BETANEWS.ID, DEMAK – Kantor Dinas Pariwisata Demak yang berada di Jalan Sultan Fatah Nomor 53, Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak menjadi bukti sejarah keberadaan kolonial Belanda di Kota Wali.
Bangunan seluas 10×40 meter itu terlihat mirip seperti rumah panggung Palembang. Pada bagian pondasi rumah terbuat dari batu dan dindingnya menggunakan kayu jati dibentuk memanjang menghadap ke arah Selatan.
Menurut Pengamat Kebudayaan Demak, Ahmad Widodo, dulunya gedungitu merupakan gudang opium yang diperkirakan ada sejak 1910-1930. Bangunan tersebut memiliki lebel seri Belanda 123 E yang terpasang dibalik meteran listrik.
Baca juga: Sejarah Berdirinya Gereja Kristen Jawa di Demak, Ada Sejak 1950an
“E ini merupakan register yang dibangun oleh londo. E adalah lambang negara berarti Belanda,” katanya, Sabtu (23/12/2023).
Pada saat itu, opium legal dipasarkan. Belanda melakukan monopoli perdagangan candu di tanah Jawa untuk membiayai keperluan persenjataan mereka.
Widodo menyebut, Belanda hanya menggunakan gudang tersebut selama 20-30 tahun. Kemudian bangunan tersebut beralih fungsi menjadi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) pasca-kemerdekaan Indonesia dan mengalami perubahan maupun perbaikan.
“Tidak difungsikan lagi ketika Belanda pergi dari Indonesia tahun 1942. Kemudian Jepang masuk, entah gudang itu jadi apa. Setelah tahun 1958 baru kita ketahui dipergunakan gedung DPRS,” paparnya.
Baca juga: Temuan Arca Jadi Bukti Peradaban Hindu Pernah Eksis di Demak
Pada 15 Mei 2023, Pemerintah Kabupaten Demak yang ditandatangani oleh Bupati Demak Eistianah, telah menetapkan dan meresmikan kantor Dinas Pariwisata dan Museum Glagah Wangi, sebagai cagar budaya. Penobatan itu diberikan karena bangunan tersebut menyimpan nilai sejarah penting yang pernah berkembang di Demak.
“Bangunan itu secara jelas berusia lebih dari 50 tahun yang mewakili gaya Eropa peralihan Jawa. Kemudian bangunannya mengandung nilai arsitektur, nilai sejarah, dan nilai kebudayaan Eropa yang pernah masuk di Demak,” tambah Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Demak, Roni Sulfa Ali.
Editor: Ahmad Muhlisin

