BETANEWS.ID, SEMARANG — Sore itu, Minggu (17/5/2026), lapak pedagang Serabi Ngampin yang berada di jalur utama Semarang–Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang tampak penuh.
Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, berjejer rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Sebagian pengemudi duduk bersila di lapak pedagang menikmati serabi yang disajikan hangat. Sementara yang lain sabar menunggu giliran, menanti bungkusan serabi pesanan mereka untuk dibawa pulang.
Kedatangan mereka bukan sekadar menjadi penikmat serabi, tetapi juga menjadi bukti bahwa kawasan itu tumbuh layaknya pusat wisata kuliner yang menjadi penopang denyut perekonomian warga sekitar.
Serabi Ngampin yang menjadi kuliner tradisional khas Ambarawa memiliki ciri khas berupa bentuknya yang lebih kecil dibandingkan serabi lainnya. Namun, cara memasaknya masih sama, yakni menggunakan cara tradisional dengan dipanggang memakai wajan tanah liat di atas tungku berbahan bakar kayu.
Uniknya, pembeli bisa menyaksikan langsung proses pembuatan serabi. Asap tipis yang mengepul dari tungku menambah suasana, menemani obrolan santai para pembeli sembari menikmati semangkuk serabi hangat.
Serabi Ngampin terbuat dari campuran tepung beras dan santan. Adonan kemudian dibagi menjadi tiga, yaitu putih, hijau, dan cokelat. Adonan putih dibuat tanpa campuran, sementara adonan cokelat dan hijau diberi tambahan pewarna makanan dan gula pasir.

Serabi disajikan bersama kuah santan yang dicampur gula jawa sehingga menimbulkan perpaduan rasa manis dan gurih yang memanjakan lidah. Semangkuk Serabi Ngampin berisi lima buah serabi dijual dengan harga Rp7 ribu per porsi. Jika ditambah tape ketan, harganya menjadi Rp9 ribu per porsi.
Ketua Paguyuban Serabi Ngampin, Erna Yufitasari (42), bercerita Serabi Ngampin dulunya merupakan makanan yang hanya disajikan saat Tradisi Sya’ban. Tradisi itu berlangsung selama tiga hari, yakni pada tanggal 14 hingga 16 bulan Sya’ban.
Dahulu, warga merayakan tradisi tersebut dengan berjalan kaki menuju sembilan sendang yang berada di Kecamatan Ambarawa dan berakhir di Kecamatan Jambu. Sembilan sendang tersebut yaitu Sendang Tulung, Sendang Sumber, Sendang Seneng, Sendang Rau, Sendang Soko, Sendang Soco Lanang, Sendang Soco Wedok, Sendang Sambung di Kecamatan Ambarawa, dan terakhir Sendang Socong di Kecamatan Jambu. Jarak tempuhnya sekitar tujuh hingga delapan kilometer. Sebagai puncak perayaan tradisi, warga kemudian memakan serabi bersama di sendang.
Berdasarkan cerita turun-temurun, Erna mengatakan tradisi itu muncul dari kisah seorang pangeran yang mengembara hingga ke daerah Ngampin. Pangeran tersebut jatuh hati kepada seorang perempuan di daerah itu. Ia kemudian meminta petunjuk kepada Sang Maha Kuasa dengan melakukan perjalanan menyucikan diri di sembilan sendang.
Setelah melakukan reresik diri, pangeran itu datang ke rumah perempuan tersebut. Karena berasal dari keluarga sederhana, orang tua perempuan itu hanya memiliki bahan makanan berupa tepung beras dan kelapa yang kemudian dimasak menjadi serabi.
Oleh warga, kisah itu kemudian menjadi tradisi yang dipercaya mampu mendatangkan jodoh saat memakan serabi di sendang. Namun, tradisi tersebut sempat hilang dan baru dihidupkan kembali pada tahun 2025.
“Sejak tahun 2005 Tradisi Sya’ban ini benar-benar mati. Adat kejawennya sudah tidak ada. Orang-orang sudah tidak mau jalan kaki karena sudah ada sepeda motor. Baru diadakan lagi tahun 2025 kemarin,” tutur Erna saat ditemui di Lapak Serabi Ngampin.
Namun, meskipun Tradisi Sya’ban yang lekat dengan Serabi Ngampin sempat mati, Serabi Ngampin tetap hidup. Serabi akhirnya mulai dijual setiap hari dan menjadi salah satu mata pencaharian warga Ngampin hingga akhirnya terbentuk Paguyuban Serabi Ngampin.
Erna sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan Serabi Ngampin mulai dijual setiap hari oleh warga. Ia hanya mengingat paguyuban itu terbentuk sekitar tahun 1990-an atas inisiatif salah satu warga yang ingin merangkul dan menyatukan para pedagang serabi.
“Kalau sekarang serabi sudah dijual setiap hari, dari pagi sampai malam. Ada 92 pedagang yang menjadi anggota paguyuban, tapi yang aktif hanya 78 pedagang,” sebut Erna.
Salah satunya yaitu pasangan lansia bernama Solipah (64) dan Sarju (67). Solipah setiap hari sebenarnya berjualan sendiri. Namun, saat hari libur ketika pembeli ramai, suaminya terkadang ikut membantu berjualan serabi. Tubuhnya yang sudah renta tidak sekuat dulu saat melayani banyaknya pembeli.
Solipah sudah 30 tahun menjadi pedagang Serabi Ngampin. Dari berjualan serabi itu, Solipah masih bisa memiliki penghasilan untuk hidup sehari-hari setelah suaminya tidak lagi bekerja sebagai pekerja proyek karena mengalami kecelakaan kerja sekitar 15 tahun lalu.
Ketika pembeli ramai, terutama di hari libur dan tanggal merah, Solipah mengaku cukup terbantu dengan bantuan sarana dan prasarana dari BRI Kantor Wilayah (Kanwil) Regional Semarang melalui program Klasterku Hidupku yang diberikan pada 10 Maret 2026.
Bantuan itu berupa tungku, sepasang wajan tanah liat, setengah lusin mangkuk dan sendok, dua buah wadah sebagai tempat serabi, serta spanduk bertuliskan nama pedagang yang dibagikan merata kepada seluruh pedagang di Paguyuban Serabi Ngampin.
“Alhamdulillah bantuan dari BRI sangat membantu. Lebaran kemarin dapat bantuan modal, tapi bukan uang, melainkan peralatan untuk jualan serabi. Bermanfaat semua dan bisa dipakai. Kalau pas ramai bisa buat tambahan,” kata Solipah di sela membuat adonan serabi yang hampir habis.
Selain mendapat bantuan sarana dan prasarana, sebelumnya BRI juga memberikan pendampingan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran digital. Namun, penggunaan QRIS tersebut belum sepenuhnya dilakukan oleh semua pedagang, terutama pedagang lansia seperti Solipah.
Terpisah, Guru Besar Ilmu Ekonomi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nugroho, menyampaikan sah-sah saja menjadikan makanan tradisional yang dulu hanya ada saat kegiatan tradisi menjadi kegiatan usaha selama produk tersebut bisa diserap pasar. Menurutnya, hal itu lebih baik dibanding mempertahankan makanan tersebut hanya untuk kegiatan tradisi tanpa memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Terlebih, kegiatan usaha yang saat ini masih memiliki peluang besar yaitu usaha kuliner. Hal itu sejalan dengan gaya hidup masyarakat yang senang bepergian dan menikmati kuliner.
Nugroho melanjutkan, sebagai makanan tradisional, Serabi Ngampin masih bisa bertahan karena tetap mempertahankan ciri khas alaminya. Proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional dan harganya yang ramah di kantong menjadi alasan Serabi Ngampin mampu bertahan di tengah banyaknya makanan tradisional yang mulai ditinggalkan pembeli.
“Banyak produk tradisional yang ketika dikomersialkan menjadi tidak alami dan harganya lebih mahal sehingga ditinggalkan konsumennya,” jelas Nugroho saat dihubungi Betanews.id melalui pesan tertulis.
Namun, Nugroho mengingatkan agar Serabi Ngampin tetap bisa bertahan dan menjadi mata pencaharian masyarakat, para pedagang harus terus melakukan inovasi dan kreativitas agar konsumen tetap menyukai Serabi Ngampin. Kebiasaan masyarakat yang suka bepergian, kulineran, lalu mengunggahnya di media sosial juga bisa menjadi peluang untuk memasarkan Serabi Ngampin agar lebih dikenal luas.
“Peran pemerintah adalah memfasilitasi dengan menyediakan lingkungan yang mendukung, misalnya fasilitas tempat dan pengembangan digitalisasi untuk pemasarannya,” kata Nugroho.
Kini, Erna berharap ke depan lapak pedagang Serabi Ngampin bisa dijadikan sebagai lokasi wisata kuliner di Kabupaten Semarang agar Serabi Ngampin tetap lestari dan tidak punah.
“Harapannya Serabi Ngampin ke depan bisa jadi lokasi wisata kuliner di Kabupaten Semarang dan penataannya lebih rapi. Kalau jadi wisata kan tidak akan punah. Sayang kalau sudah dipatenkan malah punah,” ucap Erna penuh harap.
Editor: Kholistiono

