BETANEWS.ID, KUDUS – Di usia 16 tahun, banyak remaja sibuk mengejar pengakuan di media sosial, mengikuti tren terbaru, atau mencari cara agar diterima dalam pergaulan. Namun, bagi Airinnida Yustiana, siswi MA Qudsiyyah Putri Kudus, kebahagiaan justru datang dari hal sederhana, yakni melihat kedua orang tuanya tersenyum bangga.
Gadis asal Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, itu baru saja menorehkan sejarah di sekolahnya. Airin menjadi siswi pertama MA Qudsiyyah Putri yang berhasil lolos seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Kudus.
Di balik pencapaian tersebut, tersimpan cerita tentang seorang anak yang berusaha menjaga kedekatan dengan orang tua melalui prestasi.
Anak pertama pasangan Masrukhin dan Badriyah itu mengaku sejak lama bertanya-tanya bagaimana cara menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Di tengah perbedaan cara pandang antara generasi muda dan orang tua, ia menemukan jalannya sendiri.
“Saya ingin membuat orang tua bangga. Mungkin salah satu caranya lewat prestasi,” ujarnya saat ditemui, Selasa (2/6/2026).
Keinginan menjadi anggota Paskibraka sebenarnya telah tumbuh sejak lama. Airin terinspirasi saat melihat para guru yang bertugas sebagai Pasukan Garuda Muda dalam upacara bendera.
Saat itu, ia hanya bisa membayangkan apakah suatu hari dirinya juga bisa berdiri tegap membawa nama sekolah dan daerahnya.
Kesempatan tersebut datang ketika informasi seleksi Paskibraka Kabupaten Kudus dibuka. Airin langsung mempersiapkan diri. Selama dua bulan terakhir, ia menjalani berbagai latihan dan persiapan untuk menghadapi tahapan seleksi yang cukup panjang.
Baca juga : 64 Calon Paskibraka Kudus 2026 Resmi Diumumkan, Dua Lolos ke Tingkat Provinsi
Mulai dari tes wawasan kebangsaan dan Pancasila, tes intelegensi umum, pemeriksaan kesehatan, parade, baris-berbaris, kesamaptaan, hingga tes kepribadian berhasil ia lalui.
Kerja kerasnya berbuah manis. Namanya dinyatakan lolos dan akan bertugas sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Kudus pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus mendatang.
“Sejak awal Maret mengikuti seleksi administrasi sampai tes fisik. Alhamdulillah lolos dan sekarang tinggal mempersiapkan diri untuk bertugas nanti,” katanya.
Di balik proses tersebut, ada sosok yang selalu setia menemani. Sang ayah hampir setiap hari mengantar dan menjemput Airin, baik saat sekolah maupun menjalani latihan.
Bagi sebagian orang, perjalanan pulang-pergi itu mungkin hanya rutinitas biasa. Namun, bagi Airin, momen tersebut menjadi ruang berharga untuk tetap dekat dengan ayahnya.
Di tengah kehidupan generasi yang tumbuh bersama gawai dan derasnya arus informasi digital, percakapan langsung di atas sepeda motor menjadi cara sederhana mereka menjaga hubungan.
“Senang karena selama latihan tetap bisa punya banyak waktu bersama ayah,” tuturnya.
Fenomena renggangnya hubungan anak dan orang tua yang kerap disebut fatherless menjadi perhatian di berbagai kalangan. Namun, Airin dan keluarganya memilih membangun kedekatan melalui kebersamaan sehari-hari, termasuk dalam perjalanan menuju tempat latihan.
Menjadi anggota Paskibraka pertama dalam sejarah sekolahnya memberikan kebanggaan tersendiri. Namun, Airin menyadari pencapaian ini hanyalah langkah awal.
Saat ini, ia masih duduk di bangku kelas X dan masih memiliki perjalanan panjang dalam pendidikan. Setelah lulus nanti, Airin bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang ilmu falak atau pertanian.
Baginya, kesempatan belajar adalah jalan untuk memperluas pengalaman sekaligus membalas dukungan yang selama ini diberikan orang tuanya.
Airin ingin membuktikan bahwa anak yang lahir dan tumbuh di desa memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi setinggi langit.
Untuk sekarang, ia belum memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Ada satu tujuan sederhana yang terus ia pegang, yakni membuat kedua orang tuanya bangga.
Bagi Airin, langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh setiap hari dapat menjadi sesuatu yang besar untuk dikenang di masa depan.
Editor: Kholistiono

