BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi timur Jalan Raya Sadang – Mejobo, tepatnya di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus tampak sebuah bangunan. Atap bangunan tersebut berbentuk tajug tiga tingkat. Lantainya masih berupa tegel serta pintu utama berbentuk gapura berelief Hindu – Budha. Bangunan itu yakni Masjid Wali Hadiwarno Kudus yang belum diketahui siapa wali yang mendirikan masjid bernama Baitul Aziz tersebut.

Saelan (50), Takmir Masjid membenarkan, bahwa sampai sekarang belum diketahui siapa sebenarnya wali yang mendirikan Masjid Wali Hadiwarno. Karena menurutnya, masjid itu didirikan hampir seabad lebih dulu, dibandingkan Masjid Menara Kudus.
“Masjid Wali Hadiwarno itu didirikan pada tahun 863 Hijriyah, sedangkan Masjid Menara Kudus dibangun Sunan Kudus pada tahun 956 Hijriyah,” terang Saelan, kepada betanews.id, Kamis (30/4/2020).
Tahun pembuatan Masjid Wali Hadiwarno tuturnya, terpahat di kusen bagian atas pintu utama masjid. Tahun tersebut disimbolkan berupa Trisula Naga. Yang menurut bahasa Sansekerta, berarti tri itu tiga, sula berarti enam dan naga itu delapan.
Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang
“Karena arti bahasa Sansekerta dibaca dari belakang, jadi bacanya itu tahun 863 Hijriyah. Soalnya, kalau dibaca dari depan, umur bangunan Masjid Wali Hadiwarno malah makin tua lagi,” jelasnya.
Meski belum diketahui wali siapa yang mendirikan masjid di desanya tersebut, Saelan dan warga sekitar meyakini, bahwa Masjid Baitul Aziz itu didirikan langsung oleh seorang wali. Oleh sebab itu, masyarakat Hadiwarno menyebutnya sebagai masjid peninggalan para wali.
“Bisa saja kan masjid ini dibangun oleh wali sebelum Sunan Kudus. Soalnya penyebaran agama Islam di tanah Jawa itu dimulai dari wilayah timur,” ujar pria berkaca mata tersebut.
Pria yang siang itu mengenakan kemeja batik warna kuning itu menambahkan, layaknya masjid wali pada umumnya, di Masjid Baitul Aziz Hadiwarno juga terdapat beberapa bagian yang dipertahankan hingga sekarang.
Antara lain, gapura yang sekaligus pintu utama masjid. Pintu utama masjid ini unik karena hanya setinggi 125 sentimeter. Serta dibuka setiap hari Jumat.
Kemudian ada tiang kayu saka empat penyangga atap utama masjid. Keempat tiang itu ada beberapa bagian yang sambungan. Meski menggunakan kayu sambungan bangunan masjid tetap kokoh hingga sekarang.
“Ada juga mihrab berornamen gaya Hindu – Budha. Mimbar kayu, mustaka serta sumur peninggalan wali,” ungkapnya.
Baca juga : Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali
Sumur di Masjid Wali Hadiwarno lanjutnya, bernama Sumur Panguripan. Disebut Sumur Panguripan, karena pada tahun 1970 Desa Hadiwarno mengalami kemarau panjang. Semua sumur warga kering. Ajaibnya kata dia, sumur di Masjid Wali Hadiwarno tidak kurang sedikitpun airnya.
Warga pun kemudian memanfaatkan air sumur peninggalan wali itu untuk keperluan sehari – hari. Dari minum, mencuci, mandi dan lainnya.
“Karena memberi kehidupan masyarakat sekitar, disebutlah Sumur Panguripan. Masyarkat juga percaya air Sumur Penguripan bisa dibuat obat,” tutup Saelan.
Editor : Kholistiono

