Seni tradisi Wayang Klithik, warisan budaya khas Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kini berada di ujung tanduk. Dari generasi ke generasi, seni pertunjukan wayang berbahan kulit kayu itu diwariskan secara turun-temurun. Namun saat ini hanya tersisa satu dalang yang masih aktif, yakni Ki Sutikno, pewaris generasi kedelapan warisan leluhur.
Berbeda dengan wayang kulit yang mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco lebih menceritakan tentang babad sejarah lokal. Cerita-ceritanya memuat asal-usul desa, konflik sosial masa lalu, hingga relasi manusia dengan alam dan spiritualitas masyarakat setempat.
Seiring perubahan sosial dan minimnya regenerasi, Wayang Klithik kini hanya dipentaskan pada momen tertentu, seperti ritual sedekah bumi. Padahal sebelumnya, pertunjukan wayang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual warga desa.
Baca juga: Pentas Tahunan ke-18, Widyas Budaya Suguhkan Sendratari Ramayana
Melihat kondisi tersebut, pegiat budaya asal Kudus, Bustomy Rifa Aljauhari, menggagas program bertajuk “Sang Dalang Terakhir” sebagai upaya penyelamatan Wayang Klithik Wonosoco. Dengan pementasan wayang yang didokumentasi sebagai film, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni, di Taman Padang Mbulan Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (10/1/2026) malam.
“Wayang Klithik bukan sekadar tontonan, tapi praktik budaya hidup. Di dalamnya ada sejarah lokal, relasi manusia dengan alam, serta nilai spiritual masyarakat,” kata Bustomy.
Ia menambahkan, Wayang Klithik memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber yang masih dijalankan warga Wonosoco sebagai bentuk syukur atas mata air di kawasan Pegunungan Kendeng Utara tersebut. Dalam ritual tersebut, wayang berfungsi sebagai medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pendidikan moral.
Program Sang Dalang Terakhir mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Dana Indonesiana. Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga tradisi yang terancam putus regenerasi.
Menurut Bustomy, pertunjukan publik menjadi cara penting untuk mengembalikan eksistensi Wayang Klithik.
“Jika hanya disimpan sebagai arsip, maka yang hilang bukan hanya pertunjukannya, tapi juga fungsinya dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ki Sutikno mengaku khawatir fenomena generasi muda sekarang ini yang sudah mulai berdialog tak menggunakan Bahasa Jawa. Sehingga hal itu dapat berdampak pada budaya lokal seperti Wayang Klithik yang akan kehilangan maknanya jika tidak diwariskan.
“Wayang ini menyimpan doa dan sejarah desa. Kalau tidak ada yang meneruskan, semua bisa hilang,” tuturnya.
Sejarawan Kudus, Edy Supratno menilai, perlu adanya kolaborasi antar unsur, untuk menjaga dan melestarikan tradisi lokal tersebut. Bahkan pihaknya mengaku prihatin dengan judul yang diangkat dalam kegiatan itu, yakni “Sang Dalang Terakhir”.
Baca juga: Kudus Bakal Hadirkan Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Sigid Ariyanto
“Sehingga kita perlu memposisikan Wayang Klithik ini sebagai bagian hidup kita. Semua pihak harus bahu membahu dan berperan di masing-masing bagian, supaya ke depannya muncul dalang-dalang yang dapat meneruskan warisan budaya lokal ini biar semakin lestari dan bergairah,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menyebut Wayang Klithik sebagai kekayaan budaya khas Kudus yang perlu dikenalkan lebih luas. Bila perlu bisa dimasukan pada kulikulum sekolah, harapannya generasi muda bisa mengetahui tentang keberadaan budaya lokal yang dimiliki.
“Harapannya, Wayang Klithik tidak berhenti pada satu generasi saja. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang publik agar seni ini tetap relevan,” ungkapnya.
Editor: Suwoko

