Di Balik Secangkir Kopi Chang, Ada Kisah Idealisme yang Tak Tunduk pada Pasar

BETANEWS.ID, JEPARA – Harum aroma kopi langsung menyapa begitu pengunjung tiba di Chang Coffee yang berada di Jalan Mangunsarkoro, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara.

Tempat parkir sepeda motor yang berada di belakang rumah, berdampingan dengan dapur belakang, membuat pengunjung kerap mencium harumnya aroma kopi yang sedang di-roasting oleh Fahruddin (47), atau akrab disapa Pak Chang, pemilik Chang Coffee.

Asap tipis yang mengepul, suara mesin roasting yang berdengung pelan, dan biji-biji kopi yang berputar di dalam tabung panas menjadi pemandangan terbuka yang dapat disaksikan pengunjung.

-Advertisement-

Tidak hanya itu, di tengah menjamurnya kafe-kafe modern dengan desain minimalis dan estetika seragam, Chang Coffee menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni suasana ngopi seperti berada di teras rumah sendiri.

Ruang terbuka yang dipenuhi berbagai jenis tanaman hijau memberikan udara segar dan nuansa alami yang jarang ditemukan di tempat ngopi lain di tengah kota.

Chang Coffee hadir bukan sekadar sebagai tempat ngopi. Tempat ini membawa cerita bahwa idealisme dan realitas bisnis dapat berjalan berdampingan.

Fahruddin bercerita, sejak mendirikan Chang Coffee pada 2018, konsep yang ia usung adalah kembali ke alam. Ia ingin menghadirkan tempat ngopi yang alami, sebagaimana kopi yang berasal dari alam.

“Komitmen sejak awal mendirikan Chang Coffee memang kembali ke alam. Saya sendiri hobi mendaki gunung dan ingin memberikan konsep yang benar-benar kopi, seperti tempo dulu,” ujar Fahruddin saat ditemui di sela-sela proses roasting kopi, Jumat (29/5/2026).

Nama “Chang” bukan sekadar merek dagang atau nama tempat. Nama itu terinspirasi dari panggilan sang ayah yang akrab disapa “Paman Chang”. Ia sengaja mengabadikan nama tersebut agar selalu mengingat orang tuanya.

Ketika iseng mencari arti kata tersebut, ia menemukan bahwa “chang” dalam bahasa Thailand berarti gajah. Makna itu kemudian ia jadikan simbol Chang Coffee.

“Gajah itu sifatnya idealis. Seperti kopi-kopi yang saya buat, yang memang idealis dan specialty,” ujarnya.

Misi awal Fahruddin mendirikan Chang Coffee adalah sebagai langkah nyata mendukung petani dan kopi lokal khas Jepara, terutama dari Tempur, desa tertinggi di Kabupaten Jepara yang berada di lereng Gunung Muria.

Komitmen itu diwujudkannya dengan menggunakan 80 persen kopi robusta khas Tempur yang memiliki cita rasa dominan asam, berbeda dengan robusta pada umumnya yang bercita rasa pahit.

Untuk kopi blend, ia mengombinasikan 70 hingga 80 persen kopi robusta Jepara dengan kopi arabika dari Gayo dan Papua karena pasokan arabika lokal belum mencukupi kebutuhan produksi.

Fahruddin memesan kopi langsung dari petani sehingga memangkas jalur distribusi yang panjang.

“Saya ingin mendukung petani kopi agar jalur dari hulu ke hilir bisa terus terkoneksi,” katanya.

Selain itu, komitmennya mendukung kopi lokal Jepara juga dibuktikan dengan membeli kopi tidak mengikuti harga pasar. Selama beberapa bulan terakhir, harga kopi robusta sedang turun akibat panen raya.

Namun, Fahruddin tetap membeli dengan harga tertinggi, yakni Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram untuk jenis petik merah. Harga tersebut jauh di atas harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram.

Keberanian Fahruddin bukan tanpa alasan. Ia telah memiliki perhitungan matang agar langkah tersebut tidak mengorbankan usahanya.

“Karena brand blend robusta Chang Coffee dari Tempur ini banyak yang suka, kami masih bisa menjual dengan harga terbaik. Jadi masih aman, beli mahal tetap aman,” ungkapnya.

Untuk varian minuman, Chang Coffee menawarkan pilihan lengkap. Mulai dari espresso, americano, cappuccino, latte, dan mocha hingga manual brew seperti Aeropress, Japanese iced coffee, tubruk, Vietnam drip, dan V60.

Kopi single origin arabika menjadi menu andalan, sementara Japanese iced coffee dan V60 merupakan menu yang paling laris. Harganya mulai Rp10 ribu hingga Rp18 ribu.

Chang Coffee juga melayani penjualan roasted bean atau biji kopi sangrai dengan harga mulai Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kemasan satu kilogram, tergantung grade dan profil roasting, apakah medium, medium plus, atau dark roast.

“Kami juga melayani jasa penggilingan dengan biaya tambahan untuk menjaga kesegaran aroma kopi,” ujar Fahruddin.

Di balik harumnya aroma kopi dan suasana yang menenangkan, Chang Coffee juga berkembang mengikuti tren pembayaran digital dengan mengadopsi QRIS sebagai metode pembayaran.

Fahruddin mengaku sudah lama menggunakan QRIS karena memberikan kemudahan dalam operasional usaha sehari-hari.

“Tidak perlu menghitung total secara manual di kasir. Pembukuan transaksi juga jadi lebih rapi dan mudah dipantau saat menggunakan QRIS,” katanya.

Namun, di balik kemudahan itu terdapat tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, ia sudah beberapa kali berganti bank penyedia layanan QRIS.

Masalah yang dialaminya berkaitan dengan klaim dana transaksi. Fahruddin akhirnya memutuskan mengganti bank penyedia layanan QRIS ke Bank BRI.

Namun, masalah baru kembali muncul, yakni dana yang dibayarkan pembeli belum masuk ke rekeningnya, padahal pembeli sudah menerima notifikasi bahwa transaksi berhasil.

Mau tidak mau, Fahruddin harus menghubungi pihak perbankan dan mengonfirmasi ulang kepada pembeli. Proses transaksi yang seharusnya praktis dan efisien menjadi lebih rumit dan memakan waktu.

“Saat saya tanyakan, katanya itu masalah jaringan dari pihak bank. Respons dari BRI sebenarnya baik saat ada keluhan. Namun harapannya, kalau memang semua harus bertransformasi ke digital, pengelolaannya bisa lebih profesional,” harap Fahruddin.

Terpisah, Relationship Manager Funding & Transaction (RMFT) Individu Unit BRI Cabang Jepara, Frido Duta Wibisono, menjelaskan bahwa kendala yang dialami Chang Coffee biasanya terjadi akibat persoalan teknis, yakni sistem yang sedang mengalami delay.

Frido menyarankan agar merchant pengguna QRIS yang mengalami kendala tersebut melaporkannya melalui aplikasi BRImerchant.

“Itu kendala teknis karena delay, bisa dilaporkan melalui aplikasi BRImerchant,” jelas Frido saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Frido menambahkan, sebagai bentuk komitmen menyediakan layanan perbankan digital, pihaknya akan memberikan pendampingan penggunaan QRIS agar arus transaksi lebih lancar dan dana hasil penjualan dapat segera dimanfaatkan.

Selain itu, kendala, masukan, dan saran yang dialami merchant akan disampaikan kepada regulator, yakni Bank Indonesia, melalui forum koordinasi industri perbankan dan sistem pembayaran.

“BRI akan terus mendorong digitalisasi UMKM agar transaksi menjadi lebih aman, praktis, dan dapat memperluas potensi penjualan, sambil tetap berupaya mencari solusi yang tidak memberatkan pedagang,” ujar Frido.

Kisah Fahruddin dalam mendirikan Chang Coffee mengajarkan bahwa idealisme dan realitas bisnis dapat berjalan beriringan. Hal itu dibuktikan dari caranya merawat banyak hal sekaligus.

Mulai dari kenangan kepada sang ayah yang namanya diabadikan dalam setiap cangkir, idealisme yang tidak luntur meski pasar terus berubah, komitmen kepada petani kopi Muria yang tetap dijaga bahkan saat harga jatuh, hingga keyakinan bahwa merawat warisan bukan berarti menolak perubahan zaman.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER