31 C
Kudus
Jumat, Januari 23, 2026

Kisah Sarjono, Mantan Guru yang Banting Setir Jual Nasi Tumpang

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, aroma gurih sambal tumpang tercium dari sebuah tenda sederhana di pinggir Jalan Veteran, tepatnya di belakang PPRK Kudus. Di balik meja kayu, seorang pria berkaus putih dan memakai topi tampak telaten menata nasi, sambal letok, serta aneka lauk ke dalam wadah-wadah kecil. Dialah Sarjono (63), pensiunan guru asal Boyolali yang kini dikenal sebagai penjual nasi tumpang dan pecel pakis di kawasan tersebut.

Sebelum menekuni usaha kuliner, Sarjono mengabdikan dirinya sebagai guru di salah satu SMP di Kudus. Setelah memasuki masa pensiun, hari-harinya terasa sepi. Rasa jenuh yang muncul justru menjadi titik awal lahirnya usaha nasi tumpang yang kini digemari banyak orang.

Baca Juga: Scroll Tiktok Jadi Cuan, Kisah Ratna Temukan Ide Bisnis Dari Tiktok

-Advertisement-

“Awalnya karena sudah pensiun dan tidak nyaman kalau hanya di rumah. Akhirnya saya cari kesibukan dengan berjualan nasi,” ujar Sarjono saat ditemui benerapa waktu lalu.

Langkah pertamanya dimulai saat ia mencoba berjualan nasi tumpang dalam sebuah acara di kawasan Menara Kudus. Di luar dugaan, respons pengunjung sangat positif. Dagangannya ludes, dan banyak pembeli mengaku menyukai cita rasa nasi tumpang khas Boyolali yang ia sajikan.

“Waktu itu ternyata ramai banget. Banyak yang suka nasi tumpang Boyolali. Dari situ saya teruskan sampai sekarang,” ungkapnya.

Hampir dua tahun terakhir, Sarjono setia membuka lapak di Jalan Veteran setiap pagi. Selain itu, setiap hari Minggu ia juga berjualan di area Car Free Day (CFD) Kudus, yang menjadi momen paling ramai pembeli.

“Kalau di CFD biasanya lebih ramai. Banyak yang penasaran sama nasi tumpang khas Boyolali,” katanya.

Cita rasa nasi tumpang racikan Sarjono memang memiliki kekhasan tersendiri, berbeda dengan nasi tumpang versi Jawa Timur. Kuncinya terletak pada sambal letok, sambal berbahan dasar tempe yang telah difermentasi dan dimasak lebih dari tiga hari.

“Kalau tempenya masih baru, rasanya belum keluar. Harus tempe yang sudah agak layu, baru gurih dan mantap,” jelasnya.

Baca Juga: Perjalanan Brand Luna Hijab, Brand Asal Kudus yang Menyuguhkan Fasyen Berkelas

Dengan harga Rp8 ribu, pembeli sudah bisa menikmati satu porsi nasi tumpang buatan Sarjono. Lapaknya buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Tak jarang, sebelum waktu tutup, seluruh dagangan sudah habis terjual.

“Yang penting saya tetap aktif, tetap ketemu orang, dan bisa ngenalin nasi tumpang Boyolali ke banyak orang,” tanbahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER