31 C
Kudus
Selasa, Juni 25, 2024

Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali

BETANEWS.ID, KUDUS – Hawa sejuk begitu terasa saat duduk di atas lantai serambi sebuah masjid di Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus. Di serambi terlihat 36 tiang bulat besar berwarna kuning begitu kokoh menopang atap dan kubah masjid. Pagar keliling masih berupa bata merah. Begitu juga dengan gapura masjid yang dilengkapi denga pintu gebyok. Masjid tersebut yakni Masjid Jami’ Nganguk Wali.

Abdul Rahmat Nur (42) juru pelihara ditemui di serambi masjid sudi berbagi kisah berdirinya Masjid Nganguk Wali. Dia menuturkan, saat kerajaan Majapahit dipimipin Brawijaya V, atau akhir masa kejayaan Kerajaan Hindu Budha itu datanglah lima syech ke Kudus untuk mengajarkan agama Islam.

Pintu gerbang Masjid Jami’ Nganguk Wali. Foto : Rabu Sipan

Karena kehausan, lima syech itu datang ke tempat jujugan (Tajug) tempat yang kelak berdiri Masjid Nganguk Wali untuk istirahat dan minum. Sebab di tempat tersebut terdapat sumber mata air. Lima syech itu antara lain, Syech Abdul Rohman, syech Abdullah Assodiqi, Syech Khusen Assaqiqi, Syech Ali Murtadlo serta Syech Sohibul Huda.

-Advertisement-

“Karena kagum dengan kealiman dan ketawadlu’an para syech itu. Masyarakat setempat menerima para syech untuk menetap di Tajug. Para warga juga membantu bangun masjid sederhana dan memberikan jemblok atau gentong besar sebagai kulah untuk wudlu,” ujar pria yang akrab disapa Rahmat kepada betanews.id, Jumat (24/4/2020).

Baca juga : Doa Lintas Agama Digelar, Taslim : ‘Kami Mohon Pada Tuhan Agar Covid-19 Segera Sirna’

Dari masjid kayu sederhana yang mempunyai saka atau tiang 16 itu, lanjutnya, kelima syech itu menyebarkan agama Islam di Kudus. Hingga datanglah ulama dari Tiongkok, bernama The Ling Sing ke Kudus dan singgah di masjid tersebut. Ulama Tiongkok tersebut kemudian dikenal sebagai Kiai Telingsing.

“Singkat cerita Kiai Telingsing itulah kemudian yang melanjutkan penyebaran agama Islam di Kudus. Sekaligus Nadir pertama masjid yang dibangun kelima syech tersebut,” paparnya sambil membetulkan letak pecinya.

Pria yang rumahnya berdampingan persis dengan Masjid Nganguk Wali itu mengatakan, setelah sekian tahun menyebarkan agama Islam di Kudus. Kiai Telingsing berniat mencari penerus, karena usianya yang sudah sepuh. Kiai Telingsing kemudian keluar masjid dan tengak – tengok mencari seseorang untuk dijadikan penerus.

“Saat tengak – tengok atau ingak – inguk istilah Jawanya, Kiai Telingsing melihat Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan datang dari selatan. Kemudian Sayyid Ja’far Shadiq itu diangkat jadi murid dan diangkat jadi penerus Kiai Telingsing,” jelasnya.

Baca juga : Jelang Ramadan, Penjual Bunga di Kudus Laris Manis

Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan tuturnya, kemudian melanjutkan perjuangan Kiai Telingsing menyebarkan agama Islam di Jawa, khususnya Kudus. Serta kelak dikenal sebagai Kanjeng Syech Sunan Kudus.

“Sunan Kudus itu merupakan wali Allah dan Waliu Ilmi. Dan untuk mengenang pertemuan Sunan Kudus dan Kiai Telingsing itulah kemudian Masjid ini diberi nama Masjid Nganguk Wali,” ungkap Rahmat.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER