BETANEWS.ID, KUDUS – Kabupaten Kudus lekat dengan julukan Kota Kretek, mengingat banyaknya pabrik rokok yang berdiri di daerah ini. Selain Djarum, Sukun, dan Nojorono yang masih bertahan, ada juga nama-nama besar yang kini tinggal sejarah, seperti Djambu Bol, Bal Tiga, dan Goenoeng & Klapa.
Namun, warisan pabrik rokok Djambu Bol tidak hanya tercatat dalam sejarah industri tembakau, tetapi juga dalam dunia pendidikan Islam. Roesydi Ma’roef, pemilik pabrik Djambu Bol, dikenal sebagai sosok kaya raya yang dermawan. Ia banyak membantu pembangunan masjid, sekolah, hingga pesantren. Salah satu pesantren yang berdiri atas kontribusinya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Ngembalrejo, yang didirikan bersama KH Ahmad Zaenuri.
Pengurus pesantren, Syarifah menjelaskan, cikal bakal pesantren ini bermula dari pengajian yang diadakan di tengah masyarakat Ngembalrejo, kawasan dengan mayoritas pekerja pabrik. Melihat tingginya antusias warga, Ma’roef mengusulkan kepada KH Ahmad Zaenuri untuk mendirikan pesantren. Usulan ini disambut baik, hingga keduanya berbagi tugas; Ma’roef menyediakan fasilitas, sementara KH Ahmad Zaenuri mengelola pendidikan santri.
Baca juga: Bangunan Masjid Baitul Mukminin Bulungcangkring Kudus Ternyata Dulunya Adalah Rumah
Pada 1960, Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum resmi berdiri di bawah Yayasan Pendidikan Islam Darul Ulum. Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah.
Awalnya hanya dua orang santri dari Demak, kemudian meningkat menjadi sepuluh, hingga mencapai 300 santri putra dan putri. Melihat perkembangan ini, yayasan membangun dua unit gedung di atas lahan seluas 1.200 m² untuk menampung santri yang semakin banyak.
Pondok Pesantren Darul Ulum berpegang teguh pada sistem pendidikan salaf yang berfokus pada pembelajaran kitab kuning. Metodenya mencakup sorogan, di mana santri membaca kitab secara mandiri lalu menyetorkannya kepada kiai untuk dikoreksi. Selain itu, ada juga bandongan, yakni metode di mana kiai membacakan dan menjelaskan isi kitab, sementara santri mencatat maknanya.
“Pondok ini dari awal memang berbasis salaf yang mengajarkan kitab-kitab. Semua santri wajib mengikuti Madrasah Diniyah (Madin). Beberapa ada yang menghafal Al-Qur’an, tetapi yang tetap menjadi ciri khas pondok ini adalah pengajaran kitabnya,” ujar Syarifah, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Setiap siang, setelah jamaah zuhur, terlihat santri-santri putri berjalan menuju kediaman ustaz, membawa kitab yang akan mereka pelajari. Kitab-kitab ini umumnya dicetak di kertas berwarna kuning, sehingga disebut kitab kuning.
Baca juga: Masjid Datuk Ampel, Saksi Dakwah Islam di Desa Troso Jepara
Dalam perjalanannya, Ponpes Darul Ulum telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Yang pertama yakni KH Ahmad Zaenuri (1960-1986), memulai pengajian di langgar pribadinya hingga menjadi pesantren. Kedua, KH Ahmad Fatchi MN (1986-2001), yang melanjutkan pengembangan pesantren. Ketiga, KH Sa’ad Basyar (2001-2019), meningkatkan fasilitas pesantren. Kemudian dilanjutkan Kyai Kasmidi (2019-sekarang), yang memimpin Ponpes Darul Ulum di tengah tantangan zaman modern.
Dahulu, jumlah santri mencapai lebih dari 300 orang, karena pesantren salaf masih jarang. Namun, kini jumlahnya sedikit berkurang.
“Sekarang banyak santri yang setelah lulus sekolah langsung boyong (pulang), tidak melanjutkan ke diniyah. Tapi ada juga yang masuk khusus untuk mengikuti diniyah saja,” tambahnya.
Penulis: Nur Maisya Ayyasy, Mahasiswa Magang Unisnu Jepara
Editor: Ahmad Rosyidi

