Beranda blog Halaman 1818

Sejak Pandemi, Mpon-mpon Racikan Mbah Atut Ramai Diserbu Pembeli

0
Atut Dihartomo, pemilik Kedai Jampi Godhog Zarisma. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana mulai ramai di Jampi Godhog Zarisma, malam itu. Warung jamu yang terletak di Jalan Bhakti Nomor 87, Burikan, Kudus itu hampir tiap malam ramai dikunjungi pelanggan, apalagi di akhir pekan. Hal itu dikatakan oleh pemilik sekaligus peracik jamu, Atut Dihartomo (68).

Kondisi warung yang ramai, diakui Atut justru berjalan seiring adanya pandemi Covid-19. Berbagai usia, dari orang tua hingga anak-anak, memburu ramuan jamu tertentu seperti mpon-mpon. Lelaki pensiunan Dinas Pertanian itu mengatakan, jika permintaan jamu kian naik, dan puluhan kilo ia sediakan setiap harinya.

Kedai Jampi Godhog Zarisma. Foto: Titis Widjayanti

Baca juga : Jampi Godhog Zarisma, Ramuan Kesehatan dari Kudus

“Pokoknya sekitar 100 porsi itu biasanya habis setiap harinya. Apalagi semenjak pandemi, semakin naik permintaan seperti mpon-mpon dan jamu jahe kelor,” papar Atut, Minggu (28/6/2020).

Hal tersebut juga dikatakan oleh beberapa pelanggan, seperti Britie Pulungsari (35). Perempuan yang sehari-hari bekerja di Dinas Sosial Kota Kudus itu mengatakan, jika ia merupakan pelanggan lama di sana. Selain membeli minuman segar favoritnya, yakni kunir asam, ia juga mulai mengonsumsi mpon-mpon. Bahkan, Britie mengatakan jika seminggu ia bisa ke Kedai Jampi Godhog tersebut hingga dua kali.

“Kebetulan suami kan sering keluar kota, saya juga ada anak balita 2, dan lansia, ibu saya di rumah. Jadi dengan kondisi semacam ini kami mengonsumsi mpon-mpon, termasuk untuk anak saya. Sedangkan ibu saya, biasanya jahe kelor. Karena bisa membuat tidur lebih nyenyak,” papar Britie.

Selain itu, pelanggan lain yakni Frans Haryanto (48) juga mengatakan hal senada. Ia merupakan pelanggan lama yang setia berkunjung ke warung saat merasakan badannya mulai pegal-pegal.

Baca juga : Warung Jahe Rempah Mbah Tolok, Terkenal jadi Jujugan saat Meriang

Frans akui, setelah meminum jamu di sana, keluhannya berkurang. Sehingga ia bisa bekerja dan beraktivitas lebih segar setiap hari.

“Kebetulan saya karyawan di sebuah perusahaan swasta di sini. Saya pelanggan lama, sejak awal berdirinya Jampi Godhog ini. Dan saya biasanya kalau sudah merasakan pegal-pegal di pundak dan punggung, saya ke sini untuk meminum jamu,” ungkap dia.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Santri Pondok Assalam Mulai Berdatangan, Petugas Puskesmas Lakukan Skrining

0
Ratusan santri Pondok Assalam Kudus yang kembali ke pondok terlebih dahulu dilakukan skrining. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan santri Pondok Pesantren NU Assalam yang berangsur-angsur datang ke pondok dites skrining atau pemeriksaan kesehatan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Jati, Kabupaten Kudus. Dari hasil skrining sementara yang dilakukan, ditemukan 122 santri yang memiliki keluhan batuk, pilek dan gatal-gatal.

Menurut Kepala UPT Puskesmas Jati Ahmad Muhammad, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter memang ditemukan santri yang memiliki gejala batuk, pilek dan gatal-gatal. Namun gejala tersebut bukan indikasi terpapar Covid-19, melainkan keluhan biasa.

Kepala UPT Puskesmas Jati Ahmad Muhammad. Foto: Imam Arwindra

“Itu keluhan gejala biasa, bukan Covid-19,” tuturnya saat ditemui di sela-sela kegiatan skrining santri di Pondok Pesantren NU Assalam Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus, Kamis (9/7/2020).

Baca juga : Puluhan Pesantren di Kajen Pati Bentuk Satgas Jogo Santri

Menurutnya, setelah diketahui memiliki gejala batuk, pilek dan gatal-gatal, dokter yang memeriksa segera memberikan obat dan vitamin untuk dikonsumsi. Nantinya jika belum sembuh, pihaknya akan melakukan penanganan selanjutnya.

“Kami akan berkoordinasi dengan pengelola (pondok pesantren) untuk mengawasi santri-santri yang memiliki keluhan,” tuturnya.

Pihaknya juga memungkinkan untuk melakukan tes rapid, jika nantinya ditemukan indikasi yang mengarah pada Covid-19. “Saat ini belum dulu (tes rapid). Ini masih skrining awal,” jelasnya.

Ahmad menjelaskan, saat ini pihaknya melakukan proses skrining kesehatan terhadap santri yang datang ke pondok. Menurutnya, santri tersebut datang dari berbagai daerah setelah menjalani libur panjang karena pandemi Covid-19.

“Mereka datang dari berbagai daerah. Mereka pun ke pondok juga bawa surat keterangan sehat. Artinya dari daerahnya sudah diskrining,” tuturnya.

Skrining yang dilakukan, yakni meliputi pengecekan suhu tubuh, anamnesis gejala atau keluhan, pemeriksaan tekanan darah, pengobatan dan memberikan edukasi kesehatan.

“Ini sudah tahap kedua. Jadi tahap pertama kemarin yakni hari Rabu (8/7/2020). Hari ini, hari kedua (9/7/2020). Hari terakhir yakni Sabtu (11/7/2020),” terangnya.

Ahmad memberitahukan, untuk tahap pertama terdapat 259 santri yang diperiksa. Terdiri dari santri laki-laki 71 orang dan perempuan 188 orang. Dari total tersebut ditemukan 68 santri yang memiliki gejala batuk, pilek dan gatal-gatal.

Sedangkan tahap kedua, terdapat 176 orang yang di periksa kesehatannya. Terdiri dari santri laki-laki 101 orang dan perempuan 75 orang. Dari total 176 orang yang diskrening ditemukan 54 santri yang memiliki gejala batuk, pilek dan gatal-gatal.

“Untuk protokol kesehatan disini (Pondok Pesantren Assalam) sudah baik. Kami juga sudah memberikan sosialisasi dan petunjuk teknisnya,” tuturnya.

Sementara itu, Pembimbing Pondok Pesantren NU Assalam Putri, Nihlatul Maula menuturkan, jumlah keseluruhan santri di Pondok Assalam yakni sejumlah 760 orang. Menurutnya terdiri dari 440 santri putri dan 320 santri putra.

“Keseluruhan belum datang semua. Jadi kalau putri sekitar 95 persen dan putra 80 persen,” jelasnya.

Menurutnya, selama pandemi sekitar bulan Maret 2020, mereka dipulangkan sesuai dengan intruksi dari pemerintah. Namun saat ini para santri mulai berdatangan untuk belajar lagi.

Baca juga : Hartopo Berangkatkan 26 Santri Balik ke Pondok, Pastikan Bebas Covid-19

“Sebenarnya sekolah (MTs dan MA) belum dimulai. Namun kami sudah minta mereka datang. Jadi kebanyak memang dari Kudus sendiri, Demak, Purwodadi dan Jepara. Paling jauh ada yang dari Kalimantan, Tangerang dan Jakarta,” jelasnya.

Pihaknya akan terus memantau kondisi kesehatan para santri, terutama yang memiliki gejala seperti batuk, pilek dan gatal-gatal. Selanjutnya, protokol kesehatan Covid-19 di pesantren juga akan benar-benar dijalankan.

“Seperti hari ini, wali santri yang datang mengantar hanya boleh sampai halaman pondok saja. Kami tidak perkenankan untuk masuk ke dalam kamar,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Ancam Tutup Perusahaan yang Tetap Bandel Cemari Bengawan Solo

0
Gubernur Ganjar Pranowo memimpin rapat tindak lanjut terkait pencemaran Sungai Bengawan Solo yang terus saja terjadi, Kamis (9/7/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengancam akan menutup perusahaan, baik besar atau kecil yang mencemari Bengawan Solo. Peringatan keras ini dikeluarkan setelah mendapati sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut kembali tercemar.

Ganjar menilai, adanya pencemaran tersebut mengingkari komitmen yang disepakati Desember 2019 lalu. Dalam kesepakatan tersebut, pihaknya memberikan waktu 12 bulan kepada seluruh perusahaan yang ada di bantaran Bengawan Solo untuk memperbaiki pengelolaan limbahnya. Apabila dalam kurun waktu itu tidak dilaksanakan dan tetap membuang limbah ke sungai, maka Ganjar akan membawa ke jalur hukum.

Gubernur Ganjar Pranowo memimpin rapat tindak lanjut terkait pencemaran Sungai Bengawan Solo yang terus saja terjadi, Kamis (9/7/2020). Foto: Ist.

“Hari ini terjadi pencemaran lagi, meskipun tidak separah tahun lalu. Selama ini kami sudah berusaha mengendalikan, relatif beberapa komunitas dan usaha kecil seperti pabrik ciu, peternakan babi, tekstil sudah memperbaiki. Tapi, hari ini ketahuan ada beberapa yang masih nekat membuang langsung limbahnya ke sungai,” kata Ganjar usai memimpin rapat soal pencemaran Bengawan Solo di Gedung B lantai 5 kantor Gubernur Jateng, Kamis (9/7/2020).

Dalam rapat yang diikuti instansi terkait dan perwakilan perusahaan, Ganjar mendapatkan fakta masih ada yang membuang limbahnya langsung ke sungai. Bahkan sebelum rapat, Ganjar mendapat foto pembuangan limbah dilakukan langsung ke Bengawan Solo di daerah Blora.

Baca juga: Rumah Sakit Sulit Izin Kelola Limbah Covid-19, Ganjar Bantu Urus ke KLHK

“Tadi juga dalam rapat, ada dua perusahaan besar yang kami mintai keterangan. Satu mengaku bahwa memang membuang langsung ke sungai karena ada kerusakan di mesin IPALnya. Tadi dia mengaku salah dan sedang diperbaiki, satu atau dua hari selesai. Saya tegur keras tadi,” terangnya.

Hasil rapat itu, Ganjar masih memberikan kesempatan pada perusahaan-perusahaan tersebut untuk melakukan perbaikan. Namun, apabila tidak segera diperbaiki dan tetap nekat membuang limbah ke sungai, maka dirinya tidak segan untuk menutup pabrik itu.

“Maka saya peringatkan mereka, ini sudah masuk bulan ketujuh. Kalau nanti tidak bisa, maka kami ambil tindakan hukum. Karena ini belum ada setahun, jadi saya peringatkan dulu. Tapi kalau besok terjadi lagi (membuang limbah ke sungai), sanksinya langsung saya tutup,” tegas Ganjar.

Untuk industri kecil yang kesulitan membuat IPAL, Ganjar kemudian meminta didata agar bisa dibantu pemerintah.

“Nanti kami bantu, kami carikan metode dan teknologinya agar mereka semua tetap bisa berusaha dan tidak mencemari. Tadi kami juga mengajak Kementerian LHK dan Kementerian Perindustrian dalam rapat, supaya bisa mengetahui peta ini,” bebernya.

Baca juga: Gandeng Perbankan untuk Bangkitkan UKM di Jateng

Untuk memantau adanya pembuangan limbah secara langsung ke Bengawan Solo, Ganjar kemudian membentuk tim patroli sungai. Tim terdiri dari berbagai unsur, baik dari Pemprov Jateng, kabupaten/kota dan Pemprov Jatim.

“Kami sudah sepakat dengan Jatim untuk membuat patroli. Bahkan dari TNI/Polri sudah siap membantu. Tim itu sudah dibentuk, minggu depan saya minta turun semuanya. Masyarakat juga saya minta membantu mengawasi,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kisah Hidup Winarni, 40 Tahun Dedikasikan Hidupnya untuk Dunia Tari

0
Winarni sedang melatih tari. Foto: Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah bercat hijau yang berada di pinggir sungai di Desa Hadiwarno, Kecamatan Jekulo, Kudus, tampak sepasang suami istri sedang duduk di teras. Sore itu, mereka sedang menemui tamu yang sedang berkunjung. Di rumah kontrakan itu, sepasang suami istri pendiri Sanggar Tari Klasik Karya Widya Budaya ini tinggal, yakni Winarni Setyo Ningrum (54) dan Bambang.

Winarni lantas bercerita, jika ia sudah sejak lama terjun di dunia kesenian, khususnya tari tradisional. Tepatnya berawal ketika ia masih berumur 3 tahun. Saat itu ia tidak sengaja menggantikan sang kakak untuk menjadi perwakilan peserta lomba tari di TK Bhayangkari.

Baca juga : Kisah Mbah Rogo Moyo, Penyebar Agama Islam dan Maestro Rumah Adat Kudus

“Waktu itu kakak saya nggak bisa, akhirnya saya yang maju. Itu awal saya mengenal dunia tari. Satu tahun kemudian, saya berhasil menyabet juara 1 tingkat provinsi,” ungkap perempuan yang akrab di sapa Win tersebut, Rabu (1/7/2020).

Sambil tersenyum ramah, perempuan asal Manado itu mengatakan, jika ingin hidupnya untuk mengabdi di dunia tari tradisonal. Hal itu semakin mantap saat ia mulai hijrah ke Pulau Jawa. Ia sendiri pindah ke Kudus sejak tahun 1968 dan merupakan lulusan dari SMKI Surabaya jurusan tari. Selanjutnya, sempat mengadu nasib ke Jakarta dan akhirnya sekarang kembali ke Kudus lagi, tepatnya di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

“Kalau diceritain cukup panjang. Sebelumnya saya sempat di Surabaya dan Jakarta. Masih sama, saya mendalami sekaligus mengajarkan tari. Basicnya tradisional. Karena memang cinta dan merasa harus tetap dijaga,” kata dia.

Hingga akhirnya kembali dan menetap di Kudus dan mengajarkan tari selama hampir 44 tahun. Dikatakannya, waktu masih SMP ia sudah membantu mengajar tari di Kabupaten Kudus. Lalu setelah itu, mendalami tari di SMKI Surabaya dan bekerja di Jakarta. Hingga kembali mengabdi dan membuka sanggar tari tersebut.

Di balik itu, Ibu dari tiga anak tersebut mengatakan, saking cintanya terhadap kesenian, bertahun-tahun ia mengabdi tanpa bayaran. Kalau pun ada, hanya pemberian seikhlasnya yang diberi oleh wali murid sanggarnya. Hingga sampai saat ini, ia dan suami masih bertahan di sebuah rumah kontrakan.

Baca juga : Kisah Cerdik Sultan Hadirin Dibalik Pendirian Masjid Wali Loram Kulon

“Ya gimana ya Mbak. Saya niatnya nggak mencari untung atau apa. Ada anak yang gabung, ikut latihan, itu saja saya udah seneng. Nggak tega kali mau mematok harga dan sebagainya. Karena saya tahu, tidak semua orang tua punya uang. Makanya, kalau misal diminta ikut parade atau festival untuk tampil di acara daerah atau menjadi perwakilan Kota Kudus, saya hanya minta ganti make up. Kostum punya saya sendiri. Kadang malah kalau orang tua tidak punya uang sama sekali, tapi anaknya pingin, ya saya nggak tega narik uang ganti make up sama sekali,” kata dia.

Win mengatakan, hal itu ia lakukan bertahun-tahun. Meskipun saat ini, ia mulai mencanangkan SPP dan biaya pendaftaran. Namun, ia juga masih tidak tega menarik biaya tersebut jika orang tua siswa benar-benar tidak memiliki uang. Kalau pun ada event yang harus diikuti, atau dipanggil oleh beberapa pihak untuk tampil, biasanya seluruh uang transport untuk siswanya langsung dibagikan kepada anaknya tanpa berkurang sepeser pun.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Satu Pegawai UMK Sembuh dari Covid-19, Tapi Masih Dikarantina

0
Aktivitas di Universitas Muria Kudus. Foto: Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Satu pegawai Universitas Muria Kudus (UMK) yang sebelumnya terkonfirmasi positif Covid-19, saat ini disebutkan sudah sembuh. Hal tersebut disampaikan Rektor UMK Suparnyo saat ditemui di Kampus UMK, Kamis (9/7/2020).

Dia menuturkan, setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan pegawai yang bersangkutan, pegawai yang merupakan penjaga malam di kampus tersebut sudah sehat dan merasa sembuh. Namun, Suparnyo belum memperbolehkannya bekerja dulu hingga tanggal 28 Juli.

“Dia sudah sehat. Juga sudah minta untuk masuk kerja. Namun kami belum memperbolehkan, karena dari puskesmas meminta dikarantina sampai 28 Juli,” jelasnya.

Baca juga : Satu Pegawai Positif Covid-19, Kampus UMK Diliburkan Sepekan

Menurutnya, pegawai yang tinggal di Kecamatan Bae, Kudus tersebut sudah tidak masuk kerja sejak tanggal 11 Juni 2020. Hal tersebut dikarenakan hasil tes rapid menyatakan reaktif Covid-19.

“Dia itu penjaga malam. Jadi minim bertemu orang saat di kampus,” tuturnya.

Suparnyo menegaskan, pegawainya dipastikan tidak tertular virus Corona dari dalam kampus, melainkan dari luar. Menurutnya, selain menjadi penjaga malam di UMK, yang bersangkutan juga sebagai perangkat desa.

“Jadi dia sering berinteraksi dengan orang banyak di luar. Kami yakin tertularnya tidak di dalam kampus namun dari luar,” tuturnya.

Namun, lanjut Suparnyo, pihaknya tetap melakukan antisipasi supaya penyebaran Covid-19 tidak meluas di lingkungan kampus.

Dia menuturkan, sudah meliburkan sementara aktivitas di kampus dan diganti dengan work from home (WFH) dari tanggal 3-10 Juli 2020. Selama WFH dilakukan, pihaknya melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh lingkungan kampus pada 4-8 Juli 2020.

