Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik

Di tepi Jalan Sunan Muria, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah outlet yang cukup ramai pembeli. Seorang pria mengenakan baju hitam tampak ramah melayani pelanggan. Pria itu adalah Nabil Anjas Essalafi (24), pemilik usaha Jagung Moza Tarik yang tengah mencuri perhatian warga Kudus.

Berawal dari rasa iseng, pria yang akrab disapa Nabil itu kini menjual berbagai camilan. Di antaranya pisang goreng tanduk, pisang goreng Raja madu, nanas goreng madu, potato crispy, lumpia khas Semarang, hingga martabak manis. Namun, yang menjadi primadona adalah Jagung Moza Tarik, camilan berbahan dasar jagung, susu, dan keju mozzarella.

Perjalanan bisnis Nabil dimulai pada 2020. Awalnya, ia mencoba menjual es buah dan angkringan di depan pabrik Rendeng. Namun, keinginan untuk terus berinovasi membawanya menambah menu dan akhirnya menemukan formula yang tepat untuk usaha jagung mozzarella.

-Advertisement-

Baca juga: Asyiknya Bakso Tengah Sawah, Menu Beragam Harga Masuk Akal

“Awalnya hanya iseng-iseng, tapi sekarang ini menjadi usaha yang serius. Tantangannya adalah bagaimana terus berinovasi agar pelanggan tidak bosan,” bebernya.

Inspirasi Nabil untuk menciptakan Jagung Moza Tarik datang ketika ia melihat ide serupa dari Malaysia melalui media sosial. Dengan bahan-bahan premium, proses pembuatan camilan ini dilakukan langsung di depan pembeli. Hal ini membuatnya lebih menarik dan memberikan pengalaman tersendiri bagi pelanggan.

“Yang membedakan kita adalah kualitas bahan yang premium. Kita jagungnya ambil langsung dari Jogja. Keunikan kita terletak pada penggunaan mozzarella yang melimpah,” ujar Nabil saat ditemui di outletnya beberapa waktu lalu.

Jagung Moza Tarik mendapat respons luar biasa, terutama saat mengikuti berbagai event besar seperti Hari Jadi Kota Kudus dan Dandangan. Pada event tersebut, Nabil mengaku bisa menghabiskan hingga 20 kilogram jagung dalam sehari.

Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima

“Kalau hari biasa, pembeli kami mayoritas dari Kudus. Tapi saat event besar, pembeli dari luar kota seperti Rembang juga datang. Kami buka dari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, cukup ramai, terutama di akhir pekan,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER