BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma penggorengan begitu terasa saat masuk di ruangan dapur rumah bercat kuning. Di ruangan itu beberapa perempuan duduk melingkar menghadap tumpukan wijen. Tampak mereka memegangi adonan panjang yang dipotong kecil hingga jatuh pada wijen. Kemudian adonan bercampur wijen tersebut diayak dan kemudian digoreng. Itulah proses pembuatan keciput produk Baskuni Jaya yang mampu bertahan hinga lebih dua dasa warsa.
Sambil memasukkan keciput yang sudah dikemas ke dalam kardus, Yusuf Budi Setiawan (36) pemilik usaha dagang (UD) Baskuni Jaya itu menuturkan, keciput produksinya itu diolah secara tradisional, serta mempertahankan resep warisan orang tuanya. Sebab itulah cita rasanya tidak berubah dari dulu hingga sekarang.

“Keciput kami itu terkenal dengan rasa originalnya, yakni manis, gurih, serta rasa wijen. Itu lah resep yang diajarkan leluhur kami. Tetap akan kami pertahankan dan saya yakin keciput produk UD Baskuni Jaya tetap diminati,” ujar pria yang biasa dipanggil Yusuf kepada betanews.id, Selasa (5/5/2020).
Baca juga : Diklaim Banyak Khasiat, Suyatno Buka Resto Olahan Kalkun
Pria warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengatakan, usaha keciput Baskuni Jaya dirintis oleh almarhum ayahnya di tahun 1997. Pada tahun 2002 usaha tersebut dilanjutkannya sampai sekarang. Berarti sudah 23 tahun usaha keciput Baskuni Jaya bertahan.
Meski sekarang banyak produk keciput dengan aneka rasa, Yusuf mengaku tidak tertarik untuk mengikuti memproduksi keciput serupa. Karena dia percaya, keciput dengan cita rasa original resep dari leluhurnya masih diminati masyarakat.
Dia mengungkapkan, keciput adalah camilan khas Kudus. Masyarakat Kudus biasanya menjadikan keciput hidangan wajib saat Lebaran. Kata dia, dari nenek moyang hingga sekarang rasa keciput ya yang persis dipoduksinya.
“Rasanya enak, renyah, gurih dan ada wijennya. Serta yang makan keciput itu rasanya tidak ingin berhenti,” celetuknya sambil mengacungkan jari jempolnya.
Pria yang saat itu mengenakan kaus oblong warna coklat mengatakan,jika usahanya menyediakan keciput dengan berbagai kemasan. Yakni kemasan seperempat kilogram yang dijual dengan harga Rp 13.500. Untuk kemasan setengah kilogram dibanderol Rp 27 ribu. Serta harga Rp 54 ribu untuk kemasan satu kilogram.
Baca juga : Asyiknya Belajar Olahan Kelor di Lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat
Dia mengaku, melayani pembelian ecer maupun grosir. Untuk harga grosir minimal pembelian lima kilogram. Kecuali mereka bakul langganan yang sudah dikenalnya. Menurutnya, saat ini pelanggannya lumayan banyak, meliputi Kudus, Demak, Jepara, Pati serta Juwana.
Memasuki Bulan Ramadan, tambahnya, produksi keciput di Baskuni Jaya alami peningkatan. Meski diakui Yusuf, belum dikalkulasi secara pasti ada tidaknya efek pandemi virus Corona terhadap usaha keciput miliknya.
“Semoga saja tidak ada efeknya, dan keciput Baskuni Jaya tetap laris manis di pasaran. Serta semoga Corona cepat hilang, ekonomi dan dunia usaha kembali normal,” harapnya sambil tersenyum.
Editor : Kholistiono

