Beranda blog Halaman 1851

Satpol PP Kudus Terjun ke Pasar untuk Putus Penyebaran Covid-19

0
Petugas Satpol PP Kudus bagikan masker kepada pengendara motor. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah kendaraan roda tiga berwarna merah terlihat menepi saat melihat sejumlah petugas Satpol PP Kudus membagikan masker. Petugas yang membagikan masker dan takjil di tepi Jalan Sosro Kartono, Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus itu, bertujuan untuk memutus rantai penyebaran Virus Covid-19. Kegiatan tersebut mereka lakukan mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 16.45 WIB.

Petugas Satpol PP Kudus membagi-bagikan masker kepada pengendara sepeda motor. Foto : Ahmad Rosyidi

Satu di antara sepuluh petugas di sana yakni Fariq Mustofa (42) mengungkapkan, bahwa kegiatan tersebut akan berkelanjutan. Tidak hanya di Kaliputu, tetapi akan mendatangi semua pasar yang ada di Kudus secara bergantian. Kegiatan tersebut akan dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Baca juga : Dapur Umum TNI-Polri di Kudus Sediakan 500 Porsi Makanan untuk Buka Puasa

“Kami akan mendatangi pasar-pasar di Kudus dan memberi edukasi kepada warga. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai penularan Covid-19. Karena saat ini Kudus sudah menjadi zona merah dan cukup banyak yang kena,” terang Kepala Bidang Penegakan Perda itu, Sabtu (2/5/2020).

Dia juga menambahkan, pihaknya membagikan ratusan masker dan takjil kepada warga yang melintas di Jalan Sosro Kartono. Selain itu juga memberi imbauan menggunakan pengeras suara dari mobil. Agar warga tidak lupa mengenakan masker, jaga jarak minimal satu meter, cuci tangan dan menghindari kerumunan.

“Karena pasar tempat yang ramai dan rawan terjadi kerumunan. Jadi kami perlu terus menyuarakan dan mengingatkan agar selalu menjaga kebersihan, menggunakan masker dan menjaga jarak satu hingga dua meter,” jelas pria yang akrab disapa Fariq itu kepada betanews.id.

Baca juga : Ganjar Gandeng MAJT Bagikan 7 Ton Beras pada Masyarakat Terdampak Covid-19

Sedangkan pemilik kendaraan roda tiga yang menepi, mengaku senang dan berterima kasih kepada Satpol PP Kudus atas kepeduliannya terhadap warga. Pria yang bernama Jumiran itu, akan menggunakan maskernya, kemudian takjilnya untuk berbuka.

“Hal seperti ini sangat penting, warga masih perlu diingatkan terus. Karena masih banyak warga yang kadang berkerumun di keramaian, terutama di pasar,” ungkap warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus itu.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kisah Cerdik Sultan Hadirin Dibalik Pendirian Masjid Wali Loram Kulon

0
Seorang jemaah masjid tampak sedang memasuki area Masjid At-Taqwa Desa Loram Kulon, Selasa (28/4/2020). FOto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Gapura Masjid At-Taqwa Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus tampak begitu artistik. Bangunan yang tersusun dari bata merah setinggi empat meter itu menghiasi halaman masjid yang dikenal masyarakat sekitar sebagai Masjid Wali Loram. Gapura itulah simbol kecerdikan Sultan Hadirin dalam menyebarkan agama Islam di Kabupaten Kudus.

Pengurus Masjid dan Juru Pelihara (Jupel) Gapura Afroh Aminuddin (50) mengatakan, gapura itu dibangun oleh Sultan Hadirin pada 1596. Lebih dulu setahun dari pembangunan Masjid Wali Loram Kudus yang didirikan pada 1597.

Menurutnya, masyarakat sekitar pada waktu itu masih memeluk agama Hindu dan Buddha. Untuk menarik simpati masyarakat terhadap agama Islam, Sultan Hadirin kemudian membangun gapura berarsitektur Hindu-Buddha.

Pengurus Masjid dan Juru Pelihara (Jupel) Gapura Afroh Aminuddin sedang menunjukkan ukiran arab kuno di Masjid Wali Loram Kulon

“Benar saja, dengan membangun gapura berbentuk pura itu, masyarakat sekitar zaman dulu tertarik untuk datang dan menerima dakwah agama Islam yang dilakukan Sultan Hadirin,” ujar pria yang akrab disapa Afroh, Selasa (28/4/2020).

Melihat warga yang antusias dengan Islam, menantu Sunan Kudus itu kemudian mengubah nama pura dengan gapura yang diambil dari bahasa arab gofuro yang berarti minta pangapuro atau mohon pertobatan. Setelah banyak orang yang masuk Islam, setahun kemudian Sultan Hadirin membangun masjid sebagai sarana beribadah.

Dalam membangun masjid, tuturnya, Sultan Hadirin dibantu oleh orang tua angkatnya yang berasal dari Tiongkok bernama Tji Wie Gwan. Tji Wie Gwan sendiri punya keahlian mengukir batu dan tanah, sehingga dia diberi nama julukan Sungging Badar Duwung.

Sultan hadirin sendiri, kata Afroh,  punya nama asli Raden Tohyib. Dia adalah seorang putra sultan Aceh bernama Syeh Mukhayyat. Karena tidak ingin menghindari perebutan kekuasan di daerah asalnya, Raden Tohyib memilih berkelana menyebarkan agama Islam.

Baca juga: Padureksan, Gapura Masjid Wali Jepang yang Dibuat Sunan Kudus dan Filosofinya

Dalam pengembaraan menyebarkan agama Islam itu, lanjutnya, singgahlah Raden Tohyib di Jepara. Di Kota Ukir tersebut dia meminta pekerjaan pada penguasa Jepara saat itu, yakni Raden Roro Kalinyamat.

“Pada waktu itu Raden Tohyib diberi pekerjaan sebagai tukang kebun,” ujar pria yang saat ditemui mengenakan kemeja batik tersebut.

Hingga suatu ketika, Ratu Kalinyamat ingin punya suami. Banyak para bangsawan dan pangeran yang melamar tapi semua ditolak. Namun saat Raden Tohyib mengajukan diri meminang Ratu Kalinyamat, secara tak terduga malah diterima.

“Karena Ratu Kalinyamat melihat Raden Tohyib itu tulus mencintainya. Sedangkan para bangsawan serta pelamar lainnya itu hanya nafsu saja melihat kecantikan Ratu Kalinyamat,” ungkapnya.

Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Lanjut Afroh, Raden Tohyib diangkat sebagai Adipati Jepara dan diberi nama Sultan Hadirin. Namun, sekian tahun membina rumah tangga, Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat belum juga diberi keturunan.

“Karena belum diberi keturunan, Sultan Hadirin dipersilahkan oleh Ratu Kalinyamat untuk menikah lagi jika ingin mempunyai anak,” beber Afroh.

Baca juga: Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

Mendapat dorongan dari sang istri, Sultan Hadirin kemudian menikah dengan putri Sunan Kudus bernama Raden Ayu Pridobinabar. Setelah menjadi menantu Sunan Kudus, Sultan Hadirin diajak untuk menyebarkan agama Islam di Kudus bagian selatan.

“Hingga dipilihlah Desa Loram oleh Sultan Hadirin, karena dianggap strategis dengan jalan sungai waktu itu. Di situlah cikal bakal adanya Masjid Wali Loram,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kasus Covid-19 di Jateng Tinggi, Ganjar Kumpulkan Pengelola Laboratorium PCR

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) dan Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Jumlah peningkatan kasus Covid-19 di Jawa Tengah cukup tinggi. Sampai saat ini, sudah ada 799 kasus positif, 30.056 orang dalam pemantauan (ODP) dan 949 pasien dalam pengawasan (PDP).

Terkait hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengumpulkan seluruh pengelola laboratorium tes PCR yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tujuannya untuk melakukan pengecekan sekaligus mendorong peningkatan kapasitas tes PCR di Jateng.

Ada tujuh pengelola laboratorium dikumpulkan Ganjar di ruang rapat Gedung A lantai 2 kompleks Kantor Gubernur Jateng, Minggu (3/5/2020). Di antaranya BBTKL Yogyakarta, Laboratorium Litbang Vektor Salatiga, RSUP Kariadi, RSUD Moewardi, RSND UNDIP, RSUD Wongsonegoro dan RS UNS Solo.

Baca juga : Positif Covid-19 di Kudus Bertambah 6 Kasus, 3 Tenaga Medis di RS Mardi Rahayu

“Kami mencoba mengecek seluruh kekuatan laboratorium kita untuk melakukan tes PCR. Saya minta, dengan grafik peningkatan cukup tinggi di Jateng, maka kecepatan tes laboratorium ini sangat penting,” kata dia.

Dari laporan para pengurus laboratorium, kata Ganjar, diketahui bahwa mereka membutuhkan peralatan otomatis. Selain itu, di beberapa laboratorium juga membutuhkan penambahan sumber daya manusia.

“Makanya kami inventarisasi semuanya. Untuk modernisasi alat, segera kami belikan. Untuk penambahan SDM, itu hanya beberapa titik saja,” terangnya.

Saat ini lanjut Ganjar, kapasitas tes PCR di Jateng hanya sekitar 600 spesimen per hari. Dirinya meminta agar jumlah itu ditingkatkan, minimal menjadi 1.000 spesimen perhari.

“Intinya mereka semua siap untuk meningkatkan kapasitas, hanya memang harus dilakukan modernisasi alat dan beberapa tempat membutuhkan penambahan personil. Saya senang semua siap, karena memang dalam kondisi saat ini, semua harus siap bekerja semaksimal mungkin,” tegasnya.

Ganjar menerangkan, kecepatan tes PCR penting untuk meningkatkan manajemen penanganan covid-19. Selama ini, banyak pasien yang dirawat di rumah sakit lama hanya karena menunggu hasil tes keluar.

“Padahal saat tes keluar, ternyata negatif. Atau ada pasien yang sampai meninggal hasil tesnya belum keluar. Kami tidak mau itu terjadi terus, makanya kecepatan tes PCR ini sangat menentukan pengelolaannya,” ucapnya.

Dari para pengurus laboratorium itu, Ganjar juga mendapat banyak masukan, termasuk ketersediaan tenaga ahli, reagen atau primer serta masukan-masukan lainnya.

“Nanti akan kami penuhi satu persatu, termasuk soal adanya peralatan yang belum lengkap dan tidak bisa difungsikan. Nanti kami lengkapi secepatnya,” pungkasnya.

Baca juga : Kesadaran Sangat Rendah, Ganjar Minta Pemkot Semarang Tegas Terapkan PKM

Sementara itu, Kepala Balai Litbang Vektor Salatiga, Joko Waluyo mengatakan, sampai saat ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 6.000 sampel. Dalam sehari, kapasitas di tempat itu juga sudah meningkat, dari 40 dampel menjadi 150 sampel per hari.

“Sebenarnya kami bisa meningkatkan dua kalilipat asalkan ada penambahan alat ekstraksi otomatis. Selama ini, proses ekstraksi kami lakukan manual dan itu memakan waktu cukup lama dan kapasitas mesinya juga sedikit,” ucapnya.

Sementara mesin ekstraksi otomatis yang baru lanjut dia, pemeriksaannya sangat cepat. Dalam sekali ekstraksi, bisa digunakan untuk 200 sampel.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Seluruh Tenaga Medis RS Mardi Rahayu Dites Swab

0
Seorang pengendara sedang melewati Rumah Sakit Mardi Rahayu. Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Mardi Rahayu tengah melangsungkan tes swab ke seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut, setelah ada 13 tenaga medis positif Covid-19.

Direktur RS Mardi Rahayu dr Pujianto mengatakan, dari total tenaga kesehatan yang berjumlah 1.423 orang, sebanyak 15,8 persen dinyatakan reaktif positif setelah dilakukan Rapid Diagnostic Test (RDT). Dari 15,8 persen yang reaktif Corona, dilanjutkan tes swab. Hasilnya 37 negatif dan 13 positif.

“Saat ini, proses swab dari keseluruhan tenaga medis masih terus berlangsung,” ungkapnya, Minggu (3/5/2020).

Baca juga: Lagi-Lagi Bertambah, 13 Tenaga Medis di Kudus Positif Covid-19

Puji melanjutkan, sejak 20 April 2020, pihaknya sudah melakukan skrining menggunakan RDT untuk seluruh karyawan, termasuk PIDI, tenaga kebersihan dan sekuriti, staf parkir dan staf koperasi karyawan.

“Selain itu, kami juga melakukan rapid test kepada 763 orang yang kontak kepada pasien Covid-19. 359 orang sudah selesai dan 404 orang akan diselenggarakan sampai 5 Mei 2020,” beber Puji.

Menurutnya, tujuan dari skrining untuk menciptakan keselamatan pasien dan staf rumah sakit. Tenaga kesehatan yang reaktif positif langsung diminta untuk diisolasi mandiri.

“Sesuai instruksi dari Dinkes Kabupaten Kudus, mereka yang positif langsung diisolasi di Ruang Perawatan di RS Mardi Rahayu sejak hasil tes swabnya keluar,” tambahnya.

Di sisi lain, Rs Mardi Rahayu memastikan pelayanan kesehatan tidak akan terganggu. Pihaknya masih menerima pelayanan medis, baik pasien Covid-19 maupun tidak. Menurutnya, tenaga kesehatan di rumah sakit masih mencukupi.

“Karena yang hasil RDTnya (Rapid Diagnostic Test) non reaktif sangat banyak, sedangkan yang swabnya negatif sudah bisa bekerja lagi,” katanya.

Baca juga: Satu Pasien Positif Covid-19 Asal Undaan Kudus Meninggal Dunia

Dia mengimbau, masyarakat tidak perlu khawatir untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di RS Mardi Rahayu. Pihaknya sudah melaksanakan progam Aman Covid-19 dengan menerapkan satu pasien satu kamar sejak April lalu.

“Pelayanan rawat jalan sejak 1 April juga telah dilakukan skrining pengunjung di posko Covid-19 dan berbagai pembatasan lainnya,” tutup Puji.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tampil Beda dengan Gamis Eksklusif Produksi Aneka Griya Muslim

0
Pelanggan sedang memilih gamisa yang hendak dibeli di Aneka Griya Muslim, Jumat (1/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, KUDUS – Berbagai baju gamis tampak tertata rapi di sebuah toko baju muslim di seberang MI NU Banat Kudus. Di dalam toko, terlihat ada beberapa orang yang sedang memilih-milih berbagai motif baju gamis dan aksesorisnya. Di sisi lain, seorang pria sedang duduk di depan meja kasir sambil mengamati para pembeli yang datang. Pria tersebut adalah Firda Firdausi (45), pemilik usaha konveksi dengan merek Aneka Griya Muslim.

Firda menjelaskan, sebelum punya merek dagang sendiri, ia telah lama bergulat dengan dunia pakaian. Sebelumnya, ia menjadi supplier beberapa merek baju muslim terkenal. Sambil jalan, ia lantas mendirikan usaha tekstil bernama Aneka Tekstil bersama sang istri, Syarifah Hanum (40). Di usaha inilah, ia mulai menerima pesanan pembuatan baju dan desain baju yang dikerjakan oleh istrinya.

Pelanggan sedang memilih gamisa yang hendak dibeli di Aneka Griya Muslim, Jumat (1/5/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Kalau toko dan brand ini baru 5 tahun. Tapi sebelumnya kami sudah menjadi supplier beberapa merek baju muslim terkenal. Salah satunya adalah Alfath. Di Jogja sama Semarang banyak cabangnya. Nah, karena saya sudah cukup pengalaman di bidang tekstil, sedangkan istri bidang desain, jadi akhirnya kami berani buat merek dan showroom sendiri di sini,” papar lelaki asli Kudus itu, Jumat (1/5/2020).

Aneka Griya Muslim, kata Firda, memiliki produk unggulan yang semuanya hampir dibuat sendiri, yaitu produk gamis. Model dan gambarnya pun dirancang sendiri oleh Syarifah dan dibuat secara eksklusif. Pelanggan bisa memilih sendiri bahan, model gamis, hingga motif. Selain itu, konsumen juga bisa merubah ukuran gamis di toko tersebut sesuai dengan ukuran badannya.

“Kalau produk unggulan masih di gamis. Semua produk kami ini dibuat khusus oleh penjahit kami sendiri. Jadi lebih sering bentuk dan model dengan ukuran baju satu dengan yang lain itu beda. Terus kalau mau dijahitkan juga bisa. Nanti tinggal ke sini, desain dari istri, lalu kami jahitkan,” beber pria berkacamata itu.

Selain gamis, di tempatnya juga bisa menerima pesanan kerudung dan mukena yang juga dibikin berbeda dari kebanyakan produk yang beredar di pasaran.

“Hampir semuanya diproduksi sendiri, kecuali sarung, kami ambil dari produsen. Baju koko juga ada, meskipun nggak terlalu banyak. Tetap lebih banyak produk muslim untuk perempuan dan anak-anak,” katanya.

Baca juga: Tampil Cantik dengan Bulu Mata Lentik di Faeyza Beauty Eyelash

Di sisi lain, Firda menambahkan, dalam pembuatannya, Aneka Griya Muslim menggunakan berbagai macam bahan, seperti kain ceruti, babydoll, satin, dan sutera. Untuk harga tertinggi ada di jenis bahan sutera.

“Setiap hari, kami rata-rata memproduksi gamis sekitar 30 potong,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Lagi-Lagi Bertambah, 13 Tenaga Medis di Kudus Positif Covid-19

0
Dua perawat sedang menggunakan alat pelindung diri (APD). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pasien positif Covid-19 di Kudus lagi-lagi bertambah. Kali ini penambahan pasien terjadi pada garda terdepan yang berperang melawan corona. Sebanyak 10 tenaga medis dinyatakan positif, sehingga total hingga saat ini ada 13 orang dengan penambahan tersebut.

Penambahan jumlah pasien positif tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus Andini Aridewi, Minggu (3/4/2020). Sehari sebelumnya, ada tiga orang tenaga medis di Kudus yang dinyatakan positif corona.

“Ini di luar yang kemarin. Kemarin tiga orang, hari ini baru lagi 10 orang, (tenaga medis positif Covid-19)” ungkapnya melalui video conference  siang tadi.

Andini menerangkan, jumlah 10 tenaga medis tersebut, lima orang berasal dari luar Kudus, dan lima orang lainnya dari dalam Kudus. Lima tenaga medis dari luar kudus, dua di antaranya dari Semarang dan tiga lainnya dari Demak.

Untuk tenaga medis yang dari Semarang, kata Andini, yakni laki-laki berusia 50 tahun dan 41 tahun. Sedangkan dari Demak yakni laki-laki berusia 23 tahun dan 27 tahun, serta perempuan berusia 43 tahun.

“Untuk dua yang dari Semarang dirawat di rumah sakit Semarang,” terangnya.

Sedangkan lima tenaga medis dari dalam Kudus yang terpapar, kata Andini, empat orang dari Kecamatan Jati. Satu orang tenaga medis lainnya berasal dari Bae.

Dia merinci, empat orang dari Kecamatan Jati semuanya perempuan. Mereka ada yang berusia 32 tahun, 34 tahun, 35 tahun dan ada yang berusia 48 tahun. Sedangkan dari Kecamatan Bae yakni perempuan usia 40 tahun.

“Jadi jumlah total tenaga medis yang terpapar ada 13 orang, mereka tidak memiliki penyakit penyerta. Sesak nafas pun juga tidak ada, ” jelasnya.

Andini menuturkan, kepastian hasil tenaga media yang terpapar corona itu diterimanya pada Sabtu (2/5/2020) setelah hasil swab keluar. Kondisi umum keseluruhan pasien dalam keadaan baik. Seluruhnya kini diisolasi di RS Mardi Rahayu, kecuali tenaga medis dari Semarang yang dirawat di Semarang.

Menurut Andini, tenaga medis di Kudus telah menerapkan protokol penanganan pasien Covid-19. Termasuk pengenaan alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien corona.

“Mereka (tenaga medis positif Covid-19) justru tidak bertugas di bagian penanganan pasien Covid-19 langsung. Ini kami sedang melakukan tracking,” tambahnya.

Andini menuturkan, pihaknya sudah melakukan tes swab ke seluruh tenaga medis yang ada di Kudus. Dari tenaga medis yang bekerja di rumah sakit maupun di puskesmas semuanya dites.

“Kami masih menunggu hasilnya. Untuk jumlah saya tidak hafal. Semoga keseluruhan negatif,” tuturnya

Dengan penambahan 10 kasus baru ini, jumlah pasien positif covid-19 di Kudus menjadi 37 orang. Sebanyak 24 pasien di antaranya dari dalam wilayah dan 13 pasien dari luar wilayah. Secara rinci, 27 pasien sedang dirawat, lima pasien dinyatakan sembuh dan lima meninggal.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Sambal Terasi dan Botok jadi Menu Favorit di Warung Mbak Tari

0
Mbak Tari sedang melayani salah satu pembeli di warungnya. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Waktu menunjukan pukul 14.30 WIB. Seorang perempuan mengenakan jilbab motif bunga tampak menyiapkan dagangan berupa kuliner di emperan rumah. Sambil merapikan dagangan, perempuan bernama Tarisa (31) itu mengatakan jika dari beragam menu kuliner yang dijualnya, yang paling laris untuk menu buka puasa adalah botok dan sambal terasi buatannya.

Botok menjadi menu favorit di warung makan Mbak Tari. Foto : Ahmad Rosyidi

Perempuan yang akrab disapa Tari itu juga menjelaskan, selain botok dan sambal, dia juga menjual sayur bening, sayur asam, semur, opor, sayur lodeh, kering tahu, kering tempe, tumis kangkung, pepes pindang, pepes bandeng, botok tahu, botok petet, botok daun singkong, mangut kepala manyun, balado telur, pindang kecap, gorengan dan kolak.

Baca juga : Sambal Ontong Penyet Ida Laris Manis di Pasar Kuliner Jadul, Satu Jam 240 Porsi Terjual

“Untuk bahan, biasanya sayan belanja pukul 07.00 WIB, kemudian menu-menu itu saya masak pukul 08.00 WIB. Saya dibantu suami, kadang saat ramai juga dia bantu jualan juga,” terangnya, Jumat (1/5/2020).

Warga Desa Dersalam, RT 03 RW 02, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu juga menambahkan, dirinya mulai membuka lapaknya mulai pukul 14.00 WIB hingga menjelang maghrib. Biasanya pelanggan ramai berdatangan pukul 16.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Tak lama setelah buka, seorang perempuan mengenakan kaus biru datang. Dia adalah Endang, dirinya membeli botok dan sayur bening. “Ini beli botok dan sayur bening,” ungkap tetangga Tari itu.

Sama halnya dengan Zaenal Hasan (64), yang datang membeli gorengan dan sambal terasi. Dia sudah masak, jadi hanya membeli menu tambahan untul berbuka.

Baca juga : Asyiknya Belajar Olahan Kelor di Lokasi Wisata Edukasi Komunitas Pangan Sehat

Sedangkan Siti Mulyowati (28), membeli sayur, ikan lele, ikan bandeng, kering tempe dan botok. Siti memang jarang masak, sehingga sering membeli di sana untuk lauk buka puasa.

“Saya memang jarang masak. Jadi sering beli di sini. Seringnya beli botok di sini,” terang warga Perumahan Muna Indah, Desa Dersalam.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kokoh dan Finishing Halus, Sangkar Burung Buatan Arman Laris Diburu Pembeli

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan sangkar burung tampak terjajar rapi di dalam sebuah bangunan di tepi Jalan Dewi Sartika, tepatnya di seberang selatan Balai Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus. Di teras bangunan itu, tampak pria mengenakan masker sedang menyemprot sangkar burung menggunakan mesin pompa angin. Pria tersebut yakni Suparman, pemilik Putra Sangkar.

Seusai menyelesaikan proses penyemprotan sangkar, Suparman kemudian duduk serta sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, merintis usaha berjualan sangkar sejak lima tahun yang lalu. Menurutnya, sangkar yang dijualnya itu memiliki keunggulan lebih kokoh dan finishingnya itu rapi.

“Keunggulan sangkar burung di Putra Sangkar menurut para pelanggan itu barangnya kokoh dan tidak cepat rusak. Finishing pengecatannya juga rapi dan halus,” ujar pria yang akrab disapa Arman kepada betanews.id, Rabu (22/4/2020).

Baca juga : Sangkar Motif Kejawen Paling Diburu Penghobi Perkutut

Oleh sebab itu, lanjutnya, aneka sangkar yang dijualnya diminati banyak orang. Bahkan sudah punya pelanggan atau bakul tetap yang rutin membeli sangkarnya. Di antaranya, bakul dari Kudus, Pati, Jepara, Rembang, Semarang, Demak, dan Purwodadi.

