BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi berkurban menggunakan kerbau masih kuat di Kabupaten Kudus hingga saat ini. Hewan tersebut tetap menjadi pilihan utama masyarakat saat Iduladha.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus, Arin Nikmah, mengatakan dominasi kerbau sudah berlangsung lama. Hal ini tidak lepas dari nilai sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.
“Di Kudus memang masih didominasi kerbau untuk dijadikan hewan kurban,” ujar Arin di ruang kerjanya belum lama ini.
Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir jumlah pemotongan kerbau berkisar antara 1.700 hingga 2.000 ekor. Bahkan, angka tersebut pernah mencapai lebih dari 2.000 ekor dalam satu musim kurban.
Menurutnya, tradisi tersebut berkaitan dengan ajaran Sunan Kudus pada masa lalu. Masyarakat dianjurkan tidak menyembelih sapi sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu.
“Ini bagian dari nilai toleransi yang sudah diajarkan sejak zaman dulu. Masyarakat Kudus masih memegang ajaran tersebut hingga sekarang,” jelasnya.
Baca juga : Kebutuhan Hewan Kurban di Kudus Diprediksi Meningkat Tahun Ini
Meski demikian, lanjutnya, perkembangan zaman mulai membawa perubahan di tengah masyarakat. Saat ini sudah ada sebagian warga yang mulai berkurban menggunakan sapi.
“Sejak beberapa tahun terakhir memang ada warga Kudus yang berkurban dengan ternak sapi. Tahun ini kami memprediksi ada 681 ekor sapi yang digunakan untuk kurban,” bebernya.
Arin mengungkapkan, kebutuhan kerbau untuk kurban di Kudus tidak sepenuhnya bergantung pada populasi lokal. Pasokan dari luar daerah masih menjadi andalan untuk memenuhi permintaan.
“Kerbau ini memang banyak didatangkan dari luar daerah karena populasi lokal terbatas,” ungkap Arin.
Ia menyebut, menjelang Iduladha para pedagang biasanya mulai meningkatkan pasokan ternak. Bahkan, jumlah ternak di kandang bisa meningkat hingga 300 sampai 400 persen.
Meski mulai ada perubahan pola pilihan hewan kurban, tradisi lama masih tetap dijaga. Nilai kearifan lokal tersebut menjadi ciri khas masyarakat Kudus yang terus bertahan hingga kini.
Editor: Kholistiono

