31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Intip Cara Perakitan Beragam Jenis Sepeda di Loram Wetan

BETANEWS.ID, KUDUS -Mendung sekitar Gang Rejomulyo, Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus berarak menyingkir ke selatan. Mentari mulai sumringah menyinari salah satu gudang perakitan sepeda yang dimiliki Udin (56).

Di sana nampak beberapa pekerja sedang sibuk merakit sepeda berbagai jenis dan ukuran. Sementara di dalam gudang, diisi ratusan tumpukan sepeda setengah jadi dan beberapa sepeda yang sudah selesai dirakit.

Proses perakitan sepeda di showroom milik Udin di Desa Loram Wetan. Foto : Titis Widjayanti

Tak terkecuali Udin, pria paruh baya yang siang itu sibuk melayani beberapa pelanggan. Tampilannya yang sederhana, berkaus polo garis-garis dan bercelana kain, kemudian menceritakan awal mula usahanya itu dibangun sekitar 5 tahun yang lalu.

-Advertisement-

Baca juga : Setia Kawan Putra, Satu-Satunya Toko Sepeda Onthel Antik di Kudus

“Awalnya sekitar 5 tahun yang lalu. Dari teman dan kerabat yang menyarankan untuk buka usaha perakitan sepeda. Waktu itu minat sepeda juga cukup masih cukup tinggi. Jadi saya pikir peluang bisnis di sana lumayan bagus,” kata Udin kepada betanews.id, Rabu (4/3/2020).

Ia kemudian menjelaskan, jika usahanya tersebut memang berfokus pada perakitan. Mulai dari pengambilan sepeda yang belum jadi dari pabrik, lalu dirakit melalui tiga tahap. Selanjutnya baru ia setorkan ke beberapa toko atau pemesan yang kebetulan membeli sepeda pada dirinya langsung.

“Untuk di sini khusus perakitan. Jadi sepeda-sepeda yang dari pabrik yang masih di dus itu kami bongkar. Selanjutnya kami rakit. Ada tiga tahap. Pertama merakit jeruji dan seluruh komponen roda. Kedua merakit badan sepeda, termasuk rantai. Lalu terakhir perakitan sedel, stang dan rem juga komponen lain seperti lampu atau keranjang,” papar dia.

Selama kurun 5 tahun tersebut Udin mengatakan bahwa omset yang didapat sekitar Rp 300 juta-an per bulan. Di mana mangsa pasar lebih banyak adalah sepeda ukuran kecil untuk anak-anak. Terlebih jika musim kenaikan kelas. Sedangkan untuk merek paling tinggi peminat adalah saat kenaikan kelas.

“Sebenarnya kalau omset, naik-turun nggak tentu. Tapi memang paling banyak ya permintaan waktu musim-musim kenaikan kelas. Tapi memang rata-rata sekitar Rp 300 juta-an tiap bulan. Tapi itu kotor sih Mbak,” jelas lelaki tambun itu.

Sementara untuk pemasaran, kebanyakan Udin mengaku hanya mengirim ke beberapa pelanggan yang memang sudah lama jadi langganannya. Atau mengecer kepada warga sekitar yang langsung membeli di dirinya.

Baca juga : BMW R2, Motor Langka Koleksi Sekaligus Maskot Rajawali Bursa Motor, Tidak Dijual Meski Ditawar Rp 1 Miliar

“Untuk sementara ya sama yang sering ambil dari sini. Nanti kalo sudah dirangkai, ditali terus di susun di mobil pick up. Di drop ke tempat-tempat langganan. Kalau enggak paling ada yang pesan, atau warga sini yang langsung mau beli,” jelas Udin.

Meskipun begitu, usaha Udin yang telah banyak juga punya pesaing, kini telah mampu membuka lowongan pekerjaan bagi orang lain. Terlihat ada 11 lebih karyawan yang kesemuanya sibuk memegang satu buah rangka sepeda di sana.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER