31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Agus Kewalahan Penuhi Permintaan Melon yang Meningkat Drastis saat Ramadan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan melon tampak terkumpul beralaskan terpal biru di tepi jalan di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tampak beberapa pria memilah melon tersebut sesuai ukuran dan beratnya. Melon yang besarnya kurang sesuai harapan dinaikkan ke bak motor roda tiga. Sedangkan melon yang beratnya tiga kilogram ke atas akan dinaikan ke truk dan dikirim ke Jakarta.

Agus Muntaha (48), penebas buah melon tersebut mengatakan, saat Ramadan seperti ini permintaan buah melon meningkat. Dia mengaku, sampai kewalahan melayani permintaan para bakulnya di kota – kota besar. Bahkan tak jarang dia tak bisa memenuhi semua permintaan para bakulnya tersebut.

Agus Muntaha (kanan), penebas buah melon. Foto : Rabu Sipan

“Saya itu punya beberapa mitra bandar buah di kota-kota besar. Saat ini mereka minta dikirim melon semua. Padahal hari ini hanya memanen satu tempat di sini saja,” ujar pria yang akrab disapa Agus kepada betanews.id, Rabu (29/4/2020).

-Advertisement-

Baca juga : Meski Pernah Rugi Puluhan Juta, Priyo Tak Patah Semangat jadi Penebas Kencur

Sambil ikut menyortir melon yang dipanennya, Agus bersedia melanjutkan memberi keterangan. Dia menuturkan, membeli buah melon dari sawah milik warga Kudus secara borongan. Panenan melon seluas setengah bahu ia beli dengan harga Rp 35 juta.

“Semoga saja prediksi saya tepat. Dengan harga yang saya bayarkan, saya berharap panenan melon bisa mencapai 6 ton. Soalnya kalau kurang dari itu bisa rugi,” ujar pria warga Welahan, Jepara tersebut.

Hasil panen melon yang dibeli itu lanjutnya, dipisah antara berat yang lebih dari tiga kilogram serta yang kurang dari tiga kilogram. Melon yang beratnya kurang dari tiga kilogram dijualnya kepada bakul pengecer lokal. Sedangkan melon dengan berat tiga kilogram atau lebih dikirim ke bakul luar kota.

“Khususus untuk panenan melon ini yang besar – besar akan saya kirim ke Jakarta. Sebenarnya bakul di kota lain juga minta, tapi bagaimana lagi barangnya tidak ada. Kalau dibagi, nanti tekor diongkos kirim,” ungkapnya sambil mengambil handpone dari kantongnya karena ada telepon masuk.

Selain Jakarta tuturnya, juga punya bandar buah di kota lain, di antaranya, Bandung, Cibitung, Banten, Yogyakarta, Surabaya dan kota lainnya. Sedangkan untuk memenuhi permintaan, Agus terkadang harus rela keliling Jawa untuk cari panenan buah melon.

“Pokoknya kalau badan saya lagi fit, setiap hari saya itu ya cari di mana wilayah yang sedang panen melon. Dari Jawa Barat hingga Jawa Timur agar bisa nyuplai melon ke para mitra saya,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengatakan, sudah menekuni pekerjaan jadi penebas melon sekitar 20 tahun. Awal kepincut dengan usaha sebagai penebas melon karena tergiur sama temannya yang lebih dulu sukses dengan usaha serupa.

Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina

“Awal merintis dulu saya rekoso. Jualan melon keliling bawa motor pakai keranjang. Beli melon dari penebas yang sedang panen di sawah dan jualan keliling dari desa satu ke desa lain di Jepara,” ungkapnya sambil menyeka keringatnya.

Jualan keliling itu tambahnya ditekuni selama lima tahun. Setelah punya kenalan bandar buah di kota – kota besar, dia pun jadi penebas atau membeli melon langsung dari petani. Melon yang dibelinya itu kemudian dikirim kepada para bandar buah tersebut.

“Semoga saja usaha atau pekerjaan yang saya jalani ini makin lancar. Serta semoga untung terus,” harapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER