31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Kisah Hidup Winarni, 40 Tahun Dedikasikan Hidupnya untuk Dunia Tari

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah bercat hijau yang berada di pinggir sungai di Desa Hadiwarno, Kecamatan Jekulo, Kudus, tampak sepasang suami istri sedang duduk di teras. Sore itu, mereka sedang menemui tamu yang sedang berkunjung. Di rumah kontrakan itu, sepasang suami istri pendiri Sanggar Tari Klasik Karya Widya Budaya ini tinggal, yakni Winarni Setyo Ningrum (54) dan Bambang.

Winarni lantas bercerita, jika ia sudah sejak lama terjun di dunia kesenian, khususnya tari tradisional. Tepatnya berawal ketika ia masih berumur 3 tahun. Saat itu ia tidak sengaja menggantikan sang kakak untuk menjadi perwakilan peserta lomba tari di TK Bhayangkari.

Baca juga : Kisah Mbah Rogo Moyo, Penyebar Agama Islam dan Maestro Rumah Adat Kudus

-Advertisement-

“Waktu itu kakak saya nggak bisa, akhirnya saya yang maju. Itu awal saya mengenal dunia tari. Satu tahun kemudian, saya berhasil menyabet juara 1 tingkat provinsi,” ungkap perempuan yang akrab di sapa Win tersebut, Rabu (1/7/2020).

Sambil tersenyum ramah, perempuan asal Manado itu mengatakan, jika ingin hidupnya untuk mengabdi di dunia tari tradisonal. Hal itu semakin mantap saat ia mulai hijrah ke Pulau Jawa. Ia sendiri pindah ke Kudus sejak tahun 1968 dan merupakan lulusan dari SMKI Surabaya jurusan tari. Selanjutnya, sempat mengadu nasib ke Jakarta dan akhirnya sekarang kembali ke Kudus lagi, tepatnya di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

“Kalau diceritain cukup panjang. Sebelumnya saya sempat di Surabaya dan Jakarta. Masih sama, saya mendalami sekaligus mengajarkan tari. Basicnya tradisional. Karena memang cinta dan merasa harus tetap dijaga,” kata dia.

Hingga akhirnya kembali dan menetap di Kudus dan mengajarkan tari selama hampir 44 tahun. Dikatakannya, waktu masih SMP ia sudah membantu mengajar tari di Kabupaten Kudus. Lalu setelah itu, mendalami tari di SMKI Surabaya dan bekerja di Jakarta. Hingga kembali mengabdi dan membuka sanggar tari tersebut.

Di balik itu, Ibu dari tiga anak tersebut mengatakan, saking cintanya terhadap kesenian, bertahun-tahun ia mengabdi tanpa bayaran. Kalau pun ada, hanya pemberian seikhlasnya yang diberi oleh wali murid sanggarnya. Hingga sampai saat ini, ia dan suami masih bertahan di sebuah rumah kontrakan.

Baca juga : Kisah Cerdik Sultan Hadirin Dibalik Pendirian Masjid Wali Loram Kulon

“Ya gimana ya Mbak. Saya niatnya nggak mencari untung atau apa. Ada anak yang gabung, ikut latihan, itu saja saya udah seneng. Nggak tega kali mau mematok harga dan sebagainya. Karena saya tahu, tidak semua orang tua punya uang. Makanya, kalau misal diminta ikut parade atau festival untuk tampil di acara daerah atau menjadi perwakilan Kota Kudus, saya hanya minta ganti make up. Kostum punya saya sendiri. Kadang malah kalau orang tua tidak punya uang sama sekali, tapi anaknya pingin, ya saya nggak tega narik uang ganti make up sama sekali,” kata dia.

Win mengatakan, hal itu ia lakukan bertahun-tahun. Meskipun saat ini, ia mulai mencanangkan SPP dan biaya pendaftaran. Namun, ia juga masih tidak tega menarik biaya tersebut jika orang tua siswa benar-benar tidak memiliki uang. Kalau pun ada event yang harus diikuti, atau dipanggil oleh beberapa pihak untuk tampil, biasanya seluruh uang transport untuk siswanya langsung dibagikan kepada anaknya tanpa berkurang sepeser pun.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER