BETANEWS.ID,KUDUS– Aula Balai Desa Megawon, Kecamatan Jati, Sabtu (14/2/2026) malam, tak lagi sekadar ruang rapat warga. Di tempat sederhana itu, sebuah komunitas teater desa resmi memperkenalkan diri lewat pementasan perdana mereka.
Namanya Teater 9,9 dibaca Sembilan koma Sembilan. Komunitas ini lahir dari inisiatif Karang Taruna Desa Megawon dan dirawat selama lima tahun sebelum akhirnya berani tampil di hadapan publik.
Yang membuat publik terkejut, kelompok yang baru naik panggung ini tidak memilih naskah ringan. Mereka membawakan RT Nol RW Nol, karya sastrawan Indonesia Iwan Simatupang.
Baca juga: Pagi Ijab Sah, Siang Dapat Ijazah, Momen Mahasiswi UIN Kudus Dobel Bahagia Dalam Sehari
Dalam sejarah teater modern Indonesia, Iwan dikenal lewat gaya absurdis yang kerap disejajarkan dengan semangat karya Samuel Beckett, penulis Waiting for Godot.
RT Nol RW Nol mengisahkan sekelompok gelandangan yang hidup di kolong jembatan dan membentuk struktur pemerintahan sendiri, lengkap dengan ketua, sekretaris, hingga bendahara, meski secara administratif mereka tak pernah diakui. Nol. Kosong. Tak tercatat.Namun dari ruang “nol” itulah mereka memperjuangkan harga diri.
Bagi kelompok teater desa yang baru pertama kali tampil, pilihan naskah ini terbilang berani. Selama enam bulan, para pemain membaca, membedah, berlatih, dan mendiskusikan dialog-dialog panjang yang sarat metafora dan tafsir filosofis.
Di atas panggung, Lis Sofiana Putri memerankan Ani, Firda Nadila sebagai Ina, Cindy Artha Marcela sebagai Ati, Muhammad Daffa Yudistira sebagai Bopeng, Roy Indriansyah Putra sebagai Kakek, dan Muhammad Ryan Adi Saputro sebagai Pincang.
Sebagian dari mereka adalah pekerja. Siang hari mencari nafkah, malam hari berlatih memahami kalimat-kalimat yang tak selalu mudah dicerna. Teater bagi mereka bukan sekadar hobi, melainkan proses belajar tentang kehidupan.
Pementasan perdana itu menjadi penanda bahwa Desa Megawon kini memiliki ruang ekspresi baru.
Di Kudus, jumlah kelompok teater tidak sebanyak dulu. Regenerasi berjalan perlahan. Di era gawai dan media sosial, panggung sering kalah cepat dari layar.Karena itu, lahirnya Teater 9,9 menjadi kabar baik bagi ekosistem kesenian lokal.
Dukungan pemerintah desa turut menjadi faktor penting. Kepala Desa Megawon, Nurasag, memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berproses dan menggunakan balai desa sebagai panggung.Usai pentas, digelar sarasehan sederhana.
Zaki Zamani dari Keluarga Segitiga Teater mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pementasan pertama, melainkan menjaga konsistensi setelahnya.
“Melahirkan komunitas teater di kampung bukan perkara mudah. Yang lebih berat adalah merawatnya agar tidak padam,” ujarnya.
Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima
Aktris senior Pipiek Isfianti yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia teater juga berbagi pengalaman tentang pentingnya proses, kedewasaan, dan menjaga keseimbangan antara kesenian dan kehidupan pribadi.
Pementasan malam itu mungkin sederhana, dengan lampu panggung seadanya dan tikar balai desa sebagai alas duduk penonton. Namun dari ruang sederhana itulah mimpi dirawat.
Teater 9,9 membuktikan bahwa kesenian tidak harus lahir di kota besar. Ia bisa tumbuh di desa, dari keberanian untuk memulai dan komitmen untuk bertahan.Langkah pertama telah diambil. Kini, harapannya sederhana: semoga perjalanan Teater 9,9 tidak berhenti di angka nol.
Editor: Kholistiono

