BETANEWS.ID, KUDUS – Pengeras suara masjid berlantai dua di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu terdengar berbunyi. Di dalam masjid, tampak satu orang sedang salat kemudian dilanjutkan dengan berzikir. Masjid itu yakni Masjid at-Taqwa, saksi sejarah penyebaran agama Islam oleh Sunan Kedu di Kabupaten Kudus
Sesepuh masjid Maslani (60) menceritakan, Masjid At-Taqwa dibangun oleh Sunan Kedu pada tahun 1599 Masehi, di hari Jumat Pahing. Sunan Kedu sendiri berasal dari Parakan Temanggung dan bernama lahir Abdul Hakim bin Abdullah Taqwin.

Kisah kedatangannya ke Kudus, Lanjut Maslani, dimulai saat ia tiba dari Mekah untuk menuntut ilmu. Waktu itu, ia dapat perintah agar melanjutkan menimba ilmu kepada Sunan Kudus.
“Setelah beranjak dewasa, Abdul Hakim memutuskan belajar agama ke Mekah setelah lulus mendapat gelar dari gurunya Syeh Abdul Basyir atau dikenal dengan nama Sunan Kedu,” ujar Maslani kepada, Jumat (1/5/2020).
Saat berangkat ke Kudus itu, dia menggunakan alat transportasi yang tidak lazim. Yaitu dengan menaiki tampah melayang-layang di angkasa. Sesampai di Kudus, karena tidak mengetahui alamat pasti Sunan Kudus, Sunan Kedu berputar-putar di atas kota dan menggemparkan masyarakat Kudus.
Baca juga: Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang
Sunan Kudus yang mendengar kegemparan itu kemudian keluar dan melihat tampah yang dinaiki Sunan Kedu. Syeh Ja’far Shadiq, nama asli Sunan Kudus, lantas menunjuk tampah terbang itu. Seketika itu juga Sunan Kedu jatuh di tanah jemberan (becek). Tempat jatuhnya itu kelak dikenal sebagai Desa Jember.
“Setelah Sunan Kedu jatuh, Sunan Kudus berkata, Kudus itu gudangnya ilmu, jadi jangan pamer ilmu di sini,” kata Maslani menirukan Sunan Kudus.
Setelah terjatuh, lanjut Maslani, Sunan Kedu kemudian sadar bahwa yang dihadapinya itu Sunan Kudus. Lalu bergegaslah dia mencari tempat sesuci. Kelak tempat untuk bersuci itu dikenal sebagai Desa Pesucen. Setelah bersih, Sunan Kedu kemudian menghadap Sunan Kudus untuk memohon maaf serta mengutarakan niatnya untuk berguru.
“Sunan Kedu sendiri datang ke Kudus pada tahun 1576. Setelah jadi murid, Sunan Kudus diminta ikut menyebarkan agama Islam. Dan beliau memilih Desa Gribig sebagai pusatnya. Di Gribig, Sunan Kedu dibantu murid Sunan Kudus dan Sunan kudus sendiri untuk mendirikan masjid. Masjid itulah cikal bakal Masid At-Taqwa Sunan Kedu,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Cerdik Sultan Hadirin Dibalik Pendirian Masjid Wali Loram Kulon
Pria yang dianugerahi dua anak itu menuturkan, sampai saat ini, Masjid Sunan Kedu sudah direnovasi sebanyak tiga kali. Meski begitu, bentuk masjid utama masih dipertahankan. Bagian masjid yang masih dipertahankan hingga sekarang yakni mustaka, empat tiang saka, dan mihram masjid.
“Sedangkan peninggalan lainnya yakni batu kenong yang selalu digunakan Sunan Kedu untuk bermunajat kepada Allah SWT. Serta Mbelik Sumber Jaya, yang konon airnya dipercaya sebagai obat dan pelarisan,” tutup Maslani.
Editor: Ahmad Muhlisin