“Namun untuk penerimaan mahasiswa baru masih jalan. Kami pastikan petugasnya tidak ada kontak (dengan pasien Covid-19),” jelasnya.

Baca juga : Wisuda UMK Akan Digelar Juli Mendatang dengan Cara Drive Thru

Selain itu, pihak puskesmas juga sudah melakukan tes rapid kepada 26 orang pegawai UMK yang memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19. Hasilnya keseluruhan dinyatakan nonreaktif.

Menurutnya, setelah WFH selesai, pihaknya akan lebih memperketat lagi pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 di kampus.

“Kita juga sudah evaluasi semua penerapan new normal di kampus. Setelah WFH selesai, kami akan semakin perketat protokol kesehatan,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Buntut Pemasangan Gambar Dirinya di Bansos Corona, Bupati Klaten Dikenai Sanksi

0
Sri Wahyu Ananingsih, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu Jawa Tengah

BETANEWS. ID, SEMARANG – Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu Jawa Tengah, Sri Wahyu Ananingsih telah mendapatkan laporan jika Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia mengeluarkan sanksi terkait peristiwa botol hand sanitizer bantuan Kemensos RI yang ditempeli gambar Bupati Klaten, Jawa Tengah Sri Mulyani.

Katanya, sanksi tersebut tertuang dalam surat Kementerian Dalam Negeri RI tertanggal 17 Juni 2020 yang ditandatangani Direktur Jenderal Otonomi Daerah Akmal Malik. Surat itu, ditujukan kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

“Diminta kepada Saudara Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat untuk memberikan pembinaan dan pengawasan berupa teguran kepada Bupati Klaten dalam kesempatan pertama, dan melaporkan hasil pelaksanaanya kepada Menteri Dalam Negeri,” ujar Sri Wahyu Ananingsih mengutip salah satu poin dari isi surat tersebut.

Baca juga : Dorong Keterbukaan Informasi Penanganan Covid-19, Ganjar: Tidak Perlu Ada yang Ditutupi

Terkait hal tersebut, pihaknya menyambut baik tindakan Kementerian Dalam Negeri atas dugaan pelanggaran di Kabupaten Klaten. Meski hanya sanksi pembinaan dan teguran, tapi setidaknya publik bisa menilai bahwa apa yang terjadi di Klaten merupakan tindakan yang dilarang. Tidak boleh seorang bupati menyalahgunakan bantuan untuk kepentingan politik.

“Bawaslu Jawa Tengah mengimbau kepada para kepala daerah dan wakil kepala daerah tak menyalahgunakan atau tak melakukan politisasi bantuan-bantuan sosial. Bawaslu akan terus mengutamakan pencegahan,” katanya.

Namun, jika jika pencegahan tak dihiraukan, maka Bawaslu akan melakukan penindakan. Bawaslu juga mengimbau kepada masyarakat jika mengetahui dugaan pelanggaran pilkada maka bisa melaporkan ke pengawas pilkada.

Untuk diketahui, sebelumnya, pada akhir April lalu beredar foto botol hand sanitizer bantuan Kemensos yang ada gambar foto Bupati Klaten Sri Mulyani. Bawaslu Kabupaten Klaten menelusuri dan mendalami peristiwa tersebut. Sentra Penegakan Hukum Terpadu (yang terdiri dari Bawaslu, kepolisian, dan kejaksaan) Kabupaten Klaten mengkaji peristiwa tersebut.

Namun kesimpulannya, katanya, peristiwa tersebut tak memenuhi unsur pelanggaran UU Nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada. Sehingga, Bawaslu Klaten menyimpulkan, bahwa peristiwa tersebut diduga melanggar UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Kemudian, Pada 9 Mei 2020, Bawaslu Kabupaten Klaten meneruskan dugaan pelanggaran hand sanitizer ditempeli ada foto Bupati Klaten Sri Mulyani tersebut ke Kementerian Dalam Negeri.

Kini, Kementerian Dalam Negeri sudah menindaklanjuti surat Bawaslu Klaten. Dalam surat Kemendagri menyebutkan beberapa larangan untuk para kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Baca juga : Kasus Positif Covid-19 Semarang Raya Melonjak, Ganjar Usul Tambah Ruang ICU

“Pasal 76 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menyebutkan, jika kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan pribadi, keluarga, kroni, golongan tertentu, atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan,” sebutnya.

Kemudian, pada pasal 76 ayat (1) huruf d disebutkan, jika kepala daerah dan wakil kepala daerah dilarang menyalahgunakan wewenang yang menguntungkan diri sendiri dan/atau merugikan daerah yang dipimpin.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jejak Ulama Nusantara, Buku Napak Tilas Perjalanan Ulama Kudus

0
Mifrohul Hana menunjukkan Buku Jejak Ulama Nusantara yang ditulisnya. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Mifrohul Hana Chamami (34) terlihat sedang merapikan beberapa buku dan menjejerkannya di meja serta kursi ruang tamu. Buku-buku tersebut merupakan hasil karyanya yang ditulis sejak 2017 lalu, yaitu Buku Jejak Ulama Nusantara.

Pria berpeci putih itu menjelaskan, dari 10 buku yang sudah ia tulis, kesemuanya berisi tentang asal usul dan jejak sejarah desa serta ulama di seluruh kecamatan di Kudus. Melalui buku, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda tidak melupakan asal usul dari daerahnya sendiri.

Buku Jejak Ulama Nusantara yang ditulis oleh Mifrohul Hana Chamami. Foto: Titis Widjayanti.

“Selain untuk dokumentasi juga tujuannya supaya generasi masa kini tahu asal usul daerahnya. Tidak melupakan sejarah. Dan menurut saya lebih enak melalui buku,” papar Hana, Senin (29/6/2020).

Baca juga: Jejak Dakwah Sunan Kedu, Datang ke Kudus Naik Tampah Terbang

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Kudus tersebut melanjutkan, dalam penelusuran dan riset penulisan, dirinya tidak hanya menemui akademisi dan ulama besar, tapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk tokoh-tokoh desa setempat. Dari penulusuran itu, Hana sapaan akrabnya, beberapa kali memukan pengalaman menarik.

“Paling menarik itu, waktu terjun ke lapangan. Karena beberapa pengalaman mistis itu saya alami. Contohnya waktu mau nulis di Mbah Sunan Puger. Pas ngobrol sama tokoh masyarakatnya atau juru kuncinya, tiba-tiba ada bau semerbak wangi. Ya hal-hal semacam itu,” papar dia.

Untuk kesulitan, dikatakan Hana, lebih terletak pada pendanaan percetakan. Untuk mencetak banyak buku, ia sering tidak memiliki dana. Oleh karena itu, saat ini dia menggunakan sistem pesanan dalam menjual bukunya. Jadi, buku baru dicetak ketika ada yang pesan.

“Saat ini sudah ada 10 buku. Semua meliputi 9 kecamatan di Kota Kudus. Dulu waktu cetak buku pertama, yang memuat tulisan di daerah Kecamatan Kota Kudus. Itu dua jilid, saya cetak 500 buah. Alhamdulilah langsung habis. Terus setelah itu, 2019 kemaren cetak lagi 100 buah per buku. Dan buku-buku dari kecamatan lain juga sama, saya cetak 100 buah. Dan alhamdulilah habis juga,” kata dia.

Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus

Hingga saat ini, buku Jejak Ulama Nusantara itu sudah dikirim ke beberapa kota hingga luar pulau. Seperti Semarang, Bogor, Madura, hingga Sumatera. Bahkan, saat ini Hana mulai merambah ke dunia virtual melalui Youtube untuk memvisualisasikan tulisan-tulisan di buku tersebut.

“Jumat kemaren launching channelnya. Namanya LH Channel. Tujuannya visualisasi dari buku-buku yang saya tulis. Targetnya nanti selalu upload video dua kali selama seminggu,” tutup Hana.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Imbas Covid-19, Target PAD Sektor Pajak Kabupaten Kudus Diturunkan 21 Persen

0
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menurunkan target Pendapatan Asli daerah (PAD) di sektor pajak sebesar 21 persen dari Rp 133 miliar menjadi 105 miliar. Penurunan PAD tersebut sebagai imbas pandemi Covid-19.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono menuturkan, semula PAD dari sektor pajak sebesar Rp 133 miliar. Namun karena ada pandemi, target tersebut diturunkan menjadi 105 miliar. Persentase penurunan yakni sejumlah 21 persen.

“Jadi ada penurunan Rp 28 miliar. Contoh seperti pajak hotel dan restoran, saat pandemi tentu mereka sepi. Jadi tentu target pendapatan daerah kita turunkan,” tuturnya, Rabu (8/7/2020).

Baca juga: KFC dan Yoshinoya Ajukan Penundaan Pembayaran Pajak

Eko menerangkan secara detail, ada 12 sektor pendapatan dari restribusi pajak di Kabupaten Kudus. Penerimaan itu bersumber dari pajak hotel, restoran, hiburan, reklame, penerangan jalan, serta pajak mineral bukan logam dan batuan.

Selanjutnya, terdapat pajak pengambilan bahan galian C, parkir, air tanah, sarang burung walet, bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan (PBB P2), serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB).

“Seperti pajak hotel target awal kita Rp 3,2 miliar. Namun turun menjadi Rp 1,6 miliar. Saat ini sudah terealisasi Rp 750 juta,” tuturnya.

Baca juga: 75 Persen Aset Lahan Pemkab Kudus Belum Bersertifikat

Lalu pajak restoran, lanjut Eko, semula Rp 9,2 miliar menjadi Rp 5,5 miliar. Pajak reklame semula Rp 3,4 miliar menjadi Rp 1,9 miliar. Untuk pajak penerangan jalan semula Rp 52 miliar menjadi Rp 47 miliar.

Sementara itu, pajak restribusi parkir dari Rp 576 juta menjadi Rp 346 juta. Sedangkan, PBB P2 dari Rp 34 juta menjadi Rp 23 juta.

“Kalau pajak parkir itu realisasinya baru Rp 201 juta. Ya sudah 58,07 persen. Masih kurang 41,93 persen,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Berawal Iseng, Kini Deni Tekuni Bisnis Ikan Predator Setelah Tau Keuntungannya

0
Deni Agung Prakoso sedang memberi makan ikan. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara gemercik air terdengar di sebuah ruang tamu, di Desa Tanjungrejo RT 03 RW 09, Kecamatan Jekulo, Kudus. Seorang pria tampak sedang memberi makan ikan-ikan di sana. Pria itu tak laian adalah Deni Agung Prakoso (25), pemilik Deni Fish Predator.

Sambil memberi makan ikan, dia berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya itu. Bermula dar iseng-iseng memelihara ikan louhan seharga Rp 20 ribu, setelah dua bulan kemudian ia jual kembali dengan harga Rp 200 ribu.

Ikan predator yang dibudidayakan Deni Agung Prakoso. Foto: Ahmad Rosyidi

“Selama dua bulan, ikan louhannya tumbuh jadi bagus, warna dan jenongnya keluar. Karena untungnya banyak, kemudian saya tertarik bisnis ikan,” terang pria yang akrab disapa Deni itu, Sabtu (4/7/2020).

Baca juga : Moncer saat Pandemi, Bisnis Ikan Arwana di Muntilan Meningkat 20 Persen

Di juga berbagi tips agar memaksimalkan warna ikan. Jika ingin warna ikan terang, setting background dengan warna putih. Sedangkan jika ingin corak ikan berwarna padat, berikan background warna hitam atau gelap.

“Kalau warna menyesuaikan selera pemilik ikan, ingin terang atau warnanya padat. Settingan tank juga menyesuaikan jenis ikan. Kalau ikan channa lebih bagus putih atau hitam,” paparnya.

Selain background, berikan pasir malang yang merah untuk dasarnya. Pakan ikan juga berpengaruh. Ikan channa beri makan udang dan pelet warna agar warna bagus. Pelet warna juga ada macam-macam jenis, menyesuaikan warna corak ikan.

Sedangkan untuk ikan arwana lebih baik diberi background terang saat masih kecil, agar warna bisa keluar maksimal dan cerah. Jika warna sudah keluar baru diberi background gelap.

“Ikan arwana lebih susah dalam perawatan. Suhu air juga harus stabil, antara 30 hingga 32 drajat celsius. Untuk pakan bisa diberi udang dan jangkrik,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jampi Godhog Zarisma, Ramuan Kesehatan dari Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana Kedai Jampi Zarisma tampak cukup ramai sore itu. Tempat yang menyediakan aneka ramual herbal tersebut, menjadi jujugan para penikmat minuman herbal untuk meningkatkan kesehatan. Sang pemilik, Atut Dihartomo (68), yang juga Ketua Asosiasi Pengobat Ramuan Tradisional Indonesia (Apetri) Cabang Kudus, tampak sedang mempersiapkan beberapa bahan rempah untuk diracik menjadi minuman.

Kebetulan, sore itu ia akan membuat minuman atau jampi godhog untuk obat pegal linu dan asam urat serta minuman segar mpon-mpon. Bahan seperti jahe, daun pandan, kayu manis, gula aren serta bahan lainnya dicucinya terlebih dahulu. Setelah itu, baru dimasukkan ke dalam panci ukuran besar yang sudah diisi dengan air. Kemudian barulah kompor dinyalakan dan ia mulai mengolah racikan sesuai dengan urutan.

Pelanggan sedang memesan minuman dari Jampi Godhog Zarisma. Foto: Titis Widjayanti

Baca juga : Sasar Anak Muda, Warung Jahe Rempah Mbah Tolok Kreasikan Wedang Kekinian

“Kebetulan saya membuat jamu ini karena pengalaman masa kecil. Ibu saya itu, tiap anaknya sakit, pasti dikasih minuman dari rempah-rempah. Ya jamu itu. Dan alhamdulillah kok ya sembuh. Dari sana saya terinspirasi, dan akhirnya mulai belajar dan mencoba meracik jamu. Untuk memulainya buka dari 2008,” papar Atut, Minggu (28/6/2020).

Lelaki berpeci putih itu melanjutkan, jika jampi godhog yang ia jual berawal dari 3 jenis. Selanjutnya berkembang dengan berbagai jenis lain. Seperti sehat perempuan dan sehat laki-laki, jamu penurun kolesterol, penyumbatan darah tinggi, diabetes, susut perut hingga beberapa minuman segar lain.

“Kalau minuman segar kami ada kunir asem, teladewa, sari laos, susu kedelai, wedang mpon-mpon dan jahe kelor. Karena yang datang ke sini tidak hanya orang tua. Terkadang mereka bersama anak-anak, jadi mereka juga bisa menikmati minuman segar yang kami sediakan saat orang tuanya meminum jamu,” kata dia.

Baca juga : Kisah Jitun Olah Minuman Sari Rempah, Awalnya Tak Laku Sampai Berhenti Produksi

Selain jamu rebus atau jampi godhog, kedai yang berada di Jalan Bhakti Nomor 87, Desa Burikan, Kudus itu menyediakan ramuan jamu dalam bentuk kering. Paketan jamu kering itu bisa dikirim kepada pelanggan yang berada di luar kota hingga luar pulau. Hal ini dikarenakan, semakin hari pelanggannya semakin banyak hingga kota-kota lain di sekitar Kudus. Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia memberikan paket instan dengan takaran ramuan yang bisa di rebus sendiri oleh pelanggan.

“Untuk yang luar kota ada yang kami sediakan bentuknya masih kering. Satu paket bisa direbus dan diminum selama 10 hari. Tiap hari takarannya diminum dua kali. Itu untuk mempermudah proses pengiriman. Sedangkan untuk keluhan khusus, biasanya pelanggan konsultasi dulu, dan konsultasinya gratis. Nanti setelah tahu penyebabnya atau penyakitnya apa, baru saya racikkan ramuannya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Status Gunung Merapi Waspada, Ganjar : Perutnya Bengkak, Sewaktu-waktu Bisa Muntah

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang berbincang dengan warga usai meninjau Merapi beberapa waktu lalu. Foto: Ist

BETANEWS.ID, BOYOLALI – Gunung Merapi kondisinya saat ini perutnya sedang membengkak dan sewaktu-waktu bisa muntah. Terlebih setiap hari ada peningkatan aktivitas vulkanik 0,5 cm setiap hari.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi Pos Pemantauan Gunung Merapi Jrakah Boyolali, Rabu (8/7/2020). Selain mengamati Gunung Merapi menggunakan teropong di tempat tersebut, Ganjar juga menerima penjelasan terhadap hasil-hasil pantauan terakhir.

“Kalau secara keseluruhan kita sudah mendapatkan penjelasan yang bagus. Secara teknis teman-teman Badan Geologi sudah menjelaskan kondisi Gunung Merapi dari seluruh posko pengamatan,” kata Ganjar.

Baca juga : Jalur Evakuasi Gunung Merapi Rusak, Ganjar Kucurkan Rp 14 Miliar untuk Perbaikan

Ganjar lantas menjelaskan, hasil pemahamannya atas penjelasan yang diberikan oleh Badan Geologi tersebut.

“Intinya Merapi itu perutnya lagi membengkak. Artinya kalau lagi membengkak berarti ada gerakan di dalamnya, kemungkinan dari magma. Di dalamnya ada sesuatu dan bisa mengeluarkan sesuatu. Bisa gas atau material,” kata Ganjar.

Maka, lanjut Ganjar, status Gunung Merapi adalah waspada. Dia pun mempersilakan masyarakat tetap bisa bekerja tapi tidak boleh dalam radius 3 kilometer. Dan peraturan itu, menurut Ganjar sudah diketahui kepala desa, khususnya di sekitar Merapi, Tagana, PMI, BPBD dan lainnya.

“Masyarakat tidak perlu panik. Kita memantau terus menerus dan akan kita share. Saya minta juga masyarakat latihan evakuasi yang sesuai protokol kesehatan. Kalau di Jepang di pengungsian mereka dipisah kotak-kotak dengan kardus. Jadi ada rumah kardus,” tandasnya.

Baca juga : Berkat Desa Saudara, Warga Lereng Merapi Kini Lebih Siap Hadapi Erupsi

Secara teknis, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida mengatakan, ada peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Merapi. Setiap hari ada peningkatan 0,5 cm per hari. Dengan demikian, meski berstatus waspada, Gunung Merapi masih terkendali.

“Kondisi ini sangat jauh dibanding dengan ketika meletus di tahun 2010. Karena peningkatannya ketika itu mencapai 50 cm per hari. Jadi saat ini masih aman,” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

APBD Kudus Tahun 2019 Surplus Rp 28,7 Miliar

0
Rapat Paripurna tentang Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun 2019 di DPRD Kudus, Rabu (8/7/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus tahun 2019 mengalami surplus sebesar Rp 28,7 miliar. Surplus tersebut terjadi karena realisasi pendapatan daerah lebih banyak ketimbang realisasi belanja daerah.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menjelaskan, pendapatan daerah yang sudah ditargetkan yakni sebesar Rp 2,1 triliun. Namun dalam pelaksanaannya, pihaknya hanya mampu merealisasikan Rp 2,09 triliun.

Rapat Paripurna tentang Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun 2019 di DPRD Kudus, Rabu (8/7/2020). Foto: Imam Arwindra.

“Pendapatan daerah yang terealisasi sebesar 98,67 persen dari target,” tuturnya saat memaparkan Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun 2019 pada masa persidangan ketiga rapat paripurna di DPRD Kudus, Rabu (8/7/2020).

Selanjutnya, dalam pelaksanaan belanja daerah, dari target yang ditetapkan sebesar Rp 2,2 triliun, terserap 90,40 persen atau Rp 2,06 triliun.

“Artinya realisasi pendapatan daerah Rp 2,09 triliun dan realisasi belanja daerah Rp 2,06 triliun. Jadi anggaran kita masih surplus Rp 28,7 miliar,” ungkapnya.

Baca juga: Usulan Anggaran untuk Alkes di Pesantren Naik jadi Rp 9 Miliar

Menurut Hartopo, surplus anggaran sebesar Rp 28,7 miliar tersebut akan masuk ke dalam Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) tahun 2019. Angka tersebut akan digabungkan bersama dengan SiLPA APBD tahun sebelumnya sebesar Rp 162 miliar.

“Jadi total SiLPA Kabupaten Kudus tahun 2019 yakni Rp 190 miliar,” terangnya.

Hartopo merinci, dari total SiLPA Rp 190 miliar, terdiri dari SiLPA terikat Rp 136 miliar dan tidak terikat Rp 54 miliar.

“Jumlah SiLPA tersebut berupa kas daerah Rp 160 miliar, kas di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus Rp 22 miliar, kas di BLUD Puskesmas Rp 4,5 miliar, kas bendahara penerima Rp 81 juta, kas bendahara pengeluaran Rp 9 ribu, dan kas bendahara BOS Rp 3,5 miliar,” rinci Hartopo.

Dia menuturkan, dari laporan pertanggungjawaban tersebut, sudah dilakukan pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia perwakilan Jawa Tengah. Pemeriksaan pendahuluan dilaksanakan 27 Januari hingga 20 Februari 2020 dan dilanjutkan pemeriksaan terinci 16 Maret hingga 13 Mei 2020. “Hasilnya wajar tanpa pengecualian,” tuturnya.

Baca juga: Lelang 19 Unit Honda Win Punya Pemkab Kudus Tembus 101 Penawar, Terjual Rp 85 Juta

Menurutnya, setelah nantinya dibahas oleh DPRD Kabupaten Kudus dan dilanjutkan rapat dengar pendapat dari fraksi, laporan pertanggungjawaban tersebut dapat disetujui dan nantinya akan ditetapkan menjadi Perda Kabupaten Kudus tentang pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran 2019.

“Mudah-mudahan seluruh agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun anggaran 2019 ini dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal yang ditetapkan,” tutup Hartopo.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

SIM Keliling Hanya Layani 45 Pemohon Per Hari, Ini Jadwalnya

0
Layanan SIM Keliling Satlantas Polres Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga polisi di dalam mobil bertuliskan SIM Keliling tampak sedang beraktivitas, Rabu (8/7/2020). Layanan SIM keliling yang seharusnya dijadwalkan di Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus itu beralih ke Polsek Kota Kudus karena di Undaan ada acara sedekah bumi. Aipda Nurkhan Alim (42), Operator SIM keliling yang sedang bertugas, mengaku jika pemohon perpanjang SIM hari itu sedang sepi.

Menurutnya, hal itu dikarenakan ada perubahan lokasi. Sehingga banyak warga yang menunda untuk memperpanjang SIM. Pada hari-hari biasa, menurutnya pemohon cukup ramai. Tetapi pihaknya membatasi maksimal 45 orang per hari.

Proses perpanjangan SIM melalui layanan SIM Keliling. Foto: Ahmad Rosyidi

Baca juga : Pemohon SIM Meningkat, Satlantas Polres Kudus Perketat Protokol Kesehatan

“Pembatasan itu agar menghindari kerumunan orang. Selain itu juga kadang jaringan kami bermasalah. Jadi lebih baik kami batasi saja. Hari ini sepi, ini baru ada tujuh orang, karena pindah lokasi mungkin,” terangnya kepada betanews.id.

Pria yang akrab disapa Nurkhan itu juga menambahkan, SIM keliling di mulai pukul 08.30 hingga pukul 12.00 WIB. Sedangkan jadwal SIM keliling pada hari Kamis (9/7/2020) di Kecamatan Dawe, Jumat (10/7/2020) di Kecamatan Kaliwungu.

“Sabtu (11/7/2020) di Pujasera Sempalan Jati dan Senin (13/7/2020) di Kecamatan Mejobo. Sementara itu yang kami jadwalkan,” bebernya.

Ia juga menyebutkan, Biaya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) memperpanjang SIM A yaitu Rp 80 ribu dan SIM C Rp 75 ribu. Ditambah tes kesehatan Rp 40 ribu dan tes psikologi Rp 50 ribu.

Baca juga : Perpanjang SIM Wajib Tes Psikologi, Kuncoro Berharap Satlantas Kudus Aktif Sosialisasi

Sementara itu, Zubaidah (43), satu di antara sejumlah pemohon di sana. Mengaku sebelumnya sudah ke Kecamatan Undaan. Karena di sana sedang ada acara sedekah bumi, dirinya mencari tahu informasi perpindahan SIM keliling.

