BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria berambut gondrong digelung tampak duduk menghadapi lukisan. Tangan kanan pria tersebut memegangi kuas lukis dan tangan kirinya pegang telepon pintar. Terlihat setelah melihat smartphone, dia kemudian melanjutkan melukis. Pria tersebut yakni Muhammad Turmudzi (46), seorang seniman lukis.
Setelah menyapukan kuas yang ada tintanya ke lukisan yang berbentuk seorang pria tua itu, Muhammad Turmudzi diam sejenak mengamati lukisannya. Tak lama berselag ia pun melanjutkan aktivitas melukisnya. Menurutnya, hasik karya seni itu bisa dibilang amal jariyah, termasuk lukisan.

“Saya ingin lukisanku itu bisa dinikmati orang lain. Saat orang lain bahagia dengan memandangi lukisanku. Saya yakin itu akan jadi ladang pahala kelak, dan hal itu juga berlaku sebaliknya. Oleh sebab itu saya tidak berani sembrono,” ujar pria yang biasa disapa Turmudzi kepada betanews.id, Selasa (19/5/2020).
Baca juga : Kisah Heru, ‘Curi Ilmu’ dari Pamannya Hingga Mahir Ukir Wajah 3D
Amal jariyah sendiri, kata dia, merupakan amal yang tidak akan putus, meskipun oleh kematian. Saat seorang pelukis sudah tiada, tapi hasil lukisannya masih ada dan bisa dinikmati orang lain, bahkan bisa membuatnya bahagia, maka sang pelukis di alam sana akan dapat pahala, karena menyenangkan orang lain.
Namun jika lukisan atau karya seninya memberi efek buruk pada orang lain, Sang pembuat karya pun akan dapat dosa juga. “Itu pendapat pribadi saya lho Mas. Kalau orang lain tidak tahu saya,” ungkap pria yang sudah dikaruniai satu anak tersebut.
Pria yang merupakan warga Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu mengatakan, mulai gemar melukis sejak kecil. Menurutnya, dengan melukis ia mampu menemukan kesenangan maupun kebahagiaan. Dengan melukis juga dia bisa mencurahkan isi hatinya tanpa harus berkata pada orang lain.
“Mungkin karena itu, saya lebih menyukai melukis lukisan gaya ekspresionisme,” tutur pria yang sempat belajar melukis di Kota Gudeg Jogjakarta.
Gaya lukisan itu banyak, lanjutnya, di antaranya realisme, naturalisme, ekspresionisme, impresionisme, abstrak, dekoratife dan lain sebagainya. Dari sekian banyak gaya lukisan, dia mengaku lebih senang melukis lukisan gaya ekspresionisme.
“Lukisan gaya ekpresionisme menurut saya itu lebih mampu menyampaikan perasaan dengan cepat, dan tidak tertunda,” bebernya sambil menunjukan hasil lukisannya yang bergaya ekspresionisme.
Dia mengatakan, meski lebih menyukai melukis bergaya ekspresionisme, namun ia tak menolak jika mendapatkan order untuk melukis gaya lain. Dia pun mengaku tak mematok harga mahal untuk hasil karya seninya tersebut.
Baca juga : Setelah Sepuluh Tahun Merantau, Cipto Kembali ke Kudus Rintis Usaha di Bidang Seni
“Harga jasa lukis saya tidak mahal Mas. Ada yang Rp 150 ribu. Ada juga yang sampai Rp 1,5 juta. Harga itu tergantung ukuran,” rincinya.
Untuk pelanggan kata dia, selama ini orang sekitar Kudus, Jepara, Pati, Demak. Bahkan beberapa kali ada pesanan dari luar pulau. Antara lain, Batam, Riau, serta Kalimantan.
Dia berharap, karya seni lukisnya itu mampu bermanfaat bagi orang lain serta bisa membahagiakan orang ketika melihat lukisannya. Sehingga, hal itu bisa jadi amal jariyah untuknya.
“Semoga saja lukisan saya itu bermanfaat. Serta mampu membuat orang bahagia dan senang saat lihat lukisan saya. Biar bisa jadi amal jariyah untuk saya,” harapnya.
Editor : Kholistiono

