31 C
Kudus
Sabtu, Desember 3, 2022
BerandaBISNISTape Kuwawur, Usaha...

Tape Kuwawur, Usaha Turun Temurun yang Jadi Mata Pencaharian Warga

BETANEWS.ID, PATI – Tanaman singkong tampak menghampar luas saat memasuki Desa Kuwawur, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Luasnya ladang yang masih terjaga kesuburannya itulah yang menjadi salah satu alasan warga untuk membuat tape singkong. Pekerjaan itu sudah turun menurun dan menjadi salah satu pekerjaan utama warga Kuwawur selain bertani.

Salah seorang pembuat tape singkong Paryanti mengatakan, selain menjadi buruh tani, setiap hari ia membuat tape untuk dibawa ke Pasar Sukolilo. Di sana, ia sudah mempunyai pelanggan tetap, yang akan menjual tapenya.

Regi sedang membuat Tape Kuwawur di rumahnya. Foto: Titis Widjayanti.

“Kalau untuk pasarnya, saya menjual di Pasar Sukolilo, karena memang sudah punya langganan sejak lama. Nanti kalau sampai pasar, langsung diambil sama mereka. Kalau hari biasa berangkat pagi. Kalau bulan puasa seperti ini, ya, berangkat dari jam 2 pagi, sampai nanti jam 6 pagi baru pulang.

- Ads Banner -

Baca juga: Menengok Pembuatan Tape Kuwawur yang Melegenda dari Sukolilo

Setiap hari, ia bisa mengolah sekitar 40 kilogram singkong yang bahan bakunya diambil dari Kudus. Hal itu dilakukan lantaran lahan penanaman singkong makin berkurang, sedangkan masih banyak warga yang memproduksi tape.

“Singkongnya sendiri beli dari Kudus. Kalau dulu emang banyak singkong dari sini. Tapi kan sudah banyak ladang yang ditanami jagung, jadi kurang buat bahannya. Makanya ambil dari Kudus,” papar Paryanti saat ditemui, Selasa (19/5/2020).

Untuk harga, Paryanti menjual tape sebesar Rp 10 ribu per kilogram. Akan tetapi untuk para pelanggannya, ia sudah mengemas tape itu ke dalam plastik yang disusun di sebuah keranjang plastik berwarna putih. Harga untuk tape yang dibungkus plastik itu Rp 500. Sedangakan untuk satu keranjang dengan isi 100 plastik dijual dengan harga Rp 35 ribu.

Sambil menata tape yang sudah difermentasi, Paryanti mengaku membuat tape untuk tambahan penghasilan. Dulu sebelum punya banyak pelanggan, ia pernah menjual tape dengan cara berkeliling di sekitar Purwodadi hingga Blora. Waktu itu, ia berangkat dari subuh dan pulang malam hari.

Baca juga: Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

“Kalau dulu memang berkeliling. Sampai Blora, sampai daerah perbatasan Purwodadi. Kalau sekarang sudah enak, karena punya pelanggan. Meskipun seperti saat ini kalau bulan puasa, saya tetap motoran sendiri jam 2 pagi ke pasar. Nanti pulang jam 6 pagi. Terus ngolah singkong lagi. Begitu setiap hari,” tutup Paryanti.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler