Beranda blog Halaman 1836

Meski Berganti Nama dan Tempat, Bengkel Sepeda yang Satu Ini Tetap Ramai Pelanggan

0
Bengkel Purnama Bike terlihat ramai, meski sempat berganti nama dan alamat. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi timur Jalan Patimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tampak bangunan pertokoan. Satu di antara pertokoan tersebut terlihat ramai. Tampak beberapa sepeda terparkir di depannya. Tempat tersebut yakni Purmana Bike, bengkel sepeda yang tetap punya banyak pelanggan meski sudah alami perubahan nama dan tempat.

Niko Kurniawan (26) pemilik bengkel sepeda tersebut menuturkan, usaha bengkel sepeda itu dirintis oleh kakeknya sejak tahun 1981. Dulu nama bengkel sepedanya itu bernama bengkel sepeda Burok. Untuk lokasinya, dulu itu berada di utara Pasar Kliwon Kudus.

Niko sedang menyersis sepeda milik pelanggan. Foto : Rabu Sipan

“Bengkel keluarga kami itu dulu terkenal. Karena terkenal bisa merakit sepeda juara di perlombaan. Itulah sebabnya nama bengkel sepeda kami dinamai Burok,” ujar pria yang akrab disapa Niko kepada Betanews.id, Jumat (29/5/2020).

Baca juga : Kandas jadi Atlet, Niko Sukses Lanjutkan Usaha Bengkel Sepeda

Pria warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sejak kakeknya meninggal, kemudian bengkelnya dikelola ayahnya dan sekarang dilanjutkan olehnya. Sekarang nama bengkel sudah berubah jadi Purnama Bike, lokasinya juga sudah pindah.

Bengkel Purnama Bike, kata dia, melayani servis sepeda dengan harga mulai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Sedangkan perakitan sepeda dari awal dihargainya Rp 100 ribu. Kustom sepeda lipat atau minions dipatok harga Rp 1 juta. Untuk upgrade sepeda mulai dari nol dipatok harga mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 35 juta.

“Selain itu, kami juga menjual aksesoris sepeda, antara lain, helm, tempat minum setang, steam, gir, crank holo2, pedal. Semua servis dan aksesoris itu tersedia untuk aneka jenis sepeda. Jenis BMX, lipat, serta sepeda balap,” jelasnya.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, meski sudah berubah nama dan tempatnya juga pindah, namun pelanggan bengkel sepedanya masih tetap banyak. Sehari ia bisa menservis 10 unit sepeda, serta mampu merakit sepeda sekitar empat unit.

Baca juga : Intip Cara Perakitan Beragam Jenis Sepeda di Loram Wetan

“Hampir setiap hari ramai pelanggan, bahkan sekarang banyak sepeda yang belum tersentuh dan kami titipkan dulu di toko sebelah,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pelanggan bengkel Purnama Bike tidak hanya orang Kudus saja, melainkan juga datang dari daerah sekitar. Dia berharap, bengkel Purnama Bike makin maju, makin banyak pelanggan dan makin ternama.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemimpin Harus Rela Diinjak, Ganjar: ‘Berani Korupsi Saat Pandemi, Tak Pecat dan Seret ke KPK’

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan pihaknya sangat serius dalam penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19. Keseriusan itu juga termasuk penanganan dampak yang dialami masyarakat akibat virus ini. Dia menyatakan siap menindak tegas jajarannya, yang mengambil kesempatan dalam kesempitan (pandemi).

“Saya saat ini kenceng betul, saya sudah ingatkan (para pemimpin daerah di Jateng). Kalau ada hari ini yang berani korupsi saat pandemi, tak pecat tak terke ning KPK,” ujar Ganjar saat halal bihalal secara virtual bersama paguyuban warga Jawa Tengah di Jabodetabek, Minggu (31/5/2020).

Baca juga: Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

Dalam dialognya tersebut, Ganjar mewanti-wanti betul kepada jajaran di bawahnya untuk tidak mengambil kesempatan saat pandemi. Di menegaskan tidak boleh ada yang ngemplang, korupsi pengadaan, dan praktik korupsi lainnya dalam penanganan penyebaran Covid-19 dan dampaknya.

“Hari ini tidak boleh ada yang mikir duit, dodolan (jualan). Jangan ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan,” tutur Ganjar.

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Meski pada masa pandemi sekarang ini banyak kelonggaran, Ganjar memerintahkan agar semua dilakukan secara baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun, para pemimpin harus menaati aturan yang berlaku.

Dalam penanganan dampak sosial dan ekonomi, Ganjar menuturkan, pemimpin harus bertanggung jawab atas apa yang dialami masyarakat. Sebagai pemimpin, amanah yang diemban harus dijalankan demi masyarakatnya.

Baca juga: Lebaran Ketiga Ganjar Sidak Mal, ‘Pakai Maskernya yang Benar, Jangan Anggap Sepele Virus Ini’

“Saya ditanya, dalam situasi seperti ini siapa yang bertanggung jawab. Ya saya yang bertanggung jawab, dan para pemimpin di daerah. Ini ujian para pemimpin di saat sekarang ini. Ibaratnya, kita (pemimpin) itu ada di bawah sandal. Kita harus rela diinjak-injak. Kita harus mendengar aspirasi-aspirasi masyarakat,” tutur Ganjar.

Dia menambahkan, negara sudah berupaya serius dalam menangani wabah covid-19 ini. Namun, masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki agar semakin siap menghadapi kejadian luar biasa seperti saat ini.

Editor: Suwoko

- advertisement -

100 UMKM Makanan Ringan Dapat Bantuan Sembako Senilai Rp 2,8 Juta

0
Kepala Seksi Pengembangan SDM dan Teknologi UKM Disnakerperinkopukm Kabupaten Kudus Bakti Tataryo saat ditemui di kantornya, Jumat (29/5/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bidang makanan di Kabupaten Kudus mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah berupa paket sembako senilai Rp 2,8 juta.

Kepala Seksi Pengembangan SDM dan Teknologi UKM pada Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus Bakti Tataryo mengatakan, jumlah UMKM yang mendapatkan yakni 100 pelaku usaha. Mereka dapat mengambil bantuan pada 1 dan 2 Juni 2020.

“Jumlah awal yang kami usulkan yakni 135 UMKM. Setelah dilakukan verifikasi oleh provinsi, akhirnya 100 UMKM yang lolos,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (29/5/2020).

Bakti menjelaskan, UMKM yang mendapatkan hanya yang bergerak di bidang makanan ringan dan kering saja. Menurutnya, untuk makanan berat seperti lauk pauk dan katering tidak masuk sasaran.

“Jadi kriterianya yakni UMKM makanan ringan dan kering. Makanan berat seperti katering atau lauk pauk tidak bisa. Selanjutnya, tidak terdaftar dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” tuturnya.

Baca juga: Ganjar Gelontorkan Rp 38 M Demi UMKM Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Bakti melanjutkan, paket sembako yang diberikan terdapat tiga jenis. Paket pertama adalah telur ayam 50 kilogram, tepung terigu 75 kilogram, gula pasir 50 kilogram dan minyak goreng 40 liter. Paket kedua, minyak goreng diganti dengan mentega, dan terakhir paket ketiga yakni tepung terigu 75 kilogram dan minyak goreng 40 liter.

“Jika diuangkan setiap UMKM mendapatkan rata-rata sekitar Rp 2,8 juta. Namun, setiap orang berbeda tergantung apa yang diproduksi,” tuturnya.

Pengambilan sembako, kata Bakti, dapat diambil di warung yang berlabel Sampoerna Retail Community (SRC).

“Jadi program ini program dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tujuannya untuk membantu pelaku UMKM yang terkena efek pandemi Covid-19,” tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggelontorkan anggaran sebesar Rp 38 miliar untuk membantu UMKM yang bergerak di bidang makanan. Menurutnya, bantuan diberikan untuk membantu mereka supaya tetap eksis di tengah Pandemi Covid-19.

Baca juga: Sejak April Hingga September 2020, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM

Ganjar menuturkan, jumlah UMKM yang mendapatkan bantuan berjumlah 3.691 pelaku usaha.

“Mereka (pelaku UMKM) yang agak lesu, penjualan dan omzet menurun akibat Covid-19 ini kami suntik dengan peralatan dan bantuan bahan baku agar menjadi modal mereka bisa berdagang lagi,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Bonsaiku, Jual Bonsai Cantik Harga Menarik

0
Ali Fadli sedang merawat salah satu bonsai yang dijual di rumahnya, Sabtu (30/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria tampak memotong dedaunan sejumlah tanaman kerdil yang ada di depan rumahnya di Desa Gondangmanis RT 04 RW 04, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sesekali dia terlihat membetulkan kawat yang melilit di dahan atau ranting tanaman tersebut. Dia yakni Muhammat Ali Fadli (28), pemilik Bonsaiku yang menjual 22 jenis pohon bonsai dengan harga mulai Rp 200 ribu.

Ali begitu akrab disapa, menjelaskan, saat ini stok bonsai di Bonsaiku ada sekitar 100 tanaman. Jenis yang tersedia seperti hokiantea mikro, seribu bintang (serbin), serut, sakura mikro, asam jawa, kawis batu, kawista, soka merah, mirten, dan mustam.

Ali Fadli sedang merawat salah satu bonsai yang dijual di rumahnya, Sabtu (30/5/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Selain itu juga ada waru india, beringin, cemara golden, cemara sinensis, anteng putri (anput), sisir, mirten, black olive, adenium, cendrawasih, waru merah dan sancang. Banyak pilihan jenisnya,” rincinya saat ditemui, Sabtu (30/5/2020).

Baca juga: Berawal dari Hobi, Kini Ida Bisa Jual Seribuan Kaktus dalam Sepekan

Menurutnya, banyaknya jenis tanaman bonsai tidak mempengaruhi harga bonsai. Karena yang menjadi patokan adalah bentuk atau keindahan bonsai. Semakin bagus bentuknya, tentunya semakin mahal harganya.

“Kalau disini harga mulai Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta menyesuaikan keindahan bentuknya. Kebanyakan saya membeli bahan setengah jadi, sehingga dalam waktu tiga hingga enam bulan sudah siap dijual,” terang bapak satu anak itu.

Ali mengatakan, pembentukan bonsai jika dimulai sejak kecil akan memakan waktu yang lama hingga satu tahun. Makanya, untuk bisnis, dia memilih membeli setengah jadi, sehingga prosesnya lebih cepat. “Dalam proses pembentukan membutuhkan waktu yang berbeda-beda,” bebernya.

Baca juga: Sediakan Aneka Bibit Anggur Unggulan, Aan Punya Pelanggan dari Seantero Nusantara

Dari berbagai jenis itu, tanaman jenis Hokiantea, sebin, sakura mikro, dan waru india membutuhkan perawatan yang lebih mudah. Selain itu, harganya juga terjangkau.

“Dalam satu tahun menggeluti bisnis bonsai, saya sudah menjual ke daerah sekitar Jawa Tengah. Diantaranya Purwodadi, Pati, Juwana, Semarang, Demak, dan Kendal,” pungkas Ali.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Beberapa Kali Lamaran Kerja Ditolak, Naini Kini Sukses dengan Usaha Menjahit

0
Naini sedang menyelesaikan pesanan jahitan dari pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah ruang tamu, seorang perempuan tampak menarik gulungan kain berwarna orange. Kain yang sudah digelar kemudian dipotong. Kemudian, sambil memegang gunting di tangan kanannya, perempuan bernama Naini Nikmatullah (32) tersebut berbagi cerita tentang kisahnya menjadi seorang penjahit.

Dia belajar menjahit semenjak masih sekolah. Naini begitu dia akrab disapa, awalnya memang sering membantu ibunya yang menjadi penjahit. Mulai tahun 2006, dia melamar kerja ikut menjahit di konveksi.

Baca juga : Layani Pesanan APD, Naini Fashion Kebanjiran Order

“Awal saya melamar kerja jadi penjahit ya ditolak-tolak dengan berbagai macam alasan. Akhirnya pada tahun 2007 saya mulai merintis buka usaha sendiri. Namanya usaha ya ada sepi ada ramai,” ungkap warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu kepada betanews.id.

Saat orderan sepi, Naini juga pernah berjualan sosis di depan rumah demi meringankan beban ekonomi keluarga. Meski begitu, dia tetap menekuni menjadi penjahit. Hingga akhirnya pada tahun 2010 memberi nama konveksinya Naini Fashion.

“Tetapi mulai ramai orderan sejak empat tahun yang lalu. Karena saya mulai posting online hasil jahitan saya. Jadi pelanggan saya mulai banyak dari luar kota juga,” terangnya.

Demi memenuhi pesanan pelanggan, ibu dua anak itu bekerja sama dengan belasan penjahit rumahan dan sejumlah konveksi lain. Dia hanya membuat pola dan memotong kainnya sesuai ukuran pelanggan.

Baca juga : Kisah Aji, Pernah Dicemooh saat Awal Rintis Usaha Servis Jok Karena Penghasilan Kecil

Naini juga menambahkan, dirinya mampu melayani segala macam jenis jahitan. Seperti seragam, gaun, sarimbit, kemeja, gamis dan lainnya.

“Semua jenis jahitan kemungkinan bisa saya layani. Dengan berjualan melalui online saat ini banyak orderan dari luar kota. Bisa melihat koleksi saya di Instagram @nainicyut,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lebih Hemat, Rokok Tingwe di Ko-Mbako Ednik Makin Diminati

0
Anik Rofi'ani sedang melayani pelanggan di Ko-Mbako Ednik, JUmat (29/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Anik Rofi’ani (38) terlihat sedang membungkus tembakau di Toko Ko-Mbako Ednik yang berada di samping Gerbang Gang 11 Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jumat (29/5/2020). Di depannya, dua orang pria tampak menunggu sambil memberikan sejumlah uang untuk menebus bahan utama untuk merokok ngelinting dewe atau tingwe.

Setelah melayani pembeli, Anik kembali duduk di tempatnya sambil bercerita awal merintis toko tembakau yang baru dibuka Januari lalu itu. Menurutnya, ide pembukaan toko bermula dari kegelisahan suaminya yang mendapati harga rokok semakin mahal.

Anik Rofi’ani sedang memilih tembakau yang dibeli pelanggan di Ko-Mbako Ednik, JUmat (29/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Kalau ide sebenarnya karena suami saya sendiri adalah perokok berat. Dulu, setiap hari bisa habis dua bungkus. Terus akhir tahun 2019, kan juga ada isu harga rokok naik. Nah, akhirnya kami sering survei tembakau ke berbagai daerah tempat produsen tembakau. Dari sana kami mencoba membuka usaha ini,” papar Anik.

Baca juga: Di Ko-Mbako Ednik, Anda Bisa Coba Tembakau dari Aceh Hingga Madura

Faktor lain yang membuatnya mantap jualan tembakau adalah lingkungan sekitar yang kebanyakan adalah perokok. Baginya, hal itu bisa sebagai alternatif bagi para pecinta rokok di tengah harga rokok yang semakin mahal. Apalagi, kebanyakan dari mereka mayoritas petani dan buruh.

“Dari sana saya melihat peluang sekaligus berharap bisa menjadi pilihan alternatif dengan toko tembakau. Tentunya para perokok akan lebih hemat. Selain itu, saya juga berpikir bagaimana jika memanfaatkan produk petani tembakau langsung untuk kesejahteraan mereka,” papar wanita berjilbab itu.

Ibu dari tiga anak tersebut mengatakan, meskipun tidak mempromosikan dagangan melalui internet, tapi pelanggannya semakin hari semakin ramai. Utamanya adalah para lelaki di sekitar desanya.

“Toko kami juga semakin dikenal karena berbagai varian tembakau yang disediakan. Apalagi, kami mendatangkannya dari berbagai daerah mulai dari Aceh, Jawa, dan Madura,” ungkap Anik.

Baca juga: Sepi Orderan, Driver Taksi Online Ini Banting Stir Rintis Usaha Tahu Walik

Selain itu, harga tembakau di Ko-Mbako Ednik juga cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 80 ribu tergantung jenis dan varian. Yang paling mahal adalah tembakau jenis cangklong. Sedangkan jenis mole dan giling harganya bervariasi.

“Untuk kemasan juga berbeda-beda ukurannya. Pokonya di sini lengkap. Pelanggan tinggal pilih,” pungkas Anik.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sambut New Normal, Perusahaan di Kudus Perketat Protokol Kesehatan

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat meninjau kesiapan new normal di salah satu perusahaan di Kudus. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah perusahaan di Kudus bersiap untuk menyambut new normal atau kenormalan baru yang akan diberlakukan pemerintah pusat mulai 1 Juni mendatang. Berbagai langkah telah dilakukan, di antaranya dengan memperketat protokol kesehatan.

Untuk melihat kesiapan perusahaan, Plt Bupati Kudus, HM Hartopo telah mengecek dan memastikan protokol kesehatan Covid-19 dilaksanakan di berbagai perusahaan yang ada di Kudus.

Hartopo mengungkapkan, dirinya mengaku telah mengunjungi PT Djarum dan PT Pura Barutama. Hasilnya, protokol kesehatan sudah sesuai dengan arahan pemerintah.

Baca juga : Ganjar: New Normal Belum Bisa Diterapkan Dalam Waktu Dekat

“Saya sudah mengunjungi PT Djarum dan PT Pura, sekalian silaturahim. Mereka sudah menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya Jumat (29/5/2020).

Hartopo menjelaskan, protokol kesehatan yang dilakukan di antaranya mengatur jarak antar pekerja. Ia mencontohkan, di PT Pura Barutama sudah mengatur jarak antarpekerjanya dengan membuat sekat-sekat.

Selain itu di perusahaan rokok, produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) juga sudah melakukan hal serupa.

“Di pabrik rokok juga sama. Djarum, Nojorono, Sukun sudah melaksanakannya. Terutama di brak-brak (produksi SKT, red) jarak sudah diatur,” jelasnya.

Selain pengaturan jarak, lanjut Hartopo, perusahaan harus menyiapkan tempat mencuci tangan dan protokol kesehatan lainnya. Terutama karyawan harus mengenakan masker.

Selain persiapan new normal di perusahaan dan tempat kerja, pihaknya juga mempersiapkan posko terpadu di tempat-tempat umum.

Baca juga : Hartopo Sebut Kepatuhan Protokol Covid-19 di Desa Lebih Rendah Ketimbang di Kota

Hartopo menjelaskan, untuk percontohan, posko terpadu sudah dibangun di Pasar Kliwon, Pasar Bitingan, Swalayan Ada, Kudus Extension Mall Hypermart dan Mall Ramayana. Posko terpadu tersebut akan dijaga petugas Polri, TNI, Dinas Perhubungan dan Satpol PP.

“Petugas yang berjaga akan memastikan protokol kesehatan dilakukan dengan baik. Jika ada pembeli dan pengelola tidak mengenakan masker atau dilepas, maka petugas akan bertindak,” jelasnya.

Selanjutnya, Hartopo juga meminta camat dan kepala desa untuk menggencarkan sosialisasi new normal kepada masyarakat. Menurutnya, new normal yakni cara terbaik bersahabat dengan Covid-19. Karena hingga saat ini vaksin dari virus tersebut belum ditemukan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kandas jadi Atlet, Niko Sukses Lanjutkan Usaha Bengkel Sepeda Orang Tuanya

0
Niko Kurniawan sempat gagal untuk mewujudkan cita-citanya menjadi atlet sepeda. Tapi, kini dia sukses dalam usaha bengkel sepeda. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, di Bengekel Purnama Bike tampak seorang pria mengenakan kaus oblong sedang sibuk dengan rangka sepeda ontel. Rangka sepeda berwarna merah itu dengan cekatan dipasanginya roda, rantai, setang dan spare part lainnya sehingga jadi lengkap. Pria tersebut yakni Niko Kurniawan (26) yang memutuskan meneruskan usaha bengkel sepeda, setelah cita – citanya jadi atlet kandas.

Seusai menyelesaikan pekerjaannya, pria yang akrab disapa Niko itu sudi berbagi kisah hidupnya kepada betanews.id. Dengan mengajak duduk di warung dan memesan minuman sebelah bengkelnya, dia mengawali pembicaraan. Dulu sebenarnya ia itu bercita – cita jadi atlet sepeda. Bahkan mulai tahun 2004 sudah beberapa kali ikut perlombaan sepeda di beberapa kota.

Salah seorang pelanggan sedang memperbaiki sepedanya di bengkel Purnama Bike. Foto : Rabu Sipan

“Dari perlombaan itu saya sering naik podium. Namun sayang, pada tahun 2007 saat ikut perlombaan BMX Cross, saya mengalami kecelakaan parah,” kenang Niko dengan pandangan menerawang, Jumat ( 29/5/2020).

Baca juga : Setia Kawan Putra, Satu-Satunya Toko Sepeda Onthel Antik di Kudus

Akibat kecelakan itu, lanjutnya, dadanya mengalami luka dalam yang mengakibatkan ia susah bernafas dan harus menjalani perawatan jalan selama tiga tahun. Akibatnya, stamina dan kebugaran tubuhnya untuk jadi atlet jauh dari harapan. Karena alasan tersebutlah, dia pun berdamai dengan keadaan.

“Sejak saat itu pupus sudah harapan jadi atlet bersepeda. Namun saya tetap bersyukur, penyakit akibat kecelakaan itu bisa sembuh. Dan seperti Mas lihat, saya sekarang melanjutkan usaha keluarga jadi tukang bengkel sepeda,” ujarnya sambil menyeruput es yang dipesannya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus itu menuturkan, dengan melanjutkan usaha bengkel sepeda, setidaknya ia tidak jauh dari hobi dan cita – citanya. Bahkan setiap sepekan sekali ia bersama rekannya selalu menyempatkan untuk bersepeda santai ke suatu tempat

Dia mengatakan, bengkel sepeda yang ia kelola itu bernama Purnama Bike. Melayani servis, rakit sepeda dari nol, kustom sepeda, serta menjual aneka aksesoris. Dari pengalamannya yang pernah jadi atlet sepeda, dia mampu membuat sepeda yang diinginkan pelanggan.

“Intinya kan agar pelanggan itu tidak berpaling ke bengkel lain, ya kita beri servis yang memuaskan. Permintaan agar sepeda kayuhannya bagaimana, kita harus bisa memenuhinya. Alhamdulillah selama ini banyak pelanggan yang puas,” ujarnya.

Baca juga : Intip Cara Perakitan Beragam Jenis Sepeda di Loram Wetan

Deni Ardiansyah, satu di antara pelanggan menuturkan, sudah sejak lama berlangganan di Purnama Bike. Setiap ada kerusakan dan setiap dirasa sepedanya ada yang kurang enak saat dikendarai, pasti langsung dibawa ke Bengkel Purnama Bike.

Menurutnya, hasil servis atau pun perbaikan dari Bengkel Purnama Bike sangat memuaskan. Saat dikendarai juga nyaman dan jadinya itu tepat waktu. “Pokoknya servis sepeda di bengkel Purnama Bike tidak mengecewakan. Hasilnya juga sangat memuaskan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Di Ko-Mbako Ednik, Anda Bisa Coba Tembakau dari Aceh Hingga Madura

0
Anik Rofi'ani sedang memilih tembakau yang dibeli pelanggan di Ko-Mbako Ednik, JUmat (29/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Harum tembakau begitu terasa ketika masuk di sebuah toko mungil di samping Gerbang Gang 11 Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Di dalamnya, toples-toples kaca besar penuh dengan tembakau tertata rapi di rak-rak kayu yang menempel di dinding. Dua orang pria tampak sedang memilih-milih tembakau yang hendak dibeli, sedangkan seorang perempuan.

Toko tersebut adalah Ko-Mbako Ednik yang menyediakan puluhan jenis tembakau untuk rokok ngelinting dewe atau tingwe. Tak hanya tembakau, tempat tersebut juga menjual produk lain sebagai pelengkap, seperti paper, alat linting, cengkeh, tempat rokok, pipa, dan lem.

Toko Tembakau Ko-Mbako Ednik. Foto: Titis Widjayanti.

Sang pemilik, Anik Rofi’ani (38) menjelaskan, di toko yang baru dibuka Januari lalu itu menyediakan berbagai produk tembakau mulai jenis mole, giling, hingga cangklong. Variannya pun berbeda-beda sesuai permintaan pelanggan. Sedangkan untuk tembakau, dia mengambil dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Jawa, hingga Madura.

“Untuk varian sejauh ini lebih dari 50an. Detailnya belum menghitung, tapi rata-rata segitu. Karena memang banyak sekali. Kemasannya pun beda-beda, sausnya juga beda-beda. Jadi harganya juga beda-beda,” bebernya yang membuka toko bareng suaminya itu, Jumat (29/5/2020).

Baca juga: Kontak, Minuman Legendaris dari Undaan Kudus

Selain itu, di tokonya juga ada beberapa varian yang mempunyai rasa serupa dengan rokok bermerek di pasaran. Tembakau tersebut didapat dari produsen racik asli Kudus.

“Di sini ada semua, mulai yang sudah kemasan dan ada banderol dari produsennya, sampai yang bisa kita timbang sendiri. Sedangkan untuk saus, ada yang sudah diracik, ada yang masih orisinal,” papar Anik.

Sambil memperlihatkan beberapa macam tembakau, perempuan berjilbab itu lantas menjelaskan perbedaan jenis-jenis tembakau yang dijual. Mulai dari tembakau mole adalah tembakau yang dipotong dengan teknis rajang. Sedangkan tembakau giling ialah tembakau yang dipotong dengan cara digiling sehingga lebih lembut.

“Untuk tembakau cangklong, merupakan tembakau yang secara bentuk di antara keduanya tersebut. Tidak terlalu lembut sekaligus tidak terlalu berserat. Namun agak basah,” jelasnya.

Yang spesial, di Ko-Mbako Ednik membebaskan pembeli untuk menjajal beberapa varian yang ada sebelum membelinya. Jadi, dia selalu menyediakan tester untuk dinikmati para pembeli.

“Nah, karena saya bukan perokok, jadi saya menyediakan tester di luar. Jadi para pembeli bisa mencoba beberapa varian tembakau sendiri sepuasnya,” kata Anik.

Baca juga: Pelanggan dari Puskesmas Hingga Rumah Sakit, Juice Taxi Terkenal Ramah Kantong

Setiap harinya, Anik bisa menjual sekitar 2 kilogram tembakau giling. Kemudian untuk yang banyak disukai itu jenis mole dengan varian whisky mint. Sedangkan untuk rekomendasi, Anik mengatakan jatuh pada tembakau Gayo dari Aceh.

“Alasannya karena masih original atau tanpa saus dan pasti sangat cocok bagi pecinta rokok,” tukas Anik.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Keluar Lapas dengan Kaki Diamputasi, Wawan Bangkit Bikin Kerajinan dari Stik Es

0
Wawan sedang membuat kerajinan dari stik es. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria tampak duduk di ruang tamu dengan tumpukan stik es krim di depannya. Berlahan-lahan dengan teliti, dia merekatkan satu-persatu stik tersebut. Stik-stik itu kemudian ia susun menjadi bentuk bodi perahu dan kemudian direkatkan dengan lem. Dia adalah Wantoro (26), seorang mantan narapidana yang saat ini menjadi perajin perahu dari stik es krim.

Wawan begitu dia akrab disapa, mengaku menyesal karena pernah melakukan kejahatan. Dia hanya bisa menyesali dan berusaha melakukan yang terbaik demi anak-anaknya. Saat ini Wawan hanya bergerak dengan satu kakinya, sehingga tidak bisa bekerja angkat berat.

Baca juga : Kerajinan Limbah Plastik Seruni Handmade Tembus Pasar Dunia

“Saya sudah tidak banyak pilihan sekarang, bekerja apa susah dengan keterbatasan saat ini. Saya buat miniatur perahu ini belajar dengan teman selama di lapas. Ada teman yang membuat dan saya ingin ikut belajar,” ungkap warga Dukuh Pacikaran, RT 02 RW 06, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus itu.

Pria dua anak itu, pertama kali membuat membutuhkan 12 kali percobaan baru berhasil. 11 percobaan awal bentuknya tidak bisa rapi. Setelah bisa jadi, kemudian dia memposting di media sosial.

“Dari postingan saya itu, akhirnya teman-teman ada yang tahu dan pesan. Sementara hanya teman-teman yang pesan, mungkin karena kasian dengan saya,” jelasnya kepada betanews.id, Kamis (21/5/2020).

Awal mula belajar, satu perahu membutuhkan waktu sekitar dua hari. Sekarang sudah mulai ada peningkatan satu setengah hari selesai. Menurutnya, hal yang paing sulit adalah membuat bodi awal. Selain itu juga bagian atasnya butuh ketelitian karena rumit.

Baca juga : Andalkan Medsos, Kerajinan Batok Kelapa Milik Warga Ngemplak Mendunia

Selain memposting di media sosial, juga bisa menghubungi nomor WA 082135723135. Harga perahu buatan Wawan dijual Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Dia juga mengeluhkan, jika miniaturnya masih belum banyak yang membeli. Dalam sepekan mendapat uang Rp 50 ribu dia sudah bersyukur.

“Meski ini masih belum apa-apa, tapi saya berharap bisa sukses dan menjadi produsen kerajinan. Saya ingin membuka lapangan kerja. Karena pemicu kejahatan biasanya masalah perekonomian seperti saya dulu,” harapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pertahankan Kualitas, Ayam Geprek Sadis Abis Ramai Diburu Pembeli

0
Pemilik Ayam Geprek Sadis Abis sedang menyelesaikan pesanan pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Bau cabai serasa tajam menusuk hidung di sekitar dapur Ayam Geprek Sadis Abis yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman, Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kudus. Terlihat dua perempuan sedang sibuk melayani pesanan. Mereka adalah Sita Devi (31), pemilik sekaligus kakak dari perintis warung geprek tersebut. Dia tampak cekatan menggoreng ayam. Kemudian satu pegawai di sampingnya yang tak kalah tangkas membungkus nasi. Setelah pesanan siap, beberapa tumpuk styrofoam berisi nasi dan ayam geprek lengkap dengan lalapan itu di masukkan ke plastik, lantas diserahkan kepada pembeli.

Tak beberapa lama, datang pula sang adik, Yenny Darwa (27). Perempuan berbaju batik coklat yang baru saja pulang dari tempat kerja itu segera membantu dan terjun langsung ke dapur. Ayam geprek dengan pilihan level sambal 1 hingga 10 tersebut memang cukup terkenal dan nampak ramai siang itu. Beberapa pelanggan nampak duduk menunggu pesanan yang sebagian besar adalah tukang ojek online.

Pegawai Ayam Geprek Sadis Abis sedang memproses pesanan pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

“Kalau warung ini sudah hampir 5 tahun. Memang ini warung geprek pertama di Kota Kudus, jadi sudah punya pelanggan tetap,” papar Devi, Kamis (28/5/2020).

Baca juga : Sadis Abis, Warung Geprek Pertama di Kudus

Sambil masih menggoreng, Devi memperlihatkan proses persiapan pengolahan tersebut. Katanya, untuk ayam geprek di warungnya, mereka menggunakan bagian dada. Sedangkan untuk jenis ayamnya juga beragam. Mulai dari ayam potong hingga ayam kampung.

Kemudian untuk tepungnya, pihaknya memakai dua jenis tepung. Yakni tepung basah dan tepung kering untuk melumuri ayam yang sudah dibersihkan hingga dua kali. Setelah itu baru digoreng hingga matang.

Setelah itu, ia memperlihatkan proses pembuatan sambal yang dikatakan sebagai andalan dari warung gepreknya. “Kalau sambal, prosesnya biasa saja ya. Cuma memang cabainya itu yang kami pilih kualitas paling baik. Selain itu, prosesnya dicampur sama minyak panas dan bawang putih,” ungkap Devi sembari mempraktikkan proses tersebut.

Hal senada juga dikatakan oleh sang adik, Yenny, bahwa andalan dari warung gepreknya terletak pada sambal. Katanya, sambal mereka memiliki pilihan level dari 1 hingga 10. Sedangkan untuk menu, tidak hanya ayam geprek. Mereka berinovasi setiap bulan untuk menghadirkan menu tambahan lain. Harapannya supaya pelanggan bisa lebih leluasa memilih dan tidak bosan. Meskipun sejauh ini, ayam geprek tetap menjadi idola pelanggan.

“Kami selalu berupaya untuk berinovasi setiap sebulan sekali. Yakni menghadirkan menu baru, sampai akhirnya cukup banyak pilihan untuk pelanggan. Dan yang pasti, kami bisa jamin untuk ayam geprek dan sambal tidak ada perubahan rasa dari awal kami merintis hingga sekarang. Itu yang menjadi salah satu catatan penting, menjaga kualitas. Jadi kami tidak khawatir dengan banyaknya pesaing, karena pelanggan yang bisa merasakan,” papar Yenny.

Meskipun begitu, dikatakan Yenny, mereka sempat hampir putus asa ketika awal-awal mendirikan warung. Sebab, beberapa kejadian saat merintis usaha, membuatnya ingin menutup usaha tersebut. Namun, mereka bisa bertahan dan tetap laris diserbu pelanggan. Yenny menyebutkan, beberapa kejadian tersebut di antaranya, ia pernah kecolongan setelah dihipnotis oleh orang sampai kecurian motor di warung.

Baca juga : Roastbean Coffee, Varian Baru dari Kopi Itheng

“Kalau susahnya di awal-awal, kan namanya juga baru merintis dan pertama kali menggeluti bidang ini. Pernah suatu ketika ada orang jahat yang menghipnotis saya. Dia memesan menu yang tidak kami sediakan dan mengharuskan pegawai dan ibu saya mencari hingga ke tempat lain. Lalu saya disuruh mengantarkan pesanannya ke kantor depan warung. Pas saya sampai, nama tersebut tidak ada. Lalu saya sadar dan kembali ke warung, ternyata orang tersebut sudah pergi. HP saya raib, tapi untungnya uang warung saya bawa. Terus setelah itu, motor pegawai saya hilang di warung,” papar Yenny.

Lanjutnya, dengan waktu buka Senin hingga Sabtu, setiap pukul 11.00 sampai 21.00 WIB, dikatakan Yenny, pihaknya rata-rata bisa menghabiskan 20 Kg ayam potong tiap hari. Sementara itu, untuk jumlah ayam kampung dan beberapa menu lain seperti cumi dan sayur juga laris manis.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Layani Pesanan APD, Naini Fashion Kebanjiran Order

0
Naini sedang menyelesaikan pembuatan APD. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin jahit terdengar di sebuah ruang tamu di salah satu rumah di Dukuh Bendo, Desa Bae RT 03 RW 02, Kecamatan Bae, Kudus. Seorang perempuan tampak menjahit kain berwarna orange. Kain itu nantinya akan dibuat menjadi alat pelindung diri (APD).

Perempuan itu tak lain adalah Naini Nikmatullah (32), Pemilik Naini Fashion. Sambil menjahit kain, dia berbagi cerita kepada betanews.id terkait bisnisnya itu. Sekitar dua bulan ini, dirinya sedang menerima banyak pesanan APD.

Salah satu pelanggan sedang menjajal APD buatan Naini. Foto : Ahmad Rosyidi

Baca juga : Awalnya Ingin Lihat Produksi, Tiba di Pabrik Ganjar Borong 10.000 APD

“Sejak dua bulan yang lalu, saya banyak melayani pesanan APD. Selain dari para dokter juga dari komunitas-komunitas yang ingin berdonasi. Untuk omzet bisa naik sekitar 50 persen dari biasanya,” terang ibu dua anak itu, Jumat (29/5/2020).

Saat ini, dia bekerja sama dengan 12 penjahit rumahan demi memenuhi pesanan APD dari pelanggannya. Selain itu, dia juga dibantu lima orang untuk bagian pengemasan. Perempuan yang akrab disapa Naini itu lebih fokus bagian memotong kain.

“Selain karena rumah saya sempit, saya juga ingin berbagi rezeki kepada teman-teman. Jadi ini bekerja sama dengan 12 penjahit rumahan. Selain itu juga bekerja sama dengan beberapa konveksi,” jelasnya.

Naini juga menjelaskan, APD yang dia buat ada dua jenis, yaitu gown dan coverall. Untuk harga jenis gown pendek Rp 40 ribu dan panjang Rp 45 ribu. Sedangkan coverall pendek Rp 50 ribu dan panjang 55 Rp ribu.

Baca juga : Gibran Dapat Pesan Khusus dari Ganjar saat Serahkan Bantuan APD

“Ada juga yang bahan parasut, harganya Rp 80 ribu. Bahan bisa dari sini atau membawa sendiri. Semakin banyak jumlah pesanan harganya bisa kurang,” tambahnya.

APD buatan Naini Fashion mayoritas pesanan dari daerah Karesidenan Pati sendiri. “Tapi ada juga pemesan dari Halmahera, ini sudah jadi tinggal dikirim,” pungkas Naini.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ilmu Warisan Sang Ibu yang Membuat Mariana Terjun di Dunia Kecantikan

0
Pelanggan Mariana Salon & Bridal sedang menerima pelayanan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Mariana Salon & Bridal Kudus nampak cukup ramai, siang itu. Dua pelanggan yang terlihat sedang menggunakan perawatan rambut nampak menikmati servis yang diberikan oleh dua perempuan berambut pirang. Salah satunya adalah sang pemilik, Mariana (38).

Perempuan berambut pirang panjang dan berkulit putih itu tampak ramah saat sesekali mengajak bicara pelanggan. Sementara satu pegawainya dengan warna rambut warna senada terlihat telaten memijat pelanggan yang lain.

Pelanggan Mariana Salon & Bridal sedang menerima pelayanan, Rabu (20/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

Perempuan berdarah asli Solo itu kemudian menceritakan awal mula pendirian salon 2013 lalu hingga sekarang cukup terkenal di Kabupaten Kudus.

“Memang dari awal lokasinya di sini. Terus memang awal saya tertarik dengan dunia kecantikan, utamanya salon. Jadi kayaknya itu turun temurun dari ibu, karena dulu ibu saya juga buka salon dari saya kecil. Jadi tidak asing dengan dunia salon,” papar Mariana, Rabu (20/5/2020).

Baca juga: Wajah Lebih Muda dengan Perawatan Galva Face di Mariana Salon & Bridal

Ia juga menceritakan, awalnya ia sempat kuliah di Yogyakarta di jurusan yang tidak ada hubungannya dengan salon. Namun setelah itu, ia mengikuti les atau kursus kecantikan dan salon di Kota Gudeg. Baru setelah itu, Mariana ke Jakarta untuk bekerja dan belajar mengenai treatment salon dan kecantikan di salah satu salon ternama di sana. Setelah beberapa waktu, akhirnya Mariana lulus dan berani membuka usaha sendiri.

“Berangkat dari pengalaman dan belajar itu, akhirnya saya membuka salon sendiri. Awalnya memang di Jakarta, tapi merasa kotanya terlalu crowded. Akhirnya pindah ke Kudus bersama suami dan buka di sini,” kata dia.

Tak hanya dia, kata Mariana, sang adik saat ini juga membuka salon di Salatiga. Menurutnya, ketertarikan tersebut memang seperti ilmu turun temurun. Sehingga tak heran, dia dan sang adik sama-sama mengikuti jejak ibu mereka.

Baca juga: Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik di Faeyza Beauty Eyelash

“Hingga kini, saya mampu bertahan dan telah memiliki banyak pelanggan. saya juga terus berusaha menjaga hubungan baik dengan pelanggan, sehingga mampu memberikan servis yang sesuai dan pelanggan merasa puas,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Sepi Orderan, Driver Taksi Online Ini Banting Stir Rintis Usaha Tahu Walik

0
Zemi Zakaria kini menekuni usaha tahu walik. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam ruangan dapur sebuah rumah di Dukuh Kadilangon, Desa Gondang Manis Gang 1, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat seorang pria dan wanita sedang sibuk. Sang wanita tampak menggoreng tahu, sedangkan si pria yang mengenakan kaus oblong hitam terlihat memasukkan adonan ke dalam kulit tahu yang dibalik. Pria tersebut yakni Muhammad Zemi Zakaria (44) yang dibantu istrinya membuat camilan tahu walik.

Sembari melakukan aktivitasnya, pria yang akrab disapa Zemi itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Di mengatakan, mulai merintis usaha membuat camilan tahu walik tiga pekan yang lalu. Hal itu dilakukan karena himpitan keadaan. Sebab kerjaan yang jadi penopang ekonomi keluarga malah sepi.

Baca juga : Berhenti jadi Guru Honorer, Arif Pilih Tekuni Usaha Kue Kering

“Saya itu sebenarnya kerja jadi mitra taksi online. Namun, sejak ada corona, orderan sepi banget. Karena sepi, pas Lebaran kurang dua minggu saya berpikir, bagaimana agar saya punya penghasilan dari sumber lainnya. Sehingga terbersitlah ide membuat tahu walik,” ungkap Zemi kepada betanews.id, Jumat (29/5/2020).

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu menuturkan, mendapatkan ide membuat tahu walik dari Google. Tahu walik merupakan camilan khas Banyuwangi bercita rasa gurih, enak, kriuk di luarnya dan lembut di dalamnya.

Kemudian tuturnya, dengan dibantu istrinya, Zemi mencoba membuat tahu walik. Setelah beberapa kali membuat dan sudah menemukan cita rasa yang diinginkan, dia pun kemudian memasarkannya lewat media daring maupun secara konvensional.

“Alhamdulillah setelah kami posting banyak teman yang pesan. Tetangga dan saudara juga banyak suka dan memesannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Sejak saat itu, kata dia, setiap hari ada saja yang pesan tahu walik miliknya. Selain itu, pemasaran juga dibantu saudaranya yang punya angkringan. Sehingga setiap hari dia bisa tetap produksi karena ada pesanan pasti.

“Harga yang kami tawarkan juga sangat terjangkau. Hanya Rp 15 ribu per kemasan untuk rasa original, serta Rp 16 ribu untuk rasa ekstra pedas. Setiap kemasan isinya 14 biji,” jelasnya.

Baca juga : Meski Awalnya Terpaksa dan Kesulitan, Yusuf Kini Sukses Lanjutkan Usaha Sang Ayah

Selama ini, tuturnya, sehari ia mampu menjual 15 sampai 22 kemasan. Itu yang pesanan pasti tiap harinya. Biasanya itu ada saja pesanan dadakan dari tetangga atau teman jauh.

“Saya berharap tahu walik kami makin diminati dan punya banyak pelanggan. Semoga juga usaha ini makin lancar dan berkah,” harap Zemi yang juga berjualan nanas madu, telur dan beras.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masuki Fase New Normal, Perusahaan Wajib Buat Tim Penanganan Covid-19

0
Karyawan PT Djarum sedang mengemas rokok di salah satu pabrik. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Dalam rangka persiapan New Normal atau Kenormalan Baru, Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus telah memberikan surat imbauan kepada berbagai perusahaan. Isi surat tersebut yakni tentang panduan aturan New Normal yang harus dipatuhi perusahaan.

Kepala Disnakerperinkopukm Bambang Tri Waluyo menjelaskan, pihaknya telah memberikan surat edaran sebagai tindak lanjut keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam mendukung keberlangsungan usaha pada situasi pandemi.

Kepala Disnakerperinkopukm Kabupaten Kudus Bambang Tri Waluyo. Foto: Imam Arwindra.

Menurutnya, satu di antara keputusan tersebut yakni setiap perusahaan wajib membentuk tim penanganan Covid-19.

“Tanggal 26 Mei kemarin, surat dengan nomor 560/747/16.03/2020 sudah kami kirimkan ke 170 perusahaan yang ada di Kudus,” ungkapnya saat ditemui di kantor dinasnya, Jumat (29/5/2020).

Baca juga: Kenormalan Baru, Pemkab Kudus Siapkan Posko Terpadu di Pasar dan Swalayan

Bambang menjelaskan, pembentukan tim penanganan Covid-19 di tempat kerja terdiri dari pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan petugas kesehatan. Pembentukan tim tersebut harus diperkuat dengan surat keputusan dari pimpinan tempat kerja.

Menurutnya, tim penanganan covid-19 akan memastikan protokol kesehatan di tempat kerja benar-benar dilaksanakan dengan baik.

“Sejauh ini beberapa perusahaan sudah melaksanakan hal tersebut,” tuturnya.

Bambang merinci, protokol kesehatan yang harus dilaksanakan di antaranya mengatur jarak minimal satu meter antar pekerja. Menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70 persen. Selain itu, menghidari penggunaan alat pribadi secara bersama, seperti alat makan.

“Yang paling penting harus mengenakan masker,” tambahnya.

Baca juga: Ganjar Pertimbangkan Pembukaan Sekolah Kembali, Siswa Akan Duduk Sendiri-Sendiri

Jika memungkinkan, pihaknya juga meminta untuk meniadakan shift ketiga. Serta pengaturan kerja dari rumah atau di kantor.

“Tentu ini untuk kebaikan bersama. Sementara ini belum ada sanksi untuk hal tersebut. Sifatnya masih imbauan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -