BETANEWS.ID, KUDUS – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto yang belakangan ramai diperbincangkan publik karena kritik-kritiknya terhadap kebijakan pemerintah, ternyata sempat memiliki rencana berbeda setelah lulus sekolah. Ia pernah berniat melanjutkan pendidikan dengan mondok di pesantren, bukan kuliah.
Rencana itu muncul saat Tiyo menuntaskan pendidikan di Omah Dongeng Marwah (ODM) Kudus, sebuah komunitas pendidikan alternatif berbasis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kecamatan Bae. Saat itu, ia belum terpikir untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Hal tersebut diungkap oleh Kepala Sekolah ODM Kudus Edy Supratno. Ia menceritakan, saat itu mengumpulkan para siswa angkatan pertama ODM untuk menanyakan rencana mereka setelah lulus.
“Saya tanya satu per satu, setelah lulus mau ke mana, waktu itu, Tiyo bilang ingin mondok di pesantren saja,” kata Edy saat ditemui menghadiri acara diskusi Imajinasi Reformasi Jilid 2 di Universitas Muria Kudus (UMK) belum lama ini.
Mendengar jawaban tersebut, Edy tidak langsung melarang. Ia hanya menyampaikan, bahwa kuliah tetap bisa ditempuh sambil menjalani kehidupan di pesantren.
“Karena mondok di pesantren sudah jadi keputusan Tiyo, saya pun tidak melarang, yang penting ditekuni saja. Tetapi saya juga bilang kepadanya, kalau berubah pikiran temui saya,” kenang Edy.
Besoknya, ungkap Edy, Tiyo pun menemui dirinya dan berkata ingin kuliah. Kemudian ia pun membantu membuka peluang bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Beberapa siswa kemudian mencoba mengikuti jalur seleksi masuk kampus.
Hasilnya di luar dugaan. Tiyo berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Tidak hanya kuliah, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua BEM UGM.
Baca juga: Imajinasi Reformasi Jilid-ll Menggema di UMK, Ratusan Mahasiswa Antusias Ikut Diskusi
Menurut Edy, sejak awal Tiyo memang memiliki minat kuat pada isu-isu sosial dan politik. Ia dikenal aktif berdiskusi serta memiliki kemampuan argumentasi yang sangat cakap.
“Dari awal saya melihat bakatnya memang di dunia aktivisme. Dia sering berdiskusi dan punya keberanian menyampaikan pendapat,” jelasnya.
Edy menambahkan, ODM sejak awal memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat masing-masing. Para siswa didorong menemukan potensi diri mereka tanpa terlalu dibatasi oleh pola pendidikan formal yang kaku.
Bagi Edy, perjalanan Tiyo menjadi contoh bahwa pilihan pendidikan nonformal tidak menutup peluang untuk masuk perguruan tinggi dan berprestasi. Semoga kisah tersebut bisa memotivasi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri mereka,” harapnya.
Tiyo Ardianto membenarkan, bahwa selepas lulus dari ODM punya niatan tidak kuliah, tetapi jadi santri di pondok pesantren. Namun, niat tersebut kemudian diurungkannya dan lanjut kuliah di UGM.
“Keputusan saya memilih melanjutkan kuliah, karena ingin mewariskan harapan kepada generasi mendatang. Saya ingin adik-adik yang melakoni pendidikan paket C tetap optimis bisa masuk kampus sebesar UGM,” ujarnya.
Tiyo mengaku, pemilihan UGM untuk melanjutkan penimbaan ilmu setelah ODM adalah keinginannya pribadi. Karena ia melihat kampus tersebut sebagai kawah candradimuka kepimpinan nasional.
UGM juga dikenal sebagai kampus yang menerima orang-orang kecil sekaligus melahirkan orang-orang besar.
“Sedangkan terkait pemilihan jurusan filsafat, rasanya itu jurusan yang paling bisa puaskan banyak rasa penasaran saya,” ungkap Tiyo
Editor: Kholistiono

