Beranda blog Halaman 1837

Pernah Minder dengan Penampilan, Diana Siap Bantu Para Wanita di Funny Beauty Studio

0
Owner Funny Beauty Studio sedang melayani pelanggan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bangunan dua lantai di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus tampak mencolok dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Setelah masuk ke dalam, terlihat beberapa aktivitas para pegawai sedang melayani pelanggan. Lantai satu yang difungsikan sebagai tempat perawatan rambut dan wajah itu memang jadi tempat utama pemberian layanan di Funny Beauty Studio.

Pemilik salon, Diana Stephanie (35) mengatakan, awal mula berkecimpung di dunia kecantikan, lantaran pernah sangat minder dengan penampilannya. Makanya, selain terus mengasah kemampuan diri, ia kemudian punya pikiran untuk membantu wanita lain yang sama-sama kurang percaya diri dengan dirinya.

Owner Funny Beauty Studio sedang melayani pelanggan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Awal mula sih karena pengalaman pribadi. Jadi saya itu dulu, merasa sangat jelek. Sebagai perempuan, akhirnya saya berusaha untuk memperbaiki diri secara penampilan. Sempat minder juga. Akhirnya belajar treatment-treatment tentang kecantikan. Dari sana muncullah keinginan untuk membuat perempuan-perempuan lain jadi cantik. Sekaligus sharing ilmu,” papar Diana, Rabu (20/5/2020).

Dia melanjutkan, sebelum mendirikan Funny Beauty Studio, ia sudah pernah mendirikan salon kecantikan. Namun karena ada masalah, ia kemudian bikin baru dengan mengganti manajemen. Meskipun terhitung baru, di tempatnya sudah memiliki banyak pelanggan setia yang hampir tiap hari berkunjung untuk melakukan perawatan, lantaran harganya terjangkau.

Baca juga: Funny Beauty Studio, Andalkan Tenaga Ahli untuk Manjakan Pelanggan

“Secara treatment memang selalu kami upgrade dan perbaiki tiap waktu. Dari mulai rambut, wajah, muka, sampai untuk melangsingkan badan dan spa vagina kami sediakan. Memang tujuannya untuk membantu mempercantik para wanita, karena saya merasakan sendiri. Tentunya dengan harga yang terjangkau,” papar dia.

Sambil memperlihatkan beberapa alat perawatan, dia menjelaskan beberapa produk layanan yang menjadi andalan. Salah satunya adalah eyelash yang sore itu cukup ramai pelanggan. Di tempatanya, ia menyediakan ukuran bulu mata untuk eyelash dari ukuran 9 sampai dengan 14. Ukuran tersebut tergantung pilihan pelanggan. Selain itu juga mampu bertahan hingga tiga bulan tergantung pemakaian.

“Eyelash ini memang praktis. Jadi kalau misal mau keluar ada acara, terus cepat-cepat sudah nggak perlu repot pakai bulu mata atau menata bulu mata lagi. Tinggal disisir aja. Perawatannya pun mudah. Yang penting nggak diusek-usek. Mau mandi, kena air pun awet,” kata dia.

Baca juga: Wajah Lebih Muda dengan Perawatan Galva Face di Mariana Salon & Bridal 

Selain itu, Stephanie juga menjelaskan beberapa treatment lain seperti pasang behel dan spa vagina. Kalau pasang behel, pihaknya menyiapkan dua macam. Untuk perbaikan gigi yang berbentuk C dan untuk fashion yang berbentuk O. Harganya pun beragam dan pelanggannya biasanya anak-anak muda. Sedangkan untuk untuk spa vagina banyak diminati oleh para perempuan yang memang sudah punya suami.

“Pokoknya semua treatment kami lengkap, harga terjangkau dan tentunya ditangani oleh para tenaga ahli,” pungkas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Arsitek Bandung Menangi Sayembara Desain MAJT Magelang

0

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemenang sayembara desain Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Magelang akhirnya diumumkan. Arsitek dari Bandung dengan kode design MAJT 012, yakni Ade Yuridianto akhirnya berhasil terpilih sebagai juara 1. Ade berhasil unggul atas dua calon pemenang lain, yakni MAJT 082 asal Malang dengan arsitek atap gunungan (juara 2) dan desain MAJT 062 dari Jogjakarta dengan desain atap joglo terbelah (juara 3).

Desain masjid dengan atap berbentuk Tajug yang melengkung ke belakang karya arsitek dari Bandung itu berhasil menarik perhatian dewan juri.

“Masing-masing finalis memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi penilaian tetap mengacu pada indikator tata bangunan Islami, tata ruang Islami, inovasi bentuk, respek terhadap green architecture, kewajaran konstruksi dan interior Islami,” ujar Ketua Tim Juri Sayembara MAJT Magelang, Prof Totok Roesmanto.

Baca juga : Ini Tiga Calon Pemenang Sayembara Desain Masjid Agung Jawa Tengah Magelang

Guru Besar Arsitek UNDIP Semarang ini mengatakan, dewan juri cukup alot dalam penentuaan pemenang. Mulai penentuan 6 besar, 3 besar hingga penentuan juara 1,2 dan 3.

“Kami berdebat alot untuk penentuan itu, akhirnya disepakati desain MAJT 012 adalah pemenangnya,” katanya.

Dari segi keindahan dan fungsi, hampir semua karya menyajikan keunggulan yang sama. Namun yang menarik dewan juri memilih desain dari Ade adalah bentuk atap Tajug yang melengkung ke belakang.

“Menurut kami, itu inovasi bentuk atap masjid Jawa. Bentuk itu mengembangkan bangunan dasar peribadatan di Jawa beratap Tajug. Kalau biasanya lancip ke atas, desain itu baru karena ditarik ke belakang dan puncaknya agak ke belakang. Ini hal baru dalam bentuk tempat peribadatan di Jawa, namun orang melihat sekilas saja sudah tahu kalau itu masjid,” terangnya.

Meskipun, lanjut dia, apabila nanti desain itu diaplikasikan dalam bentuk bangunan, diperlukan perbaikan-perbaikan. Apalagi, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berpesan agar bangunan MAJT Magelang tidak asal-asalan.

“Pesan Pak Ganjar kan bangunannya harus benar-benar indah dan kokoh, tidak asal-asalan. Tentunya nanti ada modifikasi agar betul-betul bagus dan berkualitas,” tutupnya.

Sementara itu, Sang Pemenang Ade Yuridianto saat dikonfirmasi mengatakan terkejut karena ditetapkan sebagai pemenang. Berkali-kali dirinya mengucap syukur atas kabar itu.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sebagai etika profesi, kalau kondisi membaik saya bersedia datang ke Semarang untuk paparan desain lebih detil. Kalau ada pertanyaan-pertanyaan dari dewan juri maupun dari Pak Gubernur akan saya jawab dalam kesempatan itu,” kata Ade.

Ade menerangkan, ide desain yang dibuatnya itu awalnya dari kognitif maps, yakni mengadaptasi kondisi ruang Masjidil Haram. Jadi, pola konfigurasi ruangnya dibuat mirip dengan Masjidil Haram.

Sementara atap, Ade memilih desain atap Tajug terinspirasi dari tugas akhir saat penelitian skripsi. Bukan tanpa alasan, saat penelitian itu, ia menemukan bahwa atap bangunan peribadatan di Jawa khususnya Jawa Tengah itu menggunakan atap model Tajug.

Sementara dinding yang digunakan untuk tempat peribadatan di Jawa Tengah juga berbeda dengan di Jatim. Kalau di Jatim biasa menggunakan batu bata, di Jateng banyak yang menggunakan batu andesit ataupun batu fulkanik. Sehingga, dalam desainnya itu, ia juga menggunakan dua jenis batu itu.

Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

“Kebetulan saat saya skripsi, tugas akhir saya meneliti tentang atap-atap bangunan itu. Dari penelitian saya temukan bahwa atap Joglo itu untuk rumah kaum priyayi, atap pelana itu untuk kelas bawahnya dan atap Tajug itu khusus untuk tempat peribadatan. Jadi, ide desain saya ini berasal dari penelitian saat skripsi,” terangnya.

Ade mengaku sudah berkecimpung di dunia arsitek cukup lama. Ia sudah berpengalaman mendesain bangunan-bangunan di Indonesia.

“Kalau nanti desain ini diaplikasikan dalam bangunan, saya siap kalau ada tambahan atau penyempurnaan. Saya juga siap apabila dilibatkan dalam pembangunan fisiknya,” pungkas pria asli Cigandung Bandung ini.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berpikir Positif dan Bahagia Jadi Kunci Kesembuhan Marsini dari Covid-19

0
Marsini dijenguk Bupati Kudus dan Direktur RS Aisyiyah setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19, Jumat (29//5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Marsini (35) tampak begitu semringah saat tiba di rumahnya di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jumat (29/5/2020). Dengan mengenakan kerudung dan masker warna merah, ia terus menyapa para tetangganya yang sudah menunggu, sampai ia masuk rumah.

Kebahagian ini begitu berasalan. Mengingat, wanita yang dikonfirmasi positif Covid-19 setelah melahirkan itu sudah dinyatakan sembuh dan bisa pulang ke kediamannya.

Sambil memegang surat keterangan sembuh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Marsini menceritakan dirinya mulai dirawat di RS Aisyiyah Kudus sejak 14 Mei 2020. Dia masuk ke rumah sakit untuk melahirkan anaknya yang ke dua. Namun, karena suhu badannya tinggi, pihak rumah sakit kemudian melakukan rapid test kepada Marsini dengan hasil reaktif Corona dan dilanjutkan dengan tes swab.

Marsini tiba di rumahnya setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19, Jumat (29//5/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Saya sebelumnya tidak menyangka. Karena kondisi badan saya memang sehat bugar. Kalau ada panas dan letih, ya, biasa kondisi hamil,” tuturnya.

Saat menunggu hasil keluar, Marsini ternyata harus dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang karena memiliki kendala dalam melahirkan dan akhirnya dioperasi caesar.

“Jadi saya melahirkan di Kariadi semarang dengan caesar. Dirujuk kelihatannya tanggal 15 Mei,” jelasnya.

Baca juga: Hartopo Sebut Kepatuhan Protokol Covid-19 di Desa Lebih Rendah Ketimbang di Kota

Setelah proses persalinan, lanjut Marsini, hasil swab keluar dan terkonfirmasi positif Covid-19. Ketika itu dirinya merasa khawatir dengan anak keduanya. Namun, Marsini menyakini anak perempuannya pasti sehat.

“Saya yakin semua sehat. Karena saya merasa sehat. Ya, seperti ini sehat,” tuturnya sambil menggerakkan kedua pundaknya.

Marsini selanjutnya kembali dirawat bersama anaknya di RS Aisyiyah Kudus mulai 22 Mei 2020 untuk menjalani proses pemulihan.

“Alhamdulillah hasilnya (swab) negatif dan saya bisa pulang. Ini saya senang sekali tetangga dan keluarga menyambut saya,” ungkapnya.

Marsini menuturkan, kunci kesembuhan dirinya yakni selalu bahagia dan berfikir positif. Selain itu, selalu memakan makanan bergizi, melakukan hidup sehat dan mengikuti semua arahan dari dokter.

Sementara itu, Direktur RS Aisyiyah Kudus Hilal Ariadi mengungkapkan, pihaknya harus merujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang karena pasien memiliki masalah nyeri tulang belakang (low back pain) saat masa melahirkan.

“Saat masuk ke RS Aisyiyah tanggal 14 Mei, usia kehamilan yakni 37 Minggu. Selain reaktif covid-19 dan memiliki penyakit nyeri pada tulang belakang, akhirnya dirujuk ke rumah sakit lini satu di RSUP dr Kariadi Semarang,” tuturnya.

Setelah melakukan operasi tanggal 15 Mei dan dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang sekitar satu pekan. Kondisinya membaik dan dirujuk kembali ke RS Aisyiyah tanggal 22 Mei untuk masa penyembuhan.

“Jadi dari tanggal 22 Mei hingga hari ini dirawat di RS Aisyiyah sambil menunggu hasil swab. Akhirnya hasil swab terakhir keluar negatif (Covid-19),” jelasnya.

Baca juga: Cerita Umi yang Pernah Dinyatakan Positif Covid-19 Usai Kuret

Hilal melanjutkan, dengan hasil swab yang menunjukkan negatif Covid-19, pasien diperbolehkan pulang.

“Anaknya sehat tidak terpapar Covid-19. Ini juga sudah boleh pulang,” tambahnya.

Di sisi lain, Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengucapkan selamat atas kesembuhan Marsini. Dengan sembuhnya Marsini, membuktikan kasus Covid-19 di Kudus cenderung menurun. Dengan kondisi tersebut, pihaknya pada waktu dekat akan menerapkan Kenormalan Baru di Kota Kretek.

“Jadi Kudus cenderung menurun. Obat covid-19 juga belum ditemukan. Jadi kita harus bersahabat dengan Covid-19. Nanti kami akan lakukan sosialisasi mengenai New Normal di setiap desa-desa” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hobi Kustom Motor Mini yang Justru Jadi Peluang Bisnis Bagi Misbah

0
Misbahun Najib sedang menaiki motor mini. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah motor berukuran mini tampak di depan toko di Desa Winong, RT 02 RW 06, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Motor mini tersebut adalah motor kustom jenis Honda Gorilla. Seorang pria mengenakan kaus lengan panjang berwarna coklat terlihat keluar dari toko tersebut. Dia adalah Misbahun Najib (24), pemilik motor tersebut.

Sambil menyalakan motor mini itu, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang motor tersebut. Bermula dari hobinya membuat kustom motor mini, sekarang dia menggeluti bisnis jual beli motor kustom. Meski kecil, motor kustom itu dibanderol dengan harga tinggi.

Kustom motor mini buatan Misbahun Najib. Foto : Ahmad Rosyidi

Baca juga : Berawal dari Hobi, Kini Kustom Motor jadi Ladang Rezeki Bagi Juned

“Untuk yang jenis ini, kustom model Honda Gorilla, harganya mulai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Saya pasang harga sesuai kualitas spare part yang saya gunakan. Yang ini saya gunakan yang bagus, dan saya desain untuk boncengan,” papar Misbah sapaan akrabnya, Kamis (28/5/2020).

Dia mulai tertarik membuat kustom motor mini sejak akhir tahun 2017. Karena banyak yang minat hasil kustom buatannya, Misbah kemudian menangkap peluang untuk berbisnis. Untuk harga, dia jual mulai Rp 8 juta hingga Rp 20 juta.

“Biasanya saya sesuaikan dengan dana pemesan. Jika ingin bagus dan ada dananya, saya carikan bahan spare part dari luar negeri. Kalau anggarannya tidak banyak, ya saya sarankan menggunakan bahan lokal saja,” terang anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Untuk mesin yang dia gunakan, biasanya menggunakan motor bekas mulai 100 cc hingga 125 cc. Proses pembuatannya, membutuhkan waktu satu bulan hingga satu setengah bulan. Hal yang paling lama adalah proses bubutnya, karena antrean bisa menunggu hingga dua pekan.

Baca juga : Nabila Vespa Kudus, Showroom Vespa Second yang Bisa Jadi Jujugan Penggemar Skuter

“Saya memilih tukang bubut yang berpengalaman, jadi antre lama. Motor kustom jenis Honda Gorilla yang tersedia saat ini menggunakan mesin Honda Kirana 125. Bisa boncengan dan kuat mengangkut beban sekitar 200 Kilogram. Jika ada yang minat ini saya jual Rp 20 juta, atau pesan juga bisa,” jelasnya.

Seperti tangki, kerangka, jok, spakbor, knalpot, biasanya dia ambil dari Bandung. Sedangkan untuk stang, lampu, shock, piringan cakram, kaliper, dia impor. “Jadi banyak pilihan, menyesuaikan dana yang pesan,” tutup Wakil Ketua Komunitas Motor Mini Kudus (Miniku) itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jamin Kesehatan Anak, Ganjar Minta Semua Puskesmas Tetap Layani Imunisasi

0
Ganjar Pranowo saat melakukan sidak ke Puskesmas Gayamsari Kota Semarang, Jumat (29/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta semua Puskesmas di Jawa Tengah tetap melayani imunisasi kepada ibu hamil dan balita selama pandemi Covid-19. Ini disampaikannya saat melakukan sidak ke Puskesmas di Kota Semarang, Jumat (29/5/2020).

Sidak itu dilakukan setelah banyak masyarakat yang mengeluh tentang pelayanan imunisasi di kanal Youtubenya saat mengunggah video imunisasi berjudul “Jangan Tunda Imunisasi Anak Karena Corona”.

Ganjar Pranowo saat melakukan sidak ke Puskesmas Gayamsari Kota Semarang, Jumat (29/5/2020). Foto: Ist.

Melihat itu, Ganjar langsung turun untuk cek pelayanan imunisasi di Puskesmas sekaligus protokol kesehatan yang dijalankan. Sambil gowes pagi, Ganjar mampir ke Puskesmas Gayamsari Kota Semarang.

“Imunisasi gimana di sini? Dijalankan tidak. Tolong digiatkan, ya. Jangan sampai karena pandemi orang lupa imunisasi,” kata Ganjar kepada petugas Puskesmas.

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Ganjar juga meminta pihak Puskesmas gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat lewat kader-kader posyandu. Jika ada masyarakat yang hendak imunisasi di Puskesmas, semuanya harus dilayani.

“Saya minta semua Puskesmas melayani imunisasi. Kalau ada ibu hamil atau balita datang, harus dilayani dengan baik. Jangan sampai terjadi degenerasi karena pandemi. Jangan sampai itu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Gayamsari Semarang Sri Ani Handayani mengatakan, program imunisasi tetap dijalankan selama masa pandemi. Namun, pelayanan imunisasi terjadwal dan dipisah dengan pelayanan umum.

Baca juga: Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

“Jadi kami pakai pendaftaran online, nanti langsung dijadwalkan. Biasanya imunisasi kami lakukan terpisah harinya dengan pelayanan umum agar semuanya terjaga,” kata dia.

Ani juga mengatakan, selama ini program imunisasi tetap berjalan normal. Meski ada pandemi, tapi program imunisasi tetap dilaksanakan.

“Selama ini masih berjalan, jadi tidak terganggu meskipun ada wabah covid ini,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Hartopo Sebut Kepatuhan Protokol Covid-19 di Desa Lebih Rendah Ketimbang di Kota

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejak diberlakukan pembatasan jam malam mulai 18 April 2020, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menilai kepatuhan masyarakat yang tinggal di desa lebih rendah ketimbang di kota. Hal tersebut diungkapkannya selepas melakukan rapat koordinasi dengan Forkopimda di Pendapa Kabupaten Kudus, Kamis (28/5/2020).

Tidak hanya pembatasan jam malam saja, kepatuhan untuk mengikuti protokol kesehatan Covid-19 di desa juga rendah.

“Kalau persentase kepatuhan di kota sekitar 70 persen. Di desa antara 30 sampai 40 persen,” jelasnya.

Penilaian ini, lanjut Hartopo, didasarkan pada masih banyak ditemukan warga tidak mengenakan masker. Selain itu, pemberlakukan jaga jarak sosial dan fisik di tempat-tempat umum juga belum dihiraukan.

“Tentu kami akan terus melakukan edukasi agar masyarakat semakin sadar dan patuh,” tuturnya.

Baca juga: Kenormalan Baru, Pemkab Kudus Siapkan Posko Terpadu di Pasar dan Swalayan

Hartopo menjelaskan, dalam penanganan Covid-19, pihaknya lebih memilih menjalankan Intruksi Bupati ketimbang melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jika diberlakukan PSBB, mata pencaharian warganya yang sebagian besar bekerja sebagai buruh, akan hilang.

“Kami berharap masyarakat selalu mengikuti protokol kesehatan. Wajib mengenakan masker, wajib melakukan hidup sehat, melakukan social distancing dan physical distancing. Kami tidak akan memberikan sanksi. Terutama kondisi seperti ini,” jelasnya yang memimpin sembilan kelurahan dan 123 desa itu.

Hartopo menuturkan, dengan tren Covid-19 yang menurun di Kudus, pihaknya juga bersiap melakukan kenormalan baru atau new normal yang juga akan dilakukan pemerintah pusat.

Saat ini, pihaknya sudah meminta setiap pasar tradisional dan swalayan untuk membuat posko terpadu. Nantinya, posko tersebut akan dijaga anggota Polisi, TNI, Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Petugas akan mengawasi penjual dan pembeli yang datang.

Baca juga: Awal Juni, Kudus Sudah Bisa Lakukan Tes Swab Sendiri

“Percontohannya yakni Pasar Kliwon, Pasar Bitingan, Hypermart, Ramayana dan ADA Swalayan,” tutur Hartopo.

Dia juga tidak khawatir akan meningkatnya kasus Covid-19 di Kudus saat pemberlakuan new normal. Dengan syarat, masyarakat mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

“Selalu taat mengikuti protokol kesehatan. Wajib mengenakan masker, ” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sadis Abis, Warung Geprek Pertama di Kudus

0
Warung Geprek Sadis Abis, warung ayam geprek yang pertama kali berdiri di Kudus. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Warung mungil dengan warna dominan merah dan kuning yang berada di Jalan Jendral Sudirman, Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kudus itu nampak ramai pengunjung. Terutama para lelaki berjaket ojek online yang duduk menunggu pesanan. Sementara itu, dua perempuan di dapur sedang sibuk menggoreng ayam dan mengemas pesanan.

Ialah Yenny Darwa (27) dan Sita Devi (31), dua orang kakak beradik yang merintis Warung Geprek Sadis Abis tersebut. Sang kakak yang mulai buka pukul 11.00 WIB sudah berjibaku dengan ayam gepreknya, nampak sedikit kelelahan. Sementara itu, si adik yang baru saja pulang dari kerja langsung bergabung membantu menyiapkan pesanan. Warung geprek, yang pertama kali berdiri di Kota Kudus itu sebentar lagi akan genap berumur 5 tahun di bulan Agustus. Informasi itu dikatakan oleh Yenny seusai melayani pelanggan.

Pemilik dan pegawai Warung Geprek Sadis Abis sedang mengemas pesanan pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

“Kalau awalnya, saya pribadi yang menginisiasi warung geprek ini. Karena dulu waktu kerja di Semarang, suka sekali makan pedas di Ayam Geprek Idola. Itu sekitar beberapa tahun lalu. Dan makin hari kok makin enak, sampai saya ketagihan. Karena memang dasarnya suka pedes kali ya. Habis itu, pulang dan nyoba buat sama ibu sama mbak. Terus bikin tester supaya dicoba ke keluarga dan tetangga. Sampai beberapa kali berhasil dan open order lewat BBM sama Facebook,” ungkap Yenny, Kamis (28/5/2020).

Baca juga : Kopi Muria Wilhelmina Aman Dinikmati Bagi Penderita Lambung

Setelah itu, Yenny mengatakan, jika mereka membuka order selama seminggu 3 kali. Pertama, ia mendapatkan 70 pesanan, lalu selanjutnya semakin banyak dan para pemesan minta dibuatkan setiap hari. Dari sana Yenny optimis untuk mendirikan warung dengan menu ayam geprek yang belum di pernah ditemuinya di Kudus. Berbekal hal itu pula, ia meminta restu dan modal oleh sang ibu. Akan tetapi, sempat ditentang dan tidak diperbolehkan.

“Awalnya sempat tidak boleh sama orang tua. Karena memang selain belum yakin, setiap orang tua kan pingin anaknya lulus sekolah itu kerja. Bukan warungan gitu ya, apalagi ini masih belum jelas apakah nanti laris. Tapi, saya masih optimis dan meyakinkan ibu. Karena memang saya lihat pasarnya cukup bagus dan belum ada di Kudus,” katanya.

Akhirnya orang tuanya merestui dan membantu secara modal awal untuk sewa ruko dan sebagainya. Karena dirinya tidak punya modal yang cukup waktu itu.

Dari sana, Warung Geprek Sadis Abis mulai semakin luas dikenal. Beberapa pelanggan awal yang sudah menantikan menu itu, bisa menikmati masakan Yenny setiap hari. Hingga akhirnya saat ini mereka memiliki pelanggan tidak hanya dari Kota Kudus, tetapi kota-kota lain di sekitarnya.

Baca juga : Asyiknya Belajar Olahan Kelor di Lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat

Ia menambahkan, kesuksesan usahanya tersebut tidak lain karena campur tangan kakak perempuannya dan ibunya. Sampai pada akhirnya, dalam kurun dua tahun terakhir, ia sudah mulai bekerja di salah satu Bank BUMN di Kota Kudus. Sedangkan usaha tersebut mulai diurus secara full time oleh sang kakak dan ibunya.

“Karena memang dari awal ya kami bertiga yang mengolah dan memasarkan. Cuma memang saya yang menginisiasi, hanya saat ini Alhamdulilah diterima kerja, jadi tidak bisa full time mengurus. Lebih ke kakak saya dan ibu yang mengurus. Sama beberapa pegawai,” kata dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Wajah Lebih Muda dengan Perawatan Galva Face di Mariana Salon & Bridal

0
Pelanggan Mariana Salon & Bridal sedang menerima pelayanan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa kendaraan bermotor tampak terparkir di depan Mariana Salon & Bridal, yang terletak di Jalan KH Wahid Hasyim, Nomor 49B, Desa Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, Rabu (20/5/2020). Masuk ke dalam salon, dua perempuan sedang sibuk melayani pelanggan yang datang.

Salah satunya adalah sang pemilik, Mariana (38). Perempuan asli Solo itu mengaku sudah sekitar enam tahun mendirikan salon tersebut di Kota Kretek. Selama rentang waktu itu, ia sudah melayani berbagai pelanggan dengan beragam usia dan jenis kelamin, dengan perawatan rambut merupakan layanan yang paling diminati.

Pelanggan Mariana Salon & Bridal sedang menerima pelayanan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Kalau yang sini, cewek cowok, bisa semua. Tapi memang kebanyakan cewek. Nah, kalau yang paling diminati dan salah satu produk andalan kami itu treatment rambut. Mulai dari potong, pewarnaan, masker, smoothing, creambath dan sebagainya. Lengkap. Harganya pun terjangkau,” papar Mariana.

Baca juga: Funny Beauty Studio, Andalkan Tenaga Ahli untuk Manjakan Pelanggan

Selain mengandalkan perawatan rambut, ia juga punya layanan unggulan yaitu setrika wajah yang alatnya didatangkan langsung dari Amerika. Setrika wajah tersebut memiliki berbagai fungsi di antaranya anti aging, acne, fiex, brightening, whitening, contouring, dan lain-lain. Sedangkan untuk harga, Mariana menyebutkan sekali treatment pelanggan hanya cukup merogoh kocek Rp 85 ribu.

“Namanya Galva Face, yang memang alatnya langsung dari Amerika. Jadi mutifungsi. Mulai dari untuk menghilangkan jerawat, membuat wajah lebih muda hingga meniruskan. Cepat dan praktis. Produk ini banyak disukai pelanggan,” papar dia.

Untuk memanjakan konsumen, pihaknya juga sering memberikan promo. Antara lain paket treatment 3 in 1. Dalam promo ini, pelanggan akan mendapatkan potongan harga sesuai paket yang diambil. Pelanggan hanya membayar tambahan jika mengganti produk atau menambah produk dari paketan itu.

Baca juga: Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik di Faeyza Beauty Eyelash

“Kami juga ada member. Jadi pelanggan bisa mendaftar member. Manfaatnya banyak, salah satunya pengumpulan poin. Poin-poin yang terkumpul bisa ditukarkan dengan treatment yang sudah tertera di masing-masing jumlah poin. Bahkan juga bisa ditukar kipas atau magic com. Nah ada juga free ultah bagi member. Jadi kalau ultah, dia bisa gratis treatment tertentu,” pungkas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Cerita Umi yang Pernah Dinyatakan Positif Covid-19 Usai Kuret

0
Umi Latifah menerima bantuan dari Komunitas Peduli Lau. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah pemuda berjalan memasuki gang pemukiman wargga untuk menyalurkan bantuan sembako. Seorang perempuan yang menerima sembako tersebut yakni Umi Latifah (36), satu warga Kudus yang pernah terpapar virus Covid-19. Setelah menerima sumbangan dari Komunitas Peduli Lau, dia berbagi cerita kepada betanews.id.

Umi sempat kaget saat dirinya ketika itu dinyatakan positif Covid-19. Saat itu dirinya pulang dari RS Aisyiyah Kudus, setelah dikuret karena keguguran. Menurutnya dia hanya merasakan tenggorokan kering sebelum keguguran.

“Saya tidak merasakan gejala apa-apa, cuma tenggorokan kering saja. Itu pun sebelum saya kuret. Kemudian saya diisolasi sehari semalam dan diizinkan pulang setelah dites,” terangnya, belum lama ini (21/5/2020).

Baca juga : Paska Melahirkan, Ibu Asal Kudus Positif Covid-19

Setelah empat hari di rumah, kemudian dirinya ditelepon oleh pihak Dinas Kesehatan, jika hasil tesnya sudah keluar dan ternyata Umi dinyatakan positif Covid-19. Setelah itu, dirinya dijemput ke rumah untuk dilakukan karantina selama 26 hari.

“Seingat saya itu ketika tiga hari sebelum puasa pertama, entah harinya apa saya lupa saat dijemput pihak rumah sakit dan kemudian dikarantina,” imbuhnya.

Ketika masuk tempat karantina, katanya, dirinya sehat dan tidak menggunakan alat bantu kesehatan seperti infus dan oksigen.

Umi juga menyampaikan jika tidak merasakan gejala apa-apa. Karena baginya tidak pernah terpikir terpapar Covid-19. Tapi tiga hari sebelum keguguran itu dirinya merasakan tenggorokannya sakit, dan sempat minum larutan. Setelah itu dirinya mengalami pendarahan sedikit-sedikit dan sempat ke dokter kandungan.

Ketika itu, dirinya juga sudah diberikan obat penguat kandungan. Dan biasanya, setelah dikasih obat seperti itu langsung berhenti, karena bukan kali ini saja dirinya mengalami pendarahan. Namun, malamnya dirinya mengalami pendarahan hebat.

“Akhirnya saya dibawa ke rumah sakit. Ketika sore sebelum ke rumah sakit itu, yang saya rasakan itu badan panas dan menggigil,” ungkapnya.

Baca juga : Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

Lanjutnya, hal yang dia khawatirkan saat itu adalah suami dan putranya. Karena sebelum dijemput dari pihak rumah sakit, dia tidur bersama putra dan suaminya. Kemudian putra dan suaminya serta keluarga juga ikut dirapid tes.

Namun katanya, setelah dirinya dikarantina, suaminya merasakan tenggorokan gatal dan kemudian dirinya berkonsultasi dengan perawat. Akhirnya, suaminya dikarantina selama seminggu dan dites swab. Hasilnya dinyatakan negatif.

“Saya bersyukur karena hasil tes suami dan putra saya negatif. Waktu pulang dari kuret itu juga masih banyak tetangga yang datang menjenguk, Alhamdulillah mereka tidak terpapar seperti saya,” jelas warga Desa Lau, RT 02 RW 05, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kenormalan Baru, Pemkab Kudus Siapkan Posko Terpadu di Pasar dan Swalayan

0
Beberapa pengguna jalan saat melintasi Pasar Kliwon, Kamis (23/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kenormalan Baru pandemi Covid-19 akan mulai diterapkan pemerintah pusat mulai 1 Juni mendatang. Hal tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus juga ikut bersiap-siap menghadapi pola hidup normal baru itu.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan Forkopimda, pengelola pasar swalayan dan Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus untuk membuat posko terpadu.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat ditemui selepas rapat di Pendapa Kabupaten Kudus, Kamis (28/5/2020).

“Hari ini kita rapat dengan Forkopimda, ada Pak Dandim, Pak Kapolres, Ketua PN (Pengadilan Negeri). Kita undang juga pengelola pasar swalayan dan Dinas Perdagangan untuk mempersiapkan New Normal. Di antaranya membuat posko terpadu,” ungkapnya saat ditemui selepas rapat di Pendapa Kabupaten Kudus, Kamis (28/5/2020).

Hartopo menjelaskan, pembuatan posko terpadu akan dibuat di setiap pasar dan swalayan yang ada di Kudus. Posko terpadu tersebut akan dijaga anggota Polisi, TNI, Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Untuk percontohan yakni Pasar Kliwon, Pasar Bitingan, Hypermart, Ramayana dan ADA Swalayan,” tuturnya.

Baca juga: Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

Menurut Hartopo, Posko Terpadu mulai dibangun mulai Kamis (28/5/2020) supaya dapat segera ditempati. Petugas yang ditempatkan di Posko Terpadu akan mengawasi penjual dan pembeli yang datang. Mereka akan memastikan protokol kesehatan Covid-19 benar-benar dijalankan.

“Seperti masuk ke swalayan memakai masker. Sampai di dalam ternyata dilepas. Nanti petugas akan bertindak. Misal di dalam (pasar) penuh, petugas akan menyetop dahulu,” tuturnya.

Selain pasar tradisional dan swalayan, Hartopo juga berencana akan mempersilakan pedagang di Balai Jagong untuk berjualan kembali. Namun, dirinya memberikan syarat agar pedagang kaki lima (PKL) mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.

“Nanti tidak semua. Pedagang ada 300an orang. Paling nanti setengahnya, 150 PKL saja,” tuturnya.

Baca juga: Ganjar Pertimbangkan Pembukaan Sekolah Kembali, Siswa Akan Duduk Sendiri-Sendiri

Saat disinggung dengan sekolah yang masih libur, Hartopo akan mengikuti intruksi dari pemerintah pusat.

New Normal ini tidak Kudus saja. Melainkan seluruh Indonesia. Jadi untuk pendidikan kami masih tunggu dari pemerintah pusat,” tuturnya.

Hartopo menambahkan, selama pelaksanaan kenormalan baru, pembatasan jam malam yang diatur dalam Intruksi Bupati nomor 130/01/2020 tetap berlaku. Pihaknya meminta masyarakat untuk mengikuti pembatasan jam malam hingga pukul 21.00 WIB.

“Masyarakat wajib mengenakan masker dan mematuhi protokol kesehatan,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ini Tiga Calon Pemenang Sayembara Desain Masjid Agung Jawa Tengah Magelang

0
Desain MAJT Malang dari tim Malang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Total ada 53 karya dari arsitek berbagai daerah yang mengirimkan desain terbaiknya untuk mengikuti sayembara design Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Magelang. Dari 53 karya itu, dewan juri yang terdiri dari arsitek, antropolog, tokoh agama dan berbagai disiplin ilmu telah menentukan tiga calon pemenang.

Ketiga desain terbaik itu telah dipaparkan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di Puri Gedeh, Kamis (28/5/2020). Satu peserta memaparkan secara langsung, sementara dua peserta lainnya memaparkan melalui virtual.

Ketiga calon juara itu adalah peserta dengan kode pengiriman MAJT 012 dari Bandung, MAJT 082 dari Malang dan MAJT 062 dari Jogjakarta. Masing-masing calon pemenang memiliki desain terbaik di antara puluhan desain lainnya.

Desain MAJT Malang dari tim Jogjakarta. Foto : Ist

Baca juga : Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus

Salah satu peserta yang secara langsung mempresentasikan kepada Ganjar adalah peserta dari Jogjakarta. Konsep desain masjid yang diusung sangat kental dengan budaya Jawa dengan bentuk joglo terbelah dua.

“Tema yang kami usung selain masjid sebagai tempat ibadah yang Islami, juga mengusung kebudayaan Jawa Tengah. Kami mengedepankan itu, dan saat ada orang melintas di depannya atau masuk ke dalamnya, mereka bisa merasakan ini Jawa Tengah banget,” kata Made Oka Handara, tim arsitek dari MAJT 062.

Sementara itu, arsitek MAJT 012 Ade Yuridianto asal Bandung mengatakan, tema desain masjid yang dikirimkan menggunakan arsitektur atap Jawa berupa Tajug. Atap dideain melengkung lengkap dengan interior dan eksterior khas Jawa Tengah.

“Berbagai material yang digunakan juga menggunakan material lokal, seperti batu candi dan lainnya. Bentuknya saya mengadopsi penuh dengan kearifan lokal di Jawa Tengah,” ucap Ade.

Hal senada disampaikan peserta MAJT 082 dari Malang, Rahardian Prajudi. Mengusung tema Gunungan Jroning Pakuning Tanah Jawi, Rahardian membuat desain MAJT yang terinspirasi oleh Gunung Tidar.

“Gunung Tidar itu ada di Magelang dan merupakan Pakuning Tanah Jawi. Jadi, desain saya buat mirip dengan gunungan agar bisa menggambarkan kuatnya budaya Jawa,” terangnya.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, ketiga calon pememang itu juga mendesain MAJT sebagai tempat wisata religi, ekonomi dan lainnya. Mereka mendesign plaza yang indah, beberapa tempat untuk aktivitas jual beli, hall, perpustakaan dan sebagainya. Tentunya, para peserta juga tak hanya mengedepankan keindahan, tapi juga fungsi dan manfaat serta mengutamakan faktor lain seperti bencana, aksesbilitas dan sebagainya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sempat kebingungan memilih mana yang terbaik dari tiga desain itu. Ia pun memberikan keputusan sepenuhnya kepada dewan juri.

Desain MAJT Malang dari tim Bandung. Foto : Ist

“Kami ingin seluruh bangunan yang ada itu desainnya menarik. Kemenarikannya ini tidak dari kacamata kita, tapi kita libatkan partisipasi masyarakat. Di luar dugaan, setelah disayembarakan hasilnya bagus-bagus,” katanya.

Yang membuatnya bangga, dari ketiga calon pemenang itu merupakan arsitek yang masih muda-muda. Artinya, harapan Indonesia untuk mengerjakan sendiri bangunan-bangunan hebat bisa dilakukan.

Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

“Ini membuktikan bahwa kita bisa membuat desain yang sangat bagus sendiri. Arsitek kita banyak yang hebat-hebat,” tegasnya.

Nantinya, dari tiga desain itu akan dipilih satu untuk diterapkan dalam pembangunan MAJT Magelang. Setelah ditentukan pemenang, maka penyusunan DED segera dilakukan.

“Mudah-mudahan bisa mulai dikerjakan tahun depan. Ini sekaligus untuk merangsang dan mendorong kembali ekonomi bisa bergulir,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Penjualan Janur dan Selongsong Ketupat Naik Dua Kali Lipat dari Tahun Lalu

0
Penjual janur di sekitar Pasar Bitingan tampak ramai pembeli, Kamis (28/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, lalu lintas di jalan sebelah utara Pasar Bitingan Kudus tampak tersendat. Di atas trotoar bagian utara jalan tersebut terlihat belasan orang menjual janur. Satu di antara penjual tersebut yakni Sumardi (62) yang begitu sibuk melayani para pembeli. Ia mengaku penjualan janurnya meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya.

Di sela melayani pembeli, Sumardi sudi berbagi penjelasan tentang jualannya tersebut. Dia mengatakan, beberapa hari sesudah Hari Raya Idul Fitri selalu berjualan janur dan selongsong ketupat. Menurutnya, penjualan tahun ini meningkat tajam meski ada pandemi Corona.

Penjual janur di sekitar Pasar Bitingan tampak ramai pembeli, Kamis (28/5/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Setiap menjelang lebaran ketupat, saya pasti jualan janur dan selongsong ketupat. Alhamdulillah penjualan tetap laris dan mengalami peningkatan,” ujar Sumardi, Kamis (28/5/2020).

Pria yang berasal dari Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara itu menuturkan, bila di tahun sebelumnya ia hanya mampu menjual 3.000 janur dan 200 selongsong ketupat dalam sehari, tahun ini dia mengaku bisa menghabiskan 6.000 janur dan 400 selongsong ketupat di waktu yang sama.

Baca juga: Awalnya Iseng, Gethuk Tengu Buatan Nia Kini Jadi Bisnis Menjanjikan

Sumardi menjual janur dengan harga Rp 7 ribu setiap sepuluh tangkai. Sedangkan selongsong ketupat dihargainya Rp 10 ribu per 10 buah. Selain itu, di lapaknya juga menyediakan selongsong lepet dan talinya yang terbuat dari bambu.

“Padahal harga tersebut naik dua kali lipat dari harga tahun kemarin. Tapi kami bersyukur dagangan kami tetap laris. Bahkan penjualannya meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” beber Sumardi yang mengaku sudah berjualan janur musiman selama 25 tahun tersebut.

Hal tak jauh berbeda juga dikatakan Muslikin. Pria yang sudah berjualan janur dan selongsong ketupat selama 15 tahun itu mengatakan, pandemi Corona memang berimbas pada pembeli yang datang. Namun, penjualan janur dan selongsong ketupatnya justru mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.

“Pembeli memang berkurang. Tapi mereka belinya itu lebih banyak. Jadi kalau dikalkulasi dari tahun sebelumnya, penjualan kami mengalami peningkatan, meski tidak banyak,” ungkapnya.

Baca juga: Setelah Lebaran, BLK Siapkan Tiga Pelatihan Penanganan Corona

Menurutnya, peningkatan penjualan ini lantaran jumlah pedagang janur dan selongsong ketupat di Pasar Bitingan Kudus berkurang dengan adanya pandemi Corona. Sehingga, dia menduga, para pedagang musiman sudah pesimis dulu dengan adanya virus tersebut yang akan membuat jualan janur akan sepi pembeli.

“Banyak pedagang janur yang tidak berjualan tahun ini. Jadi persaingan berkurang. Semoga saja Corona cepat hilang dan keadaan normal kembali,” tutup Muslikin.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Awal Juni, Kudus Sudah Bisa Lakukan Tes Swab Sendiri

0
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus, Andini Aridewi. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Awal Juni 2020, Pemerintah Kabupaten Kudus sudah siap melakukan tes swab sendiri. Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi, Kamis (28/5/2020).

Dia mengungkapkan, alat yang digunakan untuk tes swab real-time polymerase chain reaction(R-T PCR) sudah tiba di Kudus sejak dua pekan yang lalu. Saat ini alatnya di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus.

Menurutnya, pihaknya sekarang masih menunggu alat penunjang alat R-T PCR. Di antaranya alat Nucleic Acid extraction, Autoclave dan Microcentrifuge.

Baca juga : Paska Melahirkan, Ibu Asal Kudus Positif Covid-19

“Ini masih menunggu peralatan penunjangnya yang baru berproses. Target awal Juni sudah beroprasi,” tuturnya.

Selain alat untuk tes swab, pihaknya sudah melakukan persiapan ruangan di RSUD dr Loekmono Hadi dan petugas yang akan mengoperasikan alat tersebut.

“Petugas sudah kami kirim ke Salatiga untuk studi banding, belajar. Mereka satu dokter spesialis dan delapan analis laboratorium,” tuturnya.

Andini menjelaskan, dengan adanya labolatorium tes swab R-T PCR sendiri, pihaknya tidak perlu lagi melakukan tes swab di luar daerah.

Menurutnya selama ini, untuk mengkonfirmasi pasien positif atau negatif Covid-19, pihaknya harus melakukan tes swab di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta, Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang, BBTKLPP Yogyakarta dan B2P2VRP Salatiga.

Baca juga : Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

“Waktu yang dibutuhkan lima sampai tujuh hari. Kalau punya sendiri cukup satu hari,” terangnya.

Alat dari sumbangan PT Djarum tersebut, menurut Andini dapat melakukan tes swab 90 kali dalam sehari. Dengan adanya labolatorium swab R-T PCR sendiri di Kudus, penangan pasien Covid-19 diharapkan lebih maksimal.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Funny Beauty Studio, Andalkan Tenaga Ahli untuk Manjakan Pelanggan

0
Owner Funny Beauty Studio sedang melayani pelanggan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Studio kecantikan bernama Funny Beauty Studio siang itu tampak cukup ramai. Beberapa wanita terlihat sedang menikmati pelayanan yang diberikan oleh para pegawai. Studio yang terletak di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus itu memang khusus untuk perempuan. Tidak heran jika para pelanggan yang datang keseluruhannya adalah perempuan dengan usia yang beragam.

Owner Funny Beauty Studio Diana Stephanie (35) mengatakan, studionya menyediakan jasa perawatan yang cukup lengkap dengan harga terjangkau. Beberapa pelayanan yang disediakan untuk pelanggan adalah eyelash extension, facial, pemasangan behel, perawatan rambut, kulit, hingga spa vagina.

Karyawan Funny Beauty Studio sedang melayani pelanggan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Selain itu, kami juga ada treatment rambut, seperti colouring, hair mask, terus baby glow buat yang pengen mukanya lebih bersinar. Ada facial, eyelash, bleaching juga, sampai spa vagina juga ada. Pokoknya lengkap,” papar Stephanie, Rabu (20/5/2020).

Baca juga: Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik di Faeyza Beauty Eyelash

Untuk memanjakan konsumen, lanjut Diana, studio miliknya ditangani oleh tenaga ahli yang fokus di bidangnya. Sehingga, pelanggan tidak perlu ragu untuk datang dan menjalani perawatan. Salah satunya adalah seorang bidan yang biasanya melayani treatment spa vagina. Layanan tersebut cukup digemari pelanggan.

“Kalau treatment yang paling digemari pelanggan ada beberapa, seperti eyelash, baby glow sama spa vagina. Jadi tidak perlu khawatir bagi pelanggan, karena di tempat kami semua treatment dipegang oleh tenaga ahli. Seperti spa vagina juga langsung ditangani bidan dari kami,” kata dia.

Baca juga: Legend’s Barbershop Layani Pelanggan yang Ingin Pangkas Rambut di Rumah

Selain itu, pihaknya juga berencana meluncurkan perawatan baru, yaitu memanfaatkan laser untuk perawatan rambut rusak. Layanan ini akan dimulai setelah Lebaran.

“Untuk treatment terbaru kami nanti ada laser rambut. Jadi itu layanan untuk perawatan rambut rusak. Itu juga kami sudah belajar cara dan jenis-jenis rambut yang rusak. Nanti kita kasih vitamin, terus dilaser,” tutup Diana.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Pertimbangkan Pembukaan Sekolah Kembali, Siswa Akan Duduk Sendiri-Sendiri

0
Ganjar Pranowo datang ke SMPN 7 Semarang untuk mengecek persiapan penerapan new normal beberapa waktu lalu. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mempertimbangkan pembukaan sekolah-sekolah di wilayahnya. Skenario berlangsungnya pendidikan di sekolah akan diinstruksikan sesuai dengan penerapan new normal. Namun, pembukaan sekolah belum bisa dilakukan dalam waktu dekat ini.

“Ini biar disiapkan dulu. Saya sudah meminta guru untuk mempersiapkan jika nantinya sekolah dibuka kembali. Tidak dalam waktu dekat ini, namun persiapannya harus dihitung dulu,” ujar Ganjar saat datang ke SMPN 7 Semarang, Selasa (26/7/2020).

Ganjar menjelaskan, beberapa hal yang perlu dipersiapkan sekolah di antaranya prosedur siswa masuk sekolah dan kelas, tempat duduk siswa, dan kelas berapa saja yang bisa kembali masuk. Semuanya harus dipersiapkan jika mulai diberlakukan new normal.

“Ini tadi saya ke SMP. Mungkin nanti yang masuk kelas 9, untuk kelas 7 dan kelas 8 tidak. Satu kelas nanti tempat duduknya sendiri-sendiri. Biar nanti gurunya yang membantu,” tutur Ganjar.

Ganjar mengecek kesiapan Masjid Agung Kauman Semarang. Foto: Ist

Baca juga: Lebaran Ketiga Ganjar Sidak Mal, ‘Pakai Maskernya yang Benar, Jangan Anggap Sepele Virus Ini’

Selain ke sekolahan, pada hari yang sama Ganjar juga mendatangi beberapa tempat ibadah, Gereja Katedral Semarang dan Masjid Agung Kauman Semarang. Kedatangannya ke beberapa tempat tersebut juga untuk mengecek kesiapan para pengelola atau pengurus jika nanti mulai diberlakukan new normal.

Di Gereja Katedral, Ganjar ditemui Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko. Kepada Ganjar, Uskup Rubiyatmoko menerangkan penerapan pembatasan peribadatan sudah ditetapkan sampai 31 Mei. Namun karena kondisi belum pasti, pembatasan peribadatan diperpanjang mulai 1 Juni sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Kami perpanjang lagi pembatasan peribadatan sambil menunggu perkembangan. Kami mengikuti kebijakan pemerintah, kalau ada kebijakan baru kami tentu akan mendukung,” terangnya.

Baca juga: Para Pemudik Jangan Balik ke Jakarta, Pemprov Jateng Siapkan Pelatihan dan Modal Usaha

Uskup menambahkan, apabila nantinya ada kebijakan baru dan umat diperbolehkan beribadah di gereja lagi, maka standar protokol kesehatan akan diterapkan sesuai prosedur, seperti pembatasan jamaah, pengaturan jarak saat beribadah, penyediaan tempat cuci tangan, kewajiban pakai masker.

Di Masjid Agung Kauman Semarang, Ganjar melihat persiapan yang dilakukan takmir masjid. Takmir sudah membuat batas jamaah dengan menyilang lantai dengan solasi.

Di depan masjid, petugas keamanan juga siap dengan alat pengukur suhu tubuh. Setiap jamaah juga diwajibkan cuci tangan menggunakan sabun atau handsanizer yang disiapkan di pintu masuk atau tempat wudhu.

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

“Kami sudah siapkan sejak lama dengan membuat batasan-batasan jamaah. Kalau ada jamaah, kami hanya membuka satu akses masuk dan keluar dengan pengaturan jarak,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Kauman Semarang, KH Hanif Ismail.

Hanif menerangkan, pembatasan jamaah juga sudah disiapkan di dalam. Jarak antara satu jamaah dengan jamaah lain dibuat lebih dari satu meter.

“Kami juga sediakan hand sanitizer di pintu masuk, dan sabun di tempat wudhu,” terangnya.

Editor: Suwoko

- advertisement -