BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu di garasi Perusahaan Otobus (PO) Haryanto tampak beberapa orang sedang sibuk. Cuaca yang panas seolah tak menghalangi aktivitas mereka. Terlihat beberapa pria ada yang memperbaiki mesin bus dan ada juga yang mencuci puluhan armada yang bagian badannya terdapat gambar Menara Kudus. Tak berapa lama, datang menyapa seorang pria mengenakan kopiah putih. Pria tersebut yakni Haji Haryanto (61) pemilik PO Haryanto.
Haryanto mengatakan, setiap armada bus yang dimilikinya pasti ada gambar Menara Kudus. Dari armada antarkota antarprovinsi (AKAP), bus pariwisata, serta bus cepat dan terbatas (Patas) semuanya ada gambar Menara Kudus. Karena itu sebagai identitas asal bus. Serta simbol tanah kelahiran pendirinya.

“Menara Kudus itu memang saya jadikan pengingat kota kelahiran saya. Selain itu juga untuk mengenang perjuangan Mbah Sunan Kudus dalam mengajarkan agama Islam di Kudus,” ujar Haryanto kepada betanews.id, Rabu (15/4/2020).
Baca juga : Virus Corona Merebak, PO Haryanto Kandangkan Armada
Sambil mengajak berkeliling garasi PO Haryanto dia mengatakan, Menara Kudus peninggalan Mbah Sunan itu milik umat. Serta konon dulu di dalam Menara Kudus itu ada sumber air penghidupan. Dari situ, tuturnya ada harapan agar PO Haryanto bisa jadi sumber kehidupan bagi banyak orang.
“Selain Menara Kudus, saya juga memberi nama semua armada untuk pariwisata dengan nama para wali songo dan ulama. Sebagai pengingat atau mengenang jasa para wali dan ulama yang telah mengajarkan, dan memperjuangkan Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa,” tuturnya.
Terlihat puluhan bus yang terparkir memang bertuliskan nama – nama para wali dan ulama. Antara lain, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Mbah Wahid Hasyim, dan wali serta ulama lainnya.
Selain sebagai pengingat, dia berharap juga bisa diambil suri tauladannya. Agar setiap orang selalu ikhlas dan tanpa pamrih dalam berjuang dan menolong sesama. Selalu menjalankan perintah Allah dan menjahui larangan-Nya.
“Jadi jangan dianggap tulisan saja menempel di bus. Namun harus diambil suri tauladannya,” papar Haryanto tersenyum.
Dia mengatakan, setiap pengemudi Bus Haryanto memang diwajibkan untuk patuh pada agama. Tidak boleh meninggalkan salat lima waktu. Bahkan saat waktu salat Subuh, semua Bus Haryanto yang melakukan perjalanan harus berhenti di Masjid dan semua kru diwajibkan untuk salat.
Baca juga : Komunitas Bus Mania: ‘Bus Sekarang Bagus-Bagus, Tapi Toiletnya Masih Ada yang Kotor’
Selain memberi anjuran kepada pekerjanya, untuk menjalankan perintah agama, Haryanto juga dikenal gemar menyantuni anak yatim piatu, para duafa serta bersedekah.
“Saya membantu sesama, karena saya sadar harta yang saya miliki itu sebagian milik mereka yang membutuhkan. Karena sebaik – baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

