Di sebuah halaman kosong dekat wisata Kijangan, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, tampak sebuah gerobak yang dipenuhi asap bakaran. Di sana, terlihat seorang pemuda sedang sibuk mengipasi bakarannya. Pemuda itu adalah Muhammad Ulin Nuha (18), penjual kojek bakar.
Di tengah kesibukannya membakar kojek, Ulin sapaan akrabnya, bercerita tentang dagangannya itu. Menurutnya, berjualan kojek bakar tidak sulit, karena jajanan tradisional tersebut digemari banyak kalangan.
Menariknya, usaha ini bukan miliknya sendiri, melainkan milik seorang pengusaha asal Dawe. Pengusaha itu telah merintis bisnis kojek bakar selama puluhan tahun dan kini telah memiliki 13 cabang di Kudus dan Jepara.
Baca juga: Dari Iseng Jadi Cuan, Kisah Owner Jagung Moza Tarik
Ulin mengaku, berjualan kojek bakar sudah lebih dari tiga tahun. Meski harus membagi waktu dengan jam sekolah, ia mengaku tidak ada kendala. Motivasi utamanya adalah untuk mencari pengalaman kerja dan menambah penghasilan.
“Saya ingin mencari pengalaman kerja sejak muda,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Kojek bakar yang dijual Ulin memiliki harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp500 per tusuk. Jajanan ini terbuat dari bahan dasar tepung tapioka yang kemudian dibakar di atas arang hingga matang. Proses pembakaran ini memberikan aroma dan cita rasa yang khas pada kojek.
Setelah matang, kojek disiram dengan saus pedas manis yang menambah kelezatannya. Kombinasi rasa gurih, pedas dan manis inilah yang membuat kojek bakar digemari banyak orang.
Baca juga: Asyiknya Bakso Tengah Sawah, Menu Beragam Harga Masuk Akal
Hampir setiap hari Ulin berjualan hingga pukul 21.00 WIB. Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan omzet hingga Rp500.000.
Penulis: Arum Tri Handayani, Mahasiswa Magang PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