“Tadi sudah ke Kecamatan Undaan, malah di pindah ke sini. Alhamdulillah ini sepi, jadi lancar saya perpanjang SIM C, tidak perlu antre,” kata warga Desa Jepang Pakis, RT 02 RW 02, Jati, Kudus itu.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jalur Evakuasi Gunung Merapi Rusak, Ganjar Kucurkan Rp 14 Miliar untuk Perbaikan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang berbincang dengan warga di kawasan Gunung Merapi. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KLATEN – Untuk mengatasi jalur evakuasi Gunung Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten yang hancur, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengucurkan bantuan Rp 14 miliar. Di kecamatan tersebut ada tiga jalur evakuasi yang rusak, yakni di Desa Tegalmulyo, Desa Tlogowatu dan Desa Sidorejo.

Di Desa Tegalmulyo kerusakan terjadi di jalan utama desa tersebut sampai Pasar Suworono di Desa Tlogowatu. Itu merupakan jalur evakuasi sisi barat Gunung Merapi. Namun kerusakan paling parah terdapat di Dusun Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. Karena selama ini, jalur evakuasi tersebut sekaligus jadi jalan utama pada penambang galian C.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, langsung menuju tiga titik jalur evakuasi tersebut usai mengecek aktivitas Gunung Merapi di pos pantau Balerante Klaten, Rabu (8/7/2020).

Baca juga : Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Ganjar Siapkan Simulasi Evakuasi saat Pandemi

“Kita mau cek jalur evakuasinya. Karena kemarin diusulkan Bantuan Pemprov. Dan kemarin kita masih refokusing Covid,” kata Ganjar.

Meski berjarak sekitar 10 km dari Pos Pantau Balerante, namun untuk sampai di Sidorejo Ganjar memerlukan waktu hampir setengah jam. Selain tanjakannya cukup tinggi, kondisi jalannya juga sudah hancur karena jadi perlintasan truk penambang.

“Wah kalau jalur evakuasinya dijadikan satu dengan jalur truk-truk ini ya rugi. Yang mau kita bantu jalan ini? Janganlah. Ribuan truk kan yang lewat sini,” kata Ganjar kepada Kepala Dinas PU Jateng, Hanung Triono.

Jalan yang membuat Ganjar enggan membantu tersebut adalah jalur evakuasi di Desa Sidorejo, yang juga bersisian dengan Kali Kuning, salah satu jalur wedus gembel dan jalur penambang pasir. Untuk jalur tersebut diserahkan ke Kabupaten Klaten.

Hanung lantas menjelaskan untuk jalur evakuasi yang akan dibantu pemprov adalah jalur evakuasi di Desa Tegalmulyo sampai Tlogowatu. Total sekitar 5 km panjang jalan yang akan dibantu Pemprov. Anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan jalan tersebut senilai Rp 14 miliar.

Baca juga : BPBD Jateng Waspadai Kebakaran Gunung dan Hutan saat Musim Kemarau

“Insyaallah, ini sampai Juli, belanja akan kita keluarkan,” kata Ganjar.

Namun setelah mengecek kondisi jalan di Desa Tegalmulyo sampai Tlogowatu, Ganjar menemukan jalan yang lebih parah kerusakannya, yaitu di Desa Tangkil. Ganjar pun memerintahkan agar jalur tersebut juga diperbaiki.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Masih Zona Oranye, Pemkab Kudus Tunda Izin Resepsi Pernikahan dan Kesenian

0
Plt Bupati Kudus HM Hartopo saat ditemui selepas Rapat Paripurna di DPRD Kabupaten Kudus, Rabu (8/7/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menunda sementara izin pelaksanaan resepsi pernikahan dan kesenian di Kabupaten Kudus. Penundaan tersebut dilakukan karena kurva kasus Covid-19 kembali naik.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, saat ini Kudus berada di zona berwarna oranye dengan tambahan kasus positif Covid-19 antara 5 sampai 14 orang per hari. Dirinya khawatir, jika dipaksakan kasus Covid-19 di Kudus akan sulit dikendalikan.

“Semua kita pending dulu sementara. Sampai turunnya Covid-19,” tuturnya saat ditemui selepas kegiatan Rapat Paripurna di DPRD Kabupaten Kudus, Rabu (8/7/2020).

Dalam klasifikasi warna zona daerah, diketahui terdapat zona warna hijau, kuning, oranye dan merah. Menurut Hartopo, izin akan kembali diberikan ketika Kudus sudah menjadi zona kuning. Saat berada pada zona tersebut, resiko penularan Covid-19 bisa dikurangi.

“Nanti ya, jika Kudus zona kuning baru boleh lagi (resepsi pernikahan dan kesenian),” jelasnya.

Baca juga: Warga Kudus Dibolehkan Gelar Pesta Pernikahan, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi

Dirinya berharap, masyarakat Kudus dapat memahami kondisi yang terjadi dan benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Jika terus meningkat, Kudus dikhawatirkan akan masuk zona merah.

“Nanti kalau merah malah gagal new normal kita,” jelasnya yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus.

Meskipun setiap hari terdapat kenaikan kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19, Hartopo menuturkan, itu masih tahap normal. Saat ini pihaknya masih terus melakukan skrening tes swab secara masif. Terutama bagi masyarakat berstatus orang tanpa gejala (OTG). Dalam sehari, pihaknya bisa melakukan tes swab RT-PCR hingga 90 sampel.

“Luar biasa skrening masal di rumah sakit,” tuturnya.

Selanjutnya, dirinya bersama tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19  Kabupaten Kudus dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) akan terjun ke lapangan lagi guna memantau penerapan protokol kesehatan di setiap wilayah.

Baca juga: Orkes Dangdut di Kudus Sudah Boleh Digelar Kembali, Ini Syaratnya

Pihaknya juga mewacanakan akan memberi sanksi sosial bagi masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Hukuman tidak ada, namun sanksi sosial. Mungkin bisa nyapu di jalan, motong rumput, atau push up,” tuturnya.

Diketahui, data 8 Juli 2020, total kasus Covid-19 di Kudus ada 319 kasus. 232 kasus dari dalam Kabupaten Kudus dan 87 kasus dari luar Kabupaten Kudus. Dari total 319 kasus itu, 102 orang dirawat, 89 orang melakukan isolasi mandiri, 100 orang sembuh, dan 28 orang meninggal.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -