BETANEWS.ID, SEMARANG — Melewati jalur utama Semarang–Yogyakarta, tepatnya di kawasan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, deretan puluhan lapak pedagang serabi langsung menyapa mata.
Menariknya, hampir seluruh lapak itu dijaga oleh perempuan, mulai dari usia muda hingga lansia. Mereka cekatan menuang adonan, membalik serabi yang dipanggang di wajan tanah liat menggunakan tungku berbahan bakar kayu, lalu menyajikannya dengan sapaan hangat kepada pelanggan.
Dulu, Serabi Ngampin hanya muncul setahun sekali saat Tradisi Sya’ban yang diadakan setiap tanggal 14 hingga 16 Sya’ban. Kini, serabi telah bertransformasi dari makanan tradisional menjadi sumber penghidupan. Perubahan itu berasal dari tangan para perempuan Ngampin.
Ketua Paguyuban Serabi Ngampin, Erna Yufitasari (42), bercerita bahwa yang pertama kali mengubah Serabi Ngampin dari sajian tradisi menjadi kuliner yang dijual setiap hari merupakan warga Dukuh Seneng, Kelurahan Ngampin. Tokoh yang memulainya pun bukan sosok legendaris pembuat serabi.
“Yang mengawali dulu itu warga Ngampin Dukuh Seneng. Dulu jualannya pakai lampu petromaks, warungnya sederhana dan bisa dibongkar pasang, tapi jualannya cuma tiga hari,” tutur Erna saat ditemui di Lapak Serabi Ngampin nomor 16 beberapa waktu lalu.
Lambat laun banyak warga yang ikut berjualan serabi hingga akhirnya dibentuk paguyuban pedagang. Erna mengatakan paguyuban itu terbentuk sekitar tahun 1990-an.
Pada tahun 2005, Tradisi Sya’ban yang menjadi awal mula Serabi Ngampin sempat mati. Tradisi itu baru dihidupkan kembali pada tahun 2025. Namun, meski tradisinya sempat hilang, Serabi Ngampin tetap hidup karena regenerasi pedagang dan resepnya diwariskan secara turun-temurun dari ibu ke anak.
Erna sendiri termasuk penerus generasi ketiga di paguyuban tersebut. Dua sosok ketua paguyuban sebelum Erna semuanya merupakan perempuan, yakni Sutarti yang kemudian dilanjutkan Romyati. Seperti resep serabi, kepemimpinan paguyuban itu juga diwariskan secara turun-temurun dari satu perempuan ke perempuan lainnya.
Total terdapat 92 pedagang yang menjadi anggota paguyuban, namun hanya 78 pedagang yang aktif berjualan. Dari jumlah itu, 76 pedagang merupakan perempuan dari usia muda hingga lansia, sedangkan sisanya dua orang laki-laki.

Mayadina Rohmi Musfiroh, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara sekaligus pemerhati isu perempuan dan hak-hak gender, menilai apa yang dilakukan oleh perempuan di daerah Ngampin hingga terbentuknya paguyuban bisa disebut sebagai bentuk pemberdayaan perempuan.
Pemberdayaan itu terjadi karena adanya momentum, yakni bertemunya kesempatan, kemampuan, dan kesiapan dari ibu-ibu di daerah Ngampin sehingga menjadi peluang usaha.
“Antara kebutuhan pasar, kesiapan ibu-ibu, kemampuan mereka membuat, ada demand (permintaan), akhirnya menghasilkan momentum yang bagus. Itu tadi kombinasi yang sempurna untuk momentum keberdayaan perempuan,” jelas Mayadina saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (26/5/2026).
Jika dianalisis menggunakan Harvard Analytical Framework, model analisis gender yang dikembangkan untuk memahami peran, akses, dan kendali sumber daya dalam konteks pemberdayaan perempuan, Mayadina melanjutkan apa yang dilakukan oleh perempuan Ngampin juga memenuhi empat unsurnya, yaitu akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.
Dari sisi akses, perempuan Ngampin tidak memiliki hambatan. Tradisi yang sudah mengakar menjadi salah satu pintu masuk yang cukup kuat. Partisipasi juga terlihat jelas, di mana sejak awal perempuan terlibat langsung dalam memulai usaha berjualan serabi.
Selain itu, perempuan Ngampin juga memiliki kontrol terhadap kapan mereka akan berjualan, dari yang awalnya hanya tiga hari menjadi setiap hari.
“Dari ketiga unsur sebelumnya, akses, partisipasi, dan kontrol, mereka (perempuan pedagang Serabi Ngampin) bisa mendapatkan manfaat berupa penghasilan,” jelas Mayadina.
Seiring berjalannya waktu, Serabi Ngampin kini juga mulai bertransformasi dengan menghadirkan pembayaran digital berupa penggunaan QRIS melalui pembinaan dari BRI Unit Ambarawa. Berdasarkan data dari BRI, terdapat 45 dari 92 anggota paguyuban yang sudah menggunakan QRIS.
Akan tetapi, transformasi itu masih menyisakan tantangan. Penjualan Serabi Ngampin masih bergantung pada hari-hari tertentu, misalnya hari libur, tanggal merah, serta saat libur Idulfitri. Sementara pada hari biasa, pembeli yang datang tidak terlalu ramai.
Salah satu pedagang, Rogimah, yang berjualan di lapak nomor 10 mengatakan ia sudah berjualan serabi sejak tahun 2005 meneruskan usaha dari ibunya.
Dalam sehari, pada hari biasa Rogimah biasanya hanya mampu menjual 30 porsi serabi. Sementara saat ramai, sekitar 40 porsi. Sehingga rata-rata pendapatan Rogimah setiap hari berkisar antara Rp210 ribu hingga Rp280 ribu.
“Tidak pasti sehari habisnya berapa. Kadang 30 porsi kalau hari biasa. Kalau pas ramai banget ya bisa 40 porsi, kadang lebih. Itu kalau habis, tapi kalau tidak habis dibawa pulang, kadang digoreng,” ujar Rogimah.
Untuk itu, Erna berharap agar ke depan Serabi Ngampin bisa menjadi lokasi wisata kuliner di Kabupaten Semarang.
“Tidak hanya agar serabi ini tidak punah, tapi kalau jadi lokasi wisata kan tiap hari banyak pengunjungnya,” harap Erna.
Menanggapi hal itu, Manajer Ultra Mikro BRI Kanwil Regional Semarang, Eka, mengatakan Serabi Ngampin saat ini termasuk salah satu kelompok usaha yang menjadi binaan BRI dalam program Klasterku Hidupku.
Selain memberikan bantuan sarana dan prasarana, untuk mendukung penjualan ke depan pihaknya juga berencana mengikutsertakan Serabi Ngampin dalam kegiatan bazar.
“Serabi Ngampin ini termasuk dalam kelompok binaan BRI karena anggotanya cukup banyak dan memiliki kearifan lokal. Sebagai bentuk dukungan selanjutnya nanti akan kita ikutkan bazar,” pungkas Eka.
Editor: Kholistiono

