31 C
Kudus
Rabu, Februari 28, 2024

Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, di sebuh rumah yang berada di Desa Karang Malang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus terdengar sayup-sayup mesin jahit menderu dari luar pagar. Rumah tinggal semi usaha itu terpampang tulisan Sri Rejeki Embroidery.

Ialah Sri Amini (63), seorang perempuan berhijab yang nampak sibuk mengenakan salah satu kebaya berwarna biru muda di manekin toko yang satu bangunan dengan rumah pribadinya. Amini pula merupakan pemilik sekaligus perintis usaha bordir Sri Rejeki tersebut.

Salah satu pekerja di Sri Rejeki Embroidery sedang menyulam kain pesanan pelanggan. Foto : Titis Widjayanti

Di dalam toko tersebut, nampak banyak etalase kaca berisi kerajinan bordir. Mulai dari kebaya, mukena, tas, kerudung, rompi, gamis, hingga kaligrafi beraneka warna dan motif. Katanya, usaha tersebut telah dirintis semenjak tahun 1982.

“Ini usaha pribadi. Kebetulan saya sendiri yang merintis dari tahun 1982. Awalnya sih karena memang saya suka, lalu masa itu ada kursus bordir di sekitar sini. Lalu saya ikut. Sebelum berani mendirikan usaha sendiri, sebenarnya sehabis lulus kursus saya sempat kerja bordir ikut orang. Tapi setelah itu, karena sudah berkeluarga dan punya dua anak, apalagi suami punya usaha kerupuk dan sedang berkembang, suami mengusulkan agar saya di rumah saja. Akhirnya saya sekalian mulai merintis usaha ini karena bisa dikerjakan di rumah,” papar Amini kepada betanews.id, Jumat (6/3/2020).

Amini kemudian meneguk air putih di depannya dan kembali bercerita. Latar belakang semangatnya tersebut tidak lain karena ia juga menganggap karajinan bordir adalah salah satu seni. Bagaimana cara memilih bahan, menggambar pola, hingga perpaduan warna antara kain dan benang.

“Selain ketelitian dan kesabaran, kalau bordir itu perihal seni ya Mbak. Mulai dari proses menggambar pola, memilih bahan, sampai mencocokkan warna kain dengan benang yang dipakai. Bahkan sampai sekarang, saya itu kalau ada pesanan atau membuat untuk dijual, saya buat dulu contohnya, untuk sample. Nanti baru saya lihat, kalau nggak cocok dan kurang bagus ya bikin yang baru,” papar dia.

Sambil mengambil beberapa contoh bordiran seperti mukena, rompi, dan kebaya ciri khas beberapa daerah, Amini mengaku sampai sekarang belum pernah meliburkan hingga memecat karyawannya. Bahkan ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 dahulu, atau jika tidak ada pesanan sekalipun.

“Saya itu dari awal merintis, sampai sekarang belum pernah memecat atau meliburkan karyawan. Dari yang sepi pesanan sampai krisis moneter tahun 1998 dulu. Kalau misal diliburkan, kasihankan. Mereka (karyawan) juga butuh mencari nafkah,” ungkap dia.

Memiliki usaha rumahan yang mengandalkan penjualan secara konvensional melalui beberapa kali pameran UMKM, Amini belum berani membuka toko online. Dia mengatakan, bahwa produknya dipromosikan lewat pameran dan setelah itu person to person yang dikenal melalui pameran tersebut. Selanjutnya ,dari pemasaran mulut ke mulut dan beberapa butik di Semarang, Jakarta hingga Bali.

Melalui bordir manual dengan pengerjaan yang cukup memakan waktu, produknya dijual dari ratusan hingga jutaan. Hal tersebut dijelaskan Amini berdasarkan bahan, model dan kerumitan pengerjaan. Akan tetapi, menurutnya pula, bordir manual masih menjadi primadona karena keunikan dan kehalusan hasilnya.

Amini menambahkan, sejauh ini kesulitan dari usahanya adalah mencari pekerja atau karyawan, karena banyak yang sudah tidak tertarik lagi menekuni bordir manual. Terutama para pemuda dan pemudi yang dikatanya lebih tertarik bekerja di pabrik konveksi dengan mesin-mesin besar.

“Kalau kesulitan ya SDM nya. Cari karyawannya. Sekarang yang masih mau (menjadi perajin dan penjahit bordir manual) sedikit dan sudah berumur. Kalau yang muda-muda kebanyakan memilih bekerja di pabrik dengan mesin-mesin besar. Yang berangkat pagi pulang sore. Padahal kalau misal di tempat saya, nanti ada pelatihan khusus. Mulai dari menggambar pola, membordir sampai memilih bahan dan mencocokkan warna kain dan benang. Nanti kalau sudah 4-5 tahun bisa dibawa terus dikerjakan di rumah,” tambah dia.

Hal tersebut ia lakukan karena menurutnya bordir adalah salah satu seni yang membutuhkan keterampilan. Sehingga setiap karyawannya dibekali pelatihan ketrampilan supaya ke depan bisa terus berkreasi dan berinovasi menekuni bordir manual dengan hasil yang lebih halus, rapi dan indah.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
6,574PengikutMengikuti
129,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER