kilogram singkong. Itu perbandingannya. Proses fermentasinya sendiri biasanya sekitar dua hari. Jadi diungkep di daun pisang di keranjang-keranjang bambu,” tutup dia.
Kayla Althafunisya Sismaputri (tengah) model cilik asal Kudus. Foto : Ist
BETANEWS.ID, KUDUS – Deretan piala dan piagam kejuaraan modeling berbagai kategori terlihat rapi di ruang tamu rumah orang tua Kayla Althafunisya Sismaputri (9). Kayla, adalah model cilik asal Kudus yang tahun ini menjadi salah satu perwakilan Indonesia di ajang kejuaraan modeling tingkat Internasional. Potensi yang dimiliki gadis cilik itu, ternyata tidak lepas dari latar belakang orang tua serta dukungan mereka kepada sang anak.
Hal itu dikatakan Ike Lyna Rakhmawati (39), Ibunda dari Kayla. Perempuan asli Semarang itu, sewaktu muda katanya juga menggeluti bidang modeling. Dikatakannya, sedari kecil sang anak selalu bertanya mengenai piala-piala yang didapatkan ibunya. Hingga akhirnya jalur modeling juga mulai digemari oleh sang anak. Pilihan tersebut akhirnya selalu didukung oleh Ike dan suami, hingga Kayla menyabet kejuaraan berkali-kali.
“Kalau saya dulu memang pernah di dunia modeling. Awalnya karena eyangnya Kayla kan desainer, jadi untuk model baju-bajunya sendiri itu saya. Terus akhirnya saya menggeluti modeling. Sempat beberapa kali menyabet juara juga. Terus kan piala-pialanya ada yang saya bawa ke sini. Nah, Kayla ini sering nanya tentang piala-piala itu. Terus akhirnya dia mulai suka berlenggak-lenggok, terus pingin seperti saya. Begitu katanya,” papar Ike, Sabtu (16/5/2020).
Ia mengatakan, jika sempat mengira Kayla lebih cocok di bidang musik. Sehingga sejak kecil diikutkan les musik, lebih tepatnya orgen. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, bakat modeling di diri Kayla mulai nampak. Buktinya, di beberapa ajang perlombaan model dapat dijuarai oleh sang anak. Setelah itu, baru para kelas 3 menjelang kelas 4 sekolah dasar, ia mengarahkan Kayla untuk ikut kelas modeling di Studio 5.
“Dulu sering nangis Kayla saat awal-awal ikut kelas. Tapi lama-lama memang sudah mulai pede dan berani. Mulai memfokuskan dari sejak awal-awal ikut lomba di kejuaraan model yang biasa. Ya di kejuaraan yang tidak terlalu tinggi. Terus kok sering juara, akhirnya ya kami ikutkan. Sebelumnya memang kami sempat memfokuskan dia di sekolah musik, jadi dia juga sedikit-sedikit bisa main orgen,” kata Ike.
Selain latar belakang beliau, ternyata eyang Kayla sendiri merupakan guru busana. Sehingga ia mengira bahwa bakat dan potensi sang anak turun dari mereka. Bahkan saat ajang terakhir di Indonesian Face Model 2020, Ike mengatakan, jika salah satu kostum dibuat oleh dirinya sendiri. Sedangkan kostum batik, dibuat oleh eyang Kayla yang juga di desain oleh Ike.
Maryono sedang menyelesaikan pesanan furnitur di tempat usahanya. Foto: Rabu Sipan.
BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin gerinda terdengar di rumah kayu yang berada di tepi Jalan Sudimoro, Desa Karang Malang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Senin (18/5/2020). Tampak mesin tersebut dikendalikan pria paruh baya yang mengenakan masker kain putih. Pria tersebut adalah Maryono (53), pemilik usaha Mebel Jati Belanda.
Dia menuturkan, mulai usaha mebel jati Belanda sejak 2015. Sebelumnya, dia pernah punya usaha rosok di tempat yang sama, tapi bangkrut akibat sepi dan kekurangan modal. Padahal, usaha barang-barang bekas tak terpakai itu sempat berjalan selama lima tahun.
Maryono sedang menyelesaikan pesanan furnitur di tempat usahanya. Foto: Rabu Sipan.
“Karena kekurangan modal jadi nggak bisa diputar uangnya. Hingga usaha rosokku bangkrut. Saya pun berinisiatif buka usaha lainnya yakni jualan palet kayu Belanda,” ujar warga Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus itu.
Setelah gulung tikar, lanjutnya, dengan sisa uang yang ada, Maryono beralih usaha jualan kayu dan palet jati Belanda. Dari situ ada beberapa pembeli yang menanyakan perabot rumah tangga berbahan jati Belanda, bahkan langsung pesan.
Setelah dapat pesanan tersebut, ia pun kemudian cari tukang kayu untuk mengerjakannya. Dia pun bersyukur, produknya setelah jadi dianggap bagus dan pemesannya sangat puas dengan hasilnya.
“Saat itu ada yang pesan meja dan kursi untuk kafe. Saya pun langsung mengiyakan saja. Meskipun saya tidak bisa membuat sendiri meja dan kursi tersebut,” ujarnya sambil melanjutkan mengamplas.
Setelah usahanya berkembang, saat ini dia bisa menerima pesanan aneka perabot rumah tangga berbahan kayu jati Belanda. Antara lain, meja, kursi, lemari, tempat tidur, bangku serta interior kafe.
“Harga sangat terjangkau dan bersaing. Hasilnya dijamin bagus dan kokoh,” ungkap Maryono.
Selain itu, dia juga menjual kayu papan jati Belanda dengan harga Rp 5 ribu per batang dan Rp 75 ribu untuk harga satu palet. Dia mengaku, penjualan kayu jati Belanda dan palet lumayan laris. Setiap dapat kiriman satu truk kayu jenis itu, biasanya habis dalam waktu dua pekan.
“Mebelnya juga lancar pesanannya. Setiap pekan minimal dua orang yang pesan. Dan biasanya mereka itu pesan beberapa perabot,” tutupnya.
Regi sedang membuat Tape Kuwawur di rumahnya. Foto: Titis Widjayanti.
BETANEWS.ID, PATI – Tanaman singkong tampak menghampar luas saat memasuki Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Luasnya ladang yang masih terjaga kesuburannya itulah yang menjadi salah satu alasan warga untuk membuat tape singkong. Pekerjaan itu sudah turun menurun dan menjadi salah satu pekerjaan utama warga Kuwawur selain bertani.
Salah seorang pembuat tape singkong Paryanti mengatakan, selain menjadi buruh tani, setiap hari ia membuat tape untuk dibawa ke Pasar Sukolilo. Di sana, ia sudah mempunyai pelanggan tetap, yang akan menjual tapenya.
Regi sedang membuat Tape Kuwawur di rumahnya. Foto: Titis Widjayanti.
“Kalau untuk pasarnya, saya menjual di Pasar Sukolilo, karena memang sudah punya langganan sejak lama. Nanti kalau sampai pasar, langsung diambil sama mereka. Kalau hari biasa berangkat pagi. Kalau bulan puasa seperti ini, ya, berangkat dari jam 2 pagi, sampai nanti jam 6 pagi baru pulang.
Setiap hari, ia bisa mengolah sekitar 40 kilogram singkong yang bahan bakunya diambil dari Kudus. Hal itu dilakukan lantaran lahan penanaman singkong makin berkurang, sedangkan masih banyak warga yang memproduksi tape.
“Singkongnya sendiri beli dari Kudus. Kalau dulu emang banyak singkong dari sini. Tapi kan sudah banyak ladang yang ditanami jagung, jadi kurang buat bahannya. Makanya ambil dari Kudus,” papar Paryanti saat ditemui, Selasa (19/5/2020).
Untuk harga, Paryanti menjual tape sebesar Rp 10 ribu per kilogram. Akan tetapi untuk para pelanggannya, ia sudah mengemas tape itu ke dalam plastik yang disusun di sebuah keranjang plastik berwarna putih. Harga untuk tape yang dibungkus plastik itu Rp 500. Sedangakan untuk satu keranjang dengan isi 100 plastik dijual dengan harga Rp 35 ribu.
Sambil menata tape yang sudah difermentasi, Paryanti mengaku membuat tape untuk tambahan penghasilan. Dulu sebelum punya banyak pelanggan, ia pernah menjual tape dengan cara berkeliling di sekitar Purwodadi hingga Blora. Waktu itu, ia berangkat dari subuh dan pulang malam hari.
“Kalau dulu memang berkeliling. Sampai Blora, sampai daerah perbatasan Purwodadi. Kalau sekarang sudah enak, karena punya pelanggan. Meskipun seperti saat ini kalau bulan puasa, saya tetap motoran sendiri jam 2 pagi ke pasar. Nanti pulang jam 6 pagi. Terus ngolah singkong lagi. Begitu setiap hari,” tutup Paryanti.
Para pekerja sedang membungkus media penanaman bibit jamur tiram di CV Agro Muria, Jumat (15/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.
BETANEWS.ID, PATI – Beberapa pemuda tampak menyerok serbuk kayu yang ditumpahkan dari karung-karung. Setelah itu, dengan sigap mereka mencampurnya dengan serbuk kalsium, dedak, dan air.
Setelah tercampur, mereka terlihat beralih membungkus adonan menggunakan plastik bening dan kemudian mengumpulkannya di ruang sterilisasi dari seng dan besi. Di bawahnya terdapat tungku kayu sebagai sumber perapian.
Para pekerja sedang membungkus media penanaman bibit jamur tiram di CV Agro Muria, Jumat (15/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.
Proses tersebut merupakan kegiatan sehari-hari yang bisa ditemui di tempat budi daya jamur tiram milik Ali Mustofa (36) di Desa Ngembes, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Usaha yang dirintis sejak 2008 lulu itu, kini sudah punya 100 lebih mitra petani jamur.
Dengan kesuksesannya itu, Ali terus mengajak masyarakat untuk bertani jamur tiram. Apalagi, pasar jenis jamur itu masih sangat luas, hingga ke pasar global. Bahkan, usaha yang bernaung di CV Agro Muria itu sudah menjalin kerja sama dengan beberapa negara untuk mengirim jamur tiram dalam bentuk tepung.
“Saya membuka pelatihan secara gratis, jika ada siapapun yang ingin belajar budi daya jamur tiram. Silakan datang ke sini, minimal ikut kerja satu minggu. Setelah tahu cara dan langkah-langkah yang tepat, silakan budi daya sendiri,” ajaknya saat ditemui, Jumat (15/5/2020).
Selain memberikan pelatihan gratis, pihaknya juga akan memasukkan petani baru tersebut ke paguyuban setelah mulai produksi. Ini dilakukan agar pemasaran jamur mereka bisa dijamin dan harganya juga manusiawi.
“Kalau sudah mulai bisa produksi banyak nanti masuk ke paguyuban, supaya secara pemasaran mereka juga terjamin. Karena ada kontrak jelas, harga juga manusiawi,” papar dia.
Ali mengatakan, hal terpenting ketika membuat bibit adalah proses sterilisasi. Proses tersebut dimaksudkan untuk membunuh bakteri lain yang ada di serbuk kayu. Setelah proses sterilisasi selesai, maka baglog siap diberi bakteri jamur tiram menggunakan media gabah.
“Untuk waktunya sekitar 8 jam pengapian. Gunanya supaya bakteri lain yang ada di bahan baku, mati. Setelah sterilisasi, baru nanti bahan siap diberi bibit atau bakteri jamur tiram. Medianya gabah,” papar Ali.
Sambil menemani para karyawan, lulusan Unissula itu melanjutkan, bibit jamur akan mulai tumbuh sekitar 40 hari. Setelah itu, baglog akan terus berproduksi jamur tiram hingga empat bulan lamanya. Selama itu pula, petani bisa memanen jamur hingga ribuan kilo.
Selain membantu pemasaran, pihaknya juga akan melibatkan petani binaan untuk menyediakan tepung jamur untuk eskpor. Mengingat, kebutuhan pengiriman ke luar negeri ini akan membutuhkan jamur tiram dalam jumlah banyak.
“Untuk ekspor, saya melibatkan anggota paguyuban untuk jamur-jamurnya. Karena ekspor kan berarti produksi masal. Nah, di sini yang saya maksud salah satu fungsi paguyuban. Selain sebagai tempat sharing, juga jalan penjualan. Karena jamur itu nggak bisa bertahan lama. Kalau dia sudah dipanen, setidaknya harus segera diolah biar tidak layu,” pungkas Ali.