Dengan mempunyai banyak pelanggan tersebut, tambahnya, sebulan dirinya mampu menjual minimal 100 sangkar. Sangkar yang dijualnya terdiri berbagai jenis, model dan ukuran sangkar. Dia mengaku, melayani pembelian ecer maupun grosir, harga yang ditawarkannya juga bervariasi.

“Sangkar yang saya jual itu khusus untuk burung kicau. Dari yang model kotak dan bulat, serta dari ukuran kecil hingga besar, ada semua di Putra Sangkar. Untuk harga mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 600 ribu per sangkarnya,” beber pria yang memakai masker warna hijau tersebut.

Pria yang sudah dikaruniai dua orang putra itu menceritakan, awal menekuni usaha jual sangkar. Menurutnya, hal itu tak terlepas dari hobinya memelihara burung. Selain itu, dia juga mempunyai keahlian pengecatan.

“Sebelum berjualan sangkar saya pernah punya usaha berjualan helm. Selain itu saya juga nyambi ambil orderan penyemprotan motor dan helm,” ujarnya sambil mengambil satu sangkar dan diamplas jerujinya.

Dari menyemprot helm dan motor itu lanjutnya, banyak teman sesama pemelihara burung memberi order finishing sangkar. Setelah selesai dicat, sangkar dipajangnya. Namun saat dipajang itu, banyak orang lewat yang bertanya apakah sangkar itu dijualnya.

Baca juga : Sarat Filosofi, Sangkar Burung Perkutut Akim Berharga Rp 5 Juta

“Karena itu sangkarnya orang aku pun menjawab sangkar itu tidak dijual. Tapi dari situ muncul ide untuk berjualan sangkar,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dia mengakui, tidak memproduksi sangkar dari awal. Arman membeli sangkar mentah dari Bandung, Jepara dan Kudus. Kemudian sangkar tersebut difinishing, sehingga terlihat bagus dan menarik.

“Selain berjualan, saya juga menerima order perbaikan sangkar. Dari jeruji patah, rangka patah atau pengecatan ulang. Untuk harga servis mulai Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” ujar Arman.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Berdiri Sejak 1982, Doctor Kunci Moro Dadi jadi Muara Masalah Kunci di Pati

0
Baskoro sedang mengerjakan pesanan kunci di Doctor Kunci Moro Dadi, Kamis (30/4/2019). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI – Baskoro Adi Putro (35) sesekali mengelap peluh di dahinya. Cuaca yang begitu terik di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Puri, Kecamatan Kota, Kabupaten Pati, siang itu, memang menjadikannya sering berkeringat. Namun, ia tampak tak mempermasalahkannya jika melihat tangannya yang masih cekatan mengerjakan pesanan kunci di Doctor Kunci Moro Dadi.

Hari itu, ia sedang melayani pelanggan yang ingin menggandakan kunci rumahnya. Tidak ada lima menit, kunci berbahan dasar kuningan sudah jadi dan dibayar oleh pelanggan sesuai dengan kesepakatan.

Baskoro sedang mengerjakan pesanan kunci di Doctor Kunci Moro Dadi, Kamis (30/4/2019). Foto: Titis Widjayanti.

Pria asli Winong, Kabupaten Pati itu mengatakan, tempatnya bekerja ini memang sudah jadi langganan berbagai kalangan sejak awal berdiri di tahun 1982. Makanya, tempatnya ini selalu ramai setiap hari. Jasa yang ditawarkan adalah pembuatan kunci rumah, gembok, brankas, motor, dan mobil.

“Selama ini, pelanggan yang paling banyak ingin membuat kunci rumah. Tapi semua jenis kunci kami bisa kerjakan. Tidak harus ada contoh. Tapi kalau ada contoh lebih mudah buatnya. Kalau nggak ada, kan harus bongkar dulu,” katanya saat ditemui, Kamis (30/4/2019).

Baca juga: Kopi dan Ketan, Menu Andalan yang Jadi Nama Kafe

Soal harga, Lanjut Bhaskoro, Doctor Kunci Moro Dadi mematok harga mulai dari Rp 30 ribu sesuai dengan bahan yang digunakan. Harga paling mahal itu kunci motor atau mobil terbaru, termasuk juga ada tambahan biaya jika ada panggilan.

“Kalau ada pelanggan yang menelepon, pakai jasa panggilan itu nanti ada biaya bensin,” beber pria yang sudah dua tahun bekerja di jasa kunci tersebut.

Untuk alat, pria yang sebelumnya bekerja jadi sopir itu menggunakan gerinda kecil untuk kunci gembok dan rumah, sedangkan alat bor untuk kunci motor dan mobil.

“Kalau hari normal biasanya sehari bisa dapat Rp 200 ribuan, tapi kalau saat ini memang sepi karena ada wabah,” tutup Bhaskoro.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Libur Sekolah Akibat Corona, Essa Manfaatkan Waktu Luang untuk Berjualan Kaus

0
Eveline Nur Essa menunjukkan beberapa kaus yang akan dijualnya. Waktu libur sekolah ini dimanfaatkannya untuk berjualan. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Aneka produk rajut tampak terpajang di ruang tamu rumah di Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Di samping puluhan produk rajutan itu, terlihat seorang remaja putri sedang memilah dan memilih baju dalam plastik. Remaja putri itu bernama Eveline Nur Essa (16), pelajar yang memanfaatkan libur sekolahnya dengan berjualan kaus.

Essa begitu dia biasa disapa mengatakan, sejak ada pandemi Covid-19, semua sekolah di Indonesia diliburkan, tak terkecuali sekolahnya. Proses belajar mengajar dilakukan secara daring, dan semua tugas pelajaran dikerjakan dari rumah. Sehingga, dia mengaku banyak mempunyai waktu luang.

“Dari pada waktu luang itu terlewati begitu saja, maka saya pun berinisiatif memanfaatkannya untuk berjualan kaus secara daring,” ujar Essa kepada betanews.id, Selasa (21/4/2020).

Baca juga : Produk Rajut Essa Colection Diminati Konsumen Hingga Mancanegara

Dara yang masih duduk di bangku kelas satu SMAN 1 Gebog, Kudus itu menuturkan, berjualan kaus lengan panjang maupun pendek khusus untuk wanita. Kaus yang dijualnya berbahan katun, rajut, serta rib. Untuk harga, tuturnya, kaus yang dijualnya dibanderol sama, yakni Rp 42 per pcs.

“Saya memasarkan aneka produk kaus memanfaatkan media sosial instagram @inikaosku.id, serta beberapa marketplace. Selama ini peminatnya lumayan, sebulan saya bisa menjual sekitar 53 pcs,” bebernya.

Selain berjualan kaus, lanjutnya, Essa juga mengaku memanfaatkan momen pandemi corona ini dengan berjualan masker. Masker kain yang dijualnya itu dua lapis, sehingga tengahnya bisa dilapisi dengan tisu. Serta tersedia untuk anak – anak dan dewasa.

Masker yang dijualnya dengan harga Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per pcs itu, juga melayani permintaan ecer maupun grosir. Dalam waktu sebulan, dia mengaku mampu menjual masker sekitar 42 pcs.

“Saya berharap usaha saya ini tetap lancar. Sehingga hasilnya bisa buat bantu orang tua. Serta bisa saya tabung untuk biaya kuliah nanti,” ujar dara yang bercita – cita ingin jadi pengusaha tersebut.

Baca juga : Harga Mulai Rp 85 Ribuan, Dadiwae Jadi Solusi Cetak Kaos Hasil Desain Sendiri

Anak tunggal dari pasangan Arif dan Henny pemilik handmade rajutan bernama Essa Colection itu mengatakan, kebiasan menyibukkan diri di waktu senggang sekolah itu sudah dilakukan sejak kelas satu SMP. Setiap pulang sekolah atau pas waktu libur, dia gunakan untuk membantu ibunya merajut.

“Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Ya agar mamaku bisa menyelesaikan pesanan rajutan lebih cepat,” tuturnya sambil tersenyum.

Dia mengaku sudah lumayan mahir membuat aneka produk rajutan. Di antaranya, tas rajut, sweater rajut, boneka rajut dan lainnya. “Pokoknya produk rajutan yang mama buat, saya juga bisa membuatnya. Namun memang tetap harus belajar,” ujarnya sambil menunjukan sweater hasil rajutannya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Positif Covid-19 di Kudus Bertambah 6 Kasus, 3 Tenaga Medis di RS Mardi Rahayu

0
Seorang pengendara motor sedang lewat depan RS Mardi Rahayu Kudus, Sabtu (18/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus pasien positif Covid-19 di Kudus bertambah lagi. Pada Sabtu (2/5/2020) malam, Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus mengkonfirmasi penambahan kasus positif sebanyak 6 kasus baru. Tiga orang di antaranya yang dinyatakan positif merupakan tenaga medis.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini Aridewi menyatakan, dengan bertambahnya kasus baru ini berarti ada total 27 kasus positif di Kudus. Dari enam pasien baru tersebut, lima di antaranya tidak memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah maupun episentrum.

“Semua pasien (positif Covid-19) dari Kudus. Sebagian besar tidak ada riwayat perjalanan, maupun kontak dengan pasien positif Covid-19,” jelasnya Sabtu malam.

Andini menerangkan, dari enam pasien baru, tiga di antaranya tenaga medis di RS Mardi Rahayu. Menurutnya, hasil tersebut diketahui setelah dilakukan tes rapid diagnostic test (RDT), hasilnya reaktif positif.

“Hasil rapid reaktif positif. Setelah di swab PCR hasilnya juga positif Covid-19,” jelasnya.

Baca juga: Satu Pasien Positif Covid-19 Asal Undaan Kudus Meninggal Dunia

Tiga pasien tenaga medis tersebut, kata Andini, dua pasien berusia lebih dari 50 tahun dan satu pasien berusia di bawah 50 tahun. Dia merinci, satu pasien perempuan 42 tahun domisili di kecamatan Jati, satu pasien laki-laki 51 tahun berasal dari Kecamatan Kota, dan satu pasien berusia 52 tahun berasal dari Kecamatan Jati.

“Ketiga pasien dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu sejak 2 Mei. Mereka Tidak memiliki penyakit penyerta,” tuturnya.

Sedangkan tiga pasien lain yang bukan dari tenaga medis, Andini mengatakan, satu pasien laki-laki berusia 53 tahun berdomisili di Kecamatan Kota. Pasien ini mulai dirawat di RS Mardi Rahayu sejak 22 April, dan tidak memiliki riwayat perjalanan .

“Satu pasien lainnya yang juga tidak memiliki riwayat perjalanan dan kontak, yakni laki-laki berusia 67 tahun asal Kecamatan Jati. Sebelumnya dirawat di RS Aisiyah dan dirujuk di RSUD pada 27 April. Pasien ini memiliki penyakit penyerta,” tambahnya.

Satu pasien positif Covid-19 lainnya, tutur Andini, berasal dari Kecamatan Undaan. Pasien ini yakni laki-laki berusia 30 tahun, memiliki riwayat perjalanan dari Bali. Mulai dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi pada 25 April.

Baca juga: Hasil Swab 16 Tenaga Medis RS Mardi Rahayu Dinyatakan Negatif Covid-19

Menurut Andini, selain ketiga pasien tenaga medis, pasien positif lainnya tidak melewati tes rapid. Pasien langsung dites swab karena statusnya pasien dalam pengawasan (PDP).

“Semua hasil swab terkonfirmasi positif diterima tadi pagi dan tadi siang (Sabtu 2/5)” jelasnya.

Andini menuturkan, bertambahnya pasien positif yang tidak memiliki riwayat perjalan dan kontak pasien positif Covid-19, membuat masyarakat harus lebih waspada.

Dengan kondisi tersebut, penularan Covid-19 tidak bisa lagi diindentifikasi pernah melakukan perjalanan dari zona terpapar atau kontak dengan pasien Covid-19. Menurutnya cara terbaik yakni melakukan social distancing dan physical distancing.

“Ini menjadi kewaspadaan bersama. Lakukan social distancing, physical distancing, selalu menggunakan masker dan selalu jaga kesehatan,” tuturnya.

Baca juga: Sumardi Semringah Bisa Pulang ke Rumah Setelah Jalani Karantina di Rusunawa

Sementara itu, berdasarkan data resmi Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kudus, jumlah positif Covid-19 hingga 2 Mei pukul 20.00 ada sebanyak 27 orang. Sebanyak 17 orang masih dirawat, lima di antaranya sembuh dan lima pasien lainnya meninggal.

Sedangkan untuk pasien dalam pengawasan (PDP), ada sebanyak 27 orang yang kini masih dalam perawatan. Sebanyak pasien 51 telah pulang karena dinyatakan sehat, tiga pasien dirujuk dan 23 meninggal.

Editor: Suwoko

- advertisement -

Ganjar Rela jadi Bintang Iklan Gratis untuk Produk Warganya

0
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminum jamu tradisional buatan warga dan kemudian juga ikut memasarkannya dengan mengupload di medsos. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Banyak pengusaha rela merogoh kocek cukup besar untuk kepentingan sebuah iklan agar produknya terkenal dan pembelian melonjak drastis. Namun bagi pengusaha kecil atau pemula, tentu tidak akan bisa melakukannya. Daripada untuk biaya iklan, mending uang digunakan untuk tambahan modal usaha.

Tapi hal itu tidak berlaku di Jawa Tengah. Masyarakat kecil, pebisnis pemula sampai yang hanya coba-coba bisa mendapat kesempatan diiklankan produknya oleh salah satu tokoh publik terkenal di Indonesia.

Dialah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Hampir setiap hari, khususnya di tengah pandemi, Ganjar rela menjadi bintang iklan bagi sejumlah produk karya masyarakat. Hebatnya lagi, semua dilakukan secara gratis.

Memanfaatkan media sosial yang ada, Ganjar kerap memajang produk dagangan masyarakat. Tak jarang ia juga memborong produk-produk itu dan memberikan kesan atas barang yang ia beli itu. Misalnya membeli sambal, maka ia akan mempromosikan sambal itu dengan sensasi nikmat yang ia rasakan.

Baca juga : Banyak yang Kesengsem, Kini Kaus Corona Ganjar jadi Donasi Warga

“Sebenarnya saya hanya ingin mendorong, ayo kita berjualan dan ayo kita membeli dari tetangga atau orang-orang terdekat dan mereka yang membutuhkan. Di tengah wabah Covid-19 ini, banyak orang kesusahan dan mencoba survive dengan jualan kecil-kecilan. Maka saya ingin bantu memasarkan dan mengharapkan masyarakat membantu dengan membeli,” kata Ganjar ditemui di rumah dinasnya, Sabtu (2/5/2020).

Medsos, lanjut dia, merupakan cara ampuh untuk memasarkan produk warganya itu. Selain karena followernya cukup banyak, dengan medsos, iklan yang ditampilkan bisa disebar ke lebih banyak orang.

“Medsos itu bagus, jangkauannya besar. Apalagi sekarang mereka tidak bisa dagang langsung, ketemu sama masyarakat. Maka, media online ini bisa dipakai,” terangnya.

Selama Covid-19 ini melanda, Ganjar mengatakan, banyak menerima tawaran dari masyarakat, apakah sekedar hanya membantu memasarkan atau membelinya. Alhasil, sampai hari ini pria berambut putih ini mengatakan sudah membeli banyak produk yang ditawarkan itu.

“Ada buah-buahan, madu, jamu, teri nasi, oseng-oseng, sambel, peyek, es campur dan banyak lagi produk lainnya. Pokoknya kalau ada masyarakat mention saya di medsos, Pak saya jualan ini Pak, ya saya beli. Sambil tentu saya bantu pasarkan lewat postingan,” terangnya.

Meski sederhana, namun langkah yang dilakukan Ganjar itu ternyata sangat berdampak. Ia mencontohkan, kaos tentang Corona yang selalu ia pakai untuk kampanye, saat ini laku keras dan dibeli sampai Jakarta, Hongkong, Singapura, Malaysia dan negara lain.

“Kaos Bersama Lawan Corona, Nyedak Keplak yang biasa saya pakai itu sekarang larisnya minta ampun. Artinya, karena saya si pembuat kaos ini jadi bisa dapat rezeki. Jadi saya selalu mengajak masyarakat untuk berusaha, yakinlah di antara musibah pasti ada berkah. Yang penting kita niat betul-betul dan berdoa,” tutupnya.

Baca juga : Ganjar : Saya Titip Nasib Karyawan, Tolong Jangan Ada PHK

Apa yang disampaikan Ganjar ternyata bukan isapan jempol belaka. Salah satu warga yang mendapatkan berkah karena produknya diiklankan Ganjar adalah Aniek Kurnia (52), warga Kagungan Lor, Kabupaten Rembang. Awalnya, Aniek iseng posting barang dagangannya yakni teri di akun media sosial Ganjar.

“Nggak nyangka Pak Ganjar langsung borong. Selain itu, pak Ganjar juga posting ikan teri saya di media sosialnya, akhirnya banyak yang tanya dan beli. Jadi berkah,” ucapnya.

Aniek sangat senang memiliki gubernur yang sangat perhatian. Meski sederhana, namun langkah Ganjar membantu pedagang kecil dengan cara membeli dan mempromosikannya adalah sesuatu yang luar biasa.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Sakit, Satu Siswa SMAN 1 Kudus Dinyatakan Tidak Lulus

0
Gedung SMAN 1 Kudus. Foto : Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Pengumuman kelulusan siswa tingkat SMA/SMK/SLB di Kudus diumumkan hari ini, Sabtu (2/5/2020), termasuk SMAN 1 Kudus. Karena dalam situasi pandemi Covid-19, pengumuman kelulusan dilakukan secara online, sekitar pukul 17.00 WIB.

Kepala SMAN 1 Kudus Shodiqun menyatakan, dari jumlah 432 siswa yang ada di sekolah tersebut, terdapat satu orang yang dinyatakan tidak lulus.”Ada satu yang tidak lulus. Karena SKS-nya (sistem kredit semester) tidak tuntas,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, sistem SKS sudah berlaku di SMAN 1 Kudus. Menurutnya, siswa harus menyelesaikan 260 SKS yang normalnya ditempuh dalam enam semester. Namun, karena siswa tersebut sakit akhirnya masih kekurangan 80 SKS.

Baca juga : UMK Tunda Wisuda 600 Mahasiswa

“Siswa tersebut sakit beberapa semester. Dan masih kurang 80 SKS. Tentu dia harus menyelesaikan sisanya,” ungkapnya.

Menurut Shodiqun, siswa yang bersangkutan saat ini sudah sehat dan siap menempuh kekurangan SKS. Pihaknya akan selalu mendampingi serta memberikan motivasi dan fasilitas supaya bisa menyelesaikan dengan cepat.

“Nanti ada namanya semester pendek. Jadi kemungkinan antara Desember 2020 atau Januari 2021 sudah lulus,” jelasnya.

Kelulusan tahun ajaran 2019/2020, pihaknya meniadakan ujian nasional. Menurutnya, nilai berasal dari raport semester satu hingga enam dan ujian sekolah.

“Kalau ujian sekolah masih kita lakukan. Namun dengan cara online dan siswa diberikan tugas” ungkapnya.

Dalam pengumuman kelulusan di tengah pandemi Covid-19 ini, pihaknya memilih mengumumkan melalu daring. Siswa dapat mengetahui dengan cara membuka email pribadinya.

Baca juga : Pelantikan 344 Kepala Sekolah di Kudus Dilakukan Secara Daring

“Jadi pengumuman sudah diinformasikan di setiap grup WhatsApp kelas masing-masing. Selain itu juga diinformasikan lewat web sekolah. Nanti siswa dapat membuka email yang kami kirimkan,” tuturnya.

Selain pengumuman kelulusan, para siswa yang mengambil jurusan MIPA dan IPS juga bisa mengunduh transkip nilai dan surat keterangan lulus di web resmi sekolah. Menurut Shodiqun, data bisa diunduh mulai hari ini.

Untuk ijazah asli, nantinya setiap wali kelas akan mengkoordinir supaya lebih kondusif. Menurutnya, ijazah asli harus tetap diambil di sekolahan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Kado Indah HUT ke-473 Kota Semarang di Tengah Wabah Covid-19

0
Logo HUT ke-473 Kota Semarang. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Di tengah Pandemi Covid-19, Kota Semarang memperingati Hari Jadinya yang ke-473. Meski dalam situasi pagebluk seperti saat ini, namun seolah ada berkah yang menyertai. Di mana, Kota Semarang mendapatkan penghargaan sebagai Kota dengan Perencanaan dan Pencapaian Terbaik Nasional.

“Selamat Hari Ulang Tahun untuk Kota Semarang yang ke-473,” kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Sabtu (2/5/2020).

Ganjar bersyukur, meski tengah menghadapi masa sulit di hari peringatan HUT ke 473 ini, sebuah prestasi juga ditorehkan oleh Kota Semarang sebagai kota terbaik dalam perencanaan dan pencapaian. Bagi Ganjar ini adalah sebuah berkah di tengah musibah.

Baca juga : Ganjar Minta Perusahaan Ikut Bantu Buruh yang Kena PHK dan Dirumahkan

“Tepat ketika ulang tahun Kota Semarang dinobatkan secara nasional sebagai kota yang terbaik dalam perencanaan. Selamat sekali lagi,” katanya.

Namun karena masih menghadapi masa pandemi, Ganjar berharap, warga Semarang bisa menjadi contoh bagi warga daerah lain dalam menyikapi Covid-19 ini. Terlebih Kota Semarang saat ini telah menerapkan status Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

“Tentu di tengah wabah seperti ini layak kemudian seluruh warga Kota Semarang untuk mendukung tertib, mendukung jaga jarak, mendukung pakai masker, mendukung cuci tangan bersih terus menerus,” kata Ganjar.

Baca juga : Jateng Raih Penghargaan Pembangunan Daerah Terbaik 2020

Karena Ganjar menyadari, tanpa peran serta warga, penetapan status apapun tidak akan ada artinya. Terlebih setelah Gugus Tugas Covid-19 memprediksi salah satu kota yang bisa menjadi episentrum baru penularan Virus Corona selain Jabodetabek adalah Semarang. Mau ataupun tidak, jika masyarakat menghendaki pagebluk ini segera berakhir maka warga harus semakin ketat menerapkan protokol kesehatan.

“Tentu saja ini bagian dari rasa cinta kita pada Kota Semarang. Kita dukung terus Kota Semarang untuk bekerja bersama-sama,” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Dapur Umum TNI-Polri di Kudus Sediakan 500 Porsi Makanan untuk Buka Puasa

0
Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi dan Komandan Kodim 0722/Kudus, Letkol Arm Irwansah sedang memasak di dapur umum. Foto : Imam Arwindra

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus bekerja sama dengan Polres dan Kodim 0722/Kudus mendirikan dapur umum untuk menyediakan makanan gratis bagi warga yang terdampak Covid-19. Dapur umum yang berada di Makodim Kudus tersebut mulai beroperasi pada Sabtu (2/5/2020).

Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi mengatakan, dapur umum tersebut setiap harinya akan menghasilkan sekitar 500 porsi. Nantinya, nasi tersebut akan dibagikan kepada masyarakat terutama yang terdampak Covid-19. Pembagiannya sendiri dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB atau jelang waktu berbuka puasa.

Relawan sedang membantu memasak di dapur umum yang ada di Makodim Kudus. Foto : Imam Arwindra

Keberadaan dapur umum tersebut, menurutnya akan rutin dilakukan. Catur merencanakan, kegiatan akan dilakukan tiga kali dalam sepekan. “Minggu ini kita evaluasi dulu. Jika nanti benar-benar dibutuhkan. Kami akan lakukan,” jelasnya.

Baca juga : Didukung Penuh Orang Tua, Indah Mantap Jadi Relawan Medis Covid-19

Dalam pembagiannya, pihaknya mengaku sudah memetakan lokasi mana yang akan dituju. Sasaran yang akan diberi, yakni masyarakat kurang mampu, tukang becak, tukang ojek, PKL dan masyarakat lainnya yang terkena dampak Covid-19.

“Covid-19 kan sudah berlangsung lama. Kami ada gagasan dengan Pak Dandim, dan pemda untuk buat dapur umum. Ini bisa membantu mengurangi beban masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Komandan Kodim 0722/Kudus, Letkol Arm Irwansah menuturkan, menu yang dimasak sama seperti makanan pada umumnya. Dia menunjukkan, terdapat nasi, ayam dan sayur yang diolah. Setelah itu, makanan dimasukkan kotak untuk nanti diserahkan kepada masyarakat.

Baca juga : Kembali Bagi-Bagi Sembako, Polres Kudus Sasar Tukang Ojek Pangkalan dan Becak

“Ini momentum Ramadan. Bulan penuh berkah. Jadi kita harus saling membantu. Terutama dalam menghadapi pandemi ini,” tambahnya.

Pihaknya hanya ingin berusaha, di Kudus tidak ada masyarakat yang kelaparan. Terutama yang terdampak Covid-19.

Editor : Kholistiono

- advertisement -