BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya mengenakan kaus oblong sedang duduk mengawasi para pekerjanya yang sedang memanen kencur. Sambil mengawasi, sesekali dia terlihat memberi arahan para pekejanya tersebut. Setelah Pukul 11.00 WIB, dia pun mengajak para pekerjanya untuk makan bersama. Pria tersebut yakni Supriyo yang tak lain adalah penebas kencur. Dia mengaku tak kapok, meski pernah rugi puluhan juta dalam bisnis tersebut.
Seusai makan, pria yang akrab disapa Priyo itu sudi berbagi cerita tentang pengalamannya tersebut. Dia mengaku, menjadi pengepul kencur pada tahun 2010, atau sepuluh tahun yang lalu. Namun, lima tahun yang lalu dirinya mengalami nasib buruk di usaha yang ditekuninya itu. Menurutnya, dalam satu panen kencur dirinya mengalami kerugian hingga Rp 35 juta.

“Kerugian itu dalam satu lokasi dan satu panen. Meski rugi puluhan juta, tapi saya tidak menyerah atau mundur jadi pengepul kencur,” ujarnya kepada betanews.id, Sabtu (18/4/2020).
Baca juga : Baru Rilis, Peci dari Karung Goni ini Laris Manis di Pasaran
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu menuturkan, kerugian tersebut malah memantik semangat untuk memperbaiki kesalahannya. Sebab usaha yang ditekuni itu memang sangat berisiko rugi bila tidak jeli dan tidak tepat perhitungannya.
“Saya itu penebas kencur, yang membeli secara borongan di petani saat kencur masih di dalam tanah. Salah sedikit perhitungan, rugi sudah jadi risiko,” ungkapnya dengan serius.
Dengan tetap menekuni jadi penebas kencur, tambahnya, kerugian itu akan cepat terlunasi. Karena namanya usaha itu pasti ada rugi juga pasti ada untung. Benar saja, masih di tahun yang sama, kerugian tersebut bisa tertutup dengan keuntungan dari panenan kencur yang lain.
“Saya memang pernah rugi Rp 35 juta di satu lokasi panen kencur. Namun saya juga pernah meraup untung Rp 100 juta di satu lokasi panen kencur,” ungkap Priyo sambil tersenyum.
Menurutnya, keuntungan bisa didapat jika perhitungannya tepat serta kalau ada kenaikan harga. Sedangkan kerugian itu biasanya disebabkan perhitungan salah, harga turun, serta barang banyak yang rusak. Soalnya, kencur yang dikirim ke tengkulak itu tidak dibayar tunai. Sedangkan dirinya harus membayar lunas pada petani kencur.
Pria yang merupakan warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus itu menuturkan, saat ini harga kencur merah putih Rp 22 ribu per kilogram. Sedangkan kencur khusus merah di pasaran harganya Rp 44 ribu sampai Rp 50 ribu satu kilogram.
“Dengan harga tersebut, saat ini satu kotak ladang kencur saya beli Rp 50 juta hingga Rp 60 juta,” ungkapnya.
Baca juga : Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan
Dia mengatakan, umur kencur siap panen itu sekitar delapan bulan. Namun untuk kencur yang dipanennya saat ini katanya sudah berumur 15 bulan. Untuk memanen kencur seluas satu bakon dia membutuhkan 12 orang, yang biasanya membutuhkan waktu hingga empat hari untuk memanen.
“Para pekerja pemanen kencur, saya upah harian. Namun di rumah, saya juga masih mempekerjakan orang lagi untuk membersihkan kencur. Upahnya borongan, yakni seribu rupiah sekilo,” jelasnya.
Dirinya mengaku bersyukur, berkat pengalaman, kerugian yang pernah dialaminya itu kini jarang terjadi. “Saya juga sudah punya pelanggan luar kota yang siap menampung kencur yang saya beli. Antara lain, di Bandung, Mojosari, Babat, Tuban, Solo dan kota lainnya,” bebernya.
Editor : Kholistiono

