Beranda blog Halaman 1852

Ganjar Gandeng MAJT Bagikan 7 Ton Beras pada Masyarakat Terdampak Covid-19

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menyalurkan bantuan beras kepada jemaah MAJT, Sabtu (2/5/2020). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali menyalurkan bantuan kepada warga terdampak Covid-19. Jika sebelumnya telah membagikan beras kepada warga sekitar Masjid Agung Kauman Semarang, kali ini, masyarakat sekitar masjid yang ada di Jl Gajah Raya Kota Semarang dapat giliran.

Dalam penyaluran itu, Ganjar menggandeng Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk menyalurkan tujuh ton beras. Bantuan ini merupakan sumbangan pribadi Ganjar, bantuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng dan juga donasi dari masyarakat yang dihimpun Satgas Covid-19 MAJT.

“Saya senang banyak masjid di Jateng membuat gerakan ini. Ini bagian dari penguatan yang ada di masyarakat dan umat. Sehingga kita bisa saling bekerjasama,” kata Ganjar saat menyerahkan bantuan di aula MAJT, Sabtu (2/5/2020).

Baca juga: PPAT dan Notaris Berikan Bantuan Sembako dan APD

Dengan banyaknya pihak yang memberikan bantuan, maka, distribusi kepada masyarakat yang membutuhkan juga semakin banyak. Bantuan-bantuan itu sangat penting untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Setidaknya masyarakat bisa lega, dapat bantuan beras atau sembako atau bantuan lain. Ini sangat membantu membuat masyarakat lebih tenang. Harapan hidupnya lebih panjang dan tidak bergantung pada satu sumber, namun sumber-sumber lainya seperti masjid ini,” terangnya.

Meski begitu, Ganjar meminta masyarakat untuk tidak hanya menengadahkan tangan untuk meminta bantuan. Pihaknya mendorong masyarakat tetap memiliki semangat untuk produktif dan bisa berdaya.

“Makanya kami buat program Jogo Tonggo, sebagai upaya membuat masyarakat tetap produktif. Bahwa mereka terkena PHK, tidak bisa bekerja kita bantu, namun bantuan hanya stimulan. Selebihnya masyarakat harus dilatih, diberdayakan agar bisa mandiri,” tegasnya.

Baca juga: Jemaah Masjid Agung Semarang Dapat Bantuan Sembako dari Pemprov Jateng

Ganjar lantas meminta masyarakat membuat lumbung pangan untuk wadah pengumpulan donasi dan bantuan untuk dipakai bersama-sama. Selain itu, masyarakat juga diminta memberdayakan pekarangan rumah masing-masing sebagai tempat menanam kebutuhan pangan.

“Kalau memang mau usaha, silahkan didata. Nanti pemerintah akan mendampingi, memberikan pelatihan hingga permodalan agar bisa mandiri. Kalau mandiri, tentu tidak akan hanya mengandalkan bantuan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PP MAJT KH Noor Achmad mengatakan, dari 7 ton beras tersebut, semuanya dijadikan 1400 paket. Masing-masing paket berisi beras sebanyak 5 kilogram. Bantuan akan distribusikan dalam dua tahap, yakni Sabtu ini sebanyak 1000 paket dan tahap II akan didistribusikan pada 16 Mei 2020, dengan masih mencari tambahan donasi dan bahan natura.

“Semuanya disasarkan kepada masyarakat terdampak Covid-19, diantaranya masyarakat di sekitar MAJT, para PKL, guru ngaji dan marbot masjid di Kota Semarang, fakir miskin di sekitar pemukiman pengurus MAJT dan jemaah pengajian Ibu-Ibu MAJT yang terdampak,” tutup Noor.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Padureksan, Gapura Masjid Wali Jepang yang Dibuat Sunan Kudus dan Filosofinya

0
Gapura Padureksan yang dibuat oleh Kanjeng Sunan Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur atau Masijd Wali Jepang, yang terdapat di Desa Jepang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, banyak bagiannya terbuat dari material kayu jati. Tiang, plafon serta gebyoknya semua bernuansa kayu jati yang masih natural. Di depan masjid, terdapat gapura yang pintunya pun berbahan kayu jati lawas. Gapura Masjid Wali Jepang itu bernama Padureksan.

Gapura yang terbuat dari bata merah setinggi empat meter itu dibuat sendiri oleh Kanjeng Sunan Kudus. Arsitektur gapura berbentuk tempat sembahyang umat Hindu – Budha. Hal itu agar menarik minat masyarakat sekitar, sehingga mau memeluk Islam. Karena memang sebelumnya masyarakat Kudus masih banyak yang beragama Hindu dan Budha.

Sumur yang berada di Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur atau Masijd Wali Jepang. Foto : Rabu Sipan

“Sunan Kudus dalam penyebaran agama Islam memang memanfaatkan simbol – simbol agama Hindu – Budha. Agar Islam yang diajarkannya tidak jadi pertentangan. Beliau ingin mengajarkan bahwa Islam itu indah dan Islam itu untuk seluruh alam,” ujar Muhamad Ridwan (69), Nadzir Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur.

Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

Nama gapura masjid lanjutnya, juga pemberian dari Sunan Kudus. Gapura tersebut diberi nama Padureksan. Dengan nama tersebut, Sunan Kudus menyelipkan pesan agar manusia itu jangan bertengkar (padu) dan rasan – rasan. Maksutnya itu menggunjing orang lain.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, Gapura Padureksan bentuknya itu masih asli dari peninggalan Sunan Kudus. Pintunya juga terbuat dari kayu jati lawas, serta tidak menggunakan engsel besi.

“Gapura ini bentuknya masih asli dari dulu hingga sekarang. Di Masjid Wali Jepang ini memang ada beberapa bagian yang memang tidak boleh dipugar oleh pemerintah. Karena sebagai cagar budaya,” papar pria yang akrab disapa Mbah Wan sembari mengajak tim betanews.id masuk ke ruang utama masjid.

Di ruang utama masjid, Mbah Wan menunjukan tiang saka empat penyangga atap masjid. Tiang atau saka empat itu juga masih aslinya dan tidak boleh diganti.

Dua saka di sebelah timur terbuat dari kayu sukun dan kayu nangka. Sedangkan dua saka sebelah barat, semuanya dari kayu jati.

Menurutnya, empat tiang yang terbuat dari kayu berbeda itu juga ada filosofinya. “Sukun kalau huruf Arab itukan mati. Jadi orang yang akan masuk masjid harus mati. Maksutnya itu mematikan nafsunya, minongko (nangka) hamba sejati (jati). Hamba sejati yang bertaqwa kepada Allah. agar kelak bila meninggal husnul khotimah,” ungkapnya.

Kemudian dia menunjukan pengimaman dan mimbar khutbah yang juga masih dijaga keasliannya. Tak lupa Mbah Wan menunjukan prasasti penyempurnaan masjid oleh Sayyid Ali Alaydrus pada tahun 1336 H.

Setelah itu, dia berjalan ke utara dan menunjukan sumur bata berbentuk bulat, lengkap dengan timba kayu. Sumur tersebut masih ada sumber airnya dan keberadaannya di dalam masjid serta dipagar kayu keliling.

Baca juga : 6 Bagian Masjid Jami’ Nganguk Wali yang Dipertahankan Hingga Sekarang, Ini Filosofinya

“Inilah sumur wali peninggalan Sunan Kudus. Masih ada mata airnya sampai sekarang,” jelasnya.

Kemudian Mbah Wan keluar menuju sebelah barat masjid. Di situ terlihat beberapa makam dengan nisan peninggalan abad 16. Di antara makam tersebut, dia menunjuk ke atap dan mustaka masjid.

Menurutnya, atap utama masjid masih berupa tajug bertingkat tiga. Mustaka juga masih asli terbuat dari tanah. Serta di atas mustaka terdapat panah. “Panah itu terkadang berubah arah sendiri. Kayak ada menggerakkan,” tutu Mbah Wan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ganjar Siap Seluruh Pendapatannya Dipotong untuk Penanganan Covid-19

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas), pada Kamis (30/4/2020) kemarin, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengusulkan pemotongan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 50 persen kepada pemerintah pusat untuk membantu penanganan Covid-19.

Ganjar menegaskan, bukan persoalan besaran nominal atau persentase saat mengusulkan pemotongan gaji ASN tersebut. Menurutnya, di masa pagebluk ini, salah satu kekuatan besar yang dimiliki negara ini mesti turun gunung, yaitu para ASN.

Presiden Joko Widodo sendiri telah menginstruksikan merelokasi dan merealokasi anggaran untuk penanganan Covid-19, agar semakin banyak masyarakat diselamatkan. Bahkan di level provinsi, ganjar telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,2 triliun. Namun, apakah itu cukup? Sementara sampai saat belum satu pakar pun yang bisa memastikan berakhirnya pagebluk Covid-19 ini.

“Saya khawatir, yang diprediksi Juni akan selesai, justru di Jateng baru sampai puncak, apalagi seperti yang disampaikan Pak Yuri dari Gugus Tugas, Semarang bisa jadi episentrum baru. Karena transmisi lokal telah terjadi,” kata Ganjar, Sabtu (2/5/2020).

Baca juga : Ganjar Minta Perusahaan Ikut Bantu Buruh yang Kena PHK dan Dirumahkan

Ganjar menyampaikan, semua pihak mesti turun tangan untuk menambal kemungkinan kekurangan dalam penanganan Covid-19, dari sisi anggaran salah satunya. Karena untuk skala nasional dibutuhkan anggaran yang sangat besar. Sebagai gambaran, untuk sekelas Jawa Tengah saja, Ganjar harus menyisir anggaran sebesar Rp 2,2 triliun. Ganjar menilai salah satu kekuatan yang bisa memberi kontribusi sangat besar pada sisi itu adalah Aparatur Sipil Negara.

“Kemarin di Musrenbang saya usulkan agar ada pemotongan gaji atau pendapatan yang bisa kita berikan kepada rakyat. Nah bagaimana sensitivitas bisa kita berikan dalam kondisi seperti ini?” kata Ganjar.

Sebenarnya yang Ganjar harapkan dari pemotongan gaji ASN adalah spirit berbagi saat negara dalam kondisi krisis. Makanya dalam Musrenbangnas tersebut, untuk pemotongan pendapatan Ganjar mengambil contoh ASN golongan tiga. Dengan penyebutan contoh tersebut, Ganjar berharap seluruh ASN apapun golongan dan jabatannya terketuk untuk berempati lebih.

Baca juga : Pemerintah Diminta Potong Total Pendapatan ASN Hingga 50 Persen

“Sebenarnya bukan soal golongannya, bukan persentasenya. Kalaulah soal gradual bisa dilakukan, dimulai saja dari pejabatnya dulu. Maka tadi ada yang nanya, gubernur berani tidak gajinya dipotong 85 persen. Maaf, untuk gaji tidak pernah saya ambil sejak 2013, saya kembalikan,” kata Ganjar.

Bahkan Ganjar menegaskan jangankan sekadar gaji, seluruh pendapatannya pun siap dipotong untuk penanganan Covid-19. Asumsi Ganjar, jika seluruh kepala daerah, bahkan sampai pusat juga punya komitmen seperti itu pasti akan memberi energi positif pada penanganan Covid-19 dan akan diikuti oleh jajarannya. Ganjar mengatakan dengan langkah demikian betapa banyak kebutuhan masyarakat yang bisa tercukupi.

“Ini untuk menunjukkan komitmen, tidak perlulah kita bicara satu tahun, tapi satu bulan, dua atau tiga bulan itu sudah bagus kita untuk mengkontribusikan itu. Maka problem yang ada dimasyarakat bisa diinsert dengan rasa kemanusiaan dan persatuan yang kita miliki, maka masyarakat bisa merasakan kita hadir.” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

KSBSI Kudus: ‘THR Kewajiban Perusahaan, Bukan Kebaikan Perusahaan’

0
Buruh yang tergabung dalam KSBSI Kabupaten Kudus menggelar aksi demonstrasi, beberapa waktu lalu. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, KUDUS – Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kabupaten Kudus khawatir tunjangan hari raya (THR) 2020 tidak dibayarkan oleh perusahaan, karena efek pandemi Covid-19.

Koordinator KSBSI Kudus Slamet Machmudi mengatakan, setiap tahunnya, perusahaan wajib memberikan THR menjelang Idul Fitri. Namun, sejak adanya pandemi, dia menduga pelaksanaan pembayaran THR tahun ini akan banyak yang tidak memenuhi aturan.

“THR itu hak buruh dan kewajiban perusahaan, bukan kebaikan pengusaha. Sehingga harus diterapkan dengan benar,” ungkapnya, Jumat (1/5/2020).

Pria yang akrab dipanggil Mamik tersebut melanjutkan, dengan dalih ada pandemi Covid-19, perusahaan bisa saja menunda, bahkan tidak membayarkan THR itu. Dengan kata lain, wabah ini benar-benar akan menjadi alasan perusahaan.

“Berbeda dengan tahun lalu. Perusahaan besar dan menengah benar-benar konsisten membayar THR,” tuturnya.

Baca juga: May Day, Sugeng : ‘Demo Sekarang Tidak Penting, yang Penting Itu Bantuan’

Dengan kondisi demikian, pemerintah daerah harusnya bisa mengantisipasi, jika ada perusahaan yang menunda pembayaran THR. Caranya, pihak pemerintah meminta perusahaan untuk lebih dini memberitahukan jika tidak mampu membayar THR tepat waktu.

“Pemerintah diharapkan konsisten melakukan pengawasan dan penegakan aturan. Sesuai Peraturan Pemerintah RI nomor 78 tahun 2015 yang mengatur tentang THR,” jelasnya.

Selain itu, penundaan THR juga harus didasari dengan audit keuntungan, supaya bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Perselisihan Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan UKM Kudus Agus Juanto menuturkan, hingga saat ini, belum ada perusahaan yang menginformasikan penundaan THR.

Baca juga: 17 Karyawan di Kudus Kena PHK, 2066 Dirumahkan

Pihaknya juga sudah mulai mengedarkan surat pemberitahua THR 2020 yang wajib diberikan satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.

“Sesuai dengan kebijakan Kementerian Tenaga Kerja, jika ada kondisi perusahaan yang kesulitan membayar THR, dapat ditempuh mekanisme musyawarah bipartit dengan pekerja,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjut dia, bertujuan untuk membuat kesepakatan antar pengusaha dan serikat pekerja, soal THR akan dibayarkan penuh atau bertahap.

“Tidak usah kirim surat ke dinas dulu. Yang penting kami diberikan‎ tembusan hasil kesepakatan antara serikat pekerja atau pekerja dengan pengusaha terkait pelaksanaan pembayaran THR,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik di Faeyza Beauty Eyelash

1
Noorachma sedang menyambung bulu mata pelanggannya. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Malam itu, di bawah pancaran lampu, jemari lentik perempuan berbaju orange begitu terampil menyambung bulu mata seorang pelanggannya. Dengan telaten, dia sambung satu persatu bulu mata pelanggan yang mengenakan jilbab hitam. Sesekali dia kaitkan rambutnya yang menjuntai ke kuping karena mengganggu proses pemasangan bulu mata tersebut. Perempuan itu yakni Noorachma (32) pemilik Faeyza Beauty Eyelash.

Di sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Nora itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, menekuni usaha memasang bulu mata sejak dua tahun lalu. Hal itu dilakukan, karena sebelumnya Nora gemar menyambung bulu matanya agar terlihat cetar.

Penyambungan bulu mata di Faeyza Beauty Eyelash. Foto : Rabu Sipan

“Dari situ saya melihat peluang usaha. Karena memang pada waktu itu saya juga butuh usaha sampingan agar punya tambahan penghasilan,” ujar Nora kepada betanews.id, Kamis (23/4/2020).

Sebab itulah, perempuan murah senyum itu memutuskan untuk kursus pasang bulu mata. Setelah mahir, dia pun menawarkan jasa pemasangan bulu mata ke beberapa temannya. Sembari tetap menjalani pekerjannya, jadi pemasaran produk kecantikan.

Baca juga : Khayra, Model Cilik Asal Kudus Bakal Wakili Indonesia di Ajang Internasional

“Saya yakin dengan usaha pemasangan bulu mata itu karena melihat trend perempuan masa kini. Sekarang itu banyak wanita ingin tampil cantik tapi tidak ingin ribet,” bebernya sambil menyelesaikan pekerjaannya.

Menurutnya, awal – awal merintis usaha pemasangan bulu mata hanya melayani panggilan saja, karena memang belum punya studio. Setelah mulai dikenal dan punya banyak pelanggan. Dia pun nekat sewa tempat untuk dijadikan studio pemasangan bulu mata bernama Faeyza Beauty Eyelash.

“Dengan mempekerjakan satu orang, saya sewa tempat di depan seberang Balai Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus,” ujar Nora yang mengaku usahanya tersebut tetap dijadikan sampingan karena saat ini dia juga bekerja jadi pemasaran mobil di Kudus.

Perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus itu menuturkan, Faeyza Beauty Eyelash melayani pemasangan bulu mata produk lokal maupun impor. Keunggulan dari Faeyza Beauty Eyelash bulu matanya lebih halus, hasilnya rapi serta kuat bertahan hingga satu setengah bulan.

“Selain bulu mata yang halus dan pemasangan yang rapi, keunggulan lainnya itu, kami menggunakan lem impor. Sehingga daya rekatnya kuat bertahan hingga satu setengah bulan,” ungkapnya.

Untuk harga lanjutnya, biaya pemasangan di Faeyza Beauty Eyelash mulai Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu. Biaya tergantung ukuran bulu mata serta kelebatan yang diminta oleh pelanggan.

Nora mengaku untuk memanjakan pelanggannya. Dia selalu memberikan promo – promo menarik. Di antaranya saat hari Jumat, Sabtu dan Minggu ada promo pasang dua orang gratis satu orang untuk all tipe. Sedangkan di hari Senin sampai Kamis ada voucer Rp 10 ribu.

Dari promo – promo yang diselenggarakan itu tambahnya, sehari tak kurang dari lima orang yang pasang bulu mata di Faeyza Beauty Eyelash. “Lima pelanggan sehari itu paling sedikit, seringnya lebih dari lima pelanggan yang datang,” ungkapnya.

Dia berharap usahanya tersebut makin dikenal, dan makin banyak pelangganya. Sehingga studio Faeyza Beauty Eyelash makin ramai. “Semoga secepatnya saya juga bisa merambah ke usaha sulam bibir dan sulam alis,” harapnya.

Baca juga : Mau Berburu Sneakers Murah Tapi Ori? Toko Nix.id Tempatnya

Istiana, satu di antara pelanggan mengatakan, sudah lama berlangganan memasang bulu mata sama Nora. Dari Nora hanya melayani panggilan kerumah hingga sudah punya studio.

Menurutnya, hasil pemasangan bulu mata di Faeyza Beauty Eyelash sangat bagus dan memuaskan. Bulu matanya halus, hasilnya rapi harganya juga sangat terjangkau.

“Aku itu tipe wanita yang tidak suka ribet tapi ingin tetap tampil cantik. Dengan bulu mata lentik dan cetar ini membuat saya makin percaya diri,” ungkap perempuan yang akrab disapa Isti tersebut.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Produk Rajut Essa Colection Diminati Konsumen Hingga Mancanegara

0
Arif Afroni, Pemilik Essa Colection menunjukkan beberapa produk rajut miliknya. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Lampu lalu lintas yang berada di Perempatan Jalan Bakti, Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus siang itu tampak menyala merah. Kendaraan roda dua yang melaju dari barat serta merta berhenti. Sambil menanti lampu hijau menyala, terlihat mereka memerhatikan rumah warna putih di selatan jalan. Di dalam rumah tersebut tampak dari luar beberapa aneka produk rajutan terpajang. Rumah tersebut yakni pusat handmade rajutan bernama Essa Colection.

Arif Afroni (48) pemilik dari Essa Colection mengatakan, aneka produk rajutan dari Essa Colection itu sangat bagus dan berkualitas. Sebab alasan tersebut, produk rajutan dari Essa Colection diminati banyak orang. Bahkan pernah dibeli orang luar negeri, yakni warga negara Hongkong.

Beberapa produk rajut dari Essa Colection. Foto : Rabu Sipan

“Itu terjadi pada tahun 2018. Awalnya itu teman saya akan melancong ke Hongkong dan pesan koper rajut dari Essa Colection. Sepulang dari Hongkong, teman saya itu pesan koper rajut lagi. Dan ternyata untuk temannya warga negara Hongkong,” jelas pria yang akrab disapa Arif kepada betanews.id, Selasa (21/4/2020).

Baca juga : Rexsove, Brand Tas Lokal Berkualitas Buatan Loram Wetan

Arif mengungkapkan, koper rajut yang dipesan temannya itu bahkan mematik minat beberapa orang yang lewat. Hingga ada beberapa orang Kudus yang ikut pesan produk yang sama. Selain pernah dibeli orang luar negeri, tuturnya, aneka produk rajut essa colection juga banyak dipesan warga Indonesia.

“Antara lain, seluruh wilayah Karesidenan Pati, Demak, Semarang, Jakarta, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Purwokerto, Cirebon dan daerah lainnya,” beber Arif sambil menata aneka produk rajut.

Pria yang dikaruniai satu anak itu menuturkan, Essa Colection menyediakan aneka produk rajutan antara lain, tas rajut yang dihargai Rp 350 ribu hingga Rp 650 ribu per buah. Topi serta kaus kaki bayi rajut dibanderol Rp 50 ribu hingga Rp 120 ribu.

Untuk kopiah harganya Rp 50 ribu, syal Rp 125 ribu. Di Essa Colection juga membuat sweater rajut yang dibanderol Rp 750 ribu per buah. Selain itu, tuturnya, Essa Colection juga membuat aneka aksesoris rajut untuk gantungan kunci dan souvenir pernikahan.

Baca juga : Melalui Expo, Kerajinan dari Tegar Store Semakin Dikenal

Arif mengungkapkan, sejak ada pandemi Covid-19 mewabah, Essa Colection juga memproduksi masker rajut. Masker rajut produk Essa Colection dilapisi kain furing serta tengahnya diberi tisu agar aman dari virus.

“Untuk masker rajut kami jual Rp 30 ribu per buah. Warna bisa dipesan dan bisa diberi karakter sesuai keinginan pelanggan,” ujar Arif.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Didukung Penuh Orang Tua, Indah Mantap Jadi Relawan Medis Covid-19

0
Dua perawat sedang menggunakan alat pelindung diri (APD). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Indah Pucang Sari terlihat sibuk mengecek tekanan darah orang dalam pengawasan (ODP) di Rusunawa Kudus, Sabtu (25/4/2020). Dengan menggunakan alat tensimeter dia mengecek satu persatu para pemudik yang dikarantina di tempat tersebut.

Indah merupakan salah satu relawan tenaga kesehatan dari mahasiswa yang ditugaskan di tempat isolasi ODP. Di Akbid Muslimat NU Kudus, gadis berusia 21 tahun itu mengambil jurusan Kebidanan.

Indah mengaku sudah menanti jadi relawan medis Covid-19 sejak wabah ini menyebar. Selain ingin mempersiapkan diri di dunia kerja, dia juga ingin mengabdi kepada masyarakat.

“Ini momennya tepat. Selain supaya terbiasa di dunia kerja nanti, juga bisa mengabdi,” jelas Indah yang saat ditemui mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap itu.

Baca juga: Pemkab Kudus Libatkan Lima Perguruan Tinggi untuk Bantu Tangani ODP

Sebelumnya, Indah mendapatkan informasi perekrutan relawan dari Instagram. Dia lantas berpikir ide tersebut sangat baik di tengah kebutuhan tenaga medis yang banyak. Saat itu juga mahasiswa semester enam tersebut tertarik untuk gabung.

Setelah cari-cari informasi di kampus, ternyata Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus membuka lowongan tersebut di tempatnya menuntut ilmu.

“Setelah dapat edaran dari Dinas Kesehatan bahwa dibutuhkan relawan untuk Covid-19 dan kemudian turun ke akademi, saya langsung daftar,” bebernya.

Indah mulai diterjunkan sejak tanggal 23 April bersama enam orang rekannya. Selama menangani para ODP, dia bertugas melakukan skrening dan mendampingi dokter.

“Jadi dari Akbid ada enam orang. Empat di Rusunawa dan dua di Balai Diklat Menawan,” tutur warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu.

Keikutsertaannya tersebut, lanjut dia, setelah ada dukungan dari kedua orang tuanya. Mereka tidak keberatan anak perempuannya ikut menangani pasien Covid-19.

Baca juga: Sumardi Semringah Bisa Pulang ke Rumah Setelah Jalani Karantina di Rusunawa

“Ibu dan bapak memperbolehkan. Karena mereka yakin pasti sudah ada protokol kesehatan khusus,” tandas Indah yang pernah praktik di RSI Sunan Kudus, RSUD dr Loekmono Hadi, Bidan Praktik Mandiri, Klinik Srikandi Husada dan Puskesmas itu.

Diketahui, Pemkab Kudus telah menerjunkan 48 relawan medis untuk membantu menangani pemudik yang dikarantina di Rusunawa Bakalankrapyak, Balai Diklat Menawan dan Hotel Graha Muria. Mereka berasal dari lima perguruan tinggi kesehatan, yakni Universitas Muhammadiyah Kudus, Stikes Cendekia Utama, Akper Krida Husada, Akbid Muslimat NU, dan Politeknik Kudus.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Napi Asimilasi Berulah, Warga Dukuh Ongol-Ongol Perketat Penjagaan

0
Pengendara sepeda motor melewati portal yang dipasang di jalan masuk Dukuh Ongol-ongol, Kamis (30/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria tampak sedang berjaga-jaga di akses jalan masuk Dukuh Ongol-Ongol, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (30/4/2020). Di dekat mereka, sudah terpasang portal dari bambu dan pengumuman pemberlakuan jam malam di dukuh tersebut.

Salah seorang penjaga portal, Yusuf Achmad Khundori (34) mengatakan, portal tersebut dibuat demi keamanan warga. Menurutnya, dengan adanya asimilasi bagi napi, membuat warga Dukuh Ongol-Ongol merasa resah. Ditambah lagi, banyak informasi beredar, mereka melakukan aksi kriminal lagi, seperti pencurian motor dan penjambretan di daerah Kudus.

Baca juga: Dukuh Ongol-Ongol Kudus Bangun Gapura Penyemprot Disinfektan Otomatis

“Ini dilakukan karena warga merasa resah adanya asimilasi napi. Jadi agar warga tidak resah, kami buat portal di empat akses masuk dukuh. Ini berlaku mulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB,” terang pria yang juga jadi Ketua Relawan Covid-19 di dukuh itu.

Warga RT 02 RW 02 itu menambahkan, setiap malam, pihaknya akan memfokuskan penjagaan di satu akses dari dari empat portal yang akan diisi oleh pemuda desa. Selain berjaga di akses jalan masuk, warga juga berjaga di beberapa pos dan musala.

“Nanti akan dijaga belasan warga untuk akses masuk ke dukuh. Sedangkan di pos dan musala mungkin ada empat atau lima orang yang jaga. Ini sudah berjalan sekitar empat hari, mulai Minggu 26 April 2020 lalu,” terang pria yang akrab disapa Yusuf itu.

Sedangkan menurut Kepala Desa Lau Rawuh Hadiyanto, upaya warga Dukuh Ongol-Ongol dirasa sangat baik. Dirinya mengapresiasi inisiatif warga untuk membuat batasan-batasan bagi wilayah masing-masing.

Baca juga: Larangan Berkunjung, Puluhan Orang Gagal Masuk Desa Wonosoco

“Warga Desa Lau banyak yang membuat kegiatan dari dana swadaya masyarakat. Mereka malah lebih dulu bergerak, tak perlu menunggu desa. Banyak yang terlibat, ada Karang Taruna, Ansor, Banser, IPNU, PPNU dan Linmas. Mereka saling bahu membahu membantu dan bergerak untuk antisipasi hal-hal yang dikhawatirkan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ganjar Minta Perusahaan Ikut Bantu Buruh yang Kena PHK dan Dirumahkan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan bantuan kepada buruh di Boyolali. Foto : Ist

BETANEWS.ID, BOYOLALI – Sebanyak 1.000 paket sembako diberikan kepada para buruh di Kabupaten Boyolali yang di PHK atau dirumahkan akibat dampak dari wabah Covid-19. Paket berisi bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, telor, mie dan lainnya. Ada pula tambahan ikan sebagai lauknya. Paket sembako diberikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertepatan dengan peringatan hari buruh atau May Day, Jumat (1/5/2020).

“Di tengah kondisi susah seperti ini, memang harus ada yang memberikan perhatian kepada kawan-kawan buruh. Siapa itu, ya perusahaan dan pemerintah,” kata dia.

Meski banyak perusahaan yang gulung tikar dan melakukan pengurangan karyawan, namun Ganjar meminta agar perhatian tetap diberikan. Meski tidak banyak karena kondisi ekonomi sedang terguncang, minimal perusahaan bisa membantu memberikan keringanan.

Baca juga : May Day, Sugeng : ‘Demo Sekarang Tidak Penting, yang Penting Itu Bantuan’

“Mari perusahaan ikut bantu, berapapun itu sangat berarti. Setidaknya, kita bisa bikin ayem mereka, karena sebenarnya mereka saat ini deg-degan dan separuh panik, besok makan apa dan dimana,” terangnya.

Katanya, pihaknya bersama Korpri Jateng dan Pemkab Boyolali, hari ini memberikan bantuan 1.000 paket sembako. Menurutnya, perusahaan dapat melakukan hal yang sama agar suasana relasi hubungan industrial tetap berjalan bagus.

“Saya tahu kondisinya semua sedang susah. Tapi mari kita peduli dengan membantu sesama, khususnya dalam peringatan May Day ini, kita peduli pada kawan-kawan buruh,” tegasnya.

Bantuan-bantuan itu lanjut Ganjar penting untuk megamankan mereka setidaknya selama sebulan ke depan. Sebab kalau para buruh itu pikirannya aman, dapurnya masih mengebul, mereka akan bisa berkreasi dan berinovasi.

Baca juga : Ganjar Minta Buruh Tak Buat Kerumunan Massa saat May Day

“Kalau urusan makan sudah aman, mereka bisa kok berinovasi. Ada yang bikin masker, jualan, jadi tukang batu atau mungkin ekonomi kreatif akan muncul. Apapun itu, yang penting mereka bisa survive,” pungkasnya.

Ia katakan, di Jateng, total buruh yang di PHK dan dirumahkan sampai hari ini sekitar 55 ribu buruh. Sebagian besar dibantu sembako oleh pemkab dan pemkot masing-masing. Namun ada 3 kabupaten/kota yang tidak bisa mengkover bantuan untuk seluruhnya, yakni Kota Semarang, Ungaran, dan Boyolali. Itu yang kemudian dibantu pemprov, dengan jumlah 2.164 buruh.

Selain di Boyolali, sebelumnya Ganjar juga memberikan bantuan kepada buruh di Rusunawa Gedanganak dan Rusunawa Kudu Kota Semarang .

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Satu Pasien Positif Covid-19 Asal Undaan Kudus Meninggal Dunia

0
Ilustrasi Corona COVID-19

BETANEWS.ID, KUDUS – Satu pasien positif Covid-19 asal Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus meninggal dunia. Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi, Jumat (1/5/2020).

Dia mengungkapkan, satu pasien asal Kecamatan Undaan tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan usia 58 tahun. Menurut Andini, pasien meninggal pada Kamis (30/4/2020) di Rumah Sakit Mardi Rahayu dengan penyakit penyerta sesak nafas dan Tb Paru yang sudah lama di derita.

Andini melanjutkan, pasien dirawat di RS Mardi Rahayu sejak tanggal 18 April 2020, dan dan dinyatakan positif Covid-19 sejak hasil tes swabnya keluar pada Sabtu (25/4/2020).

Baca juga : Pasien Positif Covid-19 di Kudus Capai 21 Orang, 5 Sembuh, 4 Meninggal

“Sejak dinyatakan positif melalui hasil swab, pasien dilakukan penanganan lebih intensif,” tuturnya.

Menurut Andini, dari pengakuan pasien sebelum meninggal, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan. Selain itu, juga tidak pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Saat ini pihak puskesmas setempat masih melakukan tracking kontak pasien.

Dari kondisi tersebut, Andini menuturkan, penularan Covid-19 tidak bisa lagi diindentifikasi pernah melakukan perjalanan dari zona terpapar atau kontak dengan pasien Covid-19. Menurutnya, cara terbaik yakni melakukan social distancing dan physical distancing.

Baca juga : Hasil Swab 16 Tenaga Medis RS Mardi Rahayu Dinyatakan Negatif Covid-19

Sementara itu, pada 1 Mei 2020, pukul 18.00 WIB, jumlah positif Covid-19 di Kudus sejumlah 21 orang. 13 dari Kabupaten Kudus dan delapan dari luar Kudus. Dari jumlah 21 orang itu, 11 dirawat, lima sembuh dan lima meninggal. Keseluruhan lima pasien yang meninggal dari Kabupaten Kudus.

Sedangkan, untuk pasien dalam pengawasan (PDP), 46 pulang sehat, 26 dalam perawatan, tiga dirujuk dan 23 meninggal.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Awal Ramadan, Jualan Kelapa Muda Yoyok Meroket Hingga 200 Persen

0
Penjual sedang mempersiapkan kelapa muda yang sudah ditunggu pembeli di Pondok Kelapa Muda Putra Samian, Kamis (30/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan kelapa muda tampak tertata rapi di sebuah warung di tepi Jalan Pattimura, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Di bagian samping warung terdapat seorang pria sedang memangkas dua sisi kelapa muda. Sedangkan di dalam warung, seorang wanita dan pria lain terlihat sibuk melayani pembeli. Tempat tersebut adalah Pondok Kelapa Muda Putra Samian, milik Sundoyo (30).

Ditemui di sela-sela kesibukannya, Sundoyo mengatakan, memasuki bulan Ramadan, penjualan kelapa muda di warungnya meningkat drastis mencapai lebih dari 200 persen.

Penjual sedang mempersiapkan kelapa muda yang sudah ditunggu pembeli di Pondok Kelapa Muda Putra Samian, Kamis (30/4/2020). Foto: Rabu Sipan.

“Sebelum puasa biasanya kami hanya mampu menjual 100 kelapa muda sehari. Masuk bulan Ramadan, sehari saya mampu menjual sekitar 350 kelapa muda. Bahkan terkadang lebih,” ujarnya saat ditemui, Kamis (30/4/2020).

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu melanjutkan, ramainya pembeli ini biasanya mendekati waktu berbuka, mulai pukul 16.00 WIB.

Baca juga: Agus Kewalahan Penuhi Permintaan Melon yang Meningkat Drastis saat Ramadan

“Biasanya menjelang berbuka puasa, pembeli itu ramai sekali bahkan sampai antri. Oleh sebab itu, para pelanggan yang tidak ingin antri bisa pesan lewat WA (WhatsApp),” ujarnya sambil ikut melayani pelanggan.

Pria yang akrab disapa Yoyok itu menuturkan, pengalaman berjualan selama satu dasawarsa menjadikannya sudah paham betul secara detail dari kelapa muda. Pengetahuan itulah yang kemudian jadi keunggulannya dalam melayani pelanggan. Sebab ada pembeli yang ingin kelapa muda yang isinya tipis, sedang, atau tebal.

“Lha, saat ada pembeli seperti itu, kita harus bisa memilihkan kelapa muda sesuai permintaannya. Kalau tidak, pembeli itu tidak akan kembali lagi, atau jadi pelanggan kita,” beber pria yang gemar memakai topi yang biasa dikenakan Pak Tino Sidin tersebut.

Di warungnya, Yoyok menjual kelapa muda dengan harga Rp 10 ribu. Rasanya bisa orisinal, bisa pakai sirup atau pakai gula aren. Tak hanya itu, di tempatnya juga menyediakan kelapa muda hijau wulung yang biasa dibuat obat.

Baca juga: Sa’ad Harus Berangkat Jam 8 Malam Agar Bisa Dapat Tempat Berjualan di Pasar Bitingan

“Kelapa muda hijau wulung, per biji saya jual dengan harga Rp 15 ribu. Barangnya dijamin selalu ada. Sedangkan pasokan kelapa muda kami dapat kiriman dari Banjarnegara dan Purwokerto,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Barang Milik Pedagang Pasar Kliwon yang Masih Ditaruh di Jalanan Bakal Disita Petugas

0
Jalanan di Pasar Kliwon tampak lebih rapi karena tak ada barang milik pedagang yang ditaruh di jalanan. Jika ada, barang tersebut bakal disita. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus melarang pedagang di Pasar Kliwon menempatkan barang jualannya secara sembarangan. Hal tersebut seiring pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti, biasanya pedagang Pasar Kliwon menempatkan dagangannya di jalan pasar. Hal tersebut membuat jalan menjadi sempit dan pembeli akan berdesak-desakan.

“Sekarang kita minta pedagang harus tertib. Terutama di masa pandemi Corona ini,” ungkapnya, Kamis (30/4/2020).

Baca juga : Bebaskan Retribusi Pasar, Dinas Perdagangan Rela Kehilangan Rp 6 Miliar

Jalur pembeli yang lebarnya sekitar 180 sentimeter, menurut Sudiharti, sudah ditertibkan sesuai fungsinya. Dia menuturkan, sebelumnya pedagang selalu menaruh barang dagangannya di jalan. Hingga orang yang lewat dari dua arah berdesakan. Dia mengancam akan memberikan sanksi jika pedagang masih melakukan hal yang sama, yakni berupa penyitaan barang dagangan.

Hal tersebut dilakukannya untuk menjalankan prosedur kesehatan Covid-19.Pedagang dan pembeli harus menjalankan physical distancing dan selalu mengenakan masker. Jika tidak mengenakan masker, pihaknya akan langsung menutup toko pedagang tersebut.

Menurutnya, ada sekitar 2.800 pedagang yang menempati ruko, los dan kios di Pasar Kliwon. Dari ribuan pedagang tersebut, menempati blok A hingga D.

Baca juga : Sa’ad Harus Berangkat Jam 8 Malam Agar Bisa Dapat Tempat Berjualan di Pasar Bitingan

Sementara itu, Nur Aimmah, pembeli yang berada di Pasar Kliwon mengaku lebih senang jika pasar terlihat rapi. Menurutnya, selama ini pedagang selalu menaruh barangnya di jalan. Hal tersebut membuat pembeli harus berdesak-desakan.

“Ada yang aneh sih. Tapi malah rapi kok. Pembeli pasti nyaman,” ungkapnya yang datang bersama teman perempuannya.

Dia berharap, sterilisasi jalan di dalam pasar tidak hanya masa pandemi Covid-19 saja. Melainkan, akan berlanjut seterusnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dukuh Ongol-Ongol Kudus Bangun Gapura Penyemprot Disinfektan Otomatis

0
Seorang pengendara sepeda motor tampak melewati gapura penyemprot disinfektan otomatis di Dukuh Ongol-Ongol, Kamis (30/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, KUDUS – Semprotan air tampak membasahi setiap orang yang melewati gapura masuk Dukuh Ongol-Ongol, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Gapura dengan tiang dari baja ringan dan banner bertuliskan ‘Ongol-Ongol Bersatu Melawan Covid-19’ itu ternyata memiliki sistem otomatis penyemprotan disinfektan.

Di sisi gapura, tampak lima orang sedang mengecek disinfektan yang harus diisi ulang jika habis. Satu diantaranya adalah Yusuf Achmad Khundori (34), Ketua Relawan Covid-19 Dukuh Ongol-ongol.

Pria yang akrab disapa Yusuf itu mengatakan, pembangunan gapura tersebut dilakukan secara swadaya dan menghabiskan dana Rp 2,5 juta untuk setiap gapura.

Baca juga: Meski Penting, Warga Luar Desa yang Berkunjung ke Wonosoco Tak Boleh Lebih dari 10 menit

“Dana kami kumpulkan dari swadaya masyarakat. Semua warga ikut berpartisipasi dengan dipelopori pemuda Dukuh Ongol-Ongol. Dari dana yang dikumpulkan bisa membuat dua gapura seperti ini,” terangnya saat ditemui, Kamis (30/4/2020).

Warga RT 02 RW 02 itu merinci, bahan yang dibutuhkan untuk membuat gapura sterilisasi, diantaranya sensor gerak, pompa air, baja ringan, mika, selang, nozzle, dan drum air. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar dua hari.

“Kami sudah izin ke babinsa, bhabinkamtibmas, dan meminta pendampingan dari desa. Tetapi sejauh ini dari desa belum ada pendampingan. Kalau babinsa dan bhabinkamtibmas sudah kemari untuk mengawal, tapi desa belum,” bebernya.

Menurutnya, semua orang di dukuhnya menjadi anggota relawan Covid-19, untuk gotong royong memerangi Covid-19.

“Tidak ada pendataan. Semua warga menjadi relawan dengan kesadaran masing-masing. Selain penyemprotan disinfektan di jalan masuk dukuh, kami juga melakukan kegiatan penyemprotan di jalan dan rumah warga. Semua anggaran dari swadaya,” jelasnya.

Baca juga: Satu Warganya Positif Covid-19, Desa Kutuk Berlakukan Lockdown

Sementara itu, Kepala Desa Lau Rawuh Hadiyanto mengakui, pihak desa masih ada keterbatasan, sehingga warga bergerak secara swadaya. Makanya, dia sangat mengapresiasi dan mendukung hal tersebut.

“Saya merasa terharu dan salut dengan masyarakat Lau. Tentu mendukung hal tersebut, karena tidak ada yang tahu kapan virus bisa masuk. Saya juga minta maaf belum bisa memfasilitasi,” tutupnya saat ditemui di Balai Desa Lau.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

0
Masjid Wali Jami' Al-Ma'mur di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat tiduran seusai Salat Zuhur di serambi masjid berlantai satu. Masjid berlantai marmer itu tampak serambinya terpampang 24 tiang berbentuk kotak berlapis kayu jati. Atap utama masjid masih berupa tajug tiga tingkat. Sedangkan di depan masjid tampak gapura bata merah berasitektur Hindu – Budha. Masjid tersebut yakni Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur.

Warga terlihat sedang menjalankan ibadah salat di Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur. Foto : Rabu Sipan

Masid Wali Jami’ Al-Ma’mur merupakan satu di antara masjid peninggalan wali di Kudus. Tahun pembuatan masjid seluas 1.290 meter persegi itu tidak ada yang tahu pasti. Nadzir Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur, Muhamad Ridwan (69) hanya tahu abad berdirinya masjid yang berada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

“Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur berdiri pada abad 16. Hal itu dilihat dari bentuk bangunan dan gapura yang mirip dengan masjid Menara Kudus,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Wan kepada betanews.id, Kamis (25/4/2020).

Baca juga : Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali

Mban Wan pun lalu sudi berbagi kisah tentang asal mula berdirinya Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur. Dia mengatakan, pada zaman dulu, saat Sunan Kudus ditemani muridnya Arya Penangsang pulang menyebarkan agama Islam dari daerah Blora, dan Pati, merasa lelah dan kehausan. Sehingga beliau berdua memutuskan singgah di suatu tempat.

“Karena di tempat singgah itu tidak ada air, Kanjeng Sunan Kudus pun memukulkan tongkatnya ke tanah. Ajaib, tanah yang dipukul tongkat itu seketika keluar air, serta jadi sumber mata air hingga sekarang,” terang Mbah Wan sambil duduk bersila.

Setelah muncul mata air, lanjutnya, Sunan Kudus pun kemudian mengajak Arya Penangsang untuk membangun masjid. Agar kelak masjid itu bisa dijadikan tempat penyebaran agama Islam dan salat warga sekitar.

Setelah masjid berdiri lanjutnya, masjid tersebut kemudian diberi nama oleh Arya Penangsang Masjid Jipang, nama tersebut sama dengan desa asal usulnya yang di Blora. Namun, dengan berjalannya waktu, dan faktor lidah orang Jawa,hingga akhirnya Jipang berubah jadi Jepang.

“Nama tersebut juga yang kemudian jadi nama desa sekitar masjid,” tuturnya. Konon ceritanya, masjid yang dibangun Sunan Kudus dan Arya penangsang masih sangat sederhana. Namun depannya sudah ada gapura yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Pria yang dikaruniai tiga orang anak itu menambahkan, karena bangunan yang masih sederhana itu kemudian pada tahun 1336 H disempurnakan oleh Sayyid Ali Alaydrus. “Itu prasastinya ada di atas,” kata Mbah Wan.

Baca juga : 6 Bagian Masjid Jami’ Nganguk Wali yang Dipertahankan Hingga Sekarang, Ini Filosofinya

Prasasti itu bertuliskan huruf Arab dan berada di atas kanan pengimaman Masjid Wali Jami’ Al-ma’mur. Masjid berbentuk paseban itu sudah dipugar sebanyak tiga kali. Namun Mbah Wan tidak tahu persis di tahun berapa pemugaran pertama dan kedua dilakukan.

“Yang saya tahu itu pemugaran ke tiga. Karena kebetulan saya Nadzirnya. Pemugaran ke tiga itu pada tanggal 14 Juli 2017 hingga 14 Juli 2019 dan menelan biaya Rp 3 miliar,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe

0
Salah seorang barista di KM 1 Resto & Cafe sedang menyajikan menu ketan dan kopi. Foto : Titis Widjayanti

BETANEWS.ID, PATI – Di pinggir Jalan Juwana-Pati, tepatnya di Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati terdapat salah satu kafe tampilan instalasi dedauan dan bunga-bunga. Area di tempat ini juga luas dengan berbagai pilihan tempat duduk. Mulai dari ruang semi indoor, indoor hingga ruangan terbuka berbentuk taman lengkap dengan pepohonan dan ayunan dari besi.

Adalah Kopi Ketan Km 1 Resto & Cafe, nama dari tempat tersebut. Tempat makan, sekaligus tempat nongkrong ini sudah hampir empat tahun berdiri.

Menariknya, menu andalan yang ditawarkan di sana sama dengan nama tempat yang menjadi ciri khas dari usaha kafe dan resto tersebut. Hal itu di sampaikan salah satu chef yang kebetulan siang itu menyajikan ketan untuk pelanggan.

Baca juga : Agar Punya Nilai Jual Lebih, BPP Gembong Pati Adakan Latihan Buat Dodol dari Jeruk Pamelo

“Memang kopi dan ketan adalah menu andalan di sini. Menu andalan itu dari nama yang jadi ciri khas. Yang punya orang Surabaya. Kebetulan sejauh ini banyak diminati pelanggan. Di sini itu ada bermacam-macam toping, seperti susu, coklat, sama keju. Sama kopinya,” papar Agus Setyono (48) kepada betanews.id, Sabtu (18/4/2020).

Lelaki asli Desa Doropayung, Kecamatan Juwana itu selanjutnya menuturkan jika beberapa menu lain juga disediakan bagi pelanggan yang tidak suka kopi dan ketan. Seperti nasi goreng dan coklat menu lain yang lebih kekinian. Pasalnya, Agus mengatakan, jika sejauh ini penikmat ketan dan kopi adalah para pelanggan yang sudah berumur atau yang memang pecinta ketan dan kopi.

Sedangkan dominasi pelanggan adalah para pemuda pemudi sekitar Juwana yang ingin nongkrong asyik dengan teman-teman mereka.

Senada dengan hal itu, Barista sekaligus kasir kafe yakni Eko Rudiono menyebutkan, jika di tempatnya menyediakan kopi beraneka jenis untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Kalau kopi ada jenis robusta, arabika dan kopi item. Tergantung permintaan pelanggan. Kalau menu signature nya ada namanya Karepku Kopi. Di sana ada beberapa pilihan lagi, seperti kopi susu plus gula aren dan lain sebagainya,” Kata Eko.

Baca juga : Asyiknya Belajar Olahan Kelor di Lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat

Sambil memperlihatkan beberapa menu lain, barista yang akrab disapa Rudi itu menceritakan konsep fasilitas dari resto dan kafe pinggir jalan itu. Fasilitas yang ditawarkan dari luas tempat, Rudi menyebutkan tempat tersebut bisa dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat nongkrong. Akan tetapi juga untuk tempat meeting, tempat makan keluarga, serta untuk mahasiswa yang saat ini sedang menjalankan kuliah online.

Selain itu, ada ruang bar dan cafe, juga beberapa fashion seperti baju, sepatu dan aksesoris yang disediakan oleh pihak pengelola dan dipajang di area kafe.

Editor : Kholistiono

- advertisement -