BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana Kedai Jampi Zarisma tampak cukup ramai sore itu. Tempat yang menyediakan aneka ramual herbal tersebut, menjadi jujugan para penikmat minuman herbal untuk meningkatkan kesehatan. Sang pemilik, Atut Dihartomo (68), yang juga Ketua Asosiasi Pengobat Ramuan Tradisional Indonesia (Apetri) Cabang Kudus, tampak sedang mempersiapkan beberapa bahan rempah untuk diracik menjadi minuman.
Kebetulan, sore itu ia akan membuat minuman atau jampi godhog untuk obat pegal linu dan asam urat serta minuman segar mpon-mpon. Bahan seperti jahe, daun pandan, kayu manis, gula aren serta bahan lainnya dicucinya terlebih dahulu. Setelah itu, baru dimasukkan ke dalam panci ukuran besar yang sudah diisi dengan air. Kemudian barulah kompor dinyalakan dan ia mulai mengolah racikan sesuai dengan urutan.

Baca juga : Sasar Anak Muda, Warung Jahe Rempah Mbah Tolok Kreasikan Wedang Kekinian
“Kebetulan saya membuat jamu ini karena pengalaman masa kecil. Ibu saya itu, tiap anaknya sakit, pasti dikasih minuman dari rempah-rempah. Ya jamu itu. Dan alhamdulillah kok ya sembuh. Dari sana saya terinspirasi, dan akhirnya mulai belajar dan mencoba meracik jamu. Untuk memulainya buka dari 2008,” papar Atut, Minggu (28/6/2020).
Lelaki berpeci putih itu melanjutkan, jika jampi godhog yang ia jual berawal dari 3 jenis. Selanjutnya berkembang dengan berbagai jenis lain. Seperti sehat perempuan dan sehat laki-laki, jamu penurun kolesterol, penyumbatan darah tinggi, diabetes, susut perut hingga beberapa minuman segar lain.
“Kalau minuman segar kami ada kunir asem, teladewa, sari laos, susu kedelai, wedang mpon-mpon dan jahe kelor. Karena yang datang ke sini tidak hanya orang tua. Terkadang mereka bersama anak-anak, jadi mereka juga bisa menikmati minuman segar yang kami sediakan saat orang tuanya meminum jamu,” kata dia.
Baca juga : Kisah Jitun Olah Minuman Sari Rempah, Awalnya Tak Laku Sampai Berhenti Produksi
Selain jamu rebus atau jampi godhog, kedai yang berada di Jalan Bhakti Nomor 87, Desa Burikan, Kudus itu menyediakan ramuan jamu dalam bentuk kering. Paketan jamu kering itu bisa dikirim kepada pelanggan yang berada di luar kota hingga luar pulau. Hal ini dikarenakan, semakin hari pelanggannya semakin banyak hingga kota-kota lain di sekitar Kudus. Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia memberikan paket instan dengan takaran ramuan yang bisa di rebus sendiri oleh pelanggan.
“Untuk yang luar kota ada yang kami sediakan bentuknya masih kering. Satu paket bisa direbus dan diminum selama 10 hari. Tiap hari takarannya diminum dua kali. Itu untuk mempermudah proses pengiriman. Sedangkan untuk keluhan khusus, biasanya pelanggan konsultasi dulu, dan konsultasinya gratis. Nanti setelah tahu penyebabnya atau penyakitnya apa, baru saya racikkan ramuannya,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

