31 C
Kudus
Rabu, April 1, 2020
Beranda Ekonomi Dianggap Bisnis Tak...

Dianggap Bisnis Tak Bergengsi, Kini Usaha Terasi Selok Jaya Omzetnya Capai Ratusan Juta Sebulan

BETANEWS.ID, KUDUS -Siang itu, di salah satu toko seberang jalan Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, tampak tumpukan kemasan terasi udang berbagai merek. Setelah di dekati, seorang pria bersarung dengan senyum ramah menyapa tim betanews.id dan mempersilakan duduk. Ternyata, toko yang dinamai Selok Jaya tersebut adalah miliknya. Darinya pula, diketahui bahwa di belakang toko tersebut terdapat pabrik pengolahan terasi yang ia produksi.

Karyawan di Selok Jaya Juwana sedang mengemas terasi. Foto : Titis Widjayanti

“Di sekitar sini memang banyak yang mengolah terasi. Tetapi kebetulan di sini jadi salah satu yang terbesar. Kalau usaha namanya Selok Jaya, tapi kalau merek banyak yang kami produksi. Karena memang ini olahan kami sendiri. Jadi di belakang pabrik pengolahannya, di sini buat toko,” papar Mohamad Sutomo (38) pada betanews.id, Rabu (11/3/2020).

Bapak dari tiga anak tersebut kemudian menceritakan sedikit sejarah berdirinya usahanya tersebut. Ia katakan, Selok Jaya adalah bisnis keluarga yang dirintis oleh ayahnya semenjak tahun 80 an. Lelaki yang akrab disapa Tomo itu mengatakan, bahwa awalnya sang ayah yang berprofesi sebagai petani udang, menerima hasil petani udang lain dan dibeli. Kemudian, sang ayah dan ibu menjadi pengepul dan mengolahnya menjadi terasi. Setelah itu, bisnis terasi mulai dijalankan hingga saat ini.

Baca juga : Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual

“Ya karena awalnya kan sini itu laut ya Mbak. Banyak yang jadi nelayan dan petani tambak. Termasuk orang tua. Dari hasil itu, suatu hari tetangga yang kebingungan menjual hasil tambak diterima dan dibeli oleh ibu. Akhirnya jadi pengepul. Nah dari situ, karena mikir terasi kan salah satu bahan makanan khas yang cuma ada di Indonesia. Ya dari sana memulai membuat terasi,” tutur dia.

Tomo selanjutnya mengatakan, jika dari ketiga saudaranya, memang dia yang fokus meneruskan bisnis keluarga tersebut. Meskipun, ia akui bisnis terasi bukan bisnis yang bergengsi. Akan tetapi, justru karena itu, peluang usaha menjadi semakin lebar. Itulah mengapa Tomo masih semangat melanjutkan dan mengembangkan produknya.

“Memang ini awalnya bisnis keluarga. Tapi sekarang saya yang lebih fokus. Ketiga adik saya punya usaha sendiri. Mungkin ya terlihat tidak bergengsi ya Mbak, tapi justru itu peluangnya lebih besar, karena jarang ada saingan. Bahkan sekarang beberapa merek yang sudah cukup terkenal di Indonesia bekerja sama,” ungkap dia.

Baca juga : Toko Eldorado Elektronik, Tak Hanya Termurah di Kudus Tapi Juga Terlengkap

Berkembangnya bisnis tersebut dikatakan, salah satunya terlihat dari jumlah karyawan dan produksi terasi per bulan. Ia mengatakan, kini memiliki 60 karyawan dan sanggup memproduksi 30-50 ton terasi setiap bulan berbagai jenis dan ukuran.

“Karena kan memang kami punya banyak merek dan ukuran. Selain itu, proses pengemasan juga ada dua jenis yang manual biasa dan yang pakai mesin. Semua diproduksi di pabrik belakang,” papar dia.

Dengan produksi yang besar, Tomo mengatakan, bahwa hingga kini di tempatnya hanya fokus memproduksi terasi dengan bahan setengah jadi. Di mana bahan mentah didapat dari petani-petani udang rebon sepanjang pesisir Jawa, bahkan hingga Sumatera seperti Medan.

“Kalau dulu memang kami mengolah terasi dari bahan mentah, udang rebon itu yang digiling. Tetapi sekarang sudah punya petani sendiri di sepanjang pesisir laut utara Jawa dan Sumatera. Bahkan pasokan terbesar bahan mentahnya dari Medan. Jadi kalau di sini pemrosesan dari bahan setengah jadi yang berupa rebon sudah digiling, lalu kami biarkan selama beberapa tahun untuk disimpan dan fermentasi. Baru setelah itu kami olah lagi dengan cara digiling beberapa kali dan dicetak, hingga dikemas untuk dipasarkan,” jelas dia.

Baca juga : Gunakan Trik Pemasaran Warisan Orang Tua, Produk Sinta Shoes Tetap Digemari Konsumen

Berbicara perihal omzet, ia mengatakan bahwa rata-rata bisa meraup Rp 100 juta per bulan melalui bisnis tersebut. Meskipun beberapa kesulitan seperti harga bahan yang fluktuatif tergantung musim, juga cuaca tak menentu yang memengaruhi lancar tidaknya proses penjemuran.

“Kalau kesulitan sih mungkin lebih pada harga bahan, udangnya itu yang musim-musiman. Kalau lagi musim ya murah, kalau nggak musim ya mahal. Biasanya kami siasati dengan memgumpulkan lebih banyak ketika musimnya tiba. Sedangkan hal lain yang cukup memengaruhi lebih pada cuaca. Kalau sering mendung seperti ini, berarti proses penjemurankan terganggu. Tetapi sejauh ini, secara produksi dan omzet lumayan stabil,” pungkas dia.

Editor : Kholistiono

Tinggalkan Balasan

20,599FansSuka
13,415PengikutMengikuti
4,309PengikutMengikuti
10,120PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler

1,8 Juta Warga Jateng Akan Terima BLT, Anggaran Rp 1,4 T Sudah Disiapkan

BETANEWS.ID, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jateng telah menyiapkan dana sebesar Rp 1,4 triliun untuk menanggulangi kasus penyebaran virus corona. Dana tersebut akan...

Polisi Kudus Datang, Kerumunan Muda-Mudi Tunggang-Langgang

BETANEWS.ID, KUDUS - Suara sirine dari mobil polisi memecah suasana malam di sekitar GOR Bung Karno Kudus, Sabtu (28/3/2020) malam. Dari pengeras...

Produksi Dupa di Kudus Terdampak Corona

BETANEWS. ID, KUDUS - Aroma dupa tercium di sebuah ruangan berukuran 4,5 x 3 meter di Desa Loram Kulon, RT 01 RW...

Peduli Pencegahan Corona, Pemdes Jepang Adakan Penyemprotan Disinfektan

BETANEWS.ID, KUDUS - Sebuah mobil pick up terlihat melintas di sebuah jalan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Terdengar suara dari...

Jokowi ke Gubernur: Tirulah Jateng, Anggarkan Warga Terdampak Corona!

BETANEWS.ID, SEMARANG - Presiden Jako Widodo memerintahkan semua kepala daerah untuk meniru langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mengatasi kasus dan dampak...

Perangi Covid-19, Rumah Warga Ketitang Wetang Kembali Disemprot Disinfektan

BETANEWS.ID, PATI -Wabah Covid-19 kian membuat warga berbondong-bondong mencari langkah-langkah pencegahan awal. Tak terkecuali warga Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati...

Sembilan Jurnalis Pati yang Kontak dengan Mbah Roso Dinyatakan Negatif Covid-19

BETANEWS.ID, PATI – Sembilan wartawan di Kabupaten Pati telah menjalani rapid test, yang diadakan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati di halaman Stadion...