31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Tari Caping Kalo Resmi Diperkenalkan, Representasi Keanggunan Perempuan Muria

BETANEWS.ID,KUDUS– Koreografer Tari Kinanti Sekar Rahina resmi memperkenalkan karya terbarunya bertajuk Tari Caping Kalo di Hotel @Hom by Horizon, Kudus, Minggu (8/2/2026) malam. Karya tari tunggal ini, menggambarkan sosok perempuan Muria yang anggun, lincah, gemulai, namun tetap gesit serta setia menjaga nilai-nilai tradisi.

Kinanti Sekar Rahina menjelaskan, bahwa Tari Caping Kalo terinspirasi dari Caping Kalo, yakni, penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus yang terbuat dari anyaman bambu halus dan daun rembuyan.

Dahulu, Caping Kalo digunakan oleh petani sebagai pelindung dari panas matahari, namun kini telah bertransformasi menjadi ikon budaya dan pelengkap busana adat perempuan Kudus.

-Advertisement-

Baca juga : Pentas Tahunan ke-18, Widyas Budaya Suguhkan Sendratari Ramayana

“Caping Kalo saya simbolkan sebagai sosok perempuan Kudus. Dari awalnya yang dipakai oleh rakyat, kini diagungkan sebagai warisan budaya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bahwa anyaman bambu Caping Kalo yang rapat dan halus melambangkan kehidupan masyarakat yang rukun dan guyub. Sementara, kerangka bambunya yang kokoh menggambarkan jiwa perempuan Muria yang kuat, setia menjaga nilai tradisi dan nurani, baik sebagai remaja, ibu rumah tangga, maupun dalam peran sosial dan pekerjaan.

“Caping Kalo juga dijunjung di kepala, sebagaimana manusia beriman yang menempatkan Tuhan di atas segalanya, tempat menaruh segala gelisah dan pengharapan,” lanjutnya.

Tari Caping Kalo merupakan kelanjutan atau sequel karya sebelumnya berjudul Tari Lajur Caping Kalo yang diluncurkan pada 7 Oktober 2022. Namun, Sekar menegaskan, bahwa kedua tarian tersebut dapat berdiri sendiri karena memiliki konsep dan kekuatan masing-masing.

“Tari Lajur Caping Kalo menggambarkan proses perjalanan pembuatan Caping Kalo, mulai dari memilih bambu yang tidak asal tebang, memotong, hingga menganyam helai demi helai dengan penuh ketelatenan. Sedangkan Tari Caping Kalo menggambarkan hasil akhirnya, yakni sosok perempuan Kudus itu sendiri,” jelasnya.

Dalam Tari Caping Kalo, perempuan Kudus digambarkan tetap luwes dan pantas mengenakan jarik, namun mampu bergerak gesit, tidak lamban, mencerminkan karakter perempuan Muria yang rendah hati namun tangguh.

Proses penciptaan Tari Caping Kalo memakan waktu panjang. Sekar menyebut, dialog awal dimulai sejak Maret 2025, dilanjutkan riset pada Oktober 2025, hingga koreografi, kostum, dan konsep artistik terjalin secara matang sampai akhirnya diluncurkan.

Karya tari ini melibatkan komposer musik Hamdani, dengan syair dan lagu yang ditulis sekaligus dinyanyikan oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF. Proses penulisan lirik dan rekaman dilakukan di Buenos Aires, Argentina, di sela tugas pastoral Romo Lukas.

“Hidup di tengah budaya Argentina menjadi tantangan tersendiri untuk menemukan suasana Jawa. Tapi saya berharap syair dan nyanyian ini bisa mendukung kehadiran Tari Caping Kalo dan mempertajam pemahaman akan maknanya,” ujar Romo Lukas, yang akrab disapa Romo Ipeng.

Program penciptaan karya tari ini diproduksi oleh GST Production dan didukung oleh RKBBR (Rumah Khalwat & Balai Budaya Rejosari), Iniibubudi Publishing, serta Asa Academy of The Arts.

Sekar berharap, Tari Caping Kalo tidak berhenti sebagai pertunjukan seni semata, tetapi menjadi pintu masuk pelestarian budaya secara lebih luas, termasuk penguatan perajin Caping Kalo.

“Saya berharap ada workshop untuk masyarakat dan anak-anak sekolah. Mereka bisa belajar anyaman Caping Kalo yang paling halus. Itu melatih ketelatenan dan empati untuk menjaga warisan tradisi agar tetap berlanjut,” katanya.

Baca juga : Mengenal Tradisi Guyang Cekathak Peninggalan Sunan Muria yang Tetap Lestari

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endahayani menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap peluncuran Tari Caping Kalo. Menurutnya, karya ini memiliki filosofi kuat dan relevan untuk dikembangkan di tengah masyarakat.

“Tari Lajur Caping Kalo menampilkan proses pembuatan secara berkelompok, sementara Tari Caping Kalo menampilkan hasilnya, yaitu sosok perempuan yang anggun, gemulai, namun gesit,” ungkapnya.

Sebagai bentuk komitmen pelestarian budaya, Pemkab Kudus juga telah menetapkan kebijakan mengenakan pakaian adat Kudus setiap tanggal 23, termasuk penggunaan Caping Kalo.“Ini bentuk dukungan kepada para perajin Caping Kalo agar tetap lestari dan ikut sejahtera,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER