BETANEWS.ID, KUDUS – Satu keluarga di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terpaksa tinggal di emperan rumah tetangga dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Selain sempit, tempat tinggal tersebut juga terdapat kubangan air bekas cucian yang mengeluarkan bau tidak sedap.
Keluarga itu adalah Sutinah (49), suaminya Sulatin, serta anak semata wayang mereka yang masih duduk di bangku SMP. Mereka menempati emperan rumah milik tetangganya yang masih satu RT.
Bau menyengat langsung tercium saat memasuki tempat tinggal mereka. Emperan tersebut disulap seadanya agar bisa digunakan sebagai tempat berteduh.
Ukuran tempat tinggal itu hanya sekitar satu meter kali enam meter. Dindingnya terbuat dari terpal, sementara atapnya sederhana dan kerap bocor saat hujan turun.
Lantainya masih berupa tanah. Tepat di pintu masuk, terdapat kubangan air berwarna hitam pekat yang berasal dari sisa cucian.
Kondisi di dalamnya sempit dan pengap. Perabotan sangat terbatas, dengan tempat tidur seadanya yang digunakan bersama.
Sutinah mengaku sudah enam tahun tinggal di lokasi tersebut. Kondisi itu terjadi sejak suaminya jatuh sakit dan tidak lagi bisa bekerja.
“Sebelumnya kami mengontrak rumah dengan tarif Rp1 juta per tahun. Namun, sejak suami saya sakit, kami sudah tidak mampu lagi membayar,” ujar Sutinah, Selasa (5/5/2026).
Ia menuturkan, selama ini dirinya menjadi satu-satunya pencari nafkah. Sutinah sebelumnya bekerja di salah satu pabrik rokok di Kudus.
“Penghasilan dulu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah saya terkena PHK, kondisi ekonomi makin sulit,” ungkapnya.
Sutinah mengatakan sempat menerima pesangon sekitar Rp60 juta saat terkena PHK. Uang tersebut digunakan untuk membeli sebidang tanah.
“Uangnya hanya cukup untuk membeli tanah. Untuk membangun rumah, kami belum punya biaya,” katanya.
Saat ini, Sutinah bekerja sebagai buruh katering milik tetangga. Penghasilannya tidak menentu, namun cukup untuk makan sehari-hari.
Selama tinggal di emperan, seluruh aktivitas dilakukan di tempat itu. Mulai dari tidur, memasak, hingga mencuci dilakukan di ruang yang sama.
“Kalau mandi menumpang di tetangga. Tidurnya juga berhimpitan, ya bagaimana lagi,” ujarnya.
Ia berharap ada bantuan dari pihak terkait agar keluarganya bisa memiliki rumah layak huni. Terlebih, ia ingin anaknya bisa hidup lebih nyaman.
“Semoga ada bantuan supaya kami bisa punya rumah sendiri. Biar anak kami bisa tidur dan belajar dengan layak,” harapnya.
Editor: Kholistiono

