BETANEWS.ID, KUDUS – Mifrohul Hana Chamami (34) terlihat sedang merapikan beberapa buku dan menjejerkannya di meja serta kursi ruang tamu. Buku-buku tersebut merupakan hasil karyanya yang ditulis sejak 2017 lalu, yaitu Buku Jejak Ulama Nusantara.
Pria berpeci putih itu menjelaskan, dari 10 buku yang sudah ia tulis, kesemuanya berisi tentang asal usul dan jejak sejarah desa serta ulama di seluruh kecamatan di Kudus. Melalui buku, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda tidak melupakan asal usul dari daerahnya sendiri.

“Selain untuk dokumentasi juga tujuannya supaya generasi masa kini tahu asal usul daerahnya. Tidak melupakan sejarah. Dan menurut saya lebih enak melalui buku,” papar Hana, Senin (29/6/2020).
Baca juga: Jejak Dakwah Sunan Kedu, Datang ke Kudus Naik Tampah Terbang
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Kudus tersebut melanjutkan, dalam penelusuran dan riset penulisan, dirinya tidak hanya menemui akademisi dan ulama besar, tapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk tokoh-tokoh desa setempat. Dari penulusuran itu, Hana sapaan akrabnya, beberapa kali memukan pengalaman menarik.
“Paling menarik itu, waktu terjun ke lapangan. Karena beberapa pengalaman mistis itu saya alami. Contohnya waktu mau nulis di Mbah Sunan Puger. Pas ngobrol sama tokoh masyarakatnya atau juru kuncinya, tiba-tiba ada bau semerbak wangi. Ya hal-hal semacam itu,” papar dia.
Untuk kesulitan, dikatakan Hana, lebih terletak pada pendanaan percetakan. Untuk mencetak banyak buku, ia sering tidak memiliki dana. Oleh karena itu, saat ini dia menggunakan sistem pesanan dalam menjual bukunya. Jadi, buku baru dicetak ketika ada yang pesan.
“Saat ini sudah ada 10 buku. Semua meliputi 9 kecamatan di Kota Kudus. Dulu waktu cetak buku pertama, yang memuat tulisan di daerah Kecamatan Kota Kudus. Itu dua jilid, saya cetak 500 buah. Alhamdulilah langsung habis. Terus setelah itu, 2019 kemaren cetak lagi 100 buah per buku. Dan buku-buku dari kecamatan lain juga sama, saya cetak 100 buah. Dan alhamdulilah habis juga,” kata dia.
Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus
Hingga saat ini, buku Jejak Ulama Nusantara itu sudah dikirim ke beberapa kota hingga luar pulau. Seperti Semarang, Bogor, Madura, hingga Sumatera. Bahkan, saat ini Hana mulai merambah ke dunia virtual melalui Youtube untuk memvisualisasikan tulisan-tulisan di buku tersebut.
“Jumat kemaren launching channelnya. Namanya LH Channel. Tujuannya visualisasi dari buku-buku yang saya tulis. Targetnya nanti selalu upload video dua kali selama seminggu,” tutup Hana.
Editor: Ahmad Muhlisin